Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu pepatah yang pantas untuk menggambarkan keadaan Alvaro saat ini. Bagaimana tidak? Selang beberapa saat ketika Imam memasuki toilet itu, dirinya merasakan kebeletnya itu semakin menjadi-jadi. Dia kemudian berlari kecil ke arah pintu toilet untuk meminta agar sahabatnya itu segera keluar dari toilet.
"Woi, Mam. Cepetan, udah kebelet nih!" teriak Alvaro.
"Sebentar," jawab Imam dari dalam toilet.
"Emang kamu ngapain sih? Lama amat," ucap Alvaro.
"Biasa. Panggilan alam," jawab Imam.
Habislah sudah. Imam ternyata bukan hanya sekedar buang air kecil ataupun cuma membasuh muka saja. Akan tetapi, si badan besar itu malah mengaku ada panggilan alam.
Alvaro hanya bisa bersandar di pintu toilet sembari berharap agar Imam segera menyelesaikan kegiatannya. Tak lupa di setiap selang beberapa detik ia juga berteriak menyuruh agar Imam segera keluar dari toilet.
"Mam, cepat, Mam! Lambat amat, sih," ucapnya. Dari raut wajahnya ia seperti orang yang sangat tersiksa.
"Iya, sebentar," jawab Imam.
"Dari tadi sebentar mulu. Cepatlah! Aku sudah mau ngompol," keluh Alvaro.
"Lima menit lagi," jawab Imam dari dalam.
"Nggak sekalian aja lima jam," ucap Alvaro.
"Begitu juga boleh," ucap Imam.
Alvaro tak mau lagi memberikan jawaban. Ia merasa tubuhnya sudah sangat lemas karena harus menahan rasa kebeletnya itu lebih lama lagi. Anehnya, padahal banyak yang bilang kalau tempat di sekitarnya itu sering ada penampakan makhluk tak kasat mata, akan tetapi sedari tadi dirinya tak melihatnya satupun. Padahal seharusnya, kemampuan anehnya itu bisa dengan mudah melihat mereka. Tapi nyatanya apa? Tidak ada yang tertangkap oleh indra pengelihatannya satupun.
Ah, memang, itu tidak terlalu penting. Hal terpenting bagi Alvaro saat ini adalah dia harus cepat-cepat membuang hajatnya itu sebelum keluar dengan sendirinya di tempat yang tidak seharusnya. Ia berteriak-teriak dengan lebaynya menyuruh Imam agar segera keluar, namun sahabatnya itu malah seperti sengaja menyiksa Alvaro. Hingga pada akhirnya, Alvaro tak mampu lagi bersuara. Tubuhnya ia sandarkan ke pintu toilet sambil pasrah menunggu Imam keluar dari toilet itu.
Cklekk! Bug!
"Aduh!"
Seseorang mengeluh kesakitan ketika pintu toilet itu dibuka. Orang itu adalah Alvaro. Dia terjatuh karena pintu yang ia buat bersandar itu tiba-tiba dibuka. Sungguh, ini adalah hari yang sial buatnya.
"Lah, malah jatuh. Hahaha," ucap Imam. Ia bukannya menolong malah memilih untuk menertawakan Alvaro.
"Sialan! Lama amat sih," ucap Alvaro sambil bangun.
"Hahaha lagian, kenapa kamu gak pakai toilet lain saja, sih?" tanya Imam.
Seketika itu juga Alvaro langsung tersadar akan kebodohannya yang ke sekian kalinya. Ia bahkan tidak mempunyai pemikiran untuk menuju ke toilet lain saja, dibanding jika harus menunggu Imam keluar dari toilet. Parahnya lagi, Imam dengan sengajanya malah tidak memberitahukan hal itu pada Alvaro sedari tadi. Ia sungguh sahabat yang sangat baik. Saking baiknya, ia bahkan sampai menyiksa Alvaro tetap bertahan dalam rasa kebeletnya.
"Hah, udah, udah. Sana keluar! Cepat!" usir Alvaro ke Imam.
"Eh, sebentar. Kamu gak lihat si Dira? Dia kan tadi pingsan," kata Imam.
Terjawab lah sudah apa yang ada di benak Alvaro tentang teriakan yang tadi itu. Ternyata itu adalah suara seseorang, entah itu siapa, yang berteriak karena melihat Dira pingsan.
"Ah, iya. Nanti aja. Sekarang kau cepatlah keluar!" usir Alvaro lagi.
"Kasihan lho, Dira. Dia pingsan, katanya habis lihat hantu," ucap Imam seakan tak memperdulikan ucapan Alvaro.
"Ngoceh aja terus. Kalau perlu sampai sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil," ucap Alvaro kesal.
"Oke, Al. Tapi bener deh, kasihan si Dira. Aku lihat tadi jadi merasa simpati," oceh Imam lagi.
"Ah, sudah! Pergi sana!" usir Alvaro sambil mendorong tubuh besar Imam agar segera keluar dari toilet. Setelah Imam keluar, Alvaro langsung mengunci pintu itu.
Begitulah watak dari Imam. Ia biasanya mungkin hanyalah seorang lelaki bertubuh besar yang irit sekali dalam berbicara. Bisa dibilang, ia mau bicara, tapi hanya seperlunya saja. Namun perlu diketahui, ada lagi sifat kedua yang dimiliki oleh si besar itu. Dalam keadaan tertentu, dia yang cuek dengan keadaan, dia yang irit bicara dan dia yang seakan tak peduli dengan sekitar bisa diganti dengan sifat dia yang menyebalkan, yang cerewet dan banyak bicara. Itulah Imam. Dia sebenarnya adalah orang yang asyik, asal bersama dengan orang yang tepat.
***
"Hey, coba kau cek keadaan pemuda itu. Malam ini kita akan memulai persembahannya," ucap seseorang berjubah. Dari nadanya, tentu jelas sekali bahwa itu adalah suara dari sang lelaki berjubah.
"Heh, dari dulu kau tidak pernah berubah. Bisanya cuma menyuruh orang lain seenaknya," protes si wanita.
"Jangan banyak bicara! Cepatlah, lakukan saja apa yang kuminta!" ucap si lelaki.
Dengan langkah kaki yang sangat malas, si wanita itupun terpaksa harus menuruti perintah dari sang lelaki berjubah. Ia mendekat ke arah seseorang yang terikat. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arga.
Ketika si wanita sudah sampai tepat di depan Arga, Arga menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh dengan kebencian. Ia bahkan seperti sedang ingin menyampaikan sesuatu, tapi karena mulutnya yang diplester, tentu perkataan itu tidak terdengar jelas.
"Diamlah, tampan. Maaf, sebentar lagi kau akan mati," ucap si wanita berjubah. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut si Arga.
Arga kembali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas lagi. Mungkin ia sedang mengumpati si wanita itu. Hanya saja, sekali lagi, karena mulutnya yang diplester itulah ia tak dapat leluasa dalam berbicara.
"Hey, kusuruh diam, kenapa masih mencoba untuk bicara?" tanya wanita berjubah itu masih dengan nada suaranya yang sangat lembut.
Namun lagi dan lagi. Arga seakan tak Sudi untuk menuruti perintah dari si wanita iblis itu. Dia tetap berusaha untuk berbicara walaupun masih terdengar tidak jelas.
"Hufff.... Baiklah, baiklah. Lakukan saja sesukamu. Anggap itu sebagai hal terakhir yang bisa kau lakukan sebelum menjadi mayat," kata si wanita. Ia pun bangkit dari duduk jongkoknya.
Sebelum pergi, ia kembali mengelus-elus rambut Arga dengan lembutnya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Arga yang masih terikat itu sendirian. Sungguh tindakan yang lembut dari seorang wanita iblis seperti dirinya.
Wanita itu berjalan keluar rumah. Bersamaan dengan itu, suasana yang Arga rasakan pun mendadak berubah. Keringatnya bercucuran membasahi wajahnya. Kata-kata lembut dari si wanita berjubah tadi telah membuatnya ketakutan. Ia jadi berpikir bahwa malam ini hidupnya akan berakhir.
Dalam hati Arga, ia tak ingin mati di tempat aneh seperti itu, apalagi dengan cara yang aneh pula. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, mencari cara tentang bagaimana dirinya bisa meloloskan diri dari belenggu tali tambang yang melilit kedua tangan dan kakinya, serta plester yang ada di mulutnya.
Memang tak ada yang mengawasi, akan tetapi sangat sulit baginya untuk meloloskan diri. Meski begitu dia tak mau menyerah. Tekadnya untuk tetap hidup masih sangat kuat. Dicobanya terus-menerus untuk membuka ikatan tali itu dari tangannya. Ya, dia tahu bahwa kuncinya itu adalah ikatan yang di tangan. Dengan terbebasnya tangannya itu, nantinya pasti ia bisa melepaskan ikatan di tubuh yang lain. Itupun kalau si manusia berjubah itu belum datang.
Nasib baik akhirnya didapatnya, setelah beberapa kali mencoba dan dirinya berhasil membuat tali tambang yang mengikat tangannya itu agak sedikit longgar. Ia tak peduli dengan keadaan tangannya nanti. Ia paksa untuk melepaskannya dengan sekuat tenaga, dan alhasil, akhirnya ia bisa melepaskannya.
Kini tinggal kakinya. Sebelum itu ia membuka plester yang membungkam mulutnya dan membuangnya dengan kesal. Setelah itu, barulah ia mengurus tali yang mengikat kakinya. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia pun bisa melepaskannya.
"Heh, dasar penjahat bodoh! Gini nih kalau nggak pernah ikut Pramuka. Gak bisa tali-temali," batinnya.
***
Sementara itu, di villa tempat Alvaro dan yang lainnya berada sedang ada kehebohan yang begitu besar. Banyak dari mereka yang mengaku telah diteror oleh makhluk tak kasat mata. Bahkan Dira pun sampai pingsan dibuatnya. Alvaro yang baru keluar dari kamar mandi pun merasa aneh dengan apa yang terjadi. Pasalnya dirinya memang tak tahu apa-apa. Ia hanya tahu tentang Delia dan Ocha yang diteror hantu serta si Dira yang pingsan. Itu saja, selebihnya, ia benar-benar tidak tahu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanya Alvaro bingung ketika semuanya berkumpul di ruangan tempat Alvaro mengantarkan Delia bertemu dengan Ocha dan Nanda tadi. Bahkan di ruangan itu tidak hanya ada para mahasiswa saja, tetapi dosen juga.
"Al, katanya kamu bisa lihat hal begituan, kan? Kamu tahu kenapa villa ini mendadak angker?" tanya si dosen balik.
"Oh, tidak, Pak. Saya tidak punya kemampuan dalam bidang itu. Kemampuan seperti itu hanyalah omong kosong, Pak. Nggak akan ada yang mempercayainya. Heh, bahkan meskipun yang dibicarakannya itu adalah hal yang benar," jawab Alvaro. Maksud ucapannya itu adalah untuk membuat si dosen sadar tentang kesalahan dia yang tidak mempercayai cerita Alvaro yang diperantarakan lewat Reyhan tempo hari.
Si dosen tentu saja terdiam. Dari raut wajahnya yang tegang, ia seperti baru saja dihantui oleh sosok yang sangat menakutkan. Entah itu apa, Alvaro pun tidak mengetahuinya.
"Kurasa, para hantu di villa ini hanya menyuruh kita untuk segera pergi dari sini. Mereka memberi tanda, bahwa di tempat ini ada bahaya yang sangat besar. Tapi kita juga tidak boleh pergi, sebelum Arga bisa ditemukan," ucap Alvaro serius. Semuanya mendengarkan semua seksama.
"Andai tadi siang seseorang tidak mengunci pintu itu, mungkin kami sudah bisa pergi ke hutan, dan nantinya juga bisa membawa Arga kembali entah dalam keadaan hidup ataupun mati. Lalu setelah itu, harusnya malam ini kita sudah bisa meninggalkan tempat menyeramkan ini, dan tak akan ada ceritanya para makhluk tak kasat mata yang menghuni tempat ini akan menghantui," lanjut Alvaro. Lirikan matanya tepat mengarah ke si dosen.
"Hufff.... Sudahlah, semuanya kembali ke kamar aja. Seperti apa yang dikatakan bapak-bapak dosen, besok pagi kita akan melakukan misi yang besar, yaitu menyelamatkan Arga," ucap Alvaro lagi. Dirinya kemudian tanpa pamit langsung berjalan pergi meninggalkan perkumpulan untuk menuju ke kamarnya.
Alvaro benar-benar harus diakui keberaniannya. Ia bahkan dengan tanpa ragu menekan sang dosen melalui kata-katanya itu, seolah-olah dia sedang memberitahukan pada seluruh dunia bahwa sang dosen lah yang bersalah atas kejadian di luar nalar tersebut. Sebenarnya Alvaro tak ada maksud untuk menyalahkan. Hanya saja, perasaan kesalnya itulah yang memaksanya untuk menyalahkan.
Ia juga kesal kepada para hantu penghuni villa tersebut. Dari banyaknya manusia yang menghuninya, kenapa cuma dia yang tidak dihantui? Kenapa cuma hantu itu saja yang berani muncul di hadapannya? Itupun sekarang tak berani muncul lagi. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Alvaro. Padahal jika seandainya ada hantu yang muncul di depannya, ia berencana untuk menanyakan sesuatu pada sosok itu, tapi nyatanya apa? Tak ada satupun yang muncul. Ah, mungkin benar. Terkadang apa yang biasanya sangat tidak diharap-harapkan kehadirannya, itu bisa hadir dengan mudah. Akan tetapi, di saat sesuatu itu sangat diharap-harapkan kehadirannya, itu sangat sulit untuk hadir.
Krittt!
Pintu kamar dibuka oleh Alvaro dan tak mendapati seorang pun yang berada di dalam. Wajar saja, semuanya memang sedang berkumpul di ruangan tadi. Alvaro melangkah ke dalam kamar. Nampaknya di kamarnya itu tadi juga telah terjadi sebuah hal yang menarik. Mungkin salah satu atau semua teman sekamarnya telah dihantui oleh sosok tak kasat mata di tempat itu.
Ia mondar-mandir tidak jelas. Untuk pertama kalinya ia malah benci saat kenyataan menyatakan bahwa para makhluk tak kasat mata itu tak berani mendekatinya. Bahkan untuk pertama kalinya juga ia benci ketika dirinya tak bisa melihat ataupun berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Itu semua karena sebuah energi yang berada di dalam dirinya itu. Sebuah energi yang akan menjadi lebih kuat di saat dirinya tak sedikitpun merasa takut pada suatu hal, dan sekarang ini dia sedang dalam kondisi seperti itu.
Perasaan kesal, marah dan juga besarnya keberanian yang ia miliki sungguh membuat energi itu menjadi sangat besar. Hingga tak ada satupun hantu yang berani mendekat.
"Ah, iya, sial! Mungkin karena ini," gumam Alvaro.
"Jika ingin melihat mereka, harusnya aku bisa menghentikan rasa kesalku ini dan kuganti dengan rasa takut. Tapi bagaimana caranya?" lanjut Alvaro bertanya pada dirinya sendiri.
Memang benar, itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan Alvaro untuk bisa berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Ya, hanya itu. Hanya dengan menghilangkan energinya itu untuk sejenak, maka mungkin ia akan didekati oleh mereka. Namun yang menjadi masalahnya adalah tentang bagaimana cara untuk melakukannya. Sungguh itu adalah hal yang sangat sulit mengingat dirinya yang sudah terlanjur kesal dengan keadaan.
Alvaro mengacak-acak rambutnya penuh dengan rasa frustasi. Dia rasa, semua yang dia lakukan ataupun yang akan dilakukan juga akan berakhir dengan hasil yang sia-sia.
"Cih, lebih baik kutunggu saja hari esok. Semoga kau bisa bertahan hidup, Arga," ucap Alvaro pelan sambil memandang ke langit-langit kamar.