Reyhan ingin memanggil kedua sahabatnya itu, namun secepat mungkin dihentikan oleh Alvaro.
"Jangan!" larang Alvaro.
"Kenapa, Al?" tanya Reyhan.
"Mereka bukan Imam sama Ihsan. Mereka itu makhluk halus," jawab Alvaro pelan.
"Makhluk halus?" tanya Reyhan memastikan sambil bergidik ngeri.
"Sudah, abaikan saja! Yang penting, kita harus jaga sikap. Mungkin ini sudah masuk kawasan hutan terlarang," kata Alvaro.
"Ba-baiklah," kata Reyhan. Ia tiba-tiba merasa sangat takut.
Tentang bagaimana Alvaro bisa tahu kalau kedua orang itu bukanlah Imam dan Ihsan, jawabnya karena matanya yang bisa melihat wujud sebenarnya dari mereka berdua. Lagipula, kalau dipikir secara nalar, tidak mungkin jika Imam dan Ihsan bisa sampai di tempat itu, apalagi posisinya mendahului dia dan Reyhan.
Sambil menunggu sosok itu menghilang, Alvaro dan Reyhan membaca doa demi doa yang mereka hapal terlebih dahulu. Tempat mereka berada kini adalah kawasan hutan terlarang. Sekuat apapun mereka dalam menghadapi penjahat yang berwujud manusia, kekuatannya itu tidak akan berguna jika sudah berada di kawasan yang seperti itu. Oleh karena itulah mereka kemudian sadar bahwa penolong terbaik bagi mereka adalah sang kuasa, bukan kehebatan dalam berkelahi yang mereka miliki.
"Ayo, kita lanjut!" ajak Alvaro.
"Iya," kata Reyhan.
Mereka berdua kembali berjalan, dengan Reyhan yang bertugas sebagai penunjuk arah. Bahkan ia pun ragu tentang arahan yang ia berikan. Ia tidak yakin jika arahan itu mengarah ke tempat tujuan. Namun Alvaro selalu mempercayai dia sepenuhnya hingga membuatnya bertekad untuk tak mengecewakan Alvaro.
Alvaro sudah mempercayainya, jadi ini giliran dia untuk tidak mengkhianati kepercayaan Alvaro itu. Ia berpikir dengan keras, mencoba mengingat jalanan waktu ia mengikuti bayangan hitam pada malam itu.
Sementara di tempat lain, nampak Imam dan Ihsan yang asli sedang mendatangi tiga orang perempuan cantik. Para perempuan itu adalah Delia, Nanda dan Ocha.
"Arga diculik, sama manusia berjubah itu," kata Imam to the point tepat ketika dirinya dan Ihsan sampai di tempat ketiga perempuan itu berada.
"Apa? Arga?" tanya Delia seakan tidak percaya.
"Iya, dan sekarang Alvaro sama Reyhan sedang mengejar manusia bertopeng itu untuk bisa membawa Arga kembali dalam keadaan selamat," kata Ihsan.
"Mereka berdua...?" Delia menggantung ucapannya. Ia menunduk, seakan tak terima jika kedua sahabatnya itu yang harus bertaruh nyawa.
"Kenapa harus mereka yang mengejar?" tanya Delia lantang.
"Itu permintaan mereka berdua, terutama Alvaro," jawab Imam.
"Kenapa cuma pergi berdua?" tanya Delia sekali lagi.
"Katanya, ada suatu titik di hutan itu, di mana di sana merupakan kawasan hutan terlarang. Tidak boleh ada orang yang masuk dengan jumlah lebih dari dua orang ke kawasan itu. Oleh karena itulah, hanya mereka yang pergi," jawab Imam.
"Del, tenanglah," ucap Nanda menenangkan Delia sambil mengelus-elus punggung gadis cantik itu.
Bagaimana mungkin Delia bisa tenang, sementara dua sahabat baiknya sedang bertaruh nyawa di luar sana. Mungkin bukan Delia saja yang tidak bisa tenang. Ihsan, Imam, Ocha dan bahkan juga Nanda. Mereka semua pasti merasa gelisah dengan berita Alvaro dan Reyhan yang memutuskan untuk mengejar si manusia berjubah itu. Hanya saja, perasaan Delia jauh lebih besar sehingga dia tak dapat menutupi kegelisahannya itu.
"Bagaimana bisa Arga sampai diculik sama manusia berjubah itu?" Ocha bertanya.
Di saat itulah, Ihsan yang terkadang bodoh dan menyebalkan mulai beraksi untuk menceritakan kejadian yang telah terjadi hingga membuat Arga diculik oleh manusia berjubah itu. Ia menceritakannya dengan detail, sedetail-detailnya.
"Siapa tuh, Raisya?" tanya Ocha di akhir cerita.
"Raisya adalah anak dari si pemilik villa ini," jawab Ihsan.
"Jadi, ini berita dari dia?" tanya Delia.
"Iya," jawab Ihsan.
"Kenapa Alvaro, Reyhan dan juga kalian dengan begitu mudahnya percaya, sih?" ucap Delia.
"Tadinya, kami juga tidak percaya. Tapi, katanya si Chelsea sama Wulan, sebelum Arga menghilang, mereka berdua sempat lihat kalau Arga masuk hutan bersama Raisya. Lalu Raisya cerita seperti yang tadi aku ceritain," sahut Ihsan.
"Cih, kenapa dengan Alvaro? Kenapa dengan Reyhan? Mereka yang bilang bahwa kita harus berhati-hati pada para pemilik villa itu. Tapi, kenapa juga mereka yang terjebak?" tanya Delia entah ke siapa. Kegelisahannya benar-benar tak dapat disembunyikan.
"Mereka bukan orang yang bodoh, Del. Mungkin ada sesuatu yang mereka rencanakan dengan percaya cerita dari Raisya. Lagipula jika berita diculiknya si Arga itu benar, dan tak ada yang mempercayai berita itu, bukankah itu malah akan berakibat fatal?" tanya Imam.
"Hah, ini tidak bisa dibiarin. Kita seharusnya menyusul mereka," usul Nanda.
"Jangan!" cegah Imam.
"Iya, jangan! Seperti apa yang Alvaro katakan, tempat ini penuh misteri. Kita tidak boleh bertindak sesuka kita. Kalau kita menyusul mereka, itu malah akan membuat masalah baru. Kita tidak tahu tempat apa yang akan kita datangi nantinya. Kita juga tidak tahu ada apa di dalam hutan sana. Untuk kali ini, percayakan semuanya pada Alvaro dan Reyhan. Jika mereka belum bisa membawa Arga kembali, setidaknya mereka yang kembali dalam keadaan hidup-hidup," ucap Ihsan panjang lebar. Mereka semua diam.
Sulit memang, membiarkan orang-orang yang berharga mempertaruhkan nyawa di luar sana. Rasa ingin menolong tentu tak dapat dihilangkan. Itulah yang dirasakan mereka semua, terutama Delia. Namun mereka tahu, jika mereka ingin menolong, mungkin malah akan membawa masalah baru bagi orang yang ingin mereka tolong.
***
Kembali lagi ke tempat Alvaro dan Reyhan. Sang raja hari semakin lama kian naik, pertanda bahwa hari juga sudah semakin siang. Akan tetapi, mereka belum bisa menemukan titik terangnya. Ingatan Reyhan yang terbatas membuat misi mereka berjalan dengan sangat rumit. Meski begitu, seorang Alvaro Aditama selalu percaya bahwa Reyhan bisa mengingat semuanya.
"Ah, susah Al. Pohonnya sama semua," keluh Reyhan.
"Iya, kayu semua," kata Alvaro.
"Bukan itu maksudku. Pohonnya itu semuanya terlihat sama, tidak ada yang berbeda satupun," ucap Reyhan.
"Aku jadi bingung," lanjutnya.
"Berusahalah! Aku percaya kalau kau bisa," ucap Alvaro.
Sambil mengharapkan supaya Reyhan bisa mengingat jalanan, sebenarnya Alvaro juga sedang menaruh harapan lain bahwa di jalanan nanti ia dan Reyhan akan bertemu dengan para manusia berjubah yang menculik Arga. Dengan begitu, Reyhan tak perlu lagi mengingat-ingat di mana letak rumah tua itu.
Reyhan terus menunjukkan ke mana sang kaki harus melangkah. Alvaro dengan kepercayaan tingkat tinggi kepada Reyhan selalu mempercayai setiap apa yang Reyhan ucapkan. Hingga tibalah mereka berdua di suatu tempat. Tempat di mana Alvaro dapat merasakan hawa yang sangat berbeda dari tempat-tempat yang sudah ia dan Reyhan lalui.
"Berhenti dulu!" ucap Alvaro mencegah Reyhan berjalan. Reyhan pun berhenti.
"Ada apa, Al?" tanya Reyhan.
"Suasana ini.... Sepertinya kita sudah semakin dekat," kata Alvaro.
Semakin menyeramkan saja nampaknya tempat yang mereka pijak. Kawasan hutan itu, jauh sekali keadaannya dibanding kawasan hutan yang lainnya. Dari mata seorang Alvaro, ia hanya melihat beberapa makhluk tak kasat mata yang berseliweran di tempat itu. Namun berbeda dari apa yang ia rasakan. Rasanya ia dan Reyhan sedang berada di sebuah tempat yang sangat ramai. Seolah-olah ia dan Reyhan sedang berada di tengah-tengah banyak pasang mata. Entah itu cuma perasaannya saja, atau memang itu benar adanya.
Mungkin, di tempat mereka berada kini, adalah tempat bagi makhluk-makhluk yang punya energi cukup tinggi, sehingga pengelihatan yang Alvaro punyai pun tak dapat menangkap kehadiran sosok-sosok makhluk tak kasat mata itu. Ia hanya bisa merasakannya tanpa tahu keberadaannya.
Setiap kali sang kaki melangkah, walau itu cuma sejengkal, Alvaro semakin merasakan hawa yang tidak enak di tempat itu. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya jika yang mengejar sosok bayangan pada malam itu adalah Alvaro. Kalau saja waktu itu dia yang menggantikan posisi si Reyhan, sudah pasti dirinya tidak akan kuat dengan suasana semacam ini.
Perlu diingat, bahwa ini masihlah pagi menjelang siang hari. Namun ia sudah merasakan betapa banyaknya makhluk tak kasat mata yang berada di sekitar. Apalagi jika malam hari.
"Ah, itu." Reyhan menunjuk sebuah pohon besar. Alvaro pun mengikuti arah telunjuk Reyhan.
"Ya, aku ingat. Itu adalah pohon saat aku dan Ihsan bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis," lanjutnya.
"Berarti, rumah tua itu ada di sebelah sana," ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah lain.
Kali ini, Alvaro melihat betapa yakinnya sahabatnya itu dalam menunjukkan arah, seolah-olah sudah tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya. Alvaro puas, ternyata kepercayaan bahwa Reyhan bisa diandalkan dalam menunjukkan arah bisa terwujud. Kini tinggal menunggu waktu, sambil dirinya dan Reyhan berlari kecil untuk sampai di tempat tujuan.
"Nah, itu," ucap Reyhan sambil menunjuk bangunan tua berbentuk rumah.
"Heh, akhirnya," kata Alvaro.
"Kau tunggu di sini!" perintah Alvaro kepada sahabatnya itu.
"Tidak, aku ikut," tolak Reyhan.
"Tidak. Kita bagi tugas. Kau mengawasi sekitar, dan aku akan mencoba masuk ke rumah itu," ucap Alvaro.
Reyhan lagi-lagi merasa berat hati dengan apa yang diputuskan oleh Alvaro, tapi sekali lagi ia hanya bisa mengiyakan.
Alvaro mulai melangkah, sedangkan Reyhan tetap berada di tempat sembari melihat-lihat situasi. Barangkali kedua manusia berjubah itu belum sempat sampai di rumah tua itu.
Alvaro mengendap-endap seperti seorang maling. Dari Indra pengelihatannya, ia tak melihat satupun makhluk tak kasat mata di tempat itu, bahkan ia juga tak bisa merasakannya, atau memang tidak ada. Aneh, memang. Harusnya tempat seperti itu adalah sarang dari para makhluk halus, tapi nyatanya, tidak ada satupun yang menempatinya.
Alvaro memanfaatkan indra pendengarannya terlebih dahulu, barangkali ia bisa mendengar kalau ada sebuah percakapan di dalam sana. Ia menempelkan telinganya di dinding kayu rumah itu. Akan tetapi, tak ada suara sedikitpun dari dalam sana. Namun ia tak menyerah begitu saja. Ia mencari sisi yang lebih tepat untuk bisa menguping. Ia teringat dengan pengelihatannya saat itu bahwa orang yang disekap, pasti di tempatkan tidak jauh dari pintu depan rumah tua itu. Dengan segala keberanian yang ia miliki, ia pun menguping tepat di pintunya.