Bab 37

2007 Kata
"Alvaro, Reyhan, gimana? Aku boleh ikut, ya," pintanya. "Oke, kau boleh ikut," jawab Reyhan. Sontak Alvaro pun langsung menoleh cepat ke arah Reyhan. "Kenapa, Al? Nanti kita akan pergi berdelapan. Apa jangan-jangan kau percaya dengan rumor tidak boleh memasuki kawasan hutan terlarang itu dengan jumlah yang lebih dari dua orang?" tebak Reyhan. "Cih, nggak lah. Meski kemampuan ini terbilang masih baru, tapi aku bisa merasakan kalau beberapa hantu di sana itu adalah hantu baik," ucap Alvaro. "Maksudnya?" tanya Reyhan bingung. "Ya contohnya kejadian pada malam itu. Yang aku sama Imam dikejar hantu api, dan kau sama Ihsan ketemu hantu anak kecil. Lalu soal penampakan makhluk yang menyerupai Imam sama Ihsan tadi. Kurasa mereka berdua berniat baik kepada kita. Mereka ingin kita segera keluar dari kawasan itu dengan harapan kita akan mengikuti mereka. Jadi intinya, di sana makhluknya ada yang baik dan juga ada yang jahat," ucap Alvaro panjang lebar. "Kalau memang ada yang baik, lalu kenapa mereka tak membantu kita, Al?" tanya Reyhan penasaran. "Entahlah. Kalau menurutku, mereka kalah dalam hal kekuatan dari yang jahat. Tapi entahlah, aku masih tak paham dengan dunia perhantuan," jawab Alvaro. "Eh, kok malah jadi ngomongin hantu, sih. Jadi gak nih?" tanya Chelsea. "Jadi lah. Sekarang kau silahkan siap-siap dulu. Kami juga," kata Alvaro. "Oke," jawab Chelsea dengan antusias. Dia langsung bergerak cepat. Mungkin ingin menuju kamarnya. Alvaro dan Reyhan masih diam di tempat, menyaksikan betapa antusiasnya seorang Chelsea dalam masalah ini. Bisa dibilang ia hampir seperti Alvaro yang tak memperdulikan keselamatannya sendiri. Atau mungkin, kenekatannya malah jauh melebihi Alvaro, secara dia hanyalah seorang gadis yang tentu kekuatannya tak sebesar Alvaro yang merupakan seorang lelaki. "Seperti itu kah, sesuatu yang dinamakan dengan cinta?" tanya Alvaro entah kepada siapa. "Tapi aneh deh. Apa ya, yang membuat dia secinta itu sama Arga?" Kali ini Reyhan yang mengajukan pertanyaan. "Entahlah. Mungkin Arga pernah berjasa di kehidupannya," jawab Alvaro. "Ah, sudahlah. Mending segera kasih tahu teman-teman supaya langsung bersiap-siap untuk pergi," lanjutnya. Mereka berdua pun langsung memberikan informasi kepada para sahabat untuk segera bersiap-siap. Tentu yang lain pun langsung setuju tanpa memberikan banyak pertanyaan lagi. Setelah memberitahu, kini giliran Alvaro dan Reyhan lah yang harus bersiap-siap. Di kamar mereka ada Tomi dan Aji. Mereka berdua sedang bermain game lewat ponsel mereka. Ketika Alvaro dan Reyhan sedang mencari sesuatu yang harus dibawa guna untuk menyelamatkan Arga, mereka pun langsung bertanya karena penasaran. "Eh, kalian mau ke mana. Kok bawa golok?" tanya Aji ketika melihat Reyhan yang membawa golok. "Kita mau pergi ke hutan, Ji, buat nyelametin Arga," jawab Reyhan. "Apa kau bilang? Aku dengar-dengar, bukankah para dosen sudah melarang kita untuk masuk hutan ketika sudah jam 2 lebih?" tanya Tomi. "Iya. Aku tahu. Kumohon, jika nanti ada yang nanya, bilang bahwa kami sedang ke mana, gitu. Yang penting jangan bilang kalau kami sedang masuk ke hutan," pinta Reyhan. "Kalian.... Kalian jangan gila! Itu terlalu berbahaya buat kalian," ucap Aji. Ia terlihat khawatir pada Alvaro dan juga Reyhan. "Dan lebih berbahaya lagi bagi Arga. Telat sedetik saja, dia bisa tewas, Ji," sahut Alvaro. Aji kemudian diam, demikian juga dengan Tomi. Kali ini Alvaro dan Reyhan tidak membawa tas seperti tadi. Mereka akan pergi ke hutan tanpa adanya makan atau minum. Hanya berbekal golok untuk Reyhan, dan kerambit untuk Alvaro. Mungkin mereka merasa sudah tahu di mana arah jalan menuju tempat tujuan mereka, sehingga mereka tak memerlukan itu lagi. Tentang bagaimana jika seandainya nanti mereka tiba-tiba terjebak di dunia ghaib, itu urusan nanti. "Yuk, Al, berangkat!" ajak Reyhan. Alvaro mengangguk-anggukan kepalanya. "Tom, Ji, kami berangkat dulu, ya," pamit Alvaro. "Iya, hati-hati. Kembalilah sebelum senja walaupun Arga belum bisa kalian selamatkan," kata Tomi. "Iya," jawab Alvaro. Alvaro dan Reyhan kemudian keluar kamar. Di luar kamar sana ternyata teman-temannya sudah berkumpul. Masing-masing dari mereka juga sudah membawa persenjataan seperti apa yang Alvaro dan Reyhan perintahkan untuk bawa, tadi. Dari kelima manusia itu, yang paling parah adalah Ihsan. Ia membawa senjata berupa sabit yang entah ia dapatkan dari mana. "San, mau nyariin makan buat kambing kamu?" tanya Reyhan dengan raut wajah tak percaya. "Udah, gak usah banyak komen. Ini senjata jika kena, rasa sakit yang dia ciptakan akan jauh lebih besar daripada senjata kalian," ucap Ihsan. Reyhan tertawa. "Hahaha, oke, oke. Setidaknya, masukin dulu senjata anehmu itu ke dalam tas," ejek Reyhan. "Apa kau bilang? Aneh? Berani-beraninya," ucap Ihsan kesal. "Hahaha.... Emang aneh, San, kayak yang megang," ejek Reyhan lagi. "Cih, sialan nih anak!" umpat Ihsan kesal. "Woi, sudah, kok malah berantem sih. Ayo kita berangkat!" ucap Nanda mengakhiri pertengkaran tak berguna itu. "Sebentar," kata Alvaro. "Hah? Emang kenapa, Al?" tanya Delia. "Tunggu si Chelsea dulu. Katanya dia mau ikut," jawab Alvaro. "Dia mau ikut?" tanya Delia. "Iya, Del," jawab Alvaro lembut. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seorang gadis cantik dengan tas pinggang yang sedang dikenakannya. Ia berjalan santai menuju ke arah di mana Alvaro dan yang lainnya berkumpul. "Lah, itu kenapa Ihsan bawa sabit?" tanya Chelsea bingung. "Dia mau ngarit, katanya," jawab Reyhan asal. Ngarit itu adalah bahasa Jawa yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti kegiatan menebas rumput dengan menggunakan sabit. "Ngarit?" tanya Chelsea bingung. Tentu ia tak paham dengan apa maksud dari Reyhan. "Itu lho, motong rumput pakai sabit. Terus rumputnya buat makan kambing," jawab Reyhan. "Oh," kata Chelsea sambil mengangguk-angguk kepalanya. "Cih, emang sialan tuh anak," gumam Ihsan. "Hahaha, sudah, jangan buang-buang waktu lagi. Ayo berangkat!" ajak Alvaro. "Chelsea, kau bawa senjata, kan?" tanyanya kemudian. "Senjata?" tanya Chelsea balik dengan raut wajahnya yang bingung. "Nggak bawa, ya? Ya udah, nanti kalau sudah di hutan, bawa aja salah satu dari kerambitku," ucap Alvaro. "Oh, okelah," jawab Chelsea. Pisau kerambit Alvaro memang terdiri dari sepasang. Kebetulan kini ia sedang membawa sepasang. Dengan begitu tidak jadi masalah jikalaupun salah satunya diberikan kepada Chelsea. Karena dia pun masih punya salah satunya lagi. Alvaro itu memang aneh. Di saat yang lain memanfaatkan senjata yang lebih menakutkan daripada kerambit, dia malah cuma memanfaatkan senjata kecil semacam itu. Kalau dipikir-pikir, itu tidak akan pernah bisa menusuk tubuh musuh sampai tembus. Apalagi musuh yang akan dihadapinya bukanlah musuh sembarangan. Kapak saja tidak bisa menembus kulitnya, lalu bagaimana dengan kerambit? Tapi biarlah. Itu keinginan dari Alvaro sendiri. Mungkin ada sebuah alasan yang mendasar kenapa ia lebih memilih senjata kecil itu daripada memilih golok ataupun semacamnya. Hanya saja tidak ada yang mengetahuinya selain dirinya dan sang pencipta tentunya. Kini seorang Alvaro Aditama dan ketujuh temannya sedang bergegas untuk menuju medan perang. Mereka berangkat dengan semangat yang super tinggi dan mungkin sudah siap mati demi berhasilnya sebuah misi. Akan tetapi, ketika pintu depan villa itu dibuka, wajah penuh semangat mereka langsung berubah drastis. "Sial! Apa yang mereka lakukan di sana?" tanya Reyhan entah kepada siapa. "Cih, kurasa mereka sedang berjaga agar tidak ada satupun dari kita yang masuk ke hutan," jawab Alvaro. Apa yang mereka lihat itu adalah awal dari kehancuran semangat yang tadinya telah berkobar. Jauh di depan sana, nampak para dosen yang sedang bertugas layaknya satpam untuk berjaga agar tidak ada yang berani masuk ke hutan. Alvaro kesal melihat hal itu, dan mungkin bukan dia saja, tapi juga semuanya. "Apa kita lewat belakang saja," usul Ihsan. "Kau lupa kah, kalau villa ini dikelilingi oleh tembok yang menjulang tinggi? Kalau kita lewat belakang, lalu bagaimana cara kita melewati tembok itu? Terbang?" tanya Reyhan. "Iya juga, ya," ucap Ihsan. "Jalan satu-satunya ya cuma lewat depan, tapi masalahnya adalah penjaganya itu," ucap Alvaro. "Lalu bagaimana? Apa rencananya kita tunda dulu?" tanya Ocha. "Tidak, jangan ditunda! Aku tidak mau jika terjadi apa-apa sama Arga," sahut Chelsea. "Iya. Karena sudah terlanjur berniat, kita lanjutin saja," kata Alvaro. "Tapi bagaimana cara melewati mereka, Al?" tanya Ocha. Alvaro berpikir. Jujur sebenarnya ia juga kebingungan untuk bisa melewati para penjaga itu. Ini sungguh di luar dugaan. Seharusnya mereka bisa pergi ke hutan dengan mudah, tapi nyatanya malah ada penjagaan seketat itu. Mereka kira rintangannya hanya akan terjadi jika sudah berada di dalam hutan nanti, akan tetapi ternyata salah. Bahkan di awal pun sudah ada rintangannya. "Kalian mau ke hutan?" Dari arah yang tak terduga pula, tiba-tiba terdengar suara yang sangat asing di telinga mereka semua. Secara serentak, mereka pun menghadap ke arah sumber suara yang datang dari arah kanan teras villa tersebut. Ketika mereka menengok, mata mereka mendapati sesosok gadis cantik yang berjalan mendekat ke arah mereka. "Kamu siapa?" tanya Alvaro. "Oh ya, aku Nesya, anak pemilik villa ini dan juga adiknya Raisya," jawab gadis itu dengan tenang. "Oh iya, aku Alvaro. Ini Reyhan, Ihsan, Imam, Delia, Rosa atau bisa kamu panggil Ocha, Nanda dan yang terakhir ini Chelsea," ucap Alvaro sambil memperkenalkan teman-temannya kepada orang baru itu. "Oh, iya, iya. Aku Nesya. Salam kenal, ya, semuanya," ucapnya sambil tersenyum. Dibanding dengan kakaknya, Raisya, pakaian yang dikenakan Nesya jauh lebih sopan. Dia tidak berpakaian minim seperti Raisya. Pakaian yang dikenakannya jauh lebih tertutup. Oleh karena itu pula respon pertama yang Alvaro berikan kepada gadis itu cenderung lebih hangat dari respon pertama yang ia berikan kepada Raisya. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Dari awal ia datang ke villa itu, baru pertama kali inilah ia melihat si Nesya. Padahal seharusnya, ia mestinya sudah muncul di hari pertama Alvaro dan lainnya datang ke villa itu. Memang aneh. Alvaro ingin sekali menanyakan hal itu kepada sang narasumber langsung, tapi ia mencoba untuk menahan agar pertanyaan itu tidak jadi keluar dari mulutnya. Bukannya apa-apa. Biar bagaimanapun juga, Nesya tetaplah orang baru baginya. "Aku dengar, kalian mau pergi ke hutan untuk nyelametin teman kalian, ya?" tanyanya. "Tahu dari mana?" tanya Reyhan dengan nada dinginnya. "Maaf. Tadi aku nggak sengaja dengar pembicaraan kalian," jawabnya. "Iya, memang kami harus pergi ke sana untuk menyelamatkan teman kami. Tapi.... Dosen-dosen kami malah melakukan penjagaan seperti itu agar kami tidak nekad pergi ke hutan," ucap Alvaro. "Ooo.... Begitu, ya? Aku bisa bantu," ucap Nesya. "Bantu? Kenapa?" tanya Alvaro ambigu. "Kenapa gimana?" tanya Nesya balik. "Kenapa mau bantu?" tanya Alvaro memperjelas. Nesya tiba-tiba diam. Raut wajahnya juga mendadak berubah murung. Ia seperti sedang teringat akan suatu hal yang tak pernah bisa ia lupakan, tapi juga sulit sekali untuk ia ceritakan. Kira-kira begitulah penafsiran dari arti raut wajahnya itu. "Dulu, pernah ada yang nginap di villa ini. Mereka satu keluarga. Salah satu dari mereka adalah perempuan yang umurnya sebaya denganku. Dia baik dan cepat sekali akrab denganku. Baru sehari tinggal di villa ini, kami berdua sudah menjadi teman baik. Tapi...." Dia menggantung ucapannya seakan tak sanggup untuk meneruskan. "Tapi di malam hari pada hari kedua mereka menginap di villa ini, gadis itu dilaporkan hilang. Kata ayahku, itu ulah dari si manusia berjubah yang bahkan sampai saat ini masih menjadi misteri tentang siapa mereka yang sebenarnya. Malam itu juga, orang tua si gadis ingin melakukan pencarian, namun dilarang oleh ayahku karena ayah sangat percaya pada pantangan-pantangan aneh itu," ucap Nesya. Ia menghentikan ceritanya sejenak hanya untuk menarik napasnya. Sementara Alvaro dan yang lainnya hanya mendengarkan dengan seksama. "Pagi harinya, mereka pun masuk hutan, tapi cuma dua orang itu saja. Aku yang masih kecil, tentu tak diperbolehkan untuk membantu. Lagipula katanya, tidak boleh lebih dari dua orang kalau sudah masuk hutan terlarang itu. Dan pencarian itu tak membuahkan hasil. Mereka kembali dengan tangan kosong," ucap Nesya panjang lebar lagi. "Hingga kenyataan itu datang. Pada pencarian selanjutnya, mereka menemukan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Itu adalah tubuh anak mereka yang tak lain adalah juga teman terbaikku. Karena itulah, aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Kejadian-kejadian sebelumnya, aku sudah gagal membantu. Kali ini aku tak mau gagal lagi," ucap Nesya. Lalu mengakhiri ceritanya. "Begitu, ya? Jadi, apa yang bisa kau lakukan agar kami bisa lolos dari para penjaga itu?" tanya Alvaro. Nesya membisikkan sesuatu pada Alvaro dan juga yang lain. Ia sepertinya punya rencana yang bagus untuk bisa lolos dari penjagaan para dosen yang sekarang sudah menjelma sebagai seorang satpam itu. Alvaro pun nampak setuju dengan ide yang diberikan oleh Nesya. Ia dan yang lainnya kemudian berjalan entah mau ke mana meninggalkan Nesya yang seorang diri di tempat itu. "Kami serahkan kepadamu, ya," ucap Alvaro ketika pergi. "Iya," jawab Nesya. Hingga setelah kepergian Alvaro dan yang lain, ia tersenyum penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN