Bab 43

1996 Kata
Ia benar-benar tak sabar menunggu hari esok. Di saat yang lain masih sibuk membicarakan tentang hal-hal tak kasat mata, dirinya malah mempersiapkan diri untuk tidur. Di samping untuk mempercepat datangnya hari esok, sebenarnya dia juga mengharapkan ada sebuah petunjuk melalui mimpi yang hadir di dalam tidurnya itu. Seperti biasanya, di saat akan ada sesuatu yang bisa mendatangkan malapetaka. "Alvaro!" panggil seseorang sedikit berteriak. Dengan cepat Alvaro langsung membuka matanya yang baru saja ia pejamkan. Hal pertama yang ia lihat adalah pintu kamarnya. Ya, tentu saja ia berpikir bahwa sosok di balik suara itu akan muncul melalui pintu itu. Benar saja, pintu kemudian terbuka dan menampilkan sosok manusia yang dikenal dengan nama Reyhan. Dia berdiri di sana beberapa saat, kemudian mulai melangkah masuk dan mendekat ke arah Alvaro. "Sialan! Baru juga merem, kau malah datang tak diundang pulang tak diantar," protes Alvaro. "Memangnya jelangkung," ucap Reyhan. Lalu ia duduk di kasur yang Alvaro tempati untuk merebahkan tubuhnya. "Hufff.... Ada apa? Sampai kau dengan beraninya mengganggu tidurku?" tanya Alvaro tidak terima. "Cih. Kau yakin, kalau Arga besok masih hidup?" tanya Reyhan to the point. "Kalau masih bernyawa, dia pasti masih hidup. Tenang aja," jawab Alvaro asal. "Sialan! Ini serius. Udah kayak gini aja kau masih sempat-sempatnya bercanda," protes Reyhan. Wajahnya nampak serius. "Hufff...." Alvaro menghembuskan napasnya pelan. Kemudian raut wajahnya sudah mulai menggambarkan bahwa ia sedang berada dalam mode seriusnya. "Itu dia yang juga menjadi pertanyaanku. Kalau dilihat-lihat, mereka itu adalah penjahat yang sudah sangat profesional. Mustahil rasanya jika akan memberi kesempatan bagi korbannya untuk meloloskan diri. Tapi...." Alvaro menggantung ucapannya. Reyhan bersiap untuk mendengarkan kata-kata yang akan diucapkan Alvaro selanjutnya. "Apapun yang sebenarnya terjadi kita cuma harus yakin. Yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Arga," lanjutnya. "Hmmm.... Oh ya, kau tidak mendapat pengelihatan lagi?" tanya Reyhan. "Pengelihatan yang mana?" tanya Alvaro balik. "Ya pengelihatan anehmu itu lah," jawab Reyhan cepat. "Oh.... Kalau tentang itu, jawabnya tidak," ucap Alvaro. "Hufff.... Sial! Kenapa di saat pengelihatan anehmu itu dibutuhkan, malah tidak bisa digunakan?" tanya Reyhan kesal. "Ya mana saya tahu, kok tanya saya?" balas Alvaro ikut kesal. "Sudahlah, biarkan aku tidur. Kali aja bisa bermimpi, nanti," ucap Alvaro sambil memposisikan tubuhnya untuk segera tidur. "Mimpi tentang petunjuk keadaan Arga saat ini?" tanya Reyhan. "Mimpi tentang menikah dengan 5 cewek cantik," jawab Alvaro asal. "Cih. Dasar bodoh!" gumam Reyhan sambil melihat sahabatnya yang sudah bersiap untuk tidur. *** Dua orang perempuan sedang memasuki kamar mereka. Mereka adalah Chelsea dan Wulan. Terlihat dari tatapan mereka yang penuh dengan keraguan sekaligus ketakutan. Namun dikarenakan rasa kantuk yang teramat sangat, mau tidak mau mereka harus segera memasuki kamar itu. "Chelsea, jika nanti aku yang tidur duluan, kau jangan ninggalin aku sendirian di kamar ini, ya," pinta Wulan. Setelah itu ia pun merebahkan tubuhnya di kasur. Begitupun dengan Chelsea. "Iya. Kamu juga sama. Jika aku yang tidur duluan, kamu jangan pernah ninggalin aku sendirian di kamar ini," balas Chelsea. "Oke lah," jawab Wulan. Suasana kamar yang mereka tempati nampak begitu tidak bersahabat walaupun lampunya sudah sengaja dibiarkan hidup. Kedua gadis cantik yang menempati kamar itu masih diselimuti rasa khawatir yang teramat sangat. Walaupun sejatinya mereka sedang mengantuk, tapi entah kenapa mata mereka rasanya sulit sekali untuk dipejamkan. Tentu mereka takut dengan sesuatu yang akan muncul ketika sang mata sudah terpejam. Mereka merebahkan tubuh dengan posisi membelakangi satu sama lain. Dalam hal ini yang nampak lebih ketakutan adalah Wulan. Matanya bahkan tak bisa ia pejamkan sama sekali. Ia pikir dengan terus mengawasi bagian sisi kiri dari tempat tidur yang ia tempati, ia akan aman. Akan tetapi ia tak tahu apa yang nantinya terjadi. "Chelsea," panggilnya ke Chelsea untuk memecah keheningan. "Hmmm," jawab Chelsea. "Kau sudah tidur?" tanya Wulan. "Kalau aku masih bisa jawab, berarti aku belum tidur," jawab Chelsea. "Iya juga, ya," kata Wulan. "Aku gak bisa tidur," ucapnya kemudian. "Makanya jangan ngomong mulu," kata Chelsea. "Tapi kan, Chel, aku takut tidur," ucap Wulan. "Udah dong, Lan. Aku ngantuk, mau tidur," sahut Chelsea. Wulan hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Sahabatnya itu benar-benar tak bisa diajak kompromi. Akhirnya, mau tidak mau dia pun berusaha untuk memejamkan matanya walaupun dalam hati kecilnya masih merasakan ketakutan yang teramat sangat. "Ah, semoga tidak ada hal yang menakutkan," ucapnya dalam hati, kemudian mulai untuk memejamkan mata. Baru juga sedetik setelah matanya terpejam, ia merasakan ada aura yang sangat tidak enak di sekitar tempatnya tidur. Keringat dinginnya mulai keluar. Ia ingin membuka matanya lagi, tapi entah kenapa dia mendadak takut. Ia takut jika nantinya tepat ia membuka mata, ternyata ada makhluk menyeramkan yang menyambutnya. Ia tak mau jika hal itu sampai terjadi. Lama matanya terpejam, dengan kondisi jiwa dan raga yang ketakutan, akhirnya aura aneh yang ia rasakan itu menghilang. Dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya dia mencoba untuk membuka mata. Sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, hingga pada akhirnya matanya bisa terbuka dengan sempurna. Saat itulah akhirnya ia melihat bahwa apa yang ia takutkan selama matanya terpejam tadi adalah hal yang sebenarnya tidak ada. Ya, ia hanya melihat kekosongan sejauh matanya memandang. Ia pun menghembuskan napasnya dengan lega, merasa bodoh dengan perasaannya sendiri. Hingga tiba-tiba, sebuah hal yang sangat menakutkan terjadi. Sosok makhluk berambut gimbal panjang tiba-tiba memunculkan diri dari tepi tempat tidur. Parahnya, hanya bagian kepalanya yang nampak. Seakan-akan makhluk itu adalah penghuni yang menempati kolong tempat tidur yang berniat untuk mengintip Wulan lewat tepi tempat tidur tersebut. "Aaaaa!" Wulan berteriak sekeras yang ia bisa. Sungguh ia nampak sangat ketakutan. Betapa terkejutnya Wulan ketika melihat hal itu. Makhluk jelek itu bukan hanya menakutinya, tapi juga mengagetkannya. Tidak bisakah dia muncul menembus dinding ataupun dari balik pintu kamar saja? Kenapa harus memperlihatkan bagian kepalanya saja dari tepi tempat tidur? Wulan berteriak, tak peduli meski ia tahu ini adalah malam hari. Ia juga tak peduli jikalaupun akan mengganggu waktu tidur teman-temannya. Lagipula, ia melakukannya dengan refleks, tanpa ia persiapkan sebelumnya. Makhluk itu masih berada di tempat, dan sialnya Wulan seperti terpaku untuk terus menatap wajah makhluk jelek itu lebih lama lagi. Itu bukan kemauannya, tapi itu yang terjadi pada dirinya sendiri. Setelah teriakannya itu berakhir, akhirnya tubuhnya berhasil ia gerakkan. Ia langsung berbalik badan untuk menghadap ke arah Chelsea. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung memeluk tubuh Chelsea dengan sangat erat dari samping. Ia meneteskan air mata. Hingga kemudian dia tersadar ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang dipeluknya itu, ia rasa bukan Chelsea. Seingatnya Chelsea mengenakkan baju tidur berwarna biru, tapi yang ia lihat dari pakaian yang dikenakan oleh sesuatu yang dipeluknya itu adalah warna putih, seperti kain kafan, dan bentuk tubuhnya juga aneh. Bau anyir darah mulai menusuk indra penciumannya. Tubuhnya gemetaran lagi dan ketika itu terjadi, dia mencoba untuk memastikan tentang siapa sosok yang dipeluknya itu. Di saat ia mendongak, betapa terkejutnya dirinya ketika melihat bahwa sosok yang ia peluk itu ternyata bukanlah Chelsea, melainkan sosok hantu bungkus yang sering disebut dengan sebutan pocong. Pocong itu memiliki wajah hancur dan penuh darah. Wulan bahkan dapat melihat dengan jelas tentang belatung yang memenuhi wajah sosok buruk rupa itu. Ia dengan refleks langsung berteriak dan secepat mungkin langsung melepaskan pelukannya. Tak ada waktu lagi untuk memastikan apakah itu cuma halusinasinya saja ataupun benar-benar nyata. Ia segera melompat dari tempat tidurnya. Beruntungnya, hantu wanita yang mengintipnya dari samping tempat tidur itu sudah menghilang. "Aaaaa!" teriak Wulan ketakutan sambil berlari keluar dari kamar. Di sisi lain, Alvaro yang sedang tertidur akhirnya terbangun akibat mendengar teriakan itu. Cara bangunnya pun sangat tidak ia harapkan. Ia bangun dengan keadaan terkejut. Tubuh yang awalnya berada dalam kondisi berbaring, secara refleks langsung mengambil posisi duduk. Jantung Alvaro terasa berdebar-debar. Kalau dihitung-hitung, belum ada 30 menit semenjak ia memutuskan untuk tidur, tadi. Namun sekarang, ia harus terbangun lagi akibat mendengar suara teriakan ketakutan itu. "Hufff.... Tidak bisakah sekali saja aku bisa tenang?" protesnya entah ke siapa. Maklum saja ia bergumam. Pasalnya sedari tadi sudah banyak hal yang membuat dia merasa menjadi manusia yang paling sial di dunia. Tadi, mau buang air kecil saja ia bahkan harus melewati banyak sekali rintangan, dan sekarang hal semacam itu terjadi lagi. Kali ini adalah tentang tidurnya yang tidak bisa tenang gara-gara suara teriakan itu. "Ini si Reyhan juga ke mana, sih?" tanya Alvaro lagi. Matanya melihat sekeliling yang ternyata hanya ada dirinya saja di tempat itu. Baik Reyhan, Arul, Aji, maupun Tomi tidak ada yang berada di dalam kamar itu. Hanya ia sendiri saja, dengan ditemani oleh seperangkat alat tidurnya. Dengan rasa malas tingkat tinggi, dia akhirnya memutuskan untuk memeriksa tentang siapa yang berteriak, tadi. Biar bagaimanapun juga, itu jelas sudah mengganggu tidurnya. Tak keren rasanya jika dirinya tak tahu siapa pelakunya. Ia berjalan ke luar kamar. Langkahnya yang malas bersatu padu dengan matanya yang masih susah untuk dibuka. Ya, ia masih sangat mengantuk. Teriakan ketakutan itu mungkin sudah berhenti sedari tadi. Namun rasa penasarannya masih tak mau untuk diajak berhenti. Sekali hatinya bilang harus tahu, maka biarpun raganya menolak, ia juga harus melakukan apa yang dikatakan oleh hatinya itu. Alvaro berjalan santai menuju ke arah yang ingin ia tuju, dan ternyata, ketika ia sampai di tempat itu, hampir semua temannya memang masih ada di sana. Ia melihat sesuatu yang cukup menarik hatinya, yaitu ketika para manusia yang berada di situ memfokuskan pandangannya ke arah Wulan yang terlihat ketakutan. "Ada apa ini?" tanya Alvaro. "Wulan habis diteror lagi, katanya," jawab salah satu dari mereka. "Wulan?" tanya Alvaro entah kepada siapa. Ia kemudian mulai berjalan untuk mendekati Wulan yang sedang ketakutan. "Benar, kamu diteror lagi?" tanya Alvaro ke Wulan. "Iya," jawab Wulan. Ia nampak masih sangat ketakutan dengan tubuhnya yang gemetaran. "Coba ceritakan, gimana kejadiannya," pinta Alvaro. Wulan diam, masih tak sanggup untuk bercerita. Dirinya mungkin masih teringat wajah buruk rupa si hantu yang menakut-nakutinya tadi. Alvaro mengerti, sangat mengerti malahan. Ia memberikan kesempatan bagi Wulan untuk memberanikan dirinya terlebih dahulu sebelum nanti akan menceritakan semuanya. Semua orang menanti. Sayangnya para dosen sudah tidak ada di sana. Kalau saja masih ada sang dosen, mungkin akan terjadi hal yang seru lagi. Sebuah hal di mana seorang Alvaro Aditama akan sangat menyalahkan si dosen tentang semua kejadian yang telah terjadi itu. "Tadi aku berniat ingin tidur terlebih dahulu. Aku tidak sendirian, ada Chelsea yang menemaniku. Ketika kami sudah sama-sama berbaring di tempat tidur, aku malah tidak bisa tidur. Lalu, tiba-tiba hantu itu muncul. Itu sangat menakutkan," ucap Wulan panjang lebar. Bahkan di dalam ia menyampaikan ceritanya pun, ia sampai meneteskan sedikit air matanya. Wulan sepertinya tak mampu menceritakan kejadian yang barusan dialaminya itu dengan detail. Entah apa alasannya, yang pasti apa yang ia ceritakan itu hanyalah bagian intinya saja. Ia tidak menyebutkan tentang bagaimana cara hantu itu muncul dan tentang betapa menyeramkannya wujud dari hantu itu. Mungkin alasannya adalah, antara karena ia tak berani, atau tak ingin membuat teman-temannya ketakutan akibat membayangkan. "Lalu, di mana Chelsea sekarang?" tanya Alvaro ketika dirinya tak melihat kehadiran Chelsea di ruangan itu. "Chelsea?" tanya Wulan entah ke siapa. Bola matanya bergerak liar mencari si perempuan yang bernama Chelsea. Namun ternyata tak ada. Ya, Chelsea tak ada di ruangan itu. Bahkan Wulan sendiri pun baru menyadarinya. "Kamu ninggalin dia?" tanya Alvaro ke Wulan, sedangkan yang lainnya hanya memposisikan dirinya sebagai penonton dan pendengar yang baik. "Tidak, aku tidak ninggalin dia," jawab Wulan cepat untuk membela dirinya. "Lalu, kenapa bisa kau cuma sendirian, tanpa bersama dia?" tanya Alvaro seakan menekan mental Wulan. "Hufff.... Jadi, tadi itu sebenarnya, ketika aku melihat penampakan itu, aku langsung berbalik badan dan memeluk tubuh Chelsea erat-erat. Namun ternyata, apa yang kukira adalah tubuh Chelsea itu ternyata adalah pocong. Karena itulah aku lari. Kukira Chelsea sudah berlari duluan sebelum aku. Sumpah, aku juga baru menyadarinya," jawab Wulan panjang lebar. Semua orang tentu hampir tak percaya dengan cerita si Wulan. Bagaimana tidak? Apa yang diceritakan oleh Wulan itu adalah sebuah kejadian yang sangat menyeramkan, walaupun hanya dibayangkan saja. Timbul pertanyaan di hati mereka tentang bagaimana perasaan Wulan ketika memeluk sesuatu yang ternyata adalah pocong. Ah, mungkin itu sungguh sangat menyeramkan. "Baiklah, itu berarti Chelsea masih ada di kamar. Semoga saja ia tidak diganggu lebih parah dari kamu oleh para makhluk tak kasat mata itu," ucap Alvaro.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN