Bab 35

2000 Kata
Dira, dia adalah seorang perempuan yang sangat penakut, apalagi kalau sudah berhubungan dengan hal mistis. Bahkan mungkin, dari semua orang yang ada di villa itu, dialah yang paling penakut. *** "Ayo cepat, Al. Kita tidak boleh terlambat," ucap Reyhan sambil terus berlari. "Hey, Rey. Jangan terlalu buru-buru!" ucap Alvaro. "Apanya yang jangan? Bisa jadi teman-teman kita sedang dalam bahaya, dan kau masih berbicara kayak gitu?" ucap Reyhan agak kesal. "Iya. Tapi kau yakin, itu arah yang benar untuk menuju villa?" tanya Alvaro. Seketika itu juga langkah Reyhan langsung terhenti. "Cih," decaknya. "Kau boleh khawatir pada teman-temanmu, tapi jangan karena kekhawatiran kamu itu, malah membuat dirimu sendiri celaka," ucap Alvaro. Alvaro segera melangkahkan kakinya ke arah yang benar. Reyhan sejenak masih terdiam dengan rasa emosi yang ia pendam. Bukan emosi kepada Alvaro, tapi emosi kepada perasaannya sendiri yang terlalu ingin cepat-cepat sampai ke villa untuk menolong teman-temannya. Padahal belum tentu pula teman-temannya sedang dalam situasi yang bahaya. "Oi, Rey. Ayo!" ajak Alvaro kepada Reyhan. Reyhan masih diam dan hanya bisa menuruti ajakan Alvaro. Keduanya berlari berdampingan, dengan Alvaro yang mengambil alih tugas Reyhan sebagai penunjuk jalan. Cara mengingat yang Alvaro miliki memang sudah tidak harus diragukan lagi. Buktinya saja dia dengan mudahnya menunjukkan ke mana kaki dia dan Reyhan harus melangkah tanpa ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya. Tak lama berselang, langkah mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan. Lalu jantung Alvaro maupun Reyhan mulai berdebar. Beberapa meter jauhnya dari tempat yang mereka pijak, mereka melihat banyak manusia yang sedang berkumpul di teras villa tersebut. "Al, apa jangan-jangan?" Reyhan menggantung ucapannya, tak mampu untuk meneruskannya. "Tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu," kata Alvaro. Ia segera maju, melangkah mendahului Reyhan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Alvaro pun juga merasakan apa yang namanya khawatir. Para manusia yang berkumpul di teras villa itu tidak main-main jumlahnya. Bukan hanya terdiri dari Delia dan teman-temannya serta kelompok si Yanti saja. Bukan, bukan cuma itu. Sekarang, yang Alvaro dapat tangkap melalui matanya adalah semua temannya sedang ada di sana. Ia seketika terhenti di kala jaraknya sudah cukup dekat dengan mereka. Ia memasang raut wajah khawatir seolah-olah meminta penjelasan atas alasan kenapa mereka semua berkumpul di sana. Reyhan juga sama. Ia menghentikan langkahnya persis di samping Alvaro, sembari juga memandang penuh tanda tanya ke arah mereka. "Alvaro, Reyhan. Akhirnya kalian kembali," ucap beberapa dari mereka. "Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Alvaro. Tak ada yang menjawab. Jelas itu membuat Alvaro dan Reyhan semakin khawatir lagi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati, mereka berdua mulai menerka-nerka. Apa mungkin ada salah satu dari teman-temannya yang hilang lagi? Dan apa mungkin juga yang hilang itu adalah salah satu dari sahabat terbaik dari Alvaro maupun Reyhan? "Tidak ada apa-apa. Hanya saja, apa kalian berhasil menyelamatkan Arga? Jika iya, di mana dia sekarang?" Seseorang menjawab, lalu mengajukan pertanyaan kepada Alvaro dan juga Reyhan. Dia adalah seorang wanita yang cukup cantik, yaitu Chelsea. Entah apa sebenarnya hubungan dia dengan Arga, yang pasti ia terlihat jauh lebih khawatir daripada yang lainnya. "Hufff." Alvaro menghembuskan napas lega. Terjawab sudah asumsinya yang tidak jelas itu. Ternyata memang tidak ada hal buruk yang terjadi lagi. "Maaf," ucapnya. "Kami belum bisa membawanya kembali," lanjutnya. "Kami sudah berusaha, tapi...." Reyhan menundukkan kepalanya. Ia lagi-lagi ragu untuk meneruskan ucapannya. Reyhan kemudian menggerakkan bola matanya untuk melihat ke arah wajah teman-temannya. Rata-rata, mereka memasang raut wajah yang cemas. Lalu pandangan matanya beralih ke arah Chelsea, dan saat itulah ia merasa tak sanggup untuk mengucapkan bahwa Arga kecil kemungkinannya untuk bisa selamat. "Tapi Arga pasti akan kembali kumpul bersama kita lagi. Tenang saja," lanjutnya sambil memasang senyumannya. "Omong kosong," ucap Chelsea setelah beberapa lama diam dengan nada suara yang dingin. Reyhan langsung memandangnya, begitupun dengan yang lain. Chelsea kini sedang menundukkan kepalanya. "Bagaimana bisa kau menyuruh kami tenang, sementara bahkan kau dan Alvaro saja gagal untuk menyelamatkan dia. Katanya, setiap orang yang tertangkap oleh si manusia berjubah itu, maka ia mustahil untuk bisa kembali hidup-hidup," ucap Chelsea. Ia seperti menahan untuk tidak menangis. "Jangan mendahului takdir. Apanya yang mustahil? Manusia berjubah itu bukan Tuhan yang bisa kapan saja mengambil nyawa seseorang. Percayalah, bahwa Arga akan kembali berkumpul bersama kita lagi," ucap Alvaro. Chelsea mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sembari terus menahan tangisannya. Ia bergumam, entah ada yang dengar atau tidak. "Semua ini gara-gara Raisya," gumamnya pelan. Ia tentu tahu, Raisya lah yang mengajak Arga untuk pergi ke hutan. Bahkan bukan hanya tahu. Malahan Raisya sudah mengakuinya sendiri. Itulah yang membuat seorang Chelsea mendadak menjadi tidak suka dengan gadis anak pemilik villa itu. "Oh ya, para dosen sudah tahu, kah, tentang kejadian ini?" tanya Alvaro. "Sudah." Delia tiba-tiba menjawab setelah dia membuka jalan untuk bisa lebih mendekat ke arah Alvaro dan juga Reyhan. "Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Alvaro lagi. "Mereka sedang rapat sama pemilik villa ini. Mungkin sedang membicarakan langkah selanjutnya untuk menyelamatkan Arga," jawab Delia. "Cih, sialan! Apanya yang mau dirapatin? Mereka itu lambat. Kebanyakan ngomong daripada bertindak. Lalu, kalau mereka sedang mengadakan rapat untuk membahas tentang bagaimana cara menyelamatkan Arga, itu berarti mereka tak percaya bahwa aku dan Alvaro bisa menyelamatkannya. Heh, sialan!" ucap Reyhan dengan sangat kesal. "Tenanglah, Rey. Nyatanya kita memang tak bisa menyelamatkan Arga, kan?" tanya Alvaro tenang. "Iya, tapi setidaknya mereka bisa menaruh kepercayaan kepada kita, walau cuma sedikit. Lagipula, kalau saja mereka mendengarkan aku waktu itu, dan mengakhiri acara study tour ini, pasti peristiwa ini tidak akan terjadi," ucap Reyhan lagi. Mungkin benar apa yang Reyhan katakan. Kalau saja waktu itu para dosen lebih mau mendengarkan ucapannya, lalu mengajak para mahasiswa untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, mungkin saja kejadian hilangnya Arga tidak akan terjadi. Namun nyatanya, para dosen hanya mendengarkan bicaranya waktu itu, tapi malah menganggap semua yang ia katakan hanyalah sebuah lelucon belaka. Wajar kalau Reyhan kesal. Ia juga manusia yang tentu punya sisi manusiawi. Biasanya, ia mungkin adalah seseorang dengan jiwa pemimpin yang sangat besar, dan selalu bisa memimpin dengan cara yang bijaksana. Akan tetapi untuk kali ini, ia terlihat sangat kacau. Ah, tidak. Mungkin itulah cara dia menunjukkan kepada semuanya tentang jiwa kepemimpinannya untuk saat ini. Walau terlihat cenderung emosional dan menyalahkan seseorang. Tapi aslinya, itu cuma pelampiasan akan rasa kesal, sedih, takut dan kecewanya. Ya, itulah Reyhan. Jiwa kepemimpinannya itu selalu memaksanya untuk harus bisa melindungi teman-temannya. "Sudah, sudah, Rey. Tenanglah!" pinta Alvaro. "Eee.... Teman-teman semua. Lebih baik kita bubar dulu. Kita tunggu saja keputusan para dosen nantinya. Mungkin mereka sudah menyiapkan sebuah rencana," ucap Alvaro yang ditujukan kepada semuanya. "Tetap hati-hati, dan jangan ada yang sendiri-sendiri. Harus tetap bersama. Lalu, jangan berkeliaran terlalu jauh dari area villa ini, apalagi kalau sampai masuk ke dalam hutan. Lalu, apa lagi, ya? Ah, sudah itu saja. Kita bubar dulu," lanjut Alvaro panjang lebar. Tanpa aba-aba lebih lanjut lagi, mereka semua membubarkan diri, kecuali Delia dan yang lain, termasuk pula Chelsea. "Chelsea," panggil Alvaro kepada gadis itu. "Iya," jawab Chelsea. Ia dengan peka langsung berjalan mendekati Alvaro. "Seberapa pentingkah Arga buat kamu?" tanya Alvaro. Sontak hal itu langsung membuat raut wajah Chelsea berubah. "Ke-kenapa kau nanya seperti itu?" tanya Chelsea balik. "Nggak apa-apa, cuma nanya aja. Aku harap kamu bisa jawab jujur," jawab Alvaro. "Hufff." Chelsea menghembuskan napasnya pelan sembari rambut hitam kemerah-merahannya yang panjang itu tertiup oleh sang angin. "Dari awal, aku sudah suka sama Arga. Hanya saja, aku tak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Dia baik, jago berantem pula. Hingga tiba saatnya tadi, ketika cewek itu menemui dia. Aku benci dengan cewek itu. Kalau saja dia tidak mengajak Arga pergi ke hutan, mungkin...." Dia meneteskan air matanya, dan seketika itu juga ucapannya tersendat. "Mungkin Arga tidak akan mengalami hal semacam itu," lanjutnya. "Aku curiga, cewek itu adalah dalang di balik semua ini. Dia sengaja berpakaian seperti itu supaya bisa menggoda Arga. Lalu dia mengajak Arga ke hutan dan mencelakainya. Arga itu baik, mana mungkin ia berani melakukan hal tidak senonoh seperti yang diceritakan oleh cewek itu. Arga juga bukan orang yang lemah. Dia jago berkelahi. Mana mungkin dia bisa dikalahkan dengan mudah oleh orang berjubah itu." Chelsea benar-benar meluapkan segala emosi, amarah dan kekhawatirannya kepada Arga dengan kata-kata panjang seperti itu. Alvaro dibuat bingung oleh apa yang dikatakan oleh Chelsea. Di satu sisi, ia sebenarnya juga mempunyai pemikiran seperti itu, akan tetapi di lain sisi, dia malah teringat dengan ucapan Raisya yang tadi. Tentang alasan Raisya berpakaian seperti itu. Tentang pengakuan rasa bersalah yang dilakukan oleh Raisya atas kejadian diculiknya Arga, itu rasanya sangat nyata. Maksudnya, itu seperti tak ada unsur rekayasa. Menurut Alvaro, Raisya murni merasa bersalah tentang apa yang telah terjadi. "Begitu, ya?" tanya Alvaro. Chelsea mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Tapi, jangan menuduh sembarangan dulu. Aku berjanji akan berusaha keras untuk menyelamatkan Arga," ucap Alvaro. Nampak sedikit senyuman dari wajah gadis bernama Chelsea itu. Sementara Delia, ia seakan memandang iri ke Chelsea. "Tapi ada benarnya juga lho, Al, apa yang dikatakan Chelsea. Kau sendiri yang bilang bahwa kita harus waspada sama mereka, tapi kenapa sekarang kau malah melarang kami untuk tidak menuduh?" protes Ihsan. "Jangan bilang kalau kau suka sama dia," lanjutnya. "Bodoh! Mana mungkin," sahut Alvaro cepat. "Lalu?" tanya Ihsan meminta penjelasan. "Entahlah. Kelak pasti ada waktunya semuanya akan terbongkar. Tapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Yang terpenting, kita harus selalu berusaha sebisa yang kita bisa," jawab Alvaro. "Untuk masalah ini, aku meminta kalian supaya jangan ceroboh. Karena konsekuensinya akan sangat fatal. Sekali lagi masalahnya, musuh kita itu bukan orang biasa. Mereka adalah monster yang bersekutu dengan iblis," ucap Alvaro lagi. Dia berkata bukan tanpa tujuan. Sebenarnya itu adalah kata-kata yang dikhususkan untuk Chelsea. Karena ia takut jika seandainya nanti Chelsea malah bertindak ceroboh dengan sok-sokan pergi sendirian untuk menemukan keberadaan Arga. "Hmmm.... Oke. Ya udah, kalau begitu, semuanya, aku ke kamar dulu, ya," pamit Chelsea. "Iya," jawab Alvaro dan juga yang lain. Akhirnya cuma tinggal 7 serangkai yang berada di tempat itu. Reyhan langsung mengintruksikan kepada teman-temannya untuk pergi dari tempat itu dan mencari tempat yang lain. "Ada apa, Rey?" tanya Nanda setelah mereka sampai di tempat yang Reyhan maksud. "Tidak ada apa-apa. Cuma mau berbagi sedikit pengalaman saja yang aku alami bersama Alvaro, tadi," jawab Reyhan. "Eh, iya. Kok bisa lupa, ya. Memangnya, kenapa kalian bisa gagal menyelamatkan Arga?" tanya Ihsan. "Memangnya kau pikir mudah menyelamatkan nyawa orang lain?" tanya Reyhan kesal. "Wih, santai Bro, kan aku cuma nanya," kata Ihsan. "Hmmm.... Soal itu, kami sudah sempat sampai di rumah kosong itu," ucap Alvaro. "Hah! Lalu?" tanya semuanya antusias. "Aku bahkan sudah masuk ke sana. Namun tak kutemui keanehan lain selain di dalam rumah itu terlihat sangat bersih, tak ada debu maupun sarang laba-labanya. Lalu, ada lilin dan juga lentera di dalamnya. Aku sudah mencoba memegang barang-barang yang berada di sana, tapi kemampuan yang kumiliki seperti tidak berguna," jelas Alvaro. "Mungkinkah itu ulah penunggu rumah itu?" tanya Delia. "Entahlah," jawab Alvaro. "Berarti mereka tidak membawa Arga ke sana?" tanya Ocha. "Aku juga tidak tahu. Intinya, aku dan Reyhan sudah menunggunya cukup lama, tapi tak ada tanda-tanda bahwa mereka datang ke rumah tua itu," jawab Alvaro. Tanpa mereka sadari, dari jarak yang lumayan jauh dari tempat mereka berada, ada seseorang yang sedang mengawasi. Dia berdiri di balik pohon besar yang merupakan bagian dari hutan itu, dan siapakah sosok itu? Dia berjubah, dan sudah pasti dia adalah salah satu dari manusia berjubah itu. Beruntungnya jaraknya cukup jauh sehingga hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Alvaro dan teman-temannya. "Lalu setelah itu, kami memutuskan untuk kembali ke villa." Kali ini Reyhan yang melanjutkan. "Tapi, di tengah perjalanan itu, ada kabut tebal yang menyelimuti kami hingga membuat kami pingsan. Lalu ketika aku tersadar, Alvaro sudah tidak ada di sampingku. Dan saat itulah kulihat Alvaro yang dipenggal kepalanya oleh manusia berjubah itu," lanjut Reyhan. "Apa? Kepala Alvaro dipenggal?" tanya Ihsan heboh. "Iya, tapi itu entah cuma ilusi atau mimpi ataupun apa, aku tidak tahu," jawab Reyhan. "Ooo.... Jadi, saat kamu melihat kepala Alvaro yang terpenggal, kamu pasti nangis, kan?" tanya Ihsan. "Aku? Nangis? Hahahaha.... Nggak mungkin lah," jawab Reyhan. "Justru ketika aku melihat kepala Alvaro yang terpisah dari tubuhnya, aku tertawa kencang. Hahaha," lanjut Reyhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN