"Ah, berisik! Lagi pusing, gak usah nanya-nanya," ucap Alvaro. Aji diam saja sambil memandangi Alvaro dan Delia yang terus melanjutkan langkah kakinya.
"Lah, aneh," katanya, kemudian masuk kamar.
Ruangan tempat diadakannya rapat dadakan tadi itulah tujuan Alvaro dan Delia. Berharap mereka bisa menemukan para dosen pembohong itu dan langsung meminta kejelasan. Kalau emosi yang dipendam itu bisa terlihat langsung oleh mata, sudah pasti dalam tubuh Alvaro akan terlihat dipenuhi oleh emosi itu. Tapi sekali lagi, hanya dipendam. Ia menutupinya dengan topeng ketenangan.
Ketika mereka berdua sampai di ruangan yang tadi, tepat di ambang pintu ruangan itu secara tak sengaja mereka mendengar percakapan yang berasal dari dalam.
"Semua sudah aman. Semua pintu sudah terkunci. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi kalau tiba-tiba ada yang mencoba melarikan diri," ucap seseorang yang entah itu siapa.
"Bapak emang hebat. Rencana dadakan yang bapak buat tanpa ada yang tahu itu ternyata bisa berhasil," ucap yang lain.
Alvaro menguping pembicaraan mereka dengan cara menempelkan telinganya tepat di pintu ruangan tersebut. Ia benar-benar dapat mendengar dengan jelas apa yang orang-orang di dalam itu bicarakan. Alvaro menggertakkan gigi atas dan bawahnya. Ia rupanya sedang sangat kesal.
Bagaimana tidak? Ternyata apa yang dirinya dan teman-temannya curigai ternyata benar. Para dosennya itulah yang telah membuat pintu terkunci sehingga mereka tidak bisa lagi keluar dari villa. Dia merasa bodoh karena dengan mudahnya percaya pada orang-orang yang harusnya tak harus ia percayai. Memang, dosen tetaplah dosen. Akan sulit bagi seorang mahasiswa untuk bisa mengalahkan kepintaran dosennya.
"Alvaro," panggil Delia lirih.
"Syuuuttt." Alvaro memberi isyarat agar Delia segera diam. Gadis cantik itupun menurutinya.
"Tapi bagaimana, Pak, jika apa yang dikatakan mereka jadi kenyataan?" tanya seseorang lagi. Dari suaranya jelas itu adalah suara dari dosen botak yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Togar.
"Kalau soal itu, saya juga sempat berpikir seperti mereka. Akan tetapi, kita tidak boleh melanggar pantangan di tempat ini, kan? Lebih baik kehilangan satu nyawa daripada nantinya akan ada banyak nyawa yang jadi korban," jawab dosen lain.
Lagi dan lagi, hal yang demikian itu sangat membuat Alvaro geram. Di satu sisi apa yang dikatakan dosennya itu memang benar. Akan jauh lebih baik jika cuma satu nyawa yang melayang, daripada nanti malah banyak nyawa. Tapi, Alvaro punya pendapat lain. Kalau satu nyawa itu bisa diselamatkan, lalu kenapa harus diabaikan?
Ia tak dapat menahan lagi. Segera didobraknya pintu itu dengan tendangannya. Alhasil, pintu itupun terbuka dengan begitu mudahnya. Ada 4 sosok manusia yang berada di dalam ruangan itu, dan seketika setelah Alvaro mendobrak, mereka semua langsung menoleh ke arah Alvaro dan juga Delia.
"Jadi benar, ya, semua ini cuma akal-akalan kalian supaya kami tidak nekat pergi ke hutan?" tanya Alvaro to the point dengan raut wajah marahnya.
"Apa alasan kalian sehingga melakukan hal ini? Karena takut pantangan tidak jelas itu, kah? Cih. Dengar, Pak. Saat mendengar kalau Arga dibawa oleh manusia berjubah itu, aku dan Reyhan langsung memutuskan untuk masuk hutan guna untuk menyelamatkan Arga. Kalian tahu apa yang terjadi? Kami tetap diganggu, padahal kami tak melanggar pantangan apapun. Pantangan itu sebenarnya tidak ada, Pak. Kita masuk ke hutan lewat jam 2 siang atau kurang pun sama saja. Kita datang berdua ataupun bersepuluh juga sama saja. Kalian yang berpendidikan tinggi harusnya lebih mengerti ini semua. Tapi nyatanya apa? Kalian malah melarang kami pergi ke sana," ucap Alvaro panjang lebar. Ia kemudian mengatur napasnya yang sudah terdengar tak beraturan.
Kring kring kring!
Tiba-tiba ponsel Alvaro berdering. Ia kemudian langsung mengambil ponsel yang ia taruh di saku celananya itu. Dibukanya ponselnya itu dan ada nama Nanda yang terpampang jelas di layar kaca benda kotaknya itu. Itu tanda panggilan dari Nanda, ia pun langsung mengangkatnya dan berjalan sedikit menjauh dari para dosen yang baru saja ia ceramahi itu. Tapi masih berada di ruangan yang tadi.
"Halo," ucap Alvaro di telepon.
"Halo, Al. Ini aku sudah ketemu Nesya," ucap Nanda.
"Oh ya? Lalu bagaimana?" tanya Alvaro.
"Katanya dia gak megang kuncinya, Al. Ayahnya yang megang semua kunci pintu itu," jawab Nanda. Mendengar itu Alvaro langsung merasa frustasi.
"Oke. Kalau begitu, suruh semuanya kembali ke kamar masing-masing saja," kata Alvaro.
"Tapi, soal Arga?" tanya Nanda.
"Biarkan saja. Setidaknya kita sudah berusaha untuk tetap mau pergi menyelamatkannya. Tapi, kalau pintunya terkunci, kita bisa apa?" ucap Alvaro. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar para dosen itu dapat mendengarkannya.
"Berharap saja semoga besok Arga masih bisa bertahan hidup dan saat itu kita akan menyelamatkannya. Semoga saja nama baik kampus kita serta para dosennya tidak tercemar akibat kejadian ini," lanjutnya. Ia kembali menekankan kata "dosen" sebagai bentuk sindiran kepada para manusia yang berada di ruangan itu, kecuali Delia.
"Hufff.... Baiklah, Al," ucap Nanda.
"Iya," jawab Alvaro. Ia kemudian mengakhiri pembicaraan lewat telepon itu.
Lirikan tajamnya langsung ia arahkan kepada empat manusia yang notabenenya adalah orang tuanya sewaktu di kampus. Akan tetapi kini ia sudah tidak peduli lagi dengan hal demikian. Ia seperti sedang merasakan apa yang Reyhan rasakan. Rasa kesal kepada para dosen yang bahkan sudah berniat untuk mengabaikan keselamatan Arga.
"Yuk Del, kita pergi!" ajak Alvaro sambil menyahut tangan Delia dan menggenggamnya dengan erat.
Jujur ia melakukannya tanpa sadar. Itu hanyalah refleks karena kekesalannya yang tak dapat ia tahan. Namun apa yang dilakukan oleh Alvaro itu ternyata diartikan lain oleh Delia. Ia bahkan merasa malu-malu dan salah tingkah ketika tangan seorang Alvaro menggenggam erat tangannya.
"Eh, Al. Kamu menyerah?" tanya Delia ketika sudah berada di lorong-lorong kamar. Tangannya masih digenggam erat oleh Alvaro.
"Del, aku tidak menyerah. Hanya saja, aku merasa bahwa jikalaupun aku terus-terusan berjuang, perjuanganku itu.... Bukan, maksudnya perjuangan kita itu akan tetap sia-sia. Kamu dengar sendiri, kan, apa yang dosen-dosen kita katakan. Mereka bahkan berniat ingin mengabaikan nyawa Arga," jawab Alvaro dengan sangat halus. Berbeda saat tadi ketika ia berbicara dengan para dosennya.
"Ya kan kita bisa pakai cara lain, Al. Lewat jendela, lewat atap, atau kalau perlu ya dobrak pintu sekalian," usul Delia.
Pernyataan Delia yang terlalu nekat itu langsung bisa membuat Alvaro geli hati. Selama ia kenal Delia, tak pernah sekalipun si gadis cantik itu mempunyai pemikiran nekat kayak gitu.
"Tidak bisa, Del. Kalau harus lewat jendela, lewati dulu besi-besinya. Kalau harus lewat atap, caranya gimana? Lalu kalau harus dobrak pintu, aku takutnya jika memang salah satu dari pemilik villa ini bersekongkol dengan manusia berjubah itu, baru juga kita selangkah bisa lolos dari villa ini, di sana Arga sudah terbunuh. Jadi, bisa dibilang, kita bisa pergi dengan syarat tanpa sepengetahuan siapapun, apalagi si pemilik villa," jelas Alvaro panjang lebar. Tangannya yang menggenggam erat tangan Delia pun sudah ia lepaskan.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan Nesya?" tanya Delia.
"Soal Nesya, menurutku tidak ada masalah jika dia tahu. Dia sepertinya berpihak pada kita," jawab Alvaro.
"Iya kah? Apa bukan karena kamu suka sama dia?" tanya Delia lagi sembari memandang sinis ke arah Alvaro.
"Hahahaha. Kamu ini ngomong apa sih, Del? Jangan sembarangan dong kalau ngomong. Mana mungkin aku suka sama dia. Dasar aneh," ucap Alvaro. Setelah itu ia segera mengacak-acak rambut indah Delia hingga membuat gadis itu merasa agak kesal.
"Ih, nggak usah diberantakin," protesnya. Alvaro tertawa kecil.
"Hahaha.... Ya udah sana, kembali ke kamarmu!" perintah Alvaro kepada Delia.
"Semoga saja besok Arga masih dalam keadaan bernyawa. Dan kalau bisa, semoga saja para dosen itu bisa berubah pikiran karena ucapanku tadi," lanjut Alvaro.
Satu hal yang harus diketahui. Alvaro bukannya menyerah. Di dalam dirinya yang terlihat seperti menyerah, sebenarnya itu merupakan bagian dari rencananya. Ia hanya mengandalkan sesuatu yang bernama harapan. Dengan kata-kata yang ia ucapkan kepada para dosennya tadi, ia berharap bisa meluluhkan hati mereka sehingga pada akhirnya mereka mau membukakan pintu villa yang mereka kunci.
Kata "semoga" menjadi senjatanya untuk saat ini. Dengan sebuah bunga harapan yang hampir layu. Masih dengan semoganya, harapan itu tetap dirasakannya sendiri. Tak ada yang tahu, bahkan untuk Delia sekalipun.
***
"Oi, masuk kamar nggak ngetuk-ngetuk dulu," protes Aji ketika Alvaro masuk kamar.
"Cerewet," respon Alvaro tenang.
"Gimana, Al? Kamu beneran gak jadi ke hutan?" tanya Tomi.
"Enggak. Dilarang sama dosen-dosen itu. Sekarang parahnya malah pintu villa ini dikunci," jawab Alvaro sambil menghembuskan napas pelan tanda bahwa ada perasaan tidak mengenakkan di dalam hatinya.
"Hufff.... Ya udah lah, Al. Mungkin itu yang terbaik," kata Arul.
"Oh ya, Reyhan mana?" tanyanya kemudian.
"Masih di luar. Nanti sebentar lagi juga datang," jawab Alvaro. Ia kemudian duduk di kasurnya.
"Oh," kata Arul.
Beberapa saat kemudian, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Alvaro. Reyhan benar-benar datang dan tentunya menanyakan banyak hal kepada Alvaro. Alvaro pun menjawabnya dengan jawaban yang bisa ia sampaikan.
Lalu tentang harapannya itu, bahkan sampai hari menjelang sore pun tak ada tanda-tanda kalau para dosen itu akan berubah pikiran. Ia merasa bunga harapannya telah layu dan tak akan pernah bisa mekar lagi. Tinggal menunggu hari esok, dan itupun harus menciptakan harapan baru lagi semoga Arga masih bernyawa di esok hari.
Hingga malam pun tiba. Perasaan Alvaro semakin was-was akan keselamatan Arga. Ia tidak bisa menjamin kalau temannya itu akan bertahan sampai esok hari. Hanya mengandalkan harapan, tentu tak bisa menjamin akan menjadi kenyataan.
Di malam itu, tepatnya pada pukul 19:30 malam, seorang gadis manis sedang berada sendirian di dalam kamar. Gadis itu adalah Ocha. Teman-teman sekamarnya sedang keluar, tak tahu mau ke mana. Ia sendirian, hanya bertemankan benda kotak yang ia mainkan.
Awalnya, suasana di kamar yang ia tempati terasa biasa-biasa saja. Akan tetapi lama-kelamaan, suasana itu mulai berubah. Sunyi yang ia rasakan terasa tidak seperti sunyi yang biasanya. Matanya melirik ke sana ke mari sembari jemarinya yang terus bergerak untuk bermain game di ponselnya itu.
"Kok jadi merinding gini, sih," ucapnya. Entah kenapa ia mulai merasa ketakutan.
Suasana itu, sungguh, Ocha merasakan bahwa suasana itu jauh berbeda dari biasanya. Mungkin sepi itu wajar pada hari biasanya, tapi entah kenapa, untuk saat ini ia merasa sepi yang ia rasakan benar-benar tidak wajar.
Nging nging!
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba pendengaran Ocha terasa berdengung. Ini aneh, sangat aneh malahan. Ia langsung mengakhiri aktivitas bermain game nya dan berencana untuk sesegera mungkin dari tempatnya berada.
Brakkk!
Pintu kamar yang tadi masih terbuka separuh, tiba-tiba menutup dengan sendirinya hingga mengeluarkan suara yang sangat keras. Ocha menjerit ketakutan dan langsung berlari ke arah pintu. Namun sial sekali nasib yang ia alami. Pintu itu seolah-olah ada yang menguncinya, padahal ia lihat sendiri pintu itu baru saja tertutup. Apa mungkin ada orang yang iseng?
"Siapapun di luar, tolong buka! Jangan bercanda!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu itu dengan keras.
"Tolong jangan main-main!" teriaknya lagi dengan sangat ketakutan.
Di saat dirinya yang merasakan ketakutan, mendadak lampu kamarnya berkedip-kedip. Ia semakin ketakutan. Pikirnya, pasti ada yang tidak beres dengan kamarnya itu. Kembali ia menggedor-gedor pintu kamar sambil terus berteriak. Bahkan tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes. Namun tak ada siapapun yang merespon teriakannya itu.
Lampu kamarnya terus-terusan berkedip-kedip. Bunyi "nging-nging" di telinganya itu juga tak kunjung berakhir. Malahan kini ditambah dengan suara seperti orang berbisik yang tidak ia mengerti.
Hingga kedip-kedip dari lampu kamarnya itu berakhir. Akan tetapi berganti dengan sesuatu yang lebih parah lagi. Lampu kamarnya kini bukan berkedip lagi, melainkan mati dan hanya tinggal menyisakan gelap. Ocha kembali berteriak, malahan jauh lebih kencang sembari tangannya yang menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga. Anehnya, masih tak ada yang merespon. Padahal secara logika, harusnya penghuni kamar sebelah ataupun kamar depannya pastilah dapat mendengar dengan jelas suara sekeras itu. Mungkinkah semuanya sedang tak berada di dalam kamar?
Keringat dinginnya mulai bercucuran. Gelap ini membuatnya semakin ketakutan. Tangannya yang gemetaran mencoba meraih ponsel yang ia taruh di saku. Namun, karena tangan yang gemetar hebat, ponsel itu akhirnya jatuh ke lantai. Tak ada pilihan lain baginya selain mengambil ponsel yang terjatuh itu demi untuk meminta bantuan kepada teman-temannya atau hanya untuk sekedar memberi penerangan dari gelap ini.
Tangannya meraba-raba ke arah lantai, masih dengan sangat gemetaran. Air matanya terus menetes sambil ada isakan sedikit. Hingga pada akhirnya ia bisa bernapas lega karena apa yang ia cari, kini dapat ia jangkau. Namun sedetik kemudian, napas lega itu mendadak menghilang karena ia merasakan, di atas tangannya yang sudah berhasil memegang ponselnya, ada sesuatu juga yang terasa menyentuh punggung tangannya itu. Sungguh, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Tangannya juga bertambah gemetar.