Bab 44

2000 Kata
"Kita ke kamarmu," ucap Alvaro kemudian. "Hah? Mau ngapain tuh?" tanya lelaki yang juga merupakan teman Alvaro. "Jangan berpikir yang aneh-aneh!" sahut Alvaro. "Eh, ya maaf," ucap lelaki itu. "Heh, tentu saja aku ingin bermalam di sana," kata Alvaro. Sontak hampir semua dari mereka memberikan ekspresi terkejut mereka. Mungkin apa yang Alvaro ucapkan hanyalah sebuah candaan belaka, tapi tetap saja itu bisa membuat mereka terkejut bukan main. "Hadeh, mulai keluar deh jiwa bodohnya," ucap Reyhan pelan ke Ihsan yang ada di sampingnya. "Teman kamu tuh," ucap Ihsan. "Temanku? Jelas-jelas dia mirip kamu. Ya temanmu, lah," balas Reyhan. "Tapi kan dia lebih sering sama kamu," balas Ihsan tak mau kalah. "Hufff.... Ya udah, gini aja. Saat dia pintar, berarti dia itu temanku. Tapi ketika dia mendadak bodoh, itu berarti dia temanmu," kata Reyhan. "Mana bisa gitu," protes Ihsan. Reyhan tertawa kecil. Itulah keseruan di dalam persahabatan mereka. Mungkin apa yang dia bahas itu bukanlah hal yang penting. Akan tetapi dari hal tidak penting itu ternyata bisa menghadirkan sebuah kehangatan yang luar biasa. "Bercanda, gak usah kaget kayak gitu juga, lah," ucap Alvaro kemudian. "Ya udah. Sekarang ayo kita periksa si Chelsea!" ajak Alvaro. Beberapa dari mereka akhirnya menuruti permintaan Alvaro untuk memeriksa kamar tempat kejadian perkara itu. Alvaro berjalan terlebih dahulu tanpa ketakutan sedikitpun, sedangkan di belakangnya ada Wulan yang masih sangat ketakutan. Awalnya ia memang tidak mau jika harus kembali ke kamarnya. Namun karena itu demi sahabatnya, Chelsea, ia mau tidak mau pun harus mengalahkan ketakutannya itu sendiri walau sangat sulit. "Al, apa kamu tidak takut?" tanya Wulan ketika sudah hampir sampai di tempat tujuan. "Takut? Tidak," jawab Alvaro tanpa ragu sekaligus tanpa memandang ke arah Wulan. Setelah itu tak ada pembicaraan lagi. Alvaro ingin segera menyelesaikan hal menyebalkan ini dan segera tidur. Ya, satu-satunya alasan bagi dia untuk bertindak secara cepat adalah karena ia ingin tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan apapun. Kriiitt! Pintu dibuka oleh Alvaro dengan perlahan. Ada yang aneh sebenarnya. Bukankah ketika Wulan melarikan diri keluar kamar tadi pintu itu dibukanya dengan lebar? Ah, entahlah, entah itu karena ghaib ataupun apa, hanya Tuhanlah yang tahu. "Bukankah itu Chelsea!" tanya Alvaro sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang tertidur di kasur. "Aneh," ucap Wulan seakan tak percaya kalau perempuan itu adalah Chelsea. "Aneh gimana?" Reyhan yang berada di belakang pun langsung menyahut. "Sumpah deh. Tadi itu, Chelsea berubah jadi pocong. Tapi sekarang kok jadi beneran Chelsea?" ucap Wulan terheran-heran. "Ah, mungkin cuma halusinasi kamu aja, tuh. Intinya jangan terlalu takut. Karena jika kamu takut, makhluk tak kasat mata itu malah akan dengan mudah menakut-nakuti kamu. Bahkan kalaupun mereka tidak berminat untuk menakut-nakuti, kamu bisa mengalami halusinasi kayak gini," ucap Alvaro panjang lebar. "Tapi...." "Sudah. Sekarang tidurlah! Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Buktinya Chelsea bisa tidur dengan nyenyak, kan?" sahut Alvaro. "Iya, Lan. Tidurlah! Mungkin kamu terlalu kecapekan hingga kamu mengalami halusinasi kayak gitu," ucap Delia memperkuat apa yang dikatakan oleh Alvaro. Wulan bingung mau melakukan apa. Di satu sisi ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Alvaro. Akan tetapi di sisi lain, ia merasa apa yang dia lihat tadi itu benar-benar sangat nyata. "Masa iya sih, halusinasi?" gumamnya pelan. "Wulan," panggil Delia. "Hah? Iya, Del?" sahut Wulan. "Lebih baik kamu temenin Chelsea. Kasihan dia kamu biarin tidur sendirian," ucap Delia. Lagi lagi, Wulan bingung untuk mengambil keputusan. Dia sungguh tak punya pilihan yang ia sukai. Di dalam kamar itu, ia yakin sekali bahwa sosok tak kasat mata yang menakut-nakutinya tadi masih berada di sana. Akan tetapi ketika melihat sahabatnya yang tengah tertidur pulas, keyakinannya itu agak sedikit berkurang. Namun tetap saja ketakutan itu masih merasuk ke dalam jiwanya. "Tidurlah! Nanti kusuruh yang lain supaya nyusul," ucap Alvaro. Wulan akhirnya mau menganggukkan kepalanya. *** Setelah masalah Wulan selesai, Alvaro harus menyelesaikan masalah yang selanjutnya. Apa itu? Yaitu untuk menyuruh semua temannya supaya mau tidur di kamar masing-masing. Tentang masalah teror makhluk tak kasat mata yang tiba-tiba membuat huru-hara, ia harus mengetahui penyebabnya dengan segera. "Teman-teman. Kumohon semuanya agar kembali ke kamar masing-masing. Jika nanti mereka ada yang mengganggu lagi, abaikan saja! Anggap saja kalian tidak melihat mereka. Dan yang paling penting, berdo'alah selalu. Dengan itu kalian tidak akan diganggu oleh mereka lagi," ucap Alvaro kepada teman-temannya layaknya orang yang sedang berpidato. Tak ada satupun yang komentar. Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya mereka sudah sangat mengantuk. Hanya saja karena takut, rasa kantuk itu pun mereka tahan. Namun setelah Alvaro mengatakan hal yang tadi itu, mereka agak sedikit punya keberanian. Setelah semuanya pergi ke kamar masing-masing, Alvaro dan teman-teman sekamarnya juga bersiap untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah cukup lelah beraktivitas pada hari ini. Tidak hanya tubuh, namun juga otak. "Hufff.... Semoga gak ada gangguan lagi, ya," ucap Aji sesaat sebelum mereka semua memposisikan diri untuk segera tidur. "Iya, semoga saja," jawab Alvaro. Tak mau banyak melakukan pembicaraan lagi, Alvaro langsung memutuskan untuk menutup matanya. Ia sudah tak tahan lagi dengan perasaan kantuknya. Kebugarannya juga dibutuhkan untuk menyongsong hari esok, karena besok itu adalah hari yang sangat penting, di mana dirinya harus berjuang dengan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan nyawa lain yang kini sedang terancam akan hilang. Tak butuh waktu lama bagi Alvaro untuk terjun ke alam mimpi. Ya, ia sudah tertidur, walaupun teman-teman sekamarnya bahkan belum ada satupun yang bisa menutup mata. Memang, itulah Alvaro. Seorang pria yang pantas untuk dijuluki si raja tidur. Seorang Alvaro yang awalnya sangat takut dengan makhluk tak kasat mata, setelah mendapat kemampuan aneh itu ia berubah drastis menjadi seseorang yang sangat pemberani. Tidak peduli seperti apapun rupa makhluk itu, selama ia tidak muncul tiba-tiba di depan Alvaro, maka Alvaro tidak akan ketakutan. Ya, itulah dia sekarang. Kini manusia tampan nan pemberani itu sudah mendapatkan apa yang dia mau, yaitu tertidur dengan tenang. Terserah apapun yang akan dilakukan para makhluk tak kasat mata di sekitarnya. Asalkan mereka tidak mengganggu, Alvaro tidak akan peduli. Namun, lagi-lagi.... "Aaaaa!" Teriakan itu terdengar begitu menggema di seluruh penjuru ruangan, membuat siapa saja yang mendengarnya langsung ingin mengetahui tentang asal suara itu. Alvaro yang baru tertidur beberapa menit sontak langsung terbangun kembali. Untuk kedua kalinya ia mengalami cara bangun yang sangat tidak ia harapkan. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah dia baru saja menjalani lari maraton. Ah, tidak, rasanya itu jauh lebih parah daripada cuma lari maraton. "Ya ampun.... Ada apa lagi sih, ini?" tanyanya entah ke siapa dengan nada kesal. Wajahnya kusut bagai tak terurus. *** Sang pagi pun telah tiba. Semua kejadian yang terjadi pada tadi malam benar-benar membuat Alvaro terbangun dengan tubuh yang sangat malas. Bagaimana tidak? Malam itu adalah malam yang sangat melelahkan bagi dia. Tidur sebentar, terbangun kembali. Tidur lagi, dan terbangun lagi. Beruntungnya setelah kejadian si Yanti yang berteriak ketakutan tadi malam itu tak ada kejadian lain lagi. Namun meski begitu jelas tidurnya sudah banyak terganggu. Sungguh itu adalah malam yang sangat sial buatnya. "Al, sudah siap?" tanya Reyhan. "Ke mana?" tanya Alvaro balik sambil menguap. "Kok ke mana, sih. Kan kita harus ke hutan buat nyari si Arga," jawab Reyhan. "O iya, ya. Ya udahlah, kita siap-siap," ucap Alvaro. Begitulah Alvaro. Walaupun kondisi tubuhnya sangat tidak meyakinkan, tapi ia akan tetap memilih untuk memaksakan diri kalau sudah menyangkut keselamatan temannya. Dia sedang mengantuk, dan tubuhnya pun terasa sangat lemas, tapi itu tak menjadi halangan buatnya untuk melakukan apa yang harusnya ia lakukan. Singkat cerita, beberapa orang sudah berkumpul di depan villa itu. Ada beberapa laki-laki yang sudah bersiap untuk masuk hutan, di antaranya ada sang dosen juga. Nampak 4 perempuan yang sedang merengek untuk diizinkan ikut. Mereka adalah Delia, Nanda, Ocha dan Chelsea. "Pak, izinkan kami ikut," rengek Chelsea. "Tidak boleh. Ini berbahaya. Biarkan para laki-laki saja yang bertindak," jawab sang dosen. "Tapi, Pak...." Delia juga ikut merengek agar diperbolehkan ikut. "Del, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh Pak Dosen. Kalian sebaiknya tetap berada di sini," sahut Alvaro dengan lemah lembut. Delia diam tak menjawab. "Maaf, bukannya saya tidak ingin membantu, tapi saya hanya tidak berani menyalahi pantangan itu. Sebelumnya saya sudah peringatkan kepada kalian supaya tidak melakukan hal ini. Tapi, jika kalian bersikeras untuk tetap melakukannya, ya saya bisa apa? Semoga Tuhan selalu melindungi kalian semua," ucap si bapak pemilik villa. Alvaro dan lainnya mengamini ucapan si pemilik villa itu. Biar bagaimanapun juga, khususnya untuk Alvaro dan Reyhan, mereka sudah tahu tentang seberapa besar bahaya di tempat itu. Saat itu mungkin cuma sebagian kecil dari bahayanya, akan tetapi bisa saja bahaya yang sebenarnya sudah menanti dalam bentuk yang jauh lebih besar. "Aku ikut." Sebuah suara yang tak terduga tiba-tiba terucap dari mulut seseorang. Ya, asal suara itu datang dari seorang gadis cantik nan seksi yang tak lain dan tidak bukan adalah Raisya. "Raisya," ucap ayahnya, alias sang bapak-bapak pemilik villa itu. "Aku ikut. Biar bagaimanapun juga, Arga diculik saat dia sedang bersamaku. Aku tidak mau selamanya akan merasa bersalah. Jadi, biarkan aku ikut. Aku mohon," ucap Raisya meminta izin pada semuanya. "Raisya...." Sang ayah menggantung ucapannya. Ia bingung mau berkata apa. "Yah, kumohon izinin aku," ucap Raisya. Raut wajah gadis itu, itu adalah sebuah raut wajah yang dipenuhi dengan keinginan yang besar. Sebuah keinginan untuk ikut mencari Arga walaupun harus melalui banyak bahaya. Ia seakan-akan sangat menyesali apa yang telah terjadi. "Bagaimana, Pak?" tanya sang dosen kepada si pemilik villa itu. "Yah, gak apa-apa, kan?" tanya Raisya. "Hufff.... Iya, baiklah. Tapi saya mohon jaga anak saya, ya," ucap si pemilik villa itu kepada para dosen. Si dosen pun mengiyakan. Sementara itu nampak sekali kecemburuan di wajah seorang Chelsea. Entah cemburu dalam bidang apa. Entah karena ia yang tidak diizinkan ikut ataupun karena Raisya yang nampak begitu perhatian dengan Arga. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan sang pencipta tentunya. "Ya sudah, ayo berangkat!" ajak salah satu dari dosen itu. "Alvaro," panggil Delia sebelum dia dan yang lainnya pergi. Alvaro menghadap ke arah Delia dengan tatapan yang tidak dapat digambarkan. Pokoknya tatapannya sangat tenang, seolah-olah tak peduli dengan bahaya-bahaya yang akan menantinya. "Iya," jawab Alvaro. Namun Delia malah diam untuk beberapa saat. "Nggak jadi," jawab Delia. "Hufff." Alvaro menghembuskan napasnya pelan. "Tenang saja. Aku juga tidak mau mati di tempat buruk kayak gitu," ucap Alvaro kemudian, seakan dia mengerti apa yang tak mampu Delia katakan tadi. Ia kemudian berbalik badan dan menyusul rombongannya yang sudah berjalan beberapa meter jauhnya. Ada sebuah kejanggalan yang dia lihat tadi. Ke manakah sang perempuan yang mengaku sebagai adiknya si Raisya, atau lebih tepatnya anak dari pemilik villa itu? Ke manakah perempuan yang mengaku bernama 'Nesya' kini berada? Ya, sedari tadi Alvaro tak melihat keberadaan gadis cantik nan imut itu. Harusnya dalam situasi yang seperti itu, setidaknya ia juga ikut berkumpul. Akan tetapi nyatanya apa? Dia tidak ada di sana. Oke, lupakan saja tentang gadis itu. Kini Alvaro bersama rombongan sudah memasuki kawasan hutan yang konon katanya dipenuhi oleh para makhluk tak kasat mata. Bisa dibilang, tempat itu adalah sarang dari makhluk-makhluk itu. Untuk sekedar info, jumlah orang yang ikut ke hutan adalah 8 orang. Ya, itu sesuai dengan jumlah awal, hanya saja sebagian dari mereka beda orang. Alvaro, Reyhan, Imam dan Ihsan. Ada juga tiga dosen yang katanya bertugas sebagai penjaga. Namun tak tahu nantinya, apa mereka akan menjaga atau malah sebaliknya mereka yang dijaga. Satu lagi adalah si Raisya. Tak ada yang berani mengambil risiko untuk mempertaruhkan nyawanya kecuali mereka. Bahkan untuk para dosen, jika bukan karena nama baik mereka dan nama baik kampusnya, serta kalau bukan karena kata-kata dari Alvaro maupun Reyhan yang selalu mendesak mereka, mungkin mereka juga tidak Sudi untuk mempertaruhkan nyawa hanya untuk satu nyawa yang belum tentu masih ada atau tidaknya. "Raisya. Ini sudah hampir memasuki kawasan hutan yang katanya terlarang itu. Sebelumnya aku mau nanya dulu untuk sekedar memastikan. Apa kamu yakin mau ikut?" tanya Alvaro. "Yakin. Aku sangat yakin," jawab Raisya dengan keyakinan tingkat tinggi. "Kamu tahu kan, tempat itu sangat berbahaya?" tanya Alvaro lagi sambil terus melangkahkan kaki. "Iya," jawab Raisya. "Kamu tidak takut jika nantinya akan terjadi apa-apa padamu?" tanya Alvaro untuk ke sekian kalinya seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka. Raisya menghembuskan napasnya pelan. Sungguh dia cantik sekali saat melakukan hal itu. "Tentu saja aku takut," jawab Raisya jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN