"Tapi.... Aku juga tidak mau jika kalian harus menanggung risiko ini karena aku," ucapnya kemudian.
"Alvaro, dan yang lainnya, bapak-bapak dosen juga. Jika seandainya nanti Arga masih bernyawa, tolong biarkan aku yang menghadapi mereka. Kalian tidak perlu sampai bertarung dengan mereka. Karena aku tahu betul kalau mereka tidak akan bisa kalian bunuh dengan mudah. Jalan kekerasan tidak akan berguna. Jadi, tolonglah, apapun yang terjadi nanti, biarkan aku saja yang bertindak," ucap Raisya panjang lebar. Raut wajahnya menandakan bahwa dia sedang sangat serius.
"Bagaimana kamu akan menghadapinya?" tanya Reyhan.
"Kalian tidak perlu tahu tentang itu," jawab Raisya.
"Jangan bilang, kamu akan menyerahkan dirimu sebagai pengganti Arga," tebak Alvaro. Raisya langsung diam.
Sepertinya, tebakan Alvaro benar-benar sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Raisya. Ya, gadis cantik itu mungkin akan menyerahkan dirinya sebagai pengganti atas diri Arga. Dengan begitu Arga bisa diselamatkan, meski dirinya yang harus mati. Dengan begitu pula tak akan ada korban jiwa yang lebih banyak lagi.
"Kalau seperti itu, bapak tidak mengizinkan," ucap salah satu dari dosen itu dengan tegas. Sontak semuanya pun langsung menatap ke arah yang dosen.
"Ya, kami sudah berjanji sama ayah kamu untuk menjaga kamu," ucap dosen yang lain.
"Tidak mungkin jika kami membiarkan kamu mengorbankan diri," tambah dosen yang satunya lagi. Raisya memandang ketiga dosen itu dengan sungguh-sungguh.
"Hufff.... Begitu, ya?" tanyanya entah ke siapa.
"Ya sudahlah. Kita pikirkan lagi nanti caranya. Sekarang kita harus cepat-cepat sampai ke sana, sebelum ritual itu dilaksanakan," ucap Raisya.
"Memangnya kapan ritualnya akan terjadi?" tanya Ihsan yang sedari tadi diam.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin sudah terjadi, dan mungkin juga belum," jawab Raisya dengan raut wajah datarnya.
Ihsan manggut-manggut mengerti dengan penjelasan si Raisya.
Tak lama berselang, mereka akhirnya sampai di kawasan hutan terlarang. Kali ini Alvaro mengambil alih peran sebagai penunjuk jalan. Karena apa? Karena hanya dia dan Reyhan saja lah yang tahu jalan menuju tempat itu. Untuk Raisya, mungkin dia juga masih belum tahu. Hanya saja dirinya tahu bahwa ada sebuah rumah tua yang terletak di dalam hutan, tapi tak pernah melihatnya langsung.
Sama seperti saat pertama kali Alvaro menjelajahi tempat itu, perasaannya mulai tidak enak. Dia jelas sekali merasakan aura-aura yang sangat berbeda ketika berada di tempat itu. Tentu itu datang dari para makhluk tak kasat mata. Sialnya, sungguh rasanya itu sangat berbeda daripada ketika berada di dalam villa. Jujur Alvaro sedikit merasakan ketegangan, padahal ia sedang bersama banyak orang. Mungkin, itu karena energi dari para makhluk itu yang begitu besar, bahkan bisa dibilang jauh lebih besar dari energi makhluk-makhluk yang menghuni villa.
"Jangan sampai ada yang pikirannya kosong," ucap si dosen tiba-tiba, sok mengerti dengan hal mistis.
"Baik, Pak," jawab Alvaro dan yang lain.
Ah, para dosen itu tidak tahu saja bahwa selama perjalanan, mata Alvaro sudah menangkap banyak sekali wujud sosok tak kasat mata. Dari yang tidak begitu menakutkan, sampai yang paling menakutkan. Alvaro juga merasakan bahwa makhluk-makhluk di tempat itu benar-benar hebat. Mereka bahkan berani muncul di hadapan Alvaro dari jarak yang lumayan dekat, meski hanya memperlihatkan wujud saja tanpa mengganggunya.
Alvaro tak tahu itu karena apa. Entah karena memang kekuatan mereka yang besar ataupun karena keberaniannya yang agak sedikit berkurang hingga menarik para makhluk itu untuk mendekat, ia tak tahu itu. Satu hal yang terus ia lakukan adalah tetap menjadi sang penunjuk jalan serta menjadi pengawas atas mereka semua. Ya, sembari menunjukkan jalan, sesekali ia juga menoleh ke arah belakang hanya sekedar untuk menghitung jumlah anggotanya, apa masih lengkap atau malah berkurang.
"Mam, kenapa tiba-tiba aku merinding, ya?" bisik Ihsan ke Imam yang berada di sampingnya.
"Syuttt.... Diamlah! Yang penting jangan sampai pikiranmu itu kosong. Cukup otak kamu aja yang kosong," jawab Imam seraya mengejek Ihsan.
"Si-"
"Syuttt.... Jangan ngomong yang buruk-buruk. Tempat ini tidak seperti biasanya. Tahan dulu ucapan burukmu itu," cegah Imam ketika si Ihsan hampir saja mengucap kata-k********r karena terpancing oleh kata-kata ejekan yang ia berikan.
"Ya udah, kuganti aja," ucap Ihsan. Imam mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti apa yang Ihsan maksud.
"Emang dog, kau nih," ucap Ihsan kemudian. Imam menahan tawa ketika tahu maksudnya.
Ya, Ihsan mengganti umpatannya itu dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Dog, itu berarti anjing. Dasar Ihsan, dalam keadaan seperti ini saja dia masih sempat-sempatnya bercanda.
"Nah, kalau pakai bahasa Inggris kan, mereka pasti gak ngerti. Jadi aku aman," bisik Ihsan lagi ke Imam.
"Hahaha.... Iya, sih. Tapi kalau salah satu dari mereka dulunya jago bahasa Inggris, gimana?" tanya Imam. Ihsan diam membisu, merasa takut jika apa yang Imam katakan itu adalah sebuah kenyataan.
"Atau mungkin, salah satu di antara mereka juga orang Inggris," lanjut Imam.
"Wah, hati-hati aja, San. Berdo'a semoga pemikiranku itu salah," ucap Imam lagi dengan tujuan untuk menakut-nakuti Ihsan.
"Ah, sudah dong, jangan nakut-nakutin," pinta Ihsan. Imam tertawa pelan.
Pembicaraan secara berbisik itu mungkin tak didengar oleh siapapun. Namun tidak bagi Reyhan yang memang juga berada di samping Ihsan. Dia mendengar semuanya. Hanya saja dia lebih memilih untuk tidak ikut campur dalam pembicaraan yang tidak jelas itu. Hanya tawa kecil lah yang bisa ia lakukan.
Lama mereka menyusuri kawasan hutan terlarang, tapi tak ada sedikitpun hal buruk yang terjadi. Mereka sudah mulai merasa bahwa tempat itu memang tidak se berbahaya apa yang dipikirkan. Ya, walaupun itu melanggar pantangan.
Namun Alvaro berpikir lain. Sebelumnya, lebih tepatnya ketika ia pertama kali datang ke hutan itu bersama Reyhan, gangguan itu datang di saat perjalanan pulang. Pada perjalanan berangkat, hanya penampakan sosok makhluk yang menjelma sebagai Ihsan dan Imam lah yang ia dan Reyhan lihat kala itu. Akan tetapi kini, makhluk yang biasanya selalu memberi peringatan agar segera pergi dari tempat itu, kini seolah-oleh tidak ada. Alvaro hanya melihat kalau ada banyak sekali makhluk tak kasat mata yang terlihat, tapi ia tak tahu apa maksud dari kemunculan makhluk itu.
Sungguh, bisa melihat keberadaan para makhluk itu adalah sebuah hal yang cukup atau bahkan sangat menakutkan buatnya. Pasalnya wujud mereka jauh lebih menakutkan daripada yang biasa ia lihat tiap harinya. Tak hanya itu, Alvaro juga merasakan bahwa aura mereka benar-benar hebat, hingga membuat dia kehilangan sedikit keberaniannya.
"Sebentar lagi kita akan sampai. Mulai dari sini, jangan sampai ada yang bertindak secara gegabah. Kita harus hati-hati," ucap Alvaro memperingatkan kepada mereka. Mereka semua mengangguk, termasuk para dosen yang kini malah berada di bawah bimbingan Alvaro.
"Dan semoga saja Arga benar-benar dibawa ke tempat itu," ucapnya kemudian dalam hati.
Memang, masih menjadi sebuah pertanyaan tentang di mana tempat para manusia berjubah itu membawa Arga. Namun sepertinya, rumah tua itu adalah tempat yang paling mungkin untuk dijadikan tempat ritual oleh para manusia laknat itu. Bukannya apa-apa. Alvaro bahkan pernah mendapat pengelihatan tentang rumah tua itu beberapa kali, dan salah satunya adalah mengarah kepada peristiwa kematian si wanita yang kini sudah menjadi hantu itu.
Dengan langkah yang sangat hati-hati, bagai para tentara yang sedang dalam medan perang, mereka berdelapan bersembunyi dari satu pohon ke pohon yang lainnya, tentunya juga dengan membagi menjadi beberapa kelompok.
Alvaro dan Reyhan berada di barisan paling depan. Mereka berdua sudah berada di posisi yang paling dekat dengan rumah tua itu. Pertama yang harus mereka lakukan adalah mengintai terlebih dahulu, takutnya para manusia berjubah itu sudah mempersiapkan sebuah jebakan yang nantinya bisa saja menjadi bencana yang besar.
"Sepertinya aman," ucap Alvaro yang dibalas dengan anggukan kepala dari Reyhan.
Mereka berdua kemudian berlari kecil untuk segera menuju ke arah rumah tua itu. Tak lupa juga mereka memberikan isyarat kepada yang lain untuk mengikuti.
Alvaro mencari celah, berharap ada bagian dari rumah itu yang bisa ia gunakan untuk mengintip. Namun sepertinya tidak ada. Ia kemudian memanfaatkan indra pendengarannya untuk menguping dari balik pintu. Akan tetapi lagi-lagi, tidak terdengar apa-apa dari dalam.
"Cih," decaknya.
Ia kemudian mendorong pintu rumah tua itu dengan perasaan kesal. Tangan kanannya sudah memegang kerambit yang menjadi senjata andalannya, bersiap untuk menusuk siapa saja yang ada di dalam rumah itu.
Ketika pintu itu sudah terbuka lebar, ternyata tidak ada apa-apa di dalam. Tangan Alvaro yang memegang kerambit nampak sangat gemetaran. Bukan gemetaran karena takut, melainkan karena ambisinya untuk langsung menusuk itu terhenti seketika. Ya, ia sungguh sangat kecewa.
"Al, tidak ada apa-apa, Al," ucap Reyhan yang tepat berada di belakangnya dengan berbisik.
"Syuttt!" Alvaro menyuruh Reyhan agar segera diam.
Alvaro mulai melangkah maju, diikuti oleh yang lain. Sedangkan salah satu dari tiga dosen itu dan Imam berinisiatif untuk berjaga-jaga di depan pintu, takutnya jika tiba-tiba manusia berjubah itu datang.
Masih dengan langkah yang sangat hati-hati, mereka berenam mulai menyusuri setiap bagian dari rumah tua itu. Di benak Alvaro, ia merasa ada sedikit keanehan. Ya, keadaannya agak sedikit berbeda dari saat kemarin dirinya memasukinya. Ia jadi sangat yakin kalau memang mereka sudah membawa Arga ke tempat ini.
"Eh, bau apa ini?" Tiba-tiba sang dosen bertanya.
Tiba-tiba, indra penciuman mereka menangkap bau yang sangat busuk. Alvaro mulai merasa tidak enak. Kembali ia membandingkan dengan yang kemarin. Ya, kemarin tak sedikitpun ia mencium bau sebusuk ini. Pikirannya sudah sangat kacau, tak lagi bisa berpikir positif. Yang ada di pikirannya hanyalah pikiran-pikiran negatif yang harusnya tak ia lakukan.
Untuk mencari asal dari bau busuk itu, mereka memutuskan untuk berpencar. Sialnya, baunya itu seolah-olah sedang mengisi seisi ruangan. Sulit sekali untuk menemukan asalnya. Namun mereka tak menyerah. Lagipula dengan interior rumah yang tak begitu luas, harusnya akan dengan mudah mereka menemukan asal muasal dari bau itu, walau itu sudah menyebar ke seisi ruangan. Ditambah lagi dengan jumlah mereka yang terbilang tak sedikit, pastilah akan lebih mempermudah.
Alvaro berjalan dengan sekujur tubuh yang sangat gemetaran. Ada satu hal yang tidak bisa langsung ia ungkapkan untuk saat ini. Ia hanya berharap, semoga saja apa yang ia pikirkan adalah suatu kesalahan. Sungguh ia tak mau pikiran negatifnya itu jadi kenyataan. Akan tetapi, rasanya sangat sulit untuk memaksa harapan itu jadi kenyataan.
"Haaaa!"
Ah, itu suara perempuan. Jelas itu adalah suara Raisya. Karena dialah satu-satunya perempuan yang berada di sini. Alvaro tentu langsung tersentak. Ia segera berlari kecil menuju ke arah suara. Mulai muncul banyak pertanyaan di benaknya. Tentang mengapa Raisya berteriak. Tentang apakah ada hal buruk yang terjadi, ataupun tentang mungkinkah Raisya berteriak karena pikiran negatifnya itu benar-benar jadi kenyataan. Ah, dia sungguh tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Ia hanya harus segera sampai ke tempat Raisya berada dan melihatnya langsung apa yang sebenarnya terjadi.
"Hah, tidak mungkin," ucap Reyhan yang sudah sampai di sana terlebih dahulu sambil menutup mulutnya sembari kepalanya yang mendongak.
Alvaro melihat ada Raisya yang sedang dalam posisi terjatuh di sana. Ada juga si Ihsan, pak dosen dan juga Reyhan. Mereka semua berekspresi seperti orang yang sedang syok berat.
Alvaro segera mendekat, tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Dan di situlah baru ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tubuhnya langsung lemas. Ia segera menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. Kepalanya terus mendongak untuk melihat apa yang membuatnya sampai seperti itu. Ia menggertakkan gigi atas dan bawahnya, menahan untuk tidak mengeluarkan air mata.
Di atas sana, nampak ada kepala yang menggantung di sebuah tali tambang. Ya, itu hanya kepala beserta lehernya. Itu mungkin hanya bagian kecil dari yang paling membuat syok. Ada satu hal lagi yang menjadi hal utama kenapa mereka semua syok seperti itu. Itu dikarenakan, mereka mengenali sang pemilik kepala itu. Ya, dari wajahnya, itu jelas adalah wajah Arga.
"Arga!" teriak Raisya tiba-tiba. Ia segera bangkit dan ingin segera menggapai raga Arga yang hanya menyisakan kepala beserta lehernya itu. Tapi tangannya tidak bisa mencapainya.
Beberapa saat kemudian, datanglah dua dosen lainnya beserta Imam. Mereka bertiga juga melakukan hal yang sama, yaitu terkejut dan seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapan mereka itu.
Sementara itu, tingkah Raisya yang seolah-olah sangat merasa bersalah itu membuat perasaan Alvaro berkecamuk. Dia sedih ketika menyaksikan temannya tewas secara mengenaskan. Dia juga sedih ketika melihat gadis cantik itu seperti sedang menyalahkan dirinya sendiri akibat tewasnya Arga. Namun ada perasaan lain lagi yang ada di dalam hatinya. Itu adalah amarah. Dia sungguh sangat marah dengan orang yang telah membuat Arga jadi seperti itu. Si manusia berjubah yang biadab, ya, merekalah dalang dibalik semua ini. Akan tetapi untuk saat ini, ia lebih memilih untuk mengekspresikan perasaan sedihnya terlebih dahulu. Biarlah nanti ia akan menampilkan amarahnya ketika ia bertemu dengan para manusia berjubah itu.