"Kalian tahu? Raut wajah Alvaro yang kepalanya sudah terpisah dari badannya itu lucu banget, sampai aku tidak bisa berhenti ketawa waktu itu. Hahaha," ucap Reyhan lagi. Begitulah manusia yang satu ini. Terkadang bijaksana dan terkadang juga gila.
"Cih, kawan sialan!" umpat Alvaro.
"Sudah-sudah, jangan dibahas lagi. Nanti malah akan membuat mereka takut," ucap Alvaro.
"Hahaha.... Iya, iya," jawab Reyhan.
"Hey Al, kamu tahu nggak? Saat kamu dan Reyhan pergi tadi, Delia khawatir banget sama kalian. Terutama sama kamu, Al. Dia sampai nangis, lho," ucap Ocha. Sontak itu membuat Delia langsung merasa salah tingkah.
"Eh, iyakah, Del?" tanya Alvaro sambil memandang Delia lekat.
"Eh, itu.... Itu.... Iya, aku nangis, tapi sedikit," jawab Delia. Saat dia bingung seperti itu, dia nampak lucu sekali.
"Biarpun sedikit kan tetap nangis, Del," ucap Alvaro.
"Iya, sih. Hehehe," jawab Delia sambil ketawa pelan.
"Hmmm.... Kenapa nangis?" tanya Alvaro.
"Ya nggak apa-apa. Kan khawatir sama kalian berdua. Lain kali, jangan ceroboh kayak gitu lagi. Kalian tahu nggak sih, itu membahayakan nyawa kalian?" jawab sekaligus tanya Delia.
"Tahu," jawab Alvaro.
"Lalu kenapa tetap dilakuin?" tanya Delia.
"Ya karena aku ingin," jawab Alvaro cepat.
Delia mendecak pelan. Semua sahabatnya itu ia rasa tak ada yang waras. Baik Alvaro, Reyhan, Ihsan, Ocha, Imam dan bahkan juga Nanda yang terkenal dingin. Bagi dia, mereka itu juga punya sisi tidak warasnya masing-masing.
"Delia benar, Al. Bukan cuma dia aja yang khawatir, tapi kami juga, atau mungkin semua teman kita juga. Jangan bertindak gegabah seperti tadi lagi. Ditambah lagi yang memberitahu soal hal itu adalah salah satu orang yang layak untuk dicurigai. Bisa saja kan, itu jebakan? Tapi kalian malah mempercayainya dengan mudah," ucap Imam yang akhirnya ikut berbicara.
"Iya, maaf telah membuat semuanya khawatir," ucap Alvaro.
"Heh, ya sudahlah, yang penting kalian berdua tidak apa-apa," ucap Ocha.
"Sekarang, sebaiknya kita juga cari cara untuk bisa membebaskan Arga dari mereka. Katanya, manusia berjubah itu tidak akan membunuh korbannya langsung, kan? Jadi, kita tidak boleh sampai terlambat untuk menyelamatkannya. Kita manfaatkan selang waktu yang kita tidak tahu berapa lamanya itu," ucap Reyhan.
"Tapi masalahnya, kita tidak tahu ke mana mereka membawa Arga. Sekalipun tahu, pasti akan sangat sulit untuk menuju ke sana. Mereka tentu tak akan membiarkan kita dengan mudah untuk mencapai tempat itu," ucap Delia.
"Hufff.... Sialan! Kalau kayak gini, apa boleh buat? Satu-satunya jalan adalah dengan bertanya kepada pemilik villa ini di mana manusia berjubah itu suka membawa para korbannya," usul Ihsan.
"Tidak, aku masih belum bisa percaya sepenuhnya ke mereka," jawab Reyhan cepat.
"Jangan pikirkan soal tempatnya," ucap Alvaro. Sontak semua mata pun langsung menatap Alvaro.
"Maksud kamu?" tanya Ocha.
"Firasatku, mereka tetap membawa Arga ke rumah tua itu. Hanya saja, tadi mungkin mereka sudah tahu bahwa aku dan Reyhan sedang berada di sana untuk mengintai. Sekarang yang terpenting adalah tentang bagaimana caranya datang ke sana tanpa hambatan dan langsung menyelamatkan Arga," ucap Alvaro. Semuanya diam membisu.
"Aku tahu itu sulit, tapi tak mungkin jika kita hanya berdiam diri, sementara di luar sana teman kita sedang berada dalam bahaya. Kita memang tak begitu dekat dengan dia, tapi meski begitu, dia tetaplah teman kita dan sebagai teman kita harus berani berkorban untuk keselamatannya," lanjut Alvaro.
Krik krik!
Masih dalam keheningan. Tak ada satu orang pun yang menyahut perkataan Alvaro yang panjang lebar. Semuanya nyaman dengan diamnya. Alvaro pun menatap mereka dengan heran. Tak biasa-biasanya mereka bersikap seperti itu.
"Sudah, gak ada yang komen, kah?" tanya Alvaro.
"Oh, iya. Jadi maksud kamu, kita harus pergi ke rumah tua itu lagi untuk menyelamatkan Arga?" tanya Imam yang akhirnya menjadi orang pertama yang merespon.
"Ya, betul sekali," jawab Alvaro.
"Eee.... Kamu mau membahayakan nyawa kamu lagi?" tanya Delia dengan cemasnya.
"Nggak ada yang mau membahayakan nyawanya sendiri, Del," kata Alvaro.
"Itu buktinya, kamu mau kembali ke tempat terkutuk itu," ucap Delia.
"Aku ke sana untuk menyelamatkan temanku, bukan untuk membahayakan nyawaku," ucap Alvaro.
"Dan tentu aku tak akan bisa ke sana sendirian. Aku butuh kalian. Bukankah dengan bersatu kita akan semakin kuat?" tanya Alvaro.
Semuanya diam lagi, termasuk Delia. Bingung mau menjawab apa soal pertanyaan Alvaro itu.
"Boleh aku jujur?" Delia tiba-tiba bertanya pada Alvaro.
"Tentu saja," jawab Alvaro.
"Aku tidak setuju jika kamu berniat untuk kembali ke sana lagi, tapi aku lebih tidak setuju jika kamu ke sananya sendirian. Jika kamu masih bersikeras untuk pergi ke sana, aku ikut," ucap Delia. Alvaro tersenyum. Kemudian pandangannya beralih ke teman-temannya yang lain.
"Jangan tanya kami. Mana mungkin kami membiarkan kamu berjuang sendirian." Nanda menjawab diiringi dengan anggukan yang lain.
Itulah sahabat. Mereka akan selalu bersedia untuk membantu jika salah satunya sudah menyatakan bahwa dirinya butuh bantuan. Ya, sekalipun bantuan yang dibutuhkan itu akan membahayakan nyawa.
Tak ada yang lebih hebat dari ikatan tanpa hubungan darah selain persahabatan. Bahkan jika itu cinta, mungkin cinta juga tak mampu melakukan apa yang bisa dilakukan oleh sang sahabat.
***
"Dari mana saja kau?" tanya seseorang kepada seseorang lain yang baru datang.
"Mengawasi kebodohan yang telah kau perbuat," jawab orang itu. Dia ternyata adalah si wanita berjubah.
"Maksudnya?" tanya si lelaki berjubah.
"Kau seharusnya langsung membunuh mereka, saat mereka pingsan, tadi," ucap si wanita berjubah.
"Hufff. Dasar naif. Kau sama aja seperti dia. Sama-sama bodoh," ucap si lelaki.
"Jangan pernah menjelek-jelekkan dia. Tanpa dia, kita pasti akan kesulitan untuk mencari korban," kata si wanita berjubah dengan nada tinggi.
"Oke. Lupakan soal itu. Dari mana kau tadi?" tanya si lelaki lagi.
"Mengawasi orang-orang yang tidak kau bunuh, tadi. Sepertinya mereka punya rencana. Tapi aku tidak tahu apa rencana mereka," jawab si wanita.
"Hahaha.... Sudah kuduga. Mereka pasti tidak akan tinggal diam," ucap si lelaki sambil tertawa.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya si wanita dengan heran.
"Tidak apa-apa. Kita akan berikan hadiah kepada mereka karena keberanian mereka, nanti," jawab si lelaki berjubah.
"Hadiah?" tanya si wanita.
"Lihat saja nanti," jawab si lelaki berjubah.
"Hufff.... Baiklah. Sekarang, bagaimana keadaan pemuda itu?" tanya si wanita sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang diikat menggunakan tali tambang. Tak salah lagi, seseorang itu adalah Arga.
"Seperti yang kau lihat. Dia belum juga sadar dari pingsannya," jawab si lelaki berjubah.
"Hufff.... Kau terlalu keras dalam memukulnya. Jika dia mati, persembahan kita akan gagal," kata si wanita.
"Heh," balas si lelaki itu.
"Cobalah lihat sendiri keadaannya," lanjut lelaki berjubah itu.
Si wanita langsung menuruti apa yang diminta oleh sang lelaki. Dia kemudian berjalan ke arah di mana seorang Arga sedang pingsan dan dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat kuat. Tak lupa pula lakban yang memplester mulutnya.
"Hei," ucap si wanita sambil menepuk-nepuk pipi Arga, namun Arga tetap tak kunjung bangun.
Dia kemudian memeriksa kondisi napas Arga dengan mendekatkan jari telunjuknya ke hidung Arga, dan alhasil ia masih bisa merasakan hembusan napas Arga, walaupun sangat tipis.
"Gimana?" tanya si lelaki berjubah ketika wanita itu selesai memeriksa keadaan Arga.
"Oke, tidak ada masalah," jawab wanita itu.
"Tapi kenapa ia belum bangun-bangun juga?" tanyanya.
"Nanti dia juga bangun, tunggu sajalah," jawab si lelaki berjubah. Wanitanya hanya menganggukkan kepala, masih dengan wajah yang belum bisa terlihat.
"Kau suruh anak itu untuk mengawasi pergerakan mereka!" perintah sang lelaki.
"Cih, menyebalkan. Kalau kau membunuh anak-anak itu tadi, mungkin kita tidak akan kerepotan kayak gini," kata si wanita.
"Cerewet! Turuti saja permintaanku!" bentak si lelaki. Wanita berjubah itu hanya diam.
Kembali ke sisi di mana Alvaro dan teman-temannya berada. Beberapa dari mahasiswa itu kini sedang menemui para dosen. Dari beberapa mahasiswa itu, nampak Alvaro dan juga Reyhan yang turut serta. Mereka ingin meminta penjelasan dari hasil rapat para dosen, tadi.
"Pak, gimana ini? Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Arga?" tanya seorang lelaki yang merupakan teman dekat Arga.
"Em, gini. Kata pemilik villa, akan semakin berbahaya jika kita masuk hutan melewati jam 2 siang. Karena pada saat itulah para makhluk tak kasat mata itu memunculkan diri," jawab salah satu dosen.
"Tapi ini baru jam setengah 2, Pak," ucap Reyhan.
"Justru itulah. Tidak mungkin jika kita bisa menyelamatkan Arga hanya dalam waktu setengah jam," jawab salah satu dosen.
"Cih." Reyhan mendecak sambil menggeram. Ia seperti ada dendam tersendiri dengan para dosen itu.
"Lalu, gimana, Pak?" Alvaro bertanya.
"Tidak ada pilihan lain. Kita cuma bisa melakukan pencarian pada esok hari. Ini juga demi keselamatan kita semua. Selain itu kita juga harus memikirkan rencana untuk menyelamatkan Arga," jawab salah satu dosen yang lain.
"Oh ya, dan ada satu larangan lagi. Tidak ada yang boleh masuk ke sebuah titik di hutan itu, kecuali jumlahnya tidak lebih dari 2 orang. Itu juga pastinya akan sangat merepotkan bagi kita," ucap dosen yang tadi.
"Apanya yang tidak boleh lebih dari dua orang? Kenapa? Karena takut nantinya akan diganggu oleh penunggu hutan itu? Cih, bahkan aku yang masuk hanya berdua dengan Alvaro pun masih diganggu. Bapak ini orang yang berpendidikan, kenapa masih percaya pada takhayul seperti itu?" tanya Reyhan yang sudah mulai berapi-api.
"Reyhan, jaga sikap!" bentak Pak Togar.
"Ini bukan tempat tinggal kita, jadi sebaiknya kita percaya aja pada semua hal yang ada di sini. Jangan melakukan hal-hal yang dilarang, meskipun itu terdengar seperti takhayul," lanjut Pak Togar.
"Pak, Arga itu teman kami, dan dia juga mahasiswa bapak. Apa pantas membiarkan mahasiswa yang bapak miliki itu dalam bahaya, dan hanya menunggu berita kematiannya saja?" tanya Reyhan kesal.
"Cih, kalau saja kalian semua mendengar perkataan saya saat itu, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi, Pak!" lanjutnya dengan nada tinggi, lalu tiba-tiba pergi dari kerumunan itu. Alvaro pun mengikutinya.
Jati diri Reyhan yang sebenarnya telah muncul. Jiwa pemimpin yang hebat, yang hanya dimiliki oleh Reyhan seorang. Dia marah, marah karena banyak hal. Dia mungkin tak begitu dekat dengan Arga. Ia juga sempat berpikir dua kali untuk mempertaruhkan nyawa agar bisa menyelamatkannya. Akan tetapi, saat ini, karena tekad yang begitu kuat dari Alvaro yang ingin menyelamatkan Arga, serta karena kesal pada para dosen yang seolah-olah bertindak seperti pengecut itu, emosinya akhirnya tak dapat ia kontrol dan jiwa pemimpinnya pun langsung muncul.
Dalam hati Reyhan, sebenarnya keinginan untuk menyelamatkan Arga masih kalah besar dari Alvaro. Ia masih ada keraguan untuk mengorbankan nyawa. Berbeda dari Alvaro yang bahkan tak peduli dengan keselamatannya sendiri hanya untuk menyelamatkan teman yang tak begitu dikenalnya itu.
"Rey, tunggu!" ucap Alvaro yang mengejar Reyhan.
"Dosen macam apa tuh? Tidak ada tanggung jawabnya sama sekali," kata Reyhan kesal setelah ia berhenti berjalan dan berbalik untuk menghadap ke arah Alvaro.
"Harusnya mereka yang bertanggung jawab, secara acara ini kan mereka yang buat," lanjut Reyhan.
"Hey Al, bagaimana menurutmu?" Ia kemudian bertanya pada Alvaro secara ambigu.
"Ha? Kalau aku.... Aku ingin ke sana segera. Maksudku, ke rumah tua itu untuk langsung menyelamatkan Arga," jawab Alvaro.
"Kau tidak takut dengan apa yang dikatakan para dosen?" tanya Reyhan.
"Takut? Tentu saja iya. Tempat semacam itu pastilah menjadi sarang para makhluk tak kasat mata yang bisa mencelakakan kita kapan saja," jawab Alvaro.
"Tapi aku akan lebih takut lagi jika tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dia. Aku juga takut dengan rasa bersalahku nanti. Karena itu aku ingin menyelamatkannya segera," lanjut Alvaro. Reyhan tersenyum.
"Jadi bagaimana? Kita akan pergi ke sana sekarang?" tanya Reyhan.
"Tentu saja," jawab Alvaro.
Keputusan yang diambil oleh Alvaro sudah bulat. Kini saatnya dirinya dan Reyhan harus bertindak di kala para manusia pengecut itu sibuk menghadapi ketakutannya sendiri.
"Aku ikut." Tiba-tiba seseorang datang dengan sedikit berlari ke arah Alvaro dan Reyhan berada.
"Chelsea," ucap Alvaro dan Reyhan bersamaan.
"Kalian mau menyelamatkan Arga, kan?" tanya Chelsea sambil memandang ke arah semuanya dengan tatapan yang penuh arti.
"Emmm.... Iya," jawab Alvaro.
"Aku ikut," sahut Chelsea cepat.
"Eee.... Gimana, ya. Akan terlalu berbahaya jika kau ikut. Takutnya malah terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Jadi lebih baik kamu jangan ikut, ya," ucap Alvaro.
"Aku tidak peduli. Aku tetap mau ikut," ucap Chelsea memaksa.
"Eee...." Alvaro nampak ragu untuk memutuskan.
"Bukankah dengan kita bersatu, kita akan menjadi semakin kuat? Lalu kenapa kau ingin rencana berbahaya itu cuma dijalankan oleh kau dan Reyhan saja?" tanya Chelsea semakin menekan.
Sial, Alvaro tak bisa membalas perkataan Chelsea. Kata-kata itu, kata-kata yang pernah ia ucapkan sebelumnya, dan kini malah Chelsea mengatakan hal itu juga kepadanya. Ia merasa telah dinasihati oleh dirinya sendiri. Oleh karena itulah ia tak dapat membalas apa-apa.