Bab 29

1719 Kata
"Oh, gak apa-apa. Ini, temanku aneh banget. Lihat deh," ucap Arga sambil menunjukkan isi ponselnya itu kepada Raisya. Gadis cantik itupun membacanya. "Hahaha.... Ada-ada saja. Aku dari dulu tinggal di sini, tapi gak ada apa-apa tuh. Ada sih, tapi juga cuma hal yang biasa," ucap Raisya. "Hal biasa?" tanya Arga. "Iya, penampakan biasa. Wajar lah, namanya juga di daerah kayak gini," jawab Raisya. Arga terdiam dan menatap kemolekan tubuh gadis di depannya itu. Paras cantik yang bahkan belum pernah ia lihat dari gadis manapun, kini terpampang jelas di depannya. Entah bagaimana tiba-tiba si Arga bisa mengenal gadis itu, bahkan sudah begitu beraninya berduaan di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. "Sudahlah, gak usah dipikirin, ya," ucap Raisya sambil memegang pipi Arga. Arga terpaku ketika mendapat perlakuan yang seperti itu. Wajar saja, lelaki mana yang tahan dengan godaan semacam itu. Tangan gadis itu bahkan mengelus pipi Arga sehingga menimbulkan perasaan yang lebih kental di hati Arga. Dia seolah-olah sengaja melakukannya. "Tampan," ucap Raisya pelan. "Kamu juga, cantik," balas Arga. "Eh, ikut aku, yuk!" ajak Raisya setelah terdiam beberapa saat. "Ke mana?" tanya Arga. "Ambil buah apel. Tolong kamu ambilin buatku!" pinta Raisya sambil menunjukkan senyumannya. "Hmmm.... Iya deh, tapi gak jauh kan, masuk ke hutannya?" tanya Arga. Meski tidak percaya, ia juga tetap mempertimbangkan pesan yang dikirim oleh Ocha, tadi. "Nggak kok, dekat," jawab Raisya. "Ya udah, ayo!" kata Arga. Merekapun berjalan beriringan, masuk lebih dalam ke dalam hutan. Tangan kiri Raisya yang tiba-tiba menggenggam erat tangan Arga membuat lelaki itu dipenuhi oleh gejolak nafsu yang tak tertahankan. Ia berpikir, bahwa tak ada yang melihatnya di tempat seperti itu. Segera ia lepaskan genggaman tangan itu dan beralih untuk merangkul Raisya. Sungguh ia sudah tak dapat menahan nafsunya lagi. Namun anehnya, Raisya hanya diam, atau bahkan malah senang dengan perlakuan Arga yang seperti itu. Malahan, gadis itu senyum-senyum tidak jelas ke arah Arga, membuat Arga ingin bertindak lebih jauh lagi. Sambil berjalan, ia semakin mengeratkan rangkulannya, dan kemudian disusul dengan ciuman ke pipi Raisya. Raisya lagi-lagi diam saja, tapi kali ini ia tidak tersenyum. Seperti mendapat kesempatan yang lebih, Arga mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh bagian terlarang dari Raisya. Alhasil, tangannya pun berhasil mengenainya. Hingga sampai pada suatu tempat, di mana malapetaka itu terjadi. Dari rimbunnya pepohonan itu, tiba-tiba muncul dua orang berjubah yang langsung menyerang mereka berdua. Raisya dipukul kepalanya menggunakan balok kayu hingga akhirnya jatuh pingsan. Arga terkejut melihat hal itu. Beruntung sekali ia mempunyai refleks yang lumayan bagus, sehingga pada saat satu orang lainnya menyerang, ia bisa langsung menghindar. "Siapa kalian?" tanya Arga pada mereka berdua. Tanpa menjawab apapun, salah satu dari mereka langsung menyerang Arga dengan tangan kosongnya. Arga yang memang pandai dalam berkelahi sedikit bisa mengimbangi gerakan si manusia berjubah itu. Sementara itu, ia melihat manusia berjubah yang satunya hanya diam, seolah-olah tak punya niatan untuk ikut menyerang. "Hahahaha." Sambil bertarung, si manusia berjubah itu tertawa kencang. Tidak salah lagi, itu adalah tawa lelaki. "Siapa kau?" tanya Arga lagi. Lagi-lagi tak ada jawaban. Manusia berjubah itu menyerang Arga kembali. Ia seakan menikmati pertarungan itu dan seolah-olah menganggap bahwa lawan yang dihadapinya itu hanyalah lalat yang bisa kapan saja ia kalahkan. Di saat Arga menyerangnya dengan kekuatan penuh, ia hanya menangkisnya dengan sangat mudah, dan bahkan sesekali membiarkan pukulan maupun tendangan yang Arga lancarkan mengenai bagian tubuhnya. Raisa terbangun dari pingsannya. Ia melihat Arga yang kesusahan melawan satu manusia berjubah. Ia juga melihat ada manusia berjubah lain yang hanya berdiri menonton pertarungan itu. "Larilah, Raisa!" teriak Arga sambil terus bertarung. Sontak, si berjubah yang lain pun melihat ke arah Raisa. Gadis itu masih terdiam, melihat pertarungan antara Arga dan manusia berjubah. Hingga beberapa saat kemudian, ia berdiri dan segera meninggalkan Arga dalam bahaya. Mungkin karena ia emosi saat Arga hampir melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya tadi. Sementara itu, manusia berjubah yang sedari tadi hanya menonton, seolah-olah tak tertarik untuk mengejar Raisa dan memilih untuk tetap menonton. Arga yang sudah ditinggal Raisa terus-terusan melakukan perlawanan sebisa yang ia bisa. Tenaganya sudah mulai melemah, dan napasnya juga sudah sangat ngos-ngosan. Ia tak tahu lagi bagaimana harus melawannya. Padahal sedari tadi, manusia berjubah itu lebih banyak bertahan daripada menyerang. Namun ia tetap tak bisa mengalahkannya. Ia semakin frustasi, yakin bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Bagaimana tidak, sekalipun ia berhasil mengalahkan lawan yang dihadapinya kali ini, masih ada satu orang lagi yang siap membunuhnya kapan saja saat tenaganya sudah habis. Brugggh! Arga akhirnya sudah tidak kuat lagi bertahan. Sekali manusia berjubah itu memukulnya, ia sudah jatuh menyentuh tanah. Kesadarannya belum hilang. Ia masih melihat dengan jelas si manusia berjubah itu berjalan mendekatinya dan menendang kepalanya dengan keras. Seketika itu pandangannya menggelap. Samar-samar, di detik-detik ketika ia akan tak sadarkan diri, ia mendengar sebuah perkataan. "Hei, apa kau sudah mati?" tanya lelaki berjubah itu yang ia yakini adalah kepada dirinya. Setelah itu, ia sudah tak bisa melihat ataupun mendengar apa-apa lagi. Kesadarannya sudah hilang sepenuhnya. Mungkinkah itu akhir dari hidupnya? *** "Sudah, mereka semua sudah membacanya," ucap Ocha kepada semuanya. "Baguslah, aku harap mereka bisa mempercayainya," kata Alvaro. "Iya, semoga saja," ucap Delia menyahut ucapan Alvaro. Mereka bersepuluh akhirnya bisa sedikit merasa lega di kala misi pertamanya sudah berhasil. Tinggal menunggu hasilnya nanti, apa teman-temannya akan mempercayai, atau malah akan mengabaikannya dan menganggap bahwa itu hanyalah sebuah lelucon. Setelah itu, mereka pun berpisah. Tak lupa sebelum memisahkan diri, Alvaro selalu mengingatkan kepada mereka agar selalu berhati-hati, terutama kepada para pemilik villa ini. Dia mempunyai firasat yang cukup kuat bahwa sang pemilik villa adalah salah satu dari komplotan pengabdi iblis itu. Kini, tinggal ada Alvaro, Reyhan, Ihsan dan Imam yang berada di dalam kamar. Mereka berempat tentu saja masih ingin membahas tentang langkah terbaik yang harus diambil ke depannya. "Jika teman-teman tidak mempercayainya dan malah mengabaikannya, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Imam tiba-tiba. "Kalau aku, aku akan melawan mereka dan mengakhiri kejahatan mereka untuk selamanya," jawab Alvaro dengan keyakinan yang tinggi. "Kau beneran mau melawan mereka, nanti?" tanya Reyhan penasaran. "Apa? Kau mau melawan mereka, Al?" tanya Ihsan ikut-ikutan. "Perlu berapa kali aku bilang bahwa aku sungguh akan melawan mereka," ucap Alvaro. "Jangan bodoh, Al. Mereka itu kuat. Kau bisa mati, nantinya," ucap Imam. "Jika kebenaran terus-terusan berdiam diri tanpa mau mengambil risiko apapun untuk mengalahkan kejahatan, maka kejahatan lah yang akan terus berkuasa," ucap Alvaro. "Tidak peduli meski nyawa taruhannya, aku tidak bisa membiarkan mereka seenaknya membunuh orang-orang yang tidak bersalah," lanjut Alvaro. Ah, inilah sifat asli dari seorang Alvaro Aditama. Ia sangat membenci kejahatan dan akan membuat kebenaran itu menang. Sekali ia bertekad, maka ia tidak akan menariknya. Jikalaupun tidak ada yang bersedia untuk membantunya, ia mungkin akan pergi sendirian untuk menjalankan misinya itu. Itulah Alvaro. Ia pernah bilang bahwa lebih baik mati daripada hidup dalam penyesalan. "Jika kau benar-benar ingin melawannya, lebih baik ada persiapannya terlebih dahulu, Al," ucap Reyhan. "Ya, aku akan berusaha untuk mencari petunjuk tentang kelemahannya," ucap Alvaro. "Baguslah," kata Imam. Di tempat lain, seorang perempuan cantik berpakaian minim yang tak lain dan tidak bukan adalah Raisya terlihat sedang berlari dengan cepatnya menuju ke arah villa. Larinya baru berhenti di kala salah seorang dari mahasiswa menyapanya. "Hei kau, kenapa? Dan, mana Arga?" tanya salah seorang perempuan kepada Raisya. Ia memang tadi sempat melihat kalau Raisya pergi bersama Arga. Perempuan yang menanyainya itu bernama Chelsea. Dia lumayan cantik, dan memiliki tubuh yang bagus. Dia juga anak dari orang yang kaya raya. "Arga.... Arga, hah, hah." Gadis itu gak bisa berbicara dengan jelas dikarenakan napasnya yang ngos-ngosan. "Arga kenapa?" tanya si perempuan yang bernama Chelsea itu. "Tenangkan dulu dirimu, baru berbicara," ucap perempuan yang satunya. Sebut saja namanya Wulan. Dengan mengikuti arahan Wulan, Raisya berusaha mengatur napasnya. Setelah ia merasa tenang, ia pun mulai berbicara. "Arga, Arga dalam bahaya. Sekarang dia sedang bertarung dengan penjahat," ucap Raisya. "Apa? Bertarung dengan penjahat?" tanya Chelsea. "Iya, dan.... Dan dia tadi kulihat sudah dikalahkan," jawab Raisya. Sontak, ketika mendengar hal itu, aliran darah dari Chelsea maupun Wulan seolah berhenti mengalir. Baru saja mereka mendapatkan peringatan dari Ocha supaya berhati-hati, tapi kini salah satu teman mereka malah berada dalam situasi berbahaya. "Lalu kenapa kau meninggalkan dia, bukannya menolongnya?!" Chelsea sudah tak bisa menahan emosinya lagi. "Dia yang menyuruhku lari," jawab Raisya. Faktanya memang Arga yang menyuruh dia berlari. "Raisya, ada apa ini?" Tiba-tiba muncul seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah sang pemilik villa ini alias ayahnya si Raisya. Dia pun dengan segera mendekati ketiga gadis itu. "Ayah," ucap Raisya. "Iya, ada apa, Raisya?" tanya sang ayah. Raisya terdiam sejenak. "Arga, salah satu teman kami diserang oleh orang jahat waktu tadi pergi bersama Raisya." Chelsea menjawab, karena sudah mulai muak dengan si Raisya. "Diserang?" tanya ayah Raisya sambil memandang ke arah putrinya itu. Bersamaan dengan itu, datanglah Alvaro dan teman-temannya ke tempat di mana mereka berkumpul. "Ada apa ini?" tanya Alvaro pada semuanya. "Arga diserang oleh penjahat." Kali ini Wulan yang menjawab. "Apa?" Alvaro tentu saja kaget mendengar pengakuan itu. Matanya kemudian melirik ke arah lelaki paruh baya dan si gadis berpakaian minim itu. "Raisya, coba cerita, gimana kejadiannya," ucap ayah Raisya dengan lemah lembut. Raisya mencoba mengatur napasnya lagi. Butuh ketenangan yang tinggi untuk dia bisa bercerita. Walau bagaimanapun juga, tentu saja ia masih syok dengan kejadian yang tadi. "Arga hampir berbuat macam-macam ke aku. Lalu setelah itu seseorang memukulku dengan keras menggunakan balok kayu. Kalau tidak percaya, ini buktinya," ucap Raisya sambil menunjukkan bagian belakang kepalanya, dan benar saja, ada darah di sana. "Kamu terluka, Saya, diobati dulu aja," ucap ayah Raisya. "Tidak perlu, Yah. Biarkan aku bercerita dulu," tolak Raisya. Ayahnya mengangguk. "Lalu aku pingsan, dan ketika bangun aku melihat Arga sedang bertarung dengan seorang manusia berjubah. Satu manusia berjubah lain hanya menonton pertarungan itu. Aku melihat Arga yang sudah kehabisan tenaga. Saat itu, dia menyuruhku untuk lari, dan ketika aku berlari, kutengok ke belakang dia sudah berhasil dikalahkan. Mungkin sekarang, Arga sudah dibawa oleh mereka," ucap Raisya panjang lebar. Manusia berjubah? Alvaro memikirkan hal itu di dalam hatinya. Ternyata, manusia berjubah itu memang benar adanya. Itu artinya, pengelihatannya bukanlah sebuah ilusi belaka. Itu nyata dan bisa saja membawa malapetaka yang lebih besar lagi. "Jadi mereka, ya?" ucap ayah Raisya. "Mereka? Maksudnya? Mereka itu siapa?" tanya Chelsea. Si lelaki paruh baya itu menatap ke arah langit. Sementara Alvaro dan yang lain hanya diam, merasa tidak sabar untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh ayahnya si Raisya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN