Nesya masih tersenyum memandang ke arah mereka berdelapan yang sedang berjalan pergi meninggalkan dia sendirian. Lalu setelah itu, ia mulai melakukan tugasnya. Di sana ada 3 dosen yang melakukan penjagaan dengan ketatnya. Nesya mulai melancarkan aksinya. Ia pura-pura terjatuh di ambang pintu depan villa itu sambil berteriak dengan begitu kerasnya. Sontak dengan refleks, para dosen penjaga itupun langsung menghampiri Nesya. Bahkan tak hanya para dosen, para mahasiswa yang berada di kamar mereka pun juga ada yang merespon teriakan itu. Saat itulah tiba saatnya di mana ada kesempatan bagi Alvaro dan yang lainnya untuk segera pergi dan bisa masuk ke dalam hutan untuk menyelamatkan Arga.
"Teman-teman, ayo!" ucap Alvaro memberi komando untuk teman-temannya agar cepat-cepat memanfaatkan situasi itu.
Dengan gerakan kilat, mereka berdelapan langsung berlari keluar dari area villa menuju ke arah hutan. Sementara itu, Nesya yang masih dengan posisi terjatuh, tiba-tiba mengembangkan senyumannya. Entah apa artinya, tak ada yang mengetahuinya.
"Al, kita sudah aman," ucap Ihsan yang berada di belakang.
"Hufff.... Syukurlah kita bisa lolos," ucap Alvaro.
"Lolos dari siapa maksudnya?"
Tiba-tiba mereka mendengar suara. Kali ini suaranya cukup familiar. Tidak seperti suara milik Nesya tadi. Secara bersamaan akhirnya mereka memutuskan untuk menoleh.
"Pak Togar," ucap mereka hampir bersamaan.
Dan ternyata, sosok di balik suara itu adalah si dosen botak yang tak lain dan tidak bukan adalah Pak Togar. Sial memang nasib mereka. Sudah lolos dari penjagaan manual, eh malah tidak bisa meloloskan diri dari penjagaan CCTV berjalan alias Pak Togar.
"Mau ke mana kalian?" tanya Pak Togar.
"Kami.... Em, itu Pak, emm." Alvaro bingung mau menjawab apa.
"Mau ke hutan. Untuk menyelamatkan teman kami yang tak kalian pedulikan," sahut Reyhan dengan nada dingin.
"Apa? Mau masuk hutan? Kalian dengar tidak, bahwa kita tidak diperbolehkan masuk hutan ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih, dan ini sudah jam 2 lebih," ucap Pak Togar sambil memperlihatkan jam tangannya.
"Memangnya apa salahnya kalau lebih dari jam dua?" tanya Alvaro.
"Saya juga tidak tahu. Tapi itu pantangan yang ada di wilayah sini. Kita tidak boleh mengabaikannya," jawab Pak Togar.
"Saya tahu salahnya, Pak. Salahnya itu, saat jam dua lebih itulah para manusia berjubah itu melakukan aksinya. Lalu, ketika besok kita baru melakukan pencarian, kita cuma akan menemukan tubuh tak bernyawa dari Arga," ucap Reyhan dingin. Dia sungguh kesal dengan pantangan-pantangan tidak jelas itu.
Pak Togar diam, tak mampu menjawab. Sedangkan Reyhan, ia menatap ke arah Pak Togar dengan tatapan yang sangat tajam. Seakan-akan ingin menunjukkan kepada dosennya itu bahwa saat ini ia benar-benar serius dalam berkata. Ah iya, nampak sekali perubahan yang begitu drastis dari seorang Reyhan. Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya bisa menciptakan canda tawa dengan cara mengejek Ihsan, tapi sekarang canda tawanya itu mendadak hilang dan digantikan dengan amarah yang tidak dapat dijelaskan.
"Kenapa diam, Pak? Apakah bapak juga merasa kalau apa yang saya omongin itu memang benar?" tanya Reyhan dengan sangat dingin.
Reyhan benar-benar sudah kehilangan kendali. Kesabarannya menghilang begitu saja seiring dengan dirinya yang mengeluarkan kata-kata dengan nada keras kepada dosennya itu. Dalam pikirnya ia mungkin sudah tak peduli lagi dengan norma kesopanan. Ia hanya berpikir tentang satu hal, bahwa apa yang ia sedang berada di pihak yang benar.
"Kalian, kalian ngapain di sana?"
Tiba-tiba terdengar suara lagi dari sisi lain. Selanjutnya terdengar suara langkah kaki yang menghentak tanah ke arah mereka. Alvaro dan yang lainnya menoleh, hingga akhirnya mereka tahu siapa yang telah mengeluarkan suara itu. Mereka tak lain dan tidak bukan adalah tiga dosen penjaga yang tadi. Nampaknya, akting yang dilakukan oleh Nesya tadi telah diakhiri.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat masuk!" perintah salah satu dosen ketika sudah sampai di tempat Alvaro dan yang lain berada.
"Mereka ingin ke hutan," jawab Pak Togar.
"Hah? Ke hutan? Apa kalian tidak dengar apa yang saya katakan tadi? Ini sudah jam dua lebih. Tidak ada yang boleh masuk ke hutan," ucap dosen itu.
"Pak!" sahut Reyhan cepat dengan suara yang lantang.
"Arga itu teman kami, dan kami tidak mau melihat dia kembali dalam keadaan yang tidak bernyawa. Bapak seharusnya mengerti, kan? Di mana letak tanggung jawab kalian semua? Kalian yang merencanakan study tour ke neraka ini, dan kalian tak ada yang berani bertanggung jawab. Di mana, Pak. Di mana letak tanggung jawab kalian?!" tanya Reyhan dengan suara lantang, atau bisa dibilang juga penuh dengan amarah.
Seketika itu, Alvaro langsung menyentuh pundak Reyhan untuk menenangkannya, namun ia langsung menjauhkan tangan Alvaro dari pundaknya seakan-akan tak ingin Alvaro menghentikan emosinya.
"Oke, kalau kalian tak berani bertanggung jawab, tidak apa-apa. Tapi jangan larang kami untuk menggantikan tanggung jawab bapak-bapak semua!" lanjutnya.
"Rey," panggil Alvaro sambil menyentuh kembali pundak Reyhan sembari menariknya.
Kini Alvaro ingin mengambil alih apa yang dilakukan oleh Reyhan tadi. Ia maju beberapa langkah untuk berhadapan dengan tiga dosen itu. Berbeda dengan Reyhan yang menghadapinya dengan penuh emosi, Alvaro malah sebaliknya. Ia menghadapinya dengan penuh ketenangan.
"Tolong biarkan kami pergi. Biarkan kami saja yang mengemban tangung jawab dari apa yang tak sanggup kalian lakukan. Jika tidak sekarang kami melakukannya, lalu mau kapan lagi? Apa mau menunggu sampai Arga terbunuh?" ucap Alvaro. Luar biasanya, ia berkata begitu dengan sangat tenang.
"Kalau Arga benar-benar sampai terbunuh, apa yang akan bapak sampaikan nanti kepada orang tua Arga? Bagaimana juga reputasi dari kampus besar itu? Mungkin akan hancur. Nama bapak semua juga akan dicap buruk di mata masyarakat, sebagai orang yang tidak mampu bertanggung jawab atas sebuah hal yang terjadi. Huffff.... Maaf, Pak, bukan bermaksud lancang. Sekali lagi, maaf," ucap Alvaro lagi dan kemudian mengakhirinya.
"Begitu, ya? Iya, kau memang benar, tapi lebih baik jika kita melakukannya dengan cara yang tidak gegabah. Kalian tidak bisa langsung pergi ke hutan itu tanpa persiapan apapun. Sekarang, mari kita masuk dulu untuk mengatur rencana. Setelah itu, baru kita akan pergi ke hutan, sekalipun itu harus pada malam hari," ucap salah satu dosen yang ikut-ikutan bersikap tenang seperti Alvaro.
"Nah, itu! Tanpa persiapan apa-apa, kalian malah akan membuat masalah menjadi lebih runyam. Saya setuju. Sebaiknya kita masuk dulu dan bicarakan rencananya. Baru setelah itu kita bertindak," ucap Pak Togar.
"Rencana? Apa lagi yang mau direncanakan? Nanti ujung-ujungnya juga berakhir dengan pantangan tidak jelas itu," oceh Reyhan.
"Tidak, saya sadar kalau kita berpedoman pada pantangan itu, maka mungkin apa yang kalian katakan tadi bisa saja jadi kenyataan. Jadi, setelah kita atur rencana nanti, kita langsung pergi ke hutan itu," ucap sang dosen.
"Tapi, Pak...," ucap dosen lain seakan tak setuju dengan rekan dosennya itu.
"Tidak apa-apa. Ini sudah keputusan saya," sahutnya.
Ucapan sang dosen membuat Reyhan lebih tenang, walau belum sepenuhnya. Raut wajahnya yang penuh amarah itupun perlahan menghilang. Alvaro tersenyum singkat, tapi belum berani untuk menyetujui apa yang sang dosen itu katakan.
"Hufff.... Gimana, teman-teman?" tanya Alvaro pada teman-temannya.
"Soal itu, memang iya sih, kita seharusnya butuh persiapan untuk menyelamatkan Arga," jawab Ocha.
Alvaro kemudian menghadap ke seluruh temannya untuk meminta pendapat, dan yang ia dapat tetap sama, mereka setuju, kecuali Reyhan dan Chelsea yang menjawab beda.
"Terserah kamu aja. Aku ikut." Begitulah jawaban mereka meski sebenarnya ada sedikit perbedaan pada kata-katanya.
Dikarenakan banyak yang menyetujui usulan sang dosen, akhirnya mereka semua pun kembali masuk ke villa. Bukan hanya mereka, bahkan orang-orang yang sedang berada di halaman villa ataupun sekitarnya pun semuanya disuruh masuk tanpa terkecuali.
Oh ya, tentang villa itu. Itu adalah sebuah villa yang tak mempunyai pintu gerbang. Hanya saja, disekelilingnya dibangun tembok yang menjulang tinggi sehingga tak ada siapapun yang bisa melewatinya dengan mudah.
***
Mereka sudah berada di dalam villa lagi, tanpa terkecuali. Di sebuah ruangan itu, beberapa dosen serta delapan mahasiswa sedang berkumpul guna untuk membahas sebuah rencana penyelamatan dari salah satu mahasiswa yang bernama Arga.
Reyhan terlihat tak mau berkomentar selama pembahasan rencana. Hanya Alvaro yang berbicara paling banyak. Reyhan sepertinya masih terlalu kesal dengan para dosennya itu sehingga dia tak memberikan sarannya sedikitpun. Ah, dia benar-benar emosian.
Setelah rapat selesai, mereka berdelapan dipersilahkan untuk bubar. Selain itu, mereka juga disuruh untuk mempersiapkan diri masing-masing karena sebentar lagi akan melakukan sebuah misi besar yang harus mempertaruhkan nyawa masing-masing.
"Hufff.... Tak kusangka, mereka bisa berubah pikiran," ucap Ihsan.
"Iya. Padahal kukira mereka tetap akan melarang kita pergi," kata Ocha.
"Jangan senang dulu! Kita nggak tahu maksud mereka apa," sahut Reyhan dingin.
Langkah mereka terhenti di pintu depan villa tersebut. Alvaro langsung berniat untuk membukanya, namun ternyata tidak bisa. Ia kembali mencoba memutar gagang pintu itu, tapi lagi-lagi tetap tak bisa.
"Cih, apa-apaan ini? Apa dikunci?" tanya Alvaro pada semuanya.
"Dikunci?" Reyhan dengan cepat merespon ucapan Alvaro dan mencoba untuk memutar gagang pintu villa itu. Tentu hasilnya pun sama seperti apa yang Alvaro lakukan.
"Sial!" umpatnya.
"Sebentar. Tadi itu bukannya Pak Wahyu tidak ikut rapat?" tanya Imam kepada semuanya.
Pak Wahyu adalah salah satu dari tiga dosen yang melakukan jaga, tadi.
"Ah, benar. Pasti ulah dia," kata Delia. Maksud dari "dia" adalah Pak Wahyu.
"Sial! Kita telah ditipu oleh mereka," ucap Reyhan tambah kesal.
"Ayo cepat kita temui mereka," ucap Reyhan lagi.
"Hufff.... Rey, tenang dong! Kenapa akhir-akhir ini kau mudah sekali emosi, sih?" tanya Alvaro.
"Kalau saja waktu itu aku bisa meyakinkan mereka bahwa tempat ini tak pantas untuk kita tempati, mungkin Arga tidak akan hilang, Al. Aku jadi merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab atas hilangnya Arga," jawab Reyhan.
"Itu bukan salah kamu, Rey. Jangan emosian kayak gini, dong," kata Alvaro.
"Jadi bagaimana ini? Kita kembali menemui para dosen lagi?" tanya Delia kembali ke topik awal.
"Ya, cuma itu sih, jalan satu-satunya. Lagian selain pintu depan dan pintu belakang villa ini kan gak ada jalan keluar lain," jawab Alvaro.
"Oh ya, pintu belakang," katanya kemudian. Ia segera bergerak cepat untuk menuju pintu belakang. Diikuti juga oleh teman-temannya.
Sesampainya di bagian belakang villa tersebut, mereka langsung dihadapkan dengan pintu belakang yang sedang tertutup rapat. Sebelum sampai tepat di sana, Alvaro sudah berharap kalau pintu itu tidak terkunci seperti pintu depan. Karena cuma itu satu-satunya jalan untuk menuju luar.
"Ah, sial! Ini juga dikunci," ucap Alvaro sambil memukul keras ke pintu tak bersalah itu.
"Tenang Al, jangan emosi," kata Reyhan menenangkan.
"Ha?" Alvaro langsung melirik ke arah Reyhan. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan.
"Sekarang bagaimana? Pintu depan terkunci, pintu belakang juga terkunci. Kalau jendela, tidak mungkin juga. Kan ada besinya. Lalu bagaimana?" tanya Chelsea frustasi.
"Terpaksa kita minta keadilan kepada para dosen sialan itu," ucap Reyhan.
Memang, tak ada pilihan lain bagi mereka selain berbicara lagi dengan para dosen. Harap-harap para dosen itu mau memberikan kunci untuk membuka pintu itu.
"Eh, apa kita temuin aja si Nesya. Dia kan anak pemilik villa ini. Pasti dia punya kunci utamanya, lah," usul Alvaro.
"Nesya?" tanya Delia.
"Iya," jawab Alvaro.
"Wah, bidadari ku, ya? Iya, aku setuju," ucap Ihsan pecicilan.
"Bidadari, bidadari. Kayak dia mau sama kamu, aja," ejek Imam.
"Ya jelas mau lah," ucap Ihsan.
"Baiklah. Karena dia itu bidadari kamu, sebaiknya kamu aja yang nyari Nesya," ucap Alvaro.
"Cih, sial!" decak Ihsan.
"Ayo cepat, cari! Jangan buang waktu lagi!" perintah Alvaro lagi.
"Iya, iya," jawab Ihsan dan kemudian pergi.
Bahkan anehnya, seorang Alvaro Aditama pun langsung mempercayai Nesya dalam hal itu. Padahal jelas sekali bahwa gadis itu adalah bagian dari keluarga sang pemilik villa yang bisa saja adalah dalang di balik semua kejadian menyeramkan itu. Tapi entahlah, Alvaro dan yang lainnya seperti dibuat luluh oleh si gadis cantik itu.
"Terus kita bagaimana, Al?" tanya Ocha. Seperti biasa, Alvaro tetap dijadikan sang pemutus apa yang akan dilakukan setelahnya.
"Sama, kita juga nyari Nesya. Berpencar," jawab Alvaro.
"Dan aku akan menemui para dosen itu lagi," lanjut Alvaro.
"Kalau begitu, aku ikut kamu," kata Reyhan.
"Jangan! Kalau kamu emosi lagi, maka bisa jadi tambah runyam, entar," jawab Alvaro jujur sejujur-jujurnya.
"Kalau begitu, aku saja," ucap Delia menawarkan diri. Alvaro terdiam sejenak, lalu menyetujuinya.
Akhirnya mereka pun berpencar guna untuk mencari seorang Nesya di dalam villa yang luas seperti ini. Mereka bahkan tak berpikir jika seandainya Nesya tidak berada di dalam villa. Sedangkan di saat yang lain berpencar, Alvaro dan Delia malah berjalan sejajar dengan begitu santainya melewati lorong-lorong kamar villa.
"Loh, Al, katanya mau ke hutan. Hutannya ditutup, ya?" tanya Aji sambil sedikit tertawa.