Dengan keberanian yang hanya secuil, ia langsung mengambil ponselnya dan menjauhkan sentuhan menakutkan itu dari tangannya. Akan tetapi, rasa penasarannya tak bisa ia abaikan. Segera ia menyorot lantai di depannya menggunakan flash ponselnya. Tak ada apa-apa di lantai itu, bahkan pada lantai tempat ponselnya tadi terjatuh juga tidak ada apa-apa.
Lampu flash ponselnya lalu ia arahkan ke atas, dan saat itulah jantungnya dibuat hampir berhenti berdetak. Tubuhnya kembali merasakan gemetaran dan membuat dia tak bisa melakukan apa-apa lagi selain berteriak.
"Aaaaa!" teriaknya.
Di depannya itu, terpampang jelas wajah sosok hantu wanita yang hancur dan penuh darah. Saking tak kuatnya, ia bahkan sampai menjatuhkan ponselnya hingga ruangan yang ia tempati itu berubah menjadi gelap lagi.
Ia menangis, segera menjauh dari tempat itu dengan cara ngesot. Soal ponselnya, ia sudah tak peduli lagi. Hanya isakan-isakan itulah yang terbentuk akibat ketakutan yang luar biasa dari dia. Sosok hantu wanita yang sangat menakutkan. Tentu sajalah jika Ocha ketakutan. Wajah hancur berlumuran darah itu mungkin tak akan pernah bisa ia lupakan selamanya.
Tangisannya terdengar begitu memilukan. Ia sadar bahwa meski ia menjerit sekeras apapun juga, tidak akan pernah ada yang mendengarnya. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah berharap, berharap kalau hantu itu segera pergi dari tempat itu.
Wusss! Wusss!
Di saat ia menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya, ia bisa merasakan seperti ada angin yang berlalu di sekitarnya. Aneh sekali rasanya. Ia menangis sejadi-jadinya, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sedetik kemudian.
Srek srek! Duk Duk!
Berbagai suara aneh terdengar jelas di Indra pendengarannya. Suara yang ia tak tahu berasal dari apa dan dari mana. Ia hanya bisa menangis, menjatuhkan banyak air mata sampai membasahi tangan lembutnya itu. Bahkan ia sampai tak mampu untuk hanya sekedar membaca do'a yang ia bisa. Mulutnya terasa kaku, mungkin hatinya juga. Semua yang ada di dalam dirinya telah dikalahkan oleh apa yang namanya ketakutan.
Sementara itu, di tempat lain, nampak seorang gadis cantik yang sedang sendirian berada di dapur villa itu. Gadis cantik itu adalah Delia. Ia berencana ingin membuat mie instan. Sama seperti apa yang terjadi pada Ocha, awalnya semuanya nampak baik-baik saja. Tak ada sedikitpun keanehan yang terjadi di tempat itu. Namun seiring detik demi detik yang berlalu, suasana di dapur itu mendadak berubah. Bulu kuduk Delia mulai merinding entah karena apa. Sambil memulai kegiatannya untuk membuat mie instan, dirinya menyentuh tengkuknya dengan tangan kanannya. Itu menandakan bahwa dia sedang merasa merinding.
Tak lama kemudian, lampu di dapur itu tiba-tiba mati dengan sendirinya. Delia langsung tersentak kaget dan menunda pekerjaannya sejenak.
"Nda, jangan bercanda, deh. Cepat nyalakan lampunya kembali," ucap Delia. Ia mengira bahwa dalang dibalik padamnya lampu di dapur itu adalah Nanda.
Berbeda dengan Ocha yang langsung menanggapinya dengan histeris, Delia malah sebaliknya. Ia masih bisa bersikap seolah-olah padamnya lampu di dapur itu hanyalah ulah temannya yang sedang iseng, tak ada hubungannya dengan makhluk halus ataupun semacamnya.
"Nanda," panggil Delia lagi. Masih menyangka bahwa Nanda yang melakukan hal iseng seperti itu.
"Alvaro, Ihsan, Ocha, siapapun itu, tolong jangan main-main," ucap Delia kemudian.
Tak ada respon dari siapapun. Ia mulai mengeluarkan keringat dingin. Namun ia memberanikan diri untuk berjalan ke arah sakelar dan menyalakan lampu dapur itu sendiri.
Di saat dirinya yang kesulitan berjalan untuk bisa menjangkau sakelar, saat itulah dirinya seperti mendengar ada suara lain selain langkah kakinya dan deru napasnya sendiri. Ya, suara itu persis sekali dengan suara sesuatu yang jatuh berkali-kali. Tidak, mungkin lebih tepatnya suara sesuatu yang sedang meloncat-loncat.
Delia tetap mencoba berpikir positif bahwa itu cuma halusinasi pendengarannya saja karena ia sedang merasa ketakutan. Ia tetap mencoba mencari keberadaan sakelar lampu dapur itu dan kemudian menyalakannya.
Brug! Brug! Brug!
Semakin lama, Delia mendengar kalau suara itu semakin dekat dengan posisinya. Pikiran positifnya berangsur menghilang. Ia bahkan langsung bisa membayangkan apa dan bagaimana wujud dari suara itu. Ia ingin langsung berlari, tapi gelap ini menjadi penghalangnya. Sial sekali, andai tadi pintu yang menghubungkan antara lorong-lorong villa dengan dapur itu tidak tertutup, mungkin ia masih bisa melihat cahaya yang berasal dari lampu di lorong dan bisa lari ke sana dengan mudah. Namun keadaannya kini berbeda. Pintunya tertutup dan anehnya, tak ada secercah pun cahaya dari lampu di lorong itu yang bisa mencapai dapur. Mungkinkah semua lampu di villa itu sedang padam?
Ketakutan Delia sudah tak bisa ia sembunyikan lagi. Ia menelan ludahnya beberapa kali. Napasnya mulai terdengar tak beraturan karena takut yang ia rasakan.
Tangannya yang sedari tadi meraba-raba di dalam kegelapan, kini berhasil menyentuh sesuatu yang berada di sebelah kanannya. Sesuatu itu bukan sakelar, bukan juga tembok, apalagi pintu. Akan tetapi, sesuatu yang ia sentuh itu terasa seperti kain. Ia tak tahu kain apa itu.
Deg!
Ketika tangan lembut dari gadis itu menyusuri lebih jauh lagi dari kain yang ia sentuh tadi, di situlah akhirnya ia tersadar tentang kain apa yang sebenarnya ia pegang. Ia langsung tersentak kaget dan melompat ke arah kiri demi menghindarinya. Pandangannya bahkan masih tak mampu menghadap ke arah sesuatu yang disentuhnya tadi.
Selagi masih bisa bergerak, Delia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berlari kecil tak tentu arah. Gelap itu menghalangi pengelihatannya. Sungguh, itu adalah sebuah gelap yang terasa di luar nalar. Biasanya, meski sedang berada dalam kegelapan di dalam ruangan yang lampunya mati, mungkin masih bisa melihat sedikit saja benda atau yang lainnya dari jarak yang dekat. Namun yang terjadi pada Delia saat ini, jangankan satu meter, satu cm saja, ia masih tak bisa melihat sekitar selain hanya warna hitam yang menyebalkan.
"Alvaro, tolong!" batinnya sambil berusaha terus bergerak.
Ia komat-kamit membaca do'a sambil berharap bahwa sang malaikat penolong yang tak lain adalah Alvaro akan datang menolongnya atas perintah dari sang kuasa. Entahlah, Delia cuma yakin bahwa Alvaro akan datang untuk mengakhiri rasa takutnya itu.
Brug! Brug!
Sial, suara itu kembali terdengar lagi. Seolah-olah sosoknya sedang mengikuti langkah kaki Delia. Delia sudah berada di ambang kepanikan. Dia tak mampu lagi menunjukkan ketenangannya dan bahkan tentang pikiran positif yang mengatakan bahwa suara itu hanyalah halusinasinya saja itu mendadak hilang. Ia yakin bahwa itu nyata dan bukan hanya sekedar halusinasi.
"Alvaro, cepat datanglah!" pintanya dalam hati dengan suara yang lirih.
Entah kenapa dia punya keyakinan bahwa akan percuma jikalaupun dia berteriak, tetap tak akan ada yang dengar. Karena apa? Karena musuhnya saat ini adalah si makhluk tak kasat mata. Ia juga punya pemikiran jika seandainya ia berteriak, maka itu akan membuat makhluk itu semakin menjadi-jadi dalam menakutinya. Oleh karena itulah ia hanya berharap di dalam hatinya agar Alvaro segera datang.
Deg!
Lagi dan lagi. Di dalam langkahnya, ia seperti menyenggol sesuatu. Seperti tubuh seseorang, tapi ia tak yakin bahwa itu adalah orang. Sekali lagi, pandangannya terhalang oleh gelap yang tidak biasa ini. Ia tak dapat melihat apapun yang ia senggol tadi.
Segera ia meninggalkan sesuatu yang ia senggol tadi dengan perasaan penuh ketakutan dan tentunya juga penasaran. Ada satu keanehan lagi yang ia rasakan. Di dalam setiap langkahnya itu, harusnya ia sudah mencapai tembok yang menjadi pemisah antara kamar-kamar dengan dapur yang ia tempati saat ini. Namun aneh, sedari tadi, ia tak kunjung juga mencapai tembok itu. Seolah-olah dirinya hanya berputar-putar di jalanan yang sama. Seharusnya, segelap apapun ruangan itu, setidaknya selama ia terus melangkah lurus ke suatu arah, pastilah ia akan menabrak sesuatu. Akan tetapi ia tak merasakan itu.
Brug! Brug!
Ah, suara itu lagi. Si cantik itu sudah tak tahan lagi dengan kejadian yang ia alami. Air matanya bahkan sudah mulai mengalir membasahi pipinya. Ia terus melangkah walau tetap dalam langkah yang tak berujung.
Setiap jangkah yang ia lakukan, selalu diiringi dengan satu bunyi seperti sesuatu yang jatuh atau melompat. Delia sudah cukup lelah untuk menghadapinya. Ia ingin menyerah saja dan menerima apapun yang terjadi nantinya. Malaikat penyelamat yang ia harap-harapkan juga tak kunjung datang. Ia merasa harapannya sudah musnah.
Jika dari tadi ia hanya berjalan cepat, kini ia memutuskan untuk berlari secepat kilat. Ia tak peduli jikalaupun nantinya ia akan menabrak sesuatu, karena justru itulah yang diharapkannya.
"Alvaro, Reyhan, siapapun, tolong datanglah," pintanya sambil terus berlari.
Sekali lagi, keanehan itu terjadi. Bahkan sampai napasnya ngos-ngosan karena capek berlari, ia tak juga mencapai ujung. Seolah-olah dapur yang ia tempati itu adalah sebuah lorong tak berujung.
Brug!
Suara itu terdengar lagi, tapi itu bukan suara dari sesuatu yang selalu mengikuti Delia sedari tadi, melainkan suara Delia yang menjatuhkan dirinya karena sudah merasa menyerah.
Biar bagaimanapun juga, ia tetaplah seorang perempuan. Ia menangis, meski cuma terisak. Alvaro, Reyhan, dan semuanya yang ia harapkan akan datang, ternyata tak juga kunjung datang. Perasaan menyesal menjalar ke hatinya. Harusnya ia menyetujui tawaran Nanda untuk menemaninya, tadi. Namun dengan bodohnya ia malah menolaknya. Pikiran positif yang selalu ia munculkan di awal tadi, kini malah berubah menjadi pikiran buruk yang harusnya tak ia pikirkan. Bahkan sekilas terlintas di pikirannya bahwa inilah akhir dari hidupnya.
Delia meringkuk, seiring dengan suara loncatan itu semakin datang mendekat ke arahnya. Dia sudah pasrah. Hanya tangis dan harapan yang terasa mustahil lah yang bisa menjadi senjatanya. Hingga pada akhirnya, dia teringat akan sesuatu. Tidak ada penolong yang lebih baik daripada hanya sang penciptanya.
Ya, ada harapan terakhir untuknya. Sambil menangis ia membaca doa-doa yang ia hafal. Jika memang suara loncatan itu berasal dari sosok yang selalu disebut-sebut sebagai pocong, harusnya dengan kekuatan doa, makhluk jelek itu akan menghilang. Delia dengan khusyuk membaca doa, meminta pertolongan dari sang penciptanya. Tak lupa ia juga masih menyimpan sebuah harapan agar Alvaro ataupun yang lain segera datang ke tempatnya berada.
Brug!
Suara itu masih terdengar. Ia semakin fokus pada doanya. Matanya tetap ia pejamkan meski seharusnya walaupun ia membuka mata pun tak akan terlihat apapun yang berada di sekitarnya.
Disela-sela doanya, ia juga sempat mendengar sebuah suara aneh lainnya. Seperti suara rintihan rasa sakit dari seseorang. Tidak, mungkin dari makhluk yang mengganggunya itu. Selang beberapa saat kemudian, pandangannya yang tadinya hanya berisikan hitam, ia tiba-tiba seperti melihat warna lain yang lebih terang meski masih dengan posisi matanya yang terpejam. Namun apa yang ia lakukan? Ia masih tak punya cukup keberanian untuk membuka mata. Takutnya jika makhluk yang mengganggunya itu masih ada di sekitarnya.
Kriittt!
Ah, itu suara pintu yang bergerak. Delia kembali berada dalam ketakutan. Tentu, suara pintu itu pun membuatnya berpikir bahwa itu adalah ulah sang makhluk tak kasat mata. Dia tak bisa gegabah dengan langsung menoleh. Diam dan tetap menutup mata menjadi pilihan terbaik baginya.
"Delia," ucap seseorang.
Di saat itulah Delia berani menoleh. Namun juga masih ada sedikit keraguan walau ia kenal sekali dengan suara itu.
"Alvaro," ucapnya lirih, kemudian bangkit dan berlari kecil menuju tempat Alvaro berada.
"Eh, kamu kenapa, Del, kok nangis?" tanya Alvaro saat melihat Delia yang menangis.
Sebuah pukulan langsung dilancarkan oleh Delia ke arah perut Alvaro. Alvaro tak bisa menangkisnya dan membuat kepal tangan gadis cantik itu berhasil menghantam perutnya hingga membuatnya sedikit kesakitan. Kenapa Delia melakukan hal itu? Mungkinkah ia merasa yang dipukulnya itu bukan benar-benar Alvaro?
Kembali ke tempat Ocha, ia terlihat masih sangat ketakutan seiring dengan banyaknya suara aneh yang terus-terusan menghantuinya.
Srek! Srek! Dug! Dug!
Ah, suara yang sangat menyebalkan baginya. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Makin banyak air matanya yang keluar hanya gara-gara dirinya yang ketakutan. Bayangan wajah hancur dan penuh darah terus-terusan muncul di pikirannya. Ia tak mampu lagi bersuara. Ia tak mampu lagi menjerit sekeras tadi. Tubuhnya terasa lemas, dan suaranya seperti sudah habis. Alhasil tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya diam meringkuk sembari terus meneteskan air mata.
Dug! Dug! Tuk! Tuk!
Lama kelamaan, suara yang ia yakini adalah berasal dari tembok yang ia pukul, kini suaranya sudah mencapai pintu. Itu berarti, posisinya semakin dekat ke arahnya. Ocha pasrah jika seandainya nanti untuk kedua kalinya dirinya harus melihat si hantu jelek itu atau kemungkinan terburuknya mungkin ia akan mati di tangan hantu jelek itu.
Brakkk!
"Aaaaaa!" jeritnya.
Bagaimana tidak menjerit, sedangkan indra pendengarannya mendengar dengan jelas suara yang barusan muncul. Ya, itu adalah suara pintu yang seperti berbenturan dengan suatu benda yang entah itu apa. Ocha menjerit, sambil pandangannya yang langsung mengarah ke arah pintu.
Namun dugaannya salah. Ketakutannya jelas tak terbukti di kala ia melihat pintu itu yang ternyata sudah terbuka. Di ambang pintu kamar sana nampak seorang gadis yang langsung membuat suasana hatinya membaik, menghilangkan ketakutan yang sedari tadi ia rasakan.
"Cha, ada apa ini?"