Bab 41

1997 Kata
"Kenapa lampunya juga mati?" tanya gadis itu lagi dengan agak panik. Ia segera mendekati Ocha yang masih meringkuk dengan posisi kepala menoleh ke arahnya. Dari pandangan matanya, Ocha nampak sangat kacau. "Cha, kenapa?" tanyanya sambil menaruh kedua lututnya di lantai sembari tangannya yang memegang lembut bahu Ocha. "Nanda," ucap Ocha lirih, masih dengan rasa takut yang berlebihannya. "Cha, ini ada apa? Coba cerita," ucap Nanda lagi. Ia yang terkadang dingin dan tenang, kini berubah seketika. Namun Ocha masih terlihat ragu untuk bercerita. Nanda mengerti hal itu. Ia tak memaksa sahabatnya itu untuk langsung mau berbicara. Segera ia memanfaatkan waktu-waktu itu untuk menyalakan lampu. Setelah itu, ia kembali ke tempat Ocha yang masih tetap terduduk, tanpa mau bergerak sedikitpun. Nanda pun merasa tambah aneh, apalagi di saat dirinya melihat ada ponsel Ocha yang tergeletak di sembarang tempat. Ia langsung memungutnya. "Ini ponsel kamu kenapa ditaruh di sembarang tempat?" tanya Ocha sambil memperlihatkan ponsel itu. "Kamar ini berhantu, Nda," ucap Ocha tiba-tiba tanpa berniat menjawab pertanyaan Nanda yang tadi. "Berhantu? Berhantu gimana?" tanya Nanda bingung. "Dia tadi ada di situ. Wajahnya hancur dan penuh darah. Aku melihatnya, Nda. Aku melihatnya dengan sangat jelas," ucap Ocha mulai berani bercerita. Nanda tersenyum tipis. Bukan karena ia tidak percaya dengan cerita Ocha, tapi lebih karena ia ingin melihat sahabatnya itu agar tenang terlebih dahulu. Soal makhluk tak kasat mata, dulu memang dia sulit sekali untuk percaya, akan tetapi seiring berjalannya waktu, serta karena banyaknya waktu yang ia jalani bersama para sahabatnya, apalagi dengan Alvaro, ia jadi bisa percaya bahwa makhluk tak kasat mata itu ada. "Cha, sudah, jangan dipikirin lagi. Biarin saja. Mungkin itu cuma hantu yang nggak ada kerjaan. Makanya nyari kerjaan dengan cara nakut-nakutin kamu. Jadi kamu gak boleh takut lagi, ya," ucap Nanda mencoba menenangkan Ocha. Ocha diam, masih ada sedikit isakan yang bisa terdengar darinya. Sedangkan Nanda, dia masih mencoba ingin membuat Ocha tenang, tapi sungguh, ia sama sekali tak berpengalaman dalam hal menenangkan orang. "Cha, ke depan, yuk!" ajak Nanda. Maksudnya ke depan adalah ke luar kamar. "Cha," panggil Nanda lagi karena merasa ajakannya tak direspon oleh sahabatnya itu. "Ayo ke depan," ajaknya lagi. Ocha mengangguk. Tak ada sedikitpun senyuman yang nampak dari wajah gadis yang biasanya sangat ceria itu. Ia seolah-olah hanya memandang semuanya dengan tatapan kosong. Susah sekali menjelaskan apa yang ia rasakan. Intinya, takut itu benar-benar tak bisa semudah itu ia hilangkan. *** Delia Aprilia, dan Alvaro Aditama. Kini kedua manusia itu sedang berada di ambang pintu yang menghubungkan antara dapur dan lorong-lorong kamar villa. Dua ekspresi yang berbeda nampak jelas di raut wajah mereka. Delia dengan wajah kusut dan juga ketakutannya, serta Alvaro dengan raut wajah yang seperti sedang menahan sakit. "Aduh, kok aku dipukul sih, Del. Ada apa?" tanya Alvaro bingung sambil memegangi perutnya. "Kamu ke mana aja? Kenapa baru datang, sih?" tanya Delia sambil kembali menangis. "Eh, kok nangis? Kamu kenapa?" tanya Alvaro mulai khawatir. "Nggak apa-apa. Kamu kenapa ke sini?" jawab sekaligus tanya Delia sambil terus meneteskan air mata. "Ya aku mau ke toilet," jawab Alvaro. "Kamu kenapa?" tanyanya kemudian. "Sudah kubilang gak apa-apa," jawab Delia sambil mengusap air matanya menggunakan tangan kanan. "Kenapa?" tanya Alvaro lagi dengan nada menekan. Nampaknya ia sudah mulai serius. Delia tak menjawab. Lalu Alvaro berinisiatif untuk melihat di seluruh area dapur, namun dari pandangannya tak ada sesuatu pun yang aneh. "Diganggu sama hantu?" tanya Alvaro lagi. Delia mengangguk. "Hmmm.... Ya udah, ya udah, kamu tenang dulu, dong," pinta Alvaro sambil mengacak-acak rambut Delia seperti biasa. Gadis cantik itu terus-terusan mengusap air mata yang masih belum bisa berhenti menetes. Bahkan ia membiarkan Alvaro mengacak-acak rambut indahnya, padahal biasanya ia pasti akan langsung protes kepada Alvaro. "Payah ah, kok nangis mulu, sih," ejek Alvaro. "Aku takut, Al," ucap Delia. "Kok penakut, sih," ejek Alvaro lagi. "Iiihhh...." decak Delia. Ia malah jadi kesal karena Alvaro terus-terusan mengejeknya. Alvaro tertawa kecil melihat wajah Delia yang seketika berubah menjadi kesal. Ia merasa bahwa ia telah berhasil sedikit membuat Delia melupakan kejadian yang tadi dialaminya. Bukankah sebuah perasaan bisa sedikit tertutupi dengan munculnya perasaan lain? "Jangan takut lagi! Sudah ada aku di sini," ucap Alvaro. Delia masih diam. "Bukankah kamu mengharapkan aku segera datang?" tebak Alvaro. "Eh, enggak tuh," jawab Delia cepat. "Ah, beneran?" tanya Alvaro lagi. "Iya, jadi orang jangan kepedean ngapa, sih," ucap Delia. Alvaro kembali tertawa kecil. Namun beberapa saat kemudian, tawanya perlahan menghilang. Sorot matanya menyorot tajam ke arah Delia. Tidak, lebih tepatnya ke arah belakangnya Delia. Mendadak raut wajahnya mulai berubah. Delia pun bingung apa yang terjadi pada Alvaro. "Del, di belakangmu," ucap Alvaro sambil menunjuk. "Haaaa!" jerit Delia sambil langsung meloncat ke arah Alvaro. Akibat loncatan yang dilakukan oleh Delia itu, secara tidak sengaja langsung tercipta sebuah adegan romansa di mana Alvaro dengan refleks memegang tubuh Delia yang sudah kehilangan keseimbangannya. Sungguh itu adegan yang bahkan sama sekali tak direncakan, dan terjadi begitu saja tanpa adanya aba-aba. "Eh, di mana hantunya, Al?" tanya Delia sembari melepaskan diri dari bersentuhan dengan Alvaro sekaligus langsung mengalihkan kejadian barusan dengan pertanyaannya itu. "Hantu? Hantu apa?" tanya Alvaro dengan polosnya. "Kok hantu apa, sih? Tadi katanya ada sesuatu di belakangku," ucap Delia. "Oh, itu? Iya, ada sesuatu di belakangmu. Itu, di sana ada kompor, panci, piring dan sebagainya," jawab Alvaro. "Cih," decak Delia kesal. "Kenapa, Del?" tanya Alvaro dengan sikap seolah-olah ia tak bersalah. "Kalau cuma itu, kenapa kamu tadi pakai bilang gitu sambil nunjuk-nunjuk?" tanya Delia agak ngegas. "Ya sengaja aja," jawab Alvaro. "Biar apa?" tanya Delia. "Biar kamu takut," jawab Alvaro. "Terus kalau aku sudah takut, nanti kamu menggunakan kesempatan itu buat meluk aku dengan alasan ingin menenangkan aku, gitu?" tebak Delia. "Heh, ya nggak lah," jawab Alvaro cepat. "Anak kecil gak boleh punya pikiran yang kayak gitu," ucapnya lagi kemudian. Disebut sebagai anak kecil, tentu membuat Delia merasa geram. Apalagi yang menyebutnya seperti itu adalah seorang Alvaro Aditama, lelaki yang sudah dikenalnya sejak kecil. Ditambah lagi dengan perasaannya kepada Alvaro yang ia tak tahu perasaan apa itu. "Mending sekarang kamu kembali ke kamar kamu aja daripada nanti hantu itu kembali ganggu kamu lagi," ucap Alvaro sungguh-sungguh. "Aku...." Delia menggantung ucapannya. Pandangannya mengarah lurus ke bawah. "Kenapa? Di kamar kamu akan aman. Kan ada temannya," sahut Alvaro. "Bukannya gitu," kata Delia. "Lalu?" tanya Alvaro. "Aku takut jika harus ke sana sendirian," jawab Delia jujur. "Penakut," ejek Alvaro lagi. "Ih," decak Delia kesal karena terus-menerus diejek oleh Alvaro. "Jadi kamu minta aku nganterin kamu, gitu?" tanya Alvaro. "Hehehe, iya," jawab Delia. "Hmmm.... Maaf, tidak bisa, Del," ucap Alvaro. "Kok gitu?" protes Delia. "Aku kebelet, Del. Mau ke toilet tapi kamu tahan dari tadi. Kalau emang masih minta aku anterin, ya kamu tunggu aja aku di sini," kata Alvaro. "Nggak, aku takut," tolak Delia cepat. "Atau gini aja. Kamu sekalian ikut masuk toilet," usul Alvaro. Delia langsung menunjukkan ekspresi tak terduganya. Bukan senyum ataupun ketakutan, kini ekspresinya itu menandakan bahwa dirinya sedang marah kepada seseorang, dan seseorang itu tentu saja adalah Alvaro Aditama. "Hiiihhh! Dasar m***m!" ucap Delia kesal, lalu membuang muka dari menatap Alvaro. Sedangkan Alvaro malah tertawa kecil. *** Singkat cerita, Alvaro tetaplah Alvaro. Ia rela menyakiti dirinya sendiri yang aslinya sudah sangat tidak tahan ingin buang hajat hanya demi untuk mengantarkan Delia ke tempat yang aman, yaitu kamar Delia itu sendiri. Namun ketika sampai di kamar itu, hanya kekosongan yang mereka lihat. "Ke mana yang lain?" tanya Alvaro. "Emmm.... Entahlah," jawab Delia. "Mungkin ke depan kali, ya?" tebak Alvaro. "Iya, mungkin saja," jawab Delia. "Ya udah. Ayo ke depan!" ajak Alvaro. Kedua insan yang menyandang status sebagai sahabat itupun berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud. Dengan bersama Alvaro, Delia merasa sangat aman. Ia bahkan sudah tak merasakan takut sedikitpun. Perasaan bahwa dirinya mempunyai orang yang akan selalu menjaganya jika tiba-tiba terjadi sesuatu itulah yang membuat dirinya diselimuti dengan rasa tenang, tanpa tercampur oleh sedikitpun rasa takut. "Nah, itu mereka," ucap Alvaro sambil menunjuk dua gadis yang terduduk di sofa. Di ruangan itu pula sebenarnya ada beberapa orang lagi, namun yang menjadi pusat perhatian mereka hanyalah dua gadis yang tak lain dan tidak bukan adalah Nanda dan Ocha. "Eh, kalian kenapa bisa barengan?" tanya Nanda ketika dua insan itu mendekat. "Ya namanya juga tinggal di villa yang sama, wajar lah kalau barengan. Kalau tinggalnya di negara yang sama, lha itu baru agak kurang wajar," jawab Alvaro. "Heh, nggak kok, Nda. Tadi itu aku diteror hantu waktu berada di dapur. Lalu Alvaro datang, dan karena aku takut, ya aku minta dia nganterin aku buat nyari kalian," ucap Delia. "Ooo.... Gitu?" Nanda manggut-manggut mengerti. "Eh, sebentar. Hantu? Ngomong-ngomong soal hantu, Ocha tadi juga diteror sama hantu. Lihat aja deh, dia sampai ketakutan kayak gitu," ucap Nanda. "Ha? Ocha juga? Kenapa tiba-tiba villa ini jadi angker?" tanya Delia heran. "Entahlah, Del. Banyak sekali yang sudah lihat penampakan mereka. Di kamar, di lemari, di lorong, di dapur, dan juga di toilet," ucap Nanda. "Toilet?" Alvaro langsung menyahut perkataan Nanda. "Iya, Al. Masa kamu gak tahu kalau sudah banyak yang melihat hantu di toilet, sih?" ucap Nanda. "Bukannya gitu. Ngomong-ngomong soal toilet, aku jadi ingat," kata Alvaro. "Ingat apa?" tanya Nanda. "Ingat kalau aku kebelet pipis," jawab Alvaro seraya segera pergi dari tempat itu. Alvaro berlari kecil untuk segera sampai di toilet. Ia sungguh sudah tidak tahan ingin buang hajat. Akan tetapi, ketika ia berlari melewati lorong-lorong kamar itu, lagi dan lagi, ada sesuatu yang menghalang-halanginya untuk bisa segera sampai ke toilet. "Dira! Apa yang terjadi denganmu?" tanya seseorang dengan sangat hebohnya. Suara itu terdengar sangat keras. Sebuah pertanyaan, tapi penyampaiannya dengan cara berteriak. Sontak beberapa orang yang sedari tadi berdiam di kamar mereka masing-masing pun langsung bergerak untuk menuju ke arah sumber suara. Sedangkan Alvaro malah dilanda kebimbangan. Ia bingung antara harus memikirkan dirinya yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil, atau harus mementingkan suara teriakan itu terlebih dahulu. "Aduh! Tidak bisakah aku diberi kesempatan untuk membuang hajatku ini?" tanya Alvaro pada diri sendiri. Dia berputar-putar seperti orang linglung, masih bingung harus memilih yang mana. Namun beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk melangkah ke arah yang berlawanan dari arah sumber teriakan tadi, alias ia memilih untuk pergi ke toilet. "Toilet, aku datang," batinnya. Dia berlari lagi. Tak peduli dengan banyaknya rumor bahwa dapur dan toilet itu berhantu, yang penting dirinya bisa bernapas lega nantinya saat hajatnya terbuang. Di sisi lain sebenarnya ia sangat khawatir dengan suara teriakan yang belum ia ketahui tentang masalah apa yang sebenarnya terjadi. Namun mengingat sudah ada banyaknya manusia yang bergerak ke sumber suara itulah yang menyebabkan dia memutuskan untuk memilih opsi pertama dia, yaitu pergi ke toilet. Jika saja tidak ada yang merespon teriakan itu, mungkin dirinya akan lebih memilih untuk menyiksa diri lagi dan akan langsung menuju ke arah sumber suara. Karena apa? Karena dia adalah seorang Alvaro Aditama. "Ah, sial! Woi, siapa yang ada di dalam? Cepetan, udah kebelet, nih," teriak Alvaro sambil menggedor-gedor pintu toilet yang tertutup. Tak ada respon dari dalam. Pikirnya, mungkin orang yang sedang berada di dalam sengaja untuk tidak menjawab ucapan Alvaro agar kegiatannya tidak terganggu. Alvaro sungguh merasa sangat kesal. Ia memutuskan untuk mondar-mandir tidak jelas dengan harapan rasa ingin segera buang hajatnya itu hilang seketika, atau paling tidak bisa berkurang sedikit. Ia berjalan tak tentu arah menjelajahi setiap jengkal ruangan yang tak lain adalah dapur itu. Akan tetapi, pintu toilet belum juga terbuka. Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat Imam yang juga sepertinya akan menuju ke toilet, dan kayaknya Imam tidak melihat keberadaannya. Ketika Imam sudah sampai di ambang pintu toilet dan berniat untuk membukanya, di situlah terjadi sebuah hal yang sangat membuat Alvaro kesal. Ternyata, Imam dengan begitu mudahnya membuka pintu itu. Berarti, sedari tadi memang tidak ada yang sedang berada di toilet. Alvaro hanya bisa melongo, melihat orang yang datang lebih akhir, tapi dapatnya malah lebih awal. Orang itu adalah Imam, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Akan tetapi biar bagaimanapun juga itu tetaplah salahnya juga. Kalau saja ia memastikan terlebih dahulu tentang apakah ada orang di dalam toilet tersebut, pastilah hal semacam ini tidak akan terjadi. Sekarang biarlah penderitaan itu ia rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN