"Konon katanya, hutan ini adalah hutan terlarang. Siapapun yang berani berbuah hal yang tak senonoh di dalam hutan sana, maka makhluk berjubah itu akan datang untuk menangkapnya. Belum ada yang tahu apa sosok berjubah itu manusia atau makhluk halus, tapi yang pasti, siapapun yang tertangkap olehnya, tidak dapat kembali dengan selamat," jelas si lelaki paruh baya itu.
"Maksudnya, Arga akan...." Chelsea menggantung ucapannya. Ia tak dapat lagi meneruskannya. Wulan pun menenangkannya.
"Iya, itu salah dia sendiri. Tapi, menurut cerita, ada kabar bahwa mereka tak pernah membunuh korbannya secara langsung. Ada selang waktunya. Jadi, kita masih bisa menyelamatkannya. Hanya saja, taruhannya adalah nyawa," kata ayah si Raisya.
"Kalau begitu, aku yang akan pergi menyelamatkannya," ucap Alvaro dengan keyakinan tingkat tinggi. Sontak semua mata pun langsung memandang ke arahnya.
"Alvaro," ucap Reyhan.
"Terlepas dari apa yang dilakukan Arga, aku tidak bisa membiarkan dia mati di tempat seperti ini," kata Alvaro.
"Hmmm.... Baiklah, aku ikut," ucap Reyhan.
"Aku juga," ucap Imam ikut-ikutan.
"Aku juga ikut," tambah Ihsan.
"Kalau begitu, kita juga ikut. Walau bagaimanapun juga, Arga adalah teman dekat kita," ucap Chelsea.
"Tidak, kalian tidak bisa masuk hutan itu sembarangan. Ada pantangannya," ucap lelaki paruh baya itu.
"Apa pantangannya?" tanya Reyhan.
"Ada suatu titik di hutan itu di mana di titik itu tidak boleh dimasuki lebih dari dua orang. Jika ada yang melanggarnya, maka mereka akan menerima akibatnya," jawab si lelaki paruh baya itu.
"Kalau begitu, aku dan Alvaro yang akan pergi," usul Reyhan.
"Rey, kau?" ucap Imam.
"Percayalah, Mam. Aku dan Alvaro pasti kembali," ucap Reyhan. Imam terdiam, seakan berat untuk mengiyakan.
"Tidak. Biarkan aku saja yang pergi. Walau bagaimanapun juga, Arga tadi perginya bersamaku," usul Raisha.
Alvaro melirik ke arah gadis itu dengan sinis. Ia benar-benar tak bisa percaya pada gadis itu. Keyakinannya bahwa salah satu dari sang pemilik villa atau mungkin semuanya dari pemilik villa itu terlibat dalam kasus manusia berjubah itu masih terus berlanjut.
"Kau perempuan. Akan berbahaya jika kau nanti berhadapan dengan mereka," ucap Alvaro tegas.
"Tapi...."
"Jika kau memaksa ikut, kau malah akan menjadi beban. Dan jika kau maksa untuk pergi sendirian, itu sama aja menyerahkan nyawa," sahut Alvaro.
"Hmmm.... Baiklah, aku akan mengantarkan kalian berdua saja ke tempat terakhir aku melihat Arga," ucap gadis itu meyakinkan.
"Oke, kau tunggulah di sini. Aku dan Reyhan akan bersiap-siap," ucap Alvaro.
Alvaro kemudian pergi dari kerumunan. Disusul oleh Reyhan, kemudian juga oleh Imam dan Ihsan. Alvaro berjalan masuk ke kamarnya lagi, demikian pula Reyhan, Imam dan Ihsan. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Itu adalah sebuah pisau kerambit dari dalam tasnya. Kemudian ia juga membawa sebotol air yang lumayan besar dan dimasukkannya ke dalam tas. Reyhan pun melakukan hal yang sama. Hanya saja, dia tanpa persenjataan.
"Kau yakin?" tanya Imam.
"Iya," jawab Alvaro.
"Kau tidak curiga kalau ini jebakan? Apa kau lupa, kalau kau mencurigai mereka?" tanya Imam sekali lagi.
"Heh, justru itulah. Aku ingin membuktikan benar tidaknya kecurigaanku itu," jawab Alvaro.
"Hmmm.... Kalau begitu, berhati-hatilah," ucap Imam.
"Berjanjilah kalau kalian akan kembali," ucap Ihsan.
"Tidak bisa," jawab Alvaro.
"Tidak bisa?" tanya Imam bingung.
"Iya. Karena kalau di film-film, orang yang berjanji akan kembali, faktanya tidak ada yang kembali. Hahaha," jawab Alvaro. Bahkan ia masih sempat-sempatnya bercanda.
"Cih, dasar korban film," oceh Reyhan.
"Hahaha. " Alvaro kembali tertawa.
***
Kini Alvaro dan Reyhan sudah bersiap masuk hutan, bersama Raisya yang menemani mereka dengan tugasnya sebagai penunjuk jalan. Belum banyak yang tahu tentang hilangnya seorang Arga. Mungkin hanya empat sekawan, Chelsea, Wulan, serta Raisya dan ayahnya lah yang tahu. Selebihnya, belum sempat ada yang memberi tahu.
Mereka bertiga sudah berjalan masuk hutan. Kalau di pagi hari, hutan yang mereka masuki itu memang tak semenyeramkan ketika malam hari. Hanya saja, hutan tetaplah hutan. Banyak misteri yang belum mereka ketahui tentang apa yang ada di dalamnya. Itulah yang membuat tempat itu menjadi tempat yang menakutkan, walaupun itu dalam keadaan yang terang benderang.
"Maafkan aku." Di dalam perjalanan, Raisya tiba-tiba membuka suara.
"Maaf kenapa?" tanya Alvaro.
"Harusnya aku tidak mengajak Arga untuk metik apel di hutan, tadi. Ini semua salahku," ucap Raisya sambil meneteskan air mata.
"Sudahlah, tidak perlu disesali. Semua sudah terjadi." Kali ini Reyhan yang berbicara.
"Tapi, jika bukan karena aku yang mengajak dia, peristiwa ini mungkin tidak akan terjadi," ucap Raisya lagi.
Dalam hati, Alvaro merasa sedikit iba dengan gadis itu. Gadis itu menangis, seakan menyesali apa yang telah ia perbuat. Alvaro yang tadinya masih menyimpan rasa curiga, kini perlahan mulai percaya bahwa Raisya memang tak ada hubungannya dengan manusia berjubah itu. Ia berpikir, dan mencoba mengingat-ingat kembali. Bukankah di dalam pengelihatannya itu cuma ada dua manusia berjubah? Kalau cerita Raisya memang benar bahwa ada dua manusia berjubah yang menyerangnya bersama Arga, tentu ia bukanlah bagian dari mereka. Lagipula tentang luka di kepalanya itu. Itu asli luka, bukan rekayasa. Hanya saja yang masih mengganjal di hati dan pikiran Alvaro adalah tentang pakaian minim yang selalu dikenakan oleh gadis itu.
"Namamu Raisya, kan?" tanya Alvaro.
"Iya. Syukurlah kalau kau masih ingat," jawab Raisya. Sebelumnya mereka berdua juga sudah sempat bertemu.
"Aku mau nanya," kata Alvaro.
"Apa?" tanya Raisya.
"Kenapa kau selalu berpakaian seperti itu. Bukankah itu tidak sopan? Pantas kalau Arga tergoda, karena kau secara tidak langsung juga sudah menggodanya," ucap Alvaro dingin.
"Al," ucap Reyhan sambil memelototi Alvaro. Alvaro diam.
"Itu karena...." Raisya menggantung ucapannya.
Sambil terus berjalan, Alvaro dan Reyhan masih menunggu jawaban dari Raisya. Alvaro berpikir, jika jawaban yang akan diberikan oleh gadis itu tentang pertanyaan yang ia lontarkan bisa memuaskan, ia mungkin bisa menghilangkan kecurigaannya kepada gadis itu. Akan tetapi jika jika sebaliknya, tentu kecurigaan Alvaro akan terus berlanjut.
"Itu karena ibuku. Dulu, ibuku suka sekali berpakaian kayak gini. Sampai suatu ketika, ketika ibu masuk ke hutan ini, dia tak pernah kembali lagi, sampai sekarang. Dengan aku mengenakkan pakaian yang sama seperti yang ibu kenakan, aku merasa ibu masih berada di dekatku meski tak tahu di mana keberadaannya sekarang. Aku bahkan juga tak tahu apakah ibuku masih hidup atau sudah meninggal," ucap Raisya panjang lebar sambil meneteskan air mata lagi.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan kamu tentang hal itu," ucap Alvaro.
"Tidak apa-apa," jawab Raisya.
Suasana menjadi hening. Semuanya canggung untuk memulai pembicaraan lagi. Hanya suara langkah kaki yang terus melangkah lah yang menjadi pusat sumber suara selama perjalanan mereka. Hingga sampailah mereka bertiga pada suatu tempat.
"Di sini tempat aku melihat Arga bertarung dengan si manusia berjubah itu. Maaf, hanya bisa mengantarkan sampai sini saja. Setelah ini, ada sebuah titik terlarang di hutan ini yang seperti dikatakan oleh ayahku tadi. Aku juga tidak tahu di titik mana, itu. Tapi berhati-hatilah," ucap Raisya.
"Iya. Kami akan berhati-hati," ucap Alvaro. Raisya tersenyum.
"Kau berani kembali sendirian?" tanya Reyhan kepada Raisya.
"Iya, berani. Tenang aja," jawab Raisya.
"Oh, ya udah, kami pergi dulu," pamit Reyhan.
"Iya," jawab Raisya.
Alvaro dan Reyhan kemudian meninggalkan Raisya di tempat itu dan bersiap untuk menjalankan misi pentingnya untuk menyelamatkan Arga dari si manusia berjubah. Dengan bekal persenjataan yang minim, dengan nekatnya mereka memasuki kawasan hutan terlarang itu. Bagi Alvaro, tak peduli apapun yang terjadi, ia harus bisa menyelamatkan Arga, dan bagi Reyhan, walau nyawa dia yang menjadi taruhannya, ia tidak akan membiarkan Alvaro sendirian dalam bahaya. Demikianlah persahabatan mereka. Sebuah persahabatan yang sudah sampai pada tahap pengorbanan.
"Rey, katanya kau pernah sampai ke rumah tua itu, kan?" tanya Alvaro sambil berjalan.
"Iya, kenapa?" tanya Reyhan balik.
"Kau pasti masih ingat jalan menuju ke sana," ucap Alvaro.
"Kalau jalanan.... Hehehe, agak sedikit lupa, sih. Soalnya waktu itu posisinya kan sedang ngikutin bayangan itu," kata Reyhan.
"Cobalah mengingatnya, dan bawa aku ke sana," ucap Alvaro.
"Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Reyhan.
"Tidak. Cuma tempat itulah yang paling mungkin dibuat oleh para manusia berjubah itu untuk menyekap Arga," jawab Alvaro.
"Tidak, bukan itu maksudku," ucap Reyhan.
"Lalu?" tanya Alvaro.
"Aku ini lupa jalan ke sananya. Apa kau bercanda dengan menyuruhku membawa kau ke sana?" tanya Reyhan.
"Cih, cobalah mengingatnya. Aku yakin kau pasti masih ingat," ucap Alvaro seolah-olah sedang menggantungkan harapannya kepada Reyhan.
"Hufff.... Baik, baik, akan kucoba," kata Reyhan.
Mereka berdua kembali berjalan, melewati banyaknya pepohonan dan rimbunnya semak belukar. Alvaro menggenggam gagang kerambitnya dengan sangat kuat, bersiap untuk langsung menyerang jikalau di jalanan nanti dia bertemu dengan si manusia berjubah. Dalam hatinya, ia sudah tidak peduli lagi. Kalaupun ia diharuskan harus membunuh sekalipun, maka ia akan melakukannya. Tak ada salahnya jika harus menghilangkan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa. Terlebih lagi, yang harus ia hilangkan adalah nyawa orang jahat.
Berdua, berjalan menyusuri hutan yang lumayan menyeramkan. Entah kenapa rasanya semakin masuk ke dalam, semakin menyeramkan juga suasana hutan itu. Padahal masih pagi hari, dan mentari pun bersinar cerah, namun keadaan di dalam hutan hampir seperti di malam hari. Sungguh menyeramkan, dan bodohnya, mereka lupa tak memasang jejak untuk mereka bisa kembali lagi nantinya.
"Eh, itu Imam sama Ihsan," ucap Reyhan ketika melihat dua orang yang berjalan berdampingan.