Bab 22

1390 Kata
Alvaro berjalan menyusuri lorong-lorong villa untuk menuju ke arah dapur. Dia masih belum sadar bahwa di belakangnya ada sosok dengan wujud yang sangat menyeramkan. Ia malah dengan santainya berjalan sambil bersiul. Sosok itu terus mengikuti langkah kakinya melangkah. Terkadang menghilang, lalu muncul kembali, kemudian menghilang lagi. Tak lama berselang, Alvaro sudah mencapai ambang pintu dapur. Dia mengira bahwa di dapur itulah ia bisa menemukan sebuah petunjuk yang akan menuntunnya untuk bisa mengungkap rahasia kali ini. Namun apa yang ia dapat? Ia malah mendapatkan sebuah kejutan hangat tepat ketika ia membuka pintu. "Haaaaa!" teriaknya, kemudian diiringi dengan sebuah pukulan yang ternyata hanya menembus angin. Keringat dingin bercucuran dari wajah tampannya. Tangannya yang mengepal nampak bergetar hebat, dan jantungnya seakan mau copot. Barusan itu sungguh menyeramkan. Sosok dengan wajah buruk rupa, dengan darah yang menyelimuti wajahnya, mengingatkan tentang kejadian yang tadi di kamarnya. Ya, itu hantu yang sama dengan apa yang ia lihat tadi pagi. Sial sekali nasibnya yang harus bertemu hantu yang sama untuk kedua kalinya di hari yang sama. "Hufff.... Sialan!" umpatnya sambil memegangi dadanya. Ia mencoba untuk mengatur napasnya. Hantu itu sudah menghilang di saat Alvaro melancarkan pukulan ke arahnya. Kini sosok buruk rupa itu tak tahu pergi ke mana. Alvaro pun nampaknya tak begitu peduli dan memilih untuk langsung berjalan memasuki dapur. Namun meski ia mencoba untuk tidak peduli, sensasi mendebarkan dari kejadian tadi pun tetap saja terasa sampai sekarang. Matanya bergerak liar. Ada dua hal yang harus ia waspadai, yaitu kemunculan hantu buruk rupa itu dan juga jika seandainya salah satu penghuni asli villa ini tiba-tiba datang. Ia melihat ada sebilah pisau di sana. Ada keyakinan bahwa pisau itu adalah sebuah petunjuk. Tanpa ragu lagi ia langsung mencoba memegangnya, tapi tak terjadi apa-apa. Ternyata dugaannya salah. Namun itu baru awal. Ia tidak mungkin menyerah begitu saja. Si tengah kewaspadaannya, ia tetap mencoba mencari petunjuk. Berbagai benda yang ada di sana ia coba pegang, tapi tetap saja tak ada yang bisa dijadikan petunjuk. Hingga sebuah centong tiba-tiba terjatuh dari meja yang ada di dapur. Ia penasaran, dan mendadak menjadi yakin bahwa centong itu adalah suatu petunjuk setelah sebelumnya ia sangat tidak yakin. Bahkan karena itu pula ia lupa tentang bagaimana bisa centong itu bisa jatuh dengan sendirinya. Ia berjalan menuju ke sana. Sampai di sana, tangannya langsung memungut centong yang terjatuh itu. Samar-samar dari ujung matanya ia melihat sesuatu yang bergerak di bawah meja. Ketika ia perlahan mengamati, dan pada akhirnya.... "Haaaaa!" teriaknya. Brakkk! Bukan suara dia yang pingsan karena terjatuh, melainkan karena tendangan mautnya yang menjadikan meja itu sebagai sasarannya. Meja yang ia tendang itu bahkan terpental beberapa meter jauhnya. Sosok itu kembali menghantuinya lagi. Sosok dengan wajah penuh darah dan wujud yang sangat menyeramkan dengan rambut gimbal panjangnya itu. Sekilas itu mirip dengan kuntilanak, namun ada perbedaan antara sosok itu dengan kuntilanak. "Hantu sialan!" Alvaro tak dapat menahan emosinya lagi. Terhitung sudah 4 kali ia dibuat terkejut dengan kedatangannya di hari ini. Parahnya, sekali menampakkan diri, hantu itu langsung menghilang begitu saja, dan tiba-tiba muncul lagi. Antara ketakutan dan kesal, itulah yang dirasakan Alvaro saat ini. "Keluar kau, hantu jelek!" teriak Alvaro seperti orang gila. "Dasar pengecut!" lanjutnya. "Keluar, sekarang! Kau pikir aku takut?" ucapnya lagi dengan menendang-nendangkan kakinya seakan sudah siap untuk menendang jikalau hantu itu tiba-tiba muncul. Krittt! Tak lama setelah ia marah-marah, pintu kamar mandi sana mendadak sedikit demi sedikit terbuka dengan sendirinya dan menampakkan sosok yang ia cari-cari sedari tadi. Sosok itu berdiri di dalam kamar mandi sana seakan-akan ingin Alvaro juga masuk. Seketika itu juga, tanpa pikir panjang sang manusia tampan itu langsung berjalan cepat menuju ke arah kamar mandi untuk menemui sosok itu. Bahkan sudah tak ada sedikitpun ketakutan yang ia rasakan untuk saat ini. Adanya cuma rasa ingin membalas apa yang sosok itu perbuat ke dia. Namun lagi, lagi dan lagi. Dia menghilang dengan segera. Alvaro kecewa karena tak bisa membalas. Akan tetapi ia melihat sebuah tulisan yang terpampang jelas di cermin kamar mandi itu. Sebuah tulisan yang seperti ditulis dengan menggunakan darah yang berbunyi, "kapak". "Kapak? Apa maksudnya?" Alvaro bertanya pada dirinya sendiri setelah membaca tulisan itu. "Hantu buruk rupa itu yang menulisnya, kah? Tapi apa maksudnya?" tanyanya lagi pada diri sendiri. "Ah, iya." Ia langsung berjalan keluar dari kamar mandi dan mencari sesuatu yang berada di dapur. Ia melakukan pencarian lagi. Ia tak peduli dengan semua barang yang berada di situ dan hanya ingin menemukan barang yang ia maksud. Bukan, maksudnya yang hantu itu maksud. Ini merupakan petunjuk yang jelas. Hantu buruk rupa itu ternyata mau membantunya. "Aku harus menemukan kapak, tapi di mana?" tanyanya lagi. Hampir semua sisi sudah ia amati, tapi tak ada satupun kapak yang terlihat. Hingga pada akhirnya ia tersadar bahwa ada sebuah laci. Ia pun membukanya dan menemukan beberapa benda yang berada di dalamnya. Di antaranya adalah palu, pisau dan juga kapak. Bibirnya mengembang dengan sempurna, bersyukur karena ia telah menemukan apa yang ia cari. Kemudian ia mencoba menyentuh kapak itu dan alhasil, pandangannya mendadak menggelap. Dirinya seakan dibawa ke masa lalu. "Aaaa!" jeritnya seperti kesakitan. *** Di sebuah bangunan tua yang menyeramkan, nampak seorang wanita yang diikat dengan tali tambang. Ia sendirian di sana di tengah cahaya lilin yang hanya nampak remang-remang. Mulutnya diplester menggunakan lakban sehingga ia tak mampu berteriak dengan jelas. Hanya sebuah suara tak jelas lah yang bisa ia keluarkan. Alvaro nampak dengan jelas keadaan wanita itu. Hanya saja ia tak akan bisa menolongnya karena itu hanyalah sebuah pengelihatan masa lalu. Dari pengelihatan Alvaro, sedikit demi sedikit wanita itu sudah berhasil membebaskan tangannya dari ikatan tali tambang itu. Setelah tangannya terbebas, ia dengan terburu-buru langsung membuka ikatan di kakinya, begitu juga lakban yang memplester mulutnya. Dengan raut wajah yang sangat panik, ia langsung berdiri. Samar-samar terdengar pembicaraan dari arah luar. "Malam ini kita akan mengorbankan wanita itu, hahaha," ucap seseorang. Dari nada bicaranya, itu seperti suara seorang lelaki dewasa. Mendengar suara itu, betapa paniknya wanita yang berada di dalam. Ia mencoba mencari jalan keluar. Tak mungkin jika harus lewat pintu depan. Ia melihat kapak yang tergeletak dan langsung mengambilnya, berharap itu bisa jadi senjata jika seandainya akan terjadi apa-apa nantinya. Tepat ketika ia menggenggam kapak yang ia pungut tadi, pintu depan terbuka lebar dan menampilkan dua sosok berjubah yang tak terlihat wajahnya. Tubuh wanita itu bergetar hebat dengan tangannya yang memegang kapak seakan memberi peringatan kepada kedua orang itu supaya tidak mendekat. "Ka-kalian, ja-jangan mendekat!" Ia memberi peringatan dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat. "Hahahaha." Salah satu dari mereka tertawa kencang. Itu seperti tawa seorang lelaki. Tak peduli dengan ancaman si wanita, lelaki berjubah itu malah dengan santainya berjalan mendekat ke arah di mana si wanita berada. Ia semakin gemetar ketika sedikit demi sedikit jaraknya dengan si lelaki berjubah itu sudah semakin dekat. "Jangan mendekat!" teriaknya sambil mengayunkan kapaknya itu ke arah lelaki berjubah itu. Namun apa yang terjadi? Kapak itu nampak enggan untuk menembus tubuh si lelaki berjubah. Bahkan kulitnya pun tak tergores sedikitpun. Apa itu? Apa itu ilmu kebal? Atau emang kapaknya yang tumpul? Tapi tidak, kapak itu nampak sangat tajam. Wanita itu kembali mengayunkan kapaknya sekali lagi dan mengarahkannya ke arah kepala. Namun lagi, lagi dan lagi, lelaki berjubah itu dengan begitu tenangnya membiarkan kepalanya berbenturan dengan tajamnya kapak. Anehnya lagi, masih tak bisa menggores kulit kepalanya. "Hahahaha." Lelaki itu tertawa dengan keras. Merasa apa yang ia lakukan sudah tak berguna lagi, sang wanita pun menggunakan jurus terakhirnya untuk lolos dari kematian. Ia berlari ke arah yang berlawanan, menuju ke belakang, berharap bangunan tua itu punya pintu belakang. Kapak masih dipegangnya, dan anehnya, si lelaki dan orang berjubah yang satunya itu seperti tak berniat untuk mengejarnya. Hanya tawa lah yang terdengar begitu menyeramkan dari mulut lelaki itu. Apa mungkin tak ada pintu belakang? Aneh, ternyata bangunan itu mempunyai pintu belakang. Ada harapan untuk hidup bagi si wanita. Namun yang menjadi pertanyaannya, kenapakah kedua sosok berjubah itu tak mengejar? Ternyata jawaban atas pertanyaan itu ada setelah sang wanita berhasil keluar. 4 sosok hitam besar terbang mengejar sang wanita. Terlihat bahwa ia menangis karena tak ingin mati di tempat memuakkan seperti itu. Ia berlari sekencang mungkin. Kapak yang ia pegang benar-benar sudah tidak berguna lagi. Sampai pada akhirnya, karena tak melihat jalan dalam larinya, ia terjatuh ke dalam jurang. Setelah itu sudah tak nampak apa-apa lagi dari pengelihatan Alvaro. Hanya gelap, lalu ia berteriak seperti orang yang kesakitan karena pengelihatan masa lalunya itu akan berakhir. "Aaaaa!" teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN