Si manusia berjubah itu berlari lagi di kala dirinya melihat kehadiran Reyhan. Berbeda dari yang tadi, Reyhan memutuskan untuk tidak mengejarnya. Ya, dia tahu akhirnya pasti manusia berjubah itu akan menjatuhkan dirinya ke jurang.
Ia membiarkannya lari, dan memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah jasad sahabatnya itu. Semakin dekat, rasanya hatinya semakin sedih. Apalagi ketika melihat kepala yang terpisah dari tubuh itu. Entah kenapa kepalanya jadi pusing. Tak sampai ia menyentuh tubuh sahabatnya itu, perlahan tubuh dan kepala itu pudar dan kemudian menghilang. Jadi, sedari tadi, itulah yang terjadi.
"Hilang?" tanya Reyhan pada diri sendiri.
"Mungkinkah ini cuma ilusi? Atau mimpi?" tanyanya pada diri sendiri lagi.
Setelah kejadian yang ketiga kalinya itu, ia malah merasa agak tenang. Setidaknya ia bisa punya pemikiran bahwa kasus terpenggalnya kepala Alvaro itu hanyalah sebuah ilusi ataupun mimpi. Berbeda dari yang pertama tadi, di mana ia menganggap kematian Alvaro sebagai sesuatu yang benar-benar nyata.
***
Alvaro tersadar kembali. Namun ia enggan untuk membuka matanya. Ia mempergunakan otaknya berpikir keras di situasi yang tidak masuk akal seperti itu. Tak peduli jika mata pedang itu akan kembali menembus tubuhnya, ia terus memejamkan matanya sambil terus berpikir.
"Rasanya aneh. Ah, ini pasti cuma mimpi. Tapi, rasa sakit ini nyata. Apa ini ilusi? Ah, iya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan," batinnya.
Crusss!
Sudah keempat kalinya tubuhnya tertusuk oleh pedang itu, dan kali ini malah lebih parah lagi. Si manusia berjubah itu bukan hanya menusuk ke bagian dadanya, namun juga mencoba memutar-mutar pedangnya itu hingga terciptalah rasa yang lebih sakit lagi.
Alvaro kembali merasakan apa yang dinamakan kematian. Namun sepertinya penderitaannya belum berakhir di kala seolah-olah nyawanya sudah terkumpul kembali dan memaksanya untuk hidup lagi.
"Baiklah, itu yang terakhir," batin Alvaro.
Ia memfokuskan pikirannya. Mulutnya komat-kamit membaca do'a serta berusaha untuk menghilangkan ketakutannya dan mengumpulkan keberaniannya. Matanya masih terpejam untuk membuatnya lebih tenang dalam menjalankan rencananya itu. Kalau memang benar itu cuma mimpi ataupun ilusi, pastilah dengan ia yakin bahwa apa yang dipikirkannya itu benar, ia bisa lolos dari neraka itu.
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik.... Dan seterusnya.
Alvaro tak merasakan ada benda tajam yang menembus tubuhnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan benar, rantai yang mengikat tangannya itu sudah menghilang. Begitu pula dengan rantai yang mengikat kakinya. Rasanya juga sudah menghilang. Namun anehnya, ia tiba-tiba seperti merasakan ada sandaran di belakangnya. Rasa penasarannya memuncak. Ia pun membuka matanya pelan-pelan dan akhirnya terjawab lah sudah pertanyaannya sedari tadi.
Sementara itu, Reyhan masih berusaha untuk berpikir bagaimana cara keluar dari situasi yang ia hadapi. Kembali ia disuguhkan dengan adegan pembunuhan dari si manusia berjubah kepada Alvaro. Kali ini, jauh lebih parah dari sebelumnya. Manusia berjubah itu tak hanya memenggal kepala Alvaro. Namun sebelum itu, dirinya terlebih dahulu memutilasi tangan dan kaki Alvaro. Sialnya, seperti ada yang menahan mata Reyhan untuk terpejam. Ia diharuskan untuk tetap melihat bagaimana untuk keempat kalinya sahabatnya itu terbunuh dengan sadis.
"Tenang Rey. Ini cuma ilusi. Kumpulkan keberanian! Yakinlah bahwa ini tidak nyata!" batinnya.
Reyhan yang bahkan diharuskan untuk mendengar suara jeritan kesakitan dari Alvaro pun juga harus diharuskan untuk konsentrasi penuh agar ia bisa menganggap sepenuhnya bahwa apa yang dialaminya itu hanyalah sebuah ilusi atau juga mimpi. Ia melihat Alvaro sudah tewas lagi, tetap dengan kondisi yang sama seperti tadi, yaitu mengenaskan, bahkan jauh lebih parah.
Pikirannya sudah mulai tenang. Matanya juga sudah bisa ia pejamkan. Namun, entah kenapa di saat ia memejamkan mata, kepalanya mendadak pusing. Ia yang sedang berdiri bahkan tak kuat untuk menahan berat badannya hingga akhirnya ambruk dan kemudian pingsan.
***
Alvaro membuka matanya dan mendapati dirinya sedang terkapar di tanah. Ia langsung sadar bahwa ia sedang berada di hutan. Ia segera bangkit dan langsung mendapati ada Reyhan yang juga sedang terkapar tidak jauh dari tempatnya berada.
"Rey," panggilnya.
Tak mau berpikir lama, ia langsung mendekati sahabatnya itu dan menggoyang-goyangkannya. Namun tak ada hasil. Reyhan masih terus menutup matanya. Ia tak menyerah. Segera ia tampar kedua pipi Reyhan lumayan kencang dengan harapan sahabatnya itu dapat segera bangun. Akan tetapi lagi-lagi cara itu tidak berhasil. Ia bahkan sampai berpikir tentang kemungkinan bahwa sahabatnya itu sudah tidak bernyawa lagi. Didekatkannya jari telunjuknya ke depan lubang hidung Reyhan, dan alhasil ia masih merasakan hembusan nafas dari Reyhan. Ia pun bisa bernapas lega.
"Haaaah."
"Aduh."
Nasib sial seketika menimpanya, dan mungkin juga menimpa Reyhan di kala manusia itu terbangun dengan cara yang tidak tepat. Karena hal itu, terjadilah adu kepala antara Alvaro dan Reyhan hingga pada akhirnya keduanya mengerang kesakitan sambil memegangi kepala masing-masing.
"Aduh, kalau mau bangun bilang-bilang dong, Rey," ucap Alvaro sambil mengelus-elus jidatnya.
"Kau juga. Ngapain pakai acara pasang kepala di depanku?" protes Reyhan. Ia juga melakukan hal yang sama seperti yang Alvaro lakukan.
"Ngomong-ngomong, bukankah kepalamu sudah dipenggal empat kali sama si manusia berjubah itu?" tanya Reyhan. Ia mencoba bangun dari jatuhnya.
"Hufff." Alvaro menghembuskan napasnya pelan. Ia juga mencoba bangun.
"Ternyata kau juga terperangkap ke dunia mereka, ya?" tanya Alvaro.
"Dunia mereka?" tanya Reyhan balik karena tak paham.
"Iya. Untuk pertama kalinya, kukira itu nyata. Tapi, aku lalu berpikir bahwa itu cuma ilusi ataupun juga cuma mimpi. Kurasa itu juga salah. Aku berpikir, entah benar atau tidaknya aku juga tidak tahu, bahwa tadi itu jiwa kita sudah terbawa oleh mereka ke tempat yang sudah direncanakan. Kenapa aku bilang begitu? Karena kalau mimpi, rasa sakit itu terasa sangat nyata. Kalaupun itu cuma ilusi, juga seharusnya tak separah itu," ucap Alvaro panjang lebar.
"Begitu, ya?" tanya Reyhan.
Sejenak keduanya terdiam, mengingat kejadian menyeramkan yang baru saja mereka alami. Alvaro bahkan sampai meraba-raba perut, d**a dan juga lehernya yang tadi tertusuk oleh pedang, namun ternyata tak ada bekas luka sedikitpun di area itu.
"Aku melihat kepalamu dipenggal empat kali, dan itu sungguh membuatku trauma," ucap Reyhan. Alvaro hanya menanggapinya dengan tatapannya.
"Kalau kau? Apa kau juga sama, melihat aku yang dipenggal oleh manusia berjubah itu?" tanya Reyhan.
"Hufff." Lagi-lagi, Alvaro hanya menghembuskan napasnya, kemudian berjalan.
"Tidak, tapi mereka menjebakku di dalam semacam ruang penyiksaan. Di sana, kedua tangan dan kakiku diikat dengan rantai, dan setelah itu tubuhku ditusuk menggunakan pedang sampai tembus. Tapi setiap kali pedang itu dicabut, aku kembali hidup lagi," ucap Alvaro.
"Terhitung sudah sampai 4 kali juga pedang itu menembus tubuhku. Bisa dibilang, aku sudah mati sebanyak empat kali," lanjut Alvaro.
"Cih, lihat saja nanti. Aku akan membalas rasa sakit yang mereka berikan ke tubuh ini," ucap Alvaro lagi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Heh, ternyata apa yang kau rasakan malah jauh lebih parah, ya?" ucap Reyhan.
"Cih, kita lupa sesuatu." Mendadak raut wajah Reyhan langsung berubah. Alvaro masih tak begitu mengerti.
"Ayo kita kembali ke villa secepatnya!" ajak Reyhan. Ia langsung melangkahkan kakinya cepat, disusul oleh Alvaro.
Penderitaan yang baru saja mereka alami memanglah menyakitkan. Akan tetapi, jiwa solidaritas yang mereka miliki jauh mengalahkan penderitaan itu. Dalam kondisi mereka yang baru merasakan sakit itu, mereka masih sempat-sempatnya memikirkan nasib teman-temannya yang berada di villa.
Baik Alvaro maupun Reyhan, mereka pasti tak ingin teman-temannya terluka, apalagi sampai kehilangan nyawa. Terutama bagi Reyhan yang sudah sempat merasakan tentang bagaimana pedihnya ketika melihat sahabatnya mati tepat di depan matanya sendiri, walaupun itu bukan sebuah kenyataan.
***
"Aaaa!"
Suara teriakan itu masih terdengar menggema di telinga Imam dan yang lain. Dengan hanya berbekal rasa penasaran itu, mereka secepatnya bergerak untuk mencari di mana sumber suara itu. Mereka berlari kecil menyusuri lorong-lorong villa sambil terus memasang telinga masing-masing untuk tetap mendengar jeritan itu. Hingga pada akhirnya, jeritan itu pun berakhir.
"Hah, hah.... Ada apa? Kenapa berteriak-teriak?" Tiba-tiba muncul segerombolan kelompok lain dan salah satu dari mereka bertanya kepada Imam dan yang lainnya dengan napasnya yang masih terengah-engah.
"Bukan kami," jawab Nanda.
"Kayaknya sumber suaranya dari kamar situ, deh," ucap Delia sambil menunjuk ke suatu kamar.
"Oke, tunggu apa lagi? Ayo kita periksa!" ajak salah seorang lelaki dari gerombolan yang tadi.
Brakkk!
Pintu dibuka dengan paksa, padahal tidak terkunci. Imam berdiri di posisi paling depan. Dia segera menggunakan tajamnya indra pengelihatannya untuk memeriksa seluruh area kamar tersebut, begitupun dengan yang lain. Di pojokan kamar sana nampak seorang gadis yang sedang duduk meringkuk. Samar-samar terdengar tangisan dari dia.
"Dira," ucap salah seorang perempuan dari gerombolan yang tadi.
Dia langsung mendekati gadis yang bernama Dira itu. Imam dan yang lain juga melakukan hal yang sama, dan benar, ternyata gadis itu sedang menangis. Tangisannya terdengar sesenggukan. Bahkan ia seperti tak berani melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"Hei, Dira," ucap perempuan itu. Sebut saja namanya Yanti.
Namun gadis itu tak juga mau menatap ke arahnya. Dia masih menyembunyikan wajahnya sambil terus menangis sesenggukan. Tak ada cara lain bagi Yanti. Ia segera memegang pundak Dira dan memaksanya dengan halus untuk mau menoleh ke arahnya.
"Ra, kau kenapa?" tanya Yanti. Dira akhirnya mau menoleh.
Raut wajahnya itu, itu benar-benar menandakan bahwa dirinya sedang sangat kacau. Air matanya menempel di mana-mana. Wajah kusutnya itu menandakan bahwa ia sedang dalam kondisi yang sangat ketakutan. Bahkan ketika dirinya menoleh ke arah Yanti dan yang lain pun, ia tetap saja mengeluarkan air matanya.
"Yanti," ucapnya lirih.
"Kau kenapa?" tanya Yanti halus.
"Bawa aku keluar dari sini!" pintanya kepada Yanti. Masih dengan tangisan yang tak dapat dijelaskan.
"Ada apa, Ra? Kenapa?" tanya Yanti lagi.
Dira malah menangis lagi. Dia sungguh terlihat sangat rapuh dan ketakutan. Entah apa yang terjadi padanya tadi.
"Oke, oke. Ayo keluar," ucap Yanti yang peka akan keinginan Dira.
Mereka semua pun keluar. Terlihat Dira yang menempel ke tubuh Yanti selama perjalanan ke luar. Bola matanya juga nampak bergerak-gerak seakan-akan sedang mencari sesuatu yang entah itu apa. Ia sangat ketakutan. Hanya itulah yang bisa terlihat dari raut wajahnya. Tentang takut terhadap apa, belum ada yang tahu.
"Oke, sekarang cerita, ada apa? Kenapa kamu berteriak-teriak, tadi?" tanya Yanti.
"Ada hantu di kamar itu," jawab Dira cepat. Masih dengan tangis sesenggukannya.
"Hantu?" Hampir semua orang yang berada di sana mengatakan hal itu.
"Iya. Waktu aku membuka lemari ingin mengambil baju ganti, wajah hantu menyeramkan itu langsung muncul tepat di hadapanku. Seram sekali, aku takut," ucap Dira. Tubuhnya kembali gemetar, nampaknya ia masih merasa berada dalam peristiwa itu.
"Lalu aku mundur, dan hantu itu keluar dari lemari. Wajahnya...." Dara menggantung ucapannya. Lagi-lagi ia menangis.
"Wajahnya hancur dan penuh darah. Dia seperti ingin membunuhku," lanjutnya. Ia menangis lagi.
Ihsan yang pernah mengalami seperti apa yang Dira alami pun merasa iba. Biar bagaimanapun juga, saat ia berada di posisi Dira waktu itu, ia juga sempat melakukan hal yang sama. Yang lain boleh tidak percaya dengan apa yang Dira ceritakan. Akan tetapi Ihsan, ia percaya sepenuhnya pada cerita gadis itu.
"Tak apa. Itu cuma hantu iseng. Tenang saja. Selama kamu tidak melakukan kesalahan yang bisa mengganggunya, mereka tidak akan mencelakaimu," ucap Ihsan.
"Tapi aku takut. Pokoknya aku gak mau tidur di kamar itu lagi," kata Dira.
"Percuma kau pindah kamar. Karena mungkin bukan kamarmu saja yang berhantu. Seharusnya kita tidak boleh berlama-lama di villa ini. Tapi.... Kita juga tidak boleh pergi dari sini sebelum kita menemukan Arga," ucap Ihsan.
"Arga? Kenapa dengan dia?" tanya salah satu lelaki yang berada di sana.
"Eh. Kalian belum tahu, ya? Arga diculik sosok manusia berjubah setelah dirinya kalah berantem dari manusia berjubah itu," jawab Ihsan.
"Ja-jadi Arga?"
"Iya. Arga masih belum ditemukan. Sekarang, Alvaro dan Reyhan sedang berusaha untuk membawa Arga kembali dalam keadaan hidup-hidup. Kita do'akan saja mereka berdua semoga berhasil," ucap Ocha.
Berita tentang diculiknya Arga tentu membuat mereka semua hampir tak percaya. Bagaimana bisa seorang Arga yang jago berkelahi bisa dikalahkan dengan mudah dan akhirnya dibawa oleh si manusia berjubah itu? Dalam hati mereka mungkin bertanya-tanya seperti itu. Mereka tidak tahu saja bahwa si manusia berjubah yang dihadapi Arga bukanlah manusia sembarangan. Jelaslah Arga mengalami kekalahan, walau dia jago berantem.
"Eee.... Hey, Ra. Kau juga tenang aja, ya. Tentang hantu itu, yang penting kamu bisa membuang ketakutanmu itu, maka hantu tak akan berani mendekatimu. Dan yang paling penting juga, kau harus selalu berdo'a pada sang kuasa untuk meminta perlindungan," ucap Delia mengalihkan pembicaraan tentang Arga karena ia sadar bahwa pembicaraan itu malah semakin membuat Dira ketakutan.
"Iya, Ra. Delia benar. Kamu harus menghilangkan ketakutanmu itu. Jangan takut lagi! Dengan begitu pasti kamu tidak akan diganggu oleh mereka lagi," tambah Yanti.