Bab 46

2001 Kata
Sang dosen bertindak. Ia menurunkan kepala Arga yang tergantung itu hingga akhirnya berhasil menyentuh lantai. Benar, itu bukan halusinasi maupun ilusi atau semacamnya. Itu nyata, kepala milik Arga. Semuanya meneteskan air mata, bahkan sudah tak peduli lagi dengan bau busuk yang ditimbulkan. "Sialan!" umpat Reyhan karena kesal. Alvaro memandangnya, lalu menenangkannya. Alvaro mencoba menyentuh kepala Arga dengan lemah lembut. Saat itu terjadi, pandangannya kemudian menggelap, erangan kesakitan keluar dari mulutnya, seakan-akan dirinya akan dibawa ke pengelihatan masa lalu lagi. Benar saja, kini Alvaro melihat, di depan sana sedang ada seseorang yang tengah sibuk membuang tali-tali tambang. Ya, itu adalah Arga. Itu adalah kejadian waktu dirinya sudah bisa terbebas dari tali-tali yang mengikatnya. Alvaro melihat sekaligus mendengar dengan jelas ketika Arga bergumam dan mengejek para manusia berjubah itu bahwa mereka adalah penjahat bodoh yang gak pernah ikut Pramuka. Harusnya ketika Alvaro mendengar hal itu, ia akan ketawa, tapi ia hanya diam membisu karena ia tahu itu hanyalah bagian dari masa lalu yang setelahnya akan ada kejadian menyedihkan, bahkan sangat menyedihkan. Arga sudah bisa lolos. Ia segera berjalan untuk mencari jalan keluar. Ia tahu tidak mungkin jika dirinya harus lewat pintu depan, karena di depan sana sudah ada para manusia berjubah yang menjaga. Ia segera mencari jalan lain dengan berjalan ke arah yang berlawanan dari pintu depan. Wajah tegang Arga nampak sekali dari mata Alvaro. Tak lama setelah itu, ia akhirnya melihat sebuah pintu yang tak lain adalah pintu belakang. Tanpa pikir panjang dan juga tanpa berhati-hati, dia segera membuka pintu itu untuk mencium bau kebebasan. Namun apa yang terjadi? Tepat ketika dirinya keluar, tiba-tiba ada semacam angin kencang yang membuat dirinya terhempas hingga tubuhnya membentur dinding kayu dari rumah itu. Ia kesakitan, dan hampir kehilangan kesadarannya. Namun sepertinya ia masih bisa bertahan, sebelum akhirnya terjadi serangan kedua untuk dirinya. Angin itu kembali menghempaskan tubuhnya ke arah lain, dan lagi-lagi tubuhnya harus membentur dinding. Ia terbatuk-batuk. Sebelum kehilangan kesadarannya, dari ekor netranya ia melihat sesosok makhluk hitam menyeramkan yang memandang ke arahnya dengan penuh amarah. "Sial!" ucapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Alvaro sangat ingin menolong. Akan tetapi nyatanya ia hanya bisa melihat tanpa bisa bertindak apa-apa. Karena biar bagaimanapun juga, itu hanyalah pengelihatan masa lalu. Tak lama kemudian, ia merasakan bahwa waktunya sudah hampir habis. Pandangannya menggelap lagi dengan diiringi rasa kesakitan serta deru napasnya yang tak beraturan. Lalu diakhiri dengan teriakan kerasnya. "Al, apa yang kamu lihat, Al?" tanya Reyhan penasaran. Sementara ketiga dosen dan juga Raisya bingung tentang apa yang terjadi pada diri seorang Alvaro Aditama. Alvaro masih berusaha untuk mengatur napasnya. Di sisi lain ia juga berpikir. Dalam pengelihatannya itu, Arga tergeletak, entah itu pingsan atau bahkan sudah meninggal, tapi posisinya anggota tubuhnya masih lengkap. Namun sekarang kenapa cuma tinggal kepala beserta lehernya saja? Ke manakah anggota tubuhnya yang lain? Itulah yang Alvaro pikirkan saat ini. "Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Alvaro berbohong. "Kalian di sini dulu! Aku dan Reyhan akan mencari tubuh Arga," ucap Alvaro kemudian. "Tidak, saya temani," tawar salah satu dosen. "Tidak usah, Pak. Kumohon untuk kali ini saja," pinta Alvaro. Dosen itu mengangguk, memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk bertindak. Merasa sudah mendapat persetujuan dari dosennya, Alvaro pun bergegas untuk mencari bagian tubuh Arga yang hilang, bersama Reyhan juga tentunya. Reyhan yang tak mengerti dengan jalan pikiran Alvaro hanya bisa terus mengikuti ke mana kaki Alvaro melangkah. Bahkan Reyhan tak sekalipun bertanya tentang ke mana Alvaro akan mengajaknya pergi. Ia masih sibuk dengan perasaan kesal, sedih dan marahnya sendiri. Bayang-bayang wajah temannya yang tewas secara mengenaskan itu terus menghantuinya. Terhitung, sudah lima kali dirinya melihat kejadian yang sama, meski yang empat kali hanyalah sebuah ilusi. Langkah kaki Alvaro berhenti di depan pintu belakang rumah tua itu. Ia melihat seluruh penjurunya. Ingatannya tentang Arga yang dihempaskan dengan tanpa belas kasihan ke arah dinding kayu itu kembali muncul. Ia pun melihat ke arah sana. Ketika ia menyentuh dinding maupun lantai tempat Arga terbentur dan jatuh, ternyata kemampuannya itu tak bisa ia gunakan. Harusnya ia bisa mendapatkan pengelihatan masa lalu lagi dari itu, tapi nyatanya tidak bisa. "Al, ada apa?" tanya Reyhan penasaran. "Ada sesuatu yang ingin aku ketahui," jawab Alvaro. Reyhan tak berniat untuk bertanya lagi. Alvaro kemudian berjalan ke arah pintu rumah tua itu. Ketika ia memegang seluruh bagian dari pintu itu, hasilnya juga sama saja. Ia tak mendapat pengelihatan masa lalu. Ia pun mendecak sebal karenanya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk membuka pintu belakang itu. Dengan sangat berhati-hati, serta takut jika seandainya para makhluk hitam menakutkan itu masih berjaga di sana, ia membukanya sedikit demi sedikit. Kriiittt! Demikianlah bunyi yang ditimbulkan ketika pintu itu dibuka oleh Alvaro. Perlahan tapi pasti, nampaklah dengan jelas bagian luar dari balik pintu itu. Rimbunnya pepohonan seketika hadir di pandangan Alvaro. Meski masih berada di pagi hari, Alvaro dengan kehati-hatian tingkat tinggi masih selalu waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia kemudian membuka pintu itu dengan sempurna, lalu Reyhan pun mendekat ke arahnya dan berniat untuk bertanya kepadanya, akan tetapi Alvaro langsung memberi isyarat kepada Reyhan untuk diam. Alvaro melangkah keluar. Ia berharap kemampuan anehnya itu dapat berfungsi secara maksimal untuk saat ini. Namun ternyata, itu cuma harapan dia semata. Entah karena memang sedang tidak ada makhluk halus di sekitar atau memang kemampuannya tak cukup hebat untuk melihat ataupun merasakan kehadiran mereka, matanya itu tak menangkap satupun sosok makhluk halus. "Cih," decaknya. "Ada apa, Al, sebenarnya?" tanya Reyhan yang sedari tadi penasaran. "Tadi malam Arga hampir bisa kabur. Dia berniat untuk lewat pintu belakang ini, tapi tiba-tiba ada sosok yang membuat tubuhnya terpental hingga menghantam dinding dan kemudian pingsan." Alvaro mulai mau untuk menceritakan tentang apa yang dilihatnya tadi kepada Reyhan. "Sosok? Sosok apa?" tanya Reyhan tak paham. "Entahlah, yang pasti bukan manusia," jawab Alvaro. Ia menundukkan kepalanya, entah karena apa. Alvaro kemudian berjalan tak tentu arah, Reyhan pun hanya mengikuti. Sorot mata Alvaro menyorot tajam ke segala arah, seolah-olah dirinya ingin memastikan apa ada sesuatu yang menarik di tempat itu atau tidak. Memang, ini kasus yang sangat berat baginya. Bahkan jauh lebih berat daripada kasus pembunuhan Lio hari itu. "Kalau Arga meninggal karena tubuhnya yang terbentur keras ke dinding itu, harusnya dia nggak meninggal se mengenaskan yang saat ini kita lihat. Para manusia laknat itu, pasti mereka yang sudah membuat Arga jadi seperti itu," ucap Alvaro tiba-tiba dengan nada suara yang sangat kesal. "Iya, Al. Dan jika para dosen itu kemarin membiarkan kita pergi, mungkin hal semacam ini bisa kita cegah," ucap Reyhan, juga dengan nada yang kesal. "Tidak," sahut Alvaro. Reyhan langsung memandang Alvaro dengan tatapan yang aneh. "Tidak apanya, Al?" tanya Reyhan. Matanya menatap tajam ke arah sahabatnya itu. "Pilihan untuk tidak pergi itu sudah tepat. Mereka memang bersalah karena sudah berniat untuk mengabaikan keselamatan Arga, tapi kurasa, jika saja kemarin kita jadi pergi, mungkin kita tidak akan bisa kembali," ucap Alvaro. Ia kembali membayangkan tentang bagaimana makhluk hitam itu dengan begitu mudahnya membuat tubuh Arga terpental. Dan menurut Alvaro, itu baru satu makhluk. Bukankah ada 3 makhluk yang sama lagi seperti makhluk itu? "Kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?" protes Reyhan. "Tak apa. Saat sampai villa nanti, akan kuceritakan semuanya," jawab Alvaro. Reyhan hanya menghembuskan napasnya pelan, kemudian mengangguk dengan pasrah. *** Alvaro dan Reyhan akhirnya kembali dengan tangan kosong, tak menemukan tubuh si Arga. Ia kemudian mengajak semuanya untuk segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke villa. Sebelum itu, sang dosen sudah membungkus kepala milik Arga dengan kain. "Lalu bagaimana dengan tubuh Arga yang hilang?" tanya Raisya sesaat setelah Alvaro mengajak semua kembali ke villa. Raisya nampak masih menangis sesenggukan. "Kurasa, dibawa oleh mereka. Mereka sudah tahu kalau kita akan ke sini. Jadi mereka meninggalkan kepala milik Arga ini sebagai kejutannya," jawab Alvaro. Mereka semua manggut-manggut mengerti, memilih untuk mempercayakan semuanya pada Alvaro. Karena pada dasarnya, Alvaro jauh lebih paham tentang makhluk tak kasat mata dibanding mereka. Bahkan pengetahuannya tentang tempat mereka berada kini jauh lebih baik daripada Raisya yang merupakan penduduk asli daerah situ. Pada akhirnya, merekapun benar-benar kembali ke villa dengan membawa kesedihan yang mendalam. Raga Arga yang tinggal menyisakan kepala beserta lehernya itu dibawa sang dosen dengan sangat hati-hati. Dalam perjalanan itu yang baru ditempuh dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Alvaro langsung menghentikan langkah kaki mereka. Ya, dirinya teringat akan sesuatu yang mungkin akan menjadi sebuah bahaya besar untuknya dan yang lain. "Semuanya. Jangan sampai ada yang memisahkan diri. Saling berpegangan tangan agar jika nanti ada bahaya, kita tidak terpisah," ucap Alvaro sambil langsung memegangi baju si dosen pembawa kepala Arga itu dari samping. Yang lain pun mengikutinya. Cuma bedanya mereka saling berpegangan tangan, bukan menarik baju seperti yang Alvaro lakukan. Bukannya apa-apa. Ia tentu ingat dengan kabut yang membuat dia dan Reyhan mendadak terpisahkan dan kemudian pingsan hingga terbangun di tempat lain dengan suasana yang sangat menyeramkan itu. Dirinya tak mau hal itu sampai terjadi lagi. Mati sebanyak empat kali, dan dihidupkan kembali. Ah, itu adalah sensasi yang tak akan pernah bisa ia lupakan sampai kapanpun juga. Perjalanan berlanjut lagi. Hingga ketika sampai di tempat yang kemarin menjadi titik di mana kabut itu tiba-tiba muncul, Alvaro mulai deg-degan. Keringat dinginnya juga sudah bercucuran, meski belum deras. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini dia merasakan apa yang namanya ketakutan. Dan yang membuat dia heran adalah tak adanya sesosok makhluk tak kasat mata di tempat itu. Bahkan satu saja ia tidak melihatnya. Kembali dirinya berpikir bahwa kemampuannya masih belum cukup untuk melihat para penunggu tempat itu. Wusss! Angin sepoi-sepoi tiba-tiba menerpa tengkuknya. Dirinya merasakan aneh pada angin itu dan membuatnya tertarik untuk menghadap ke belakang, namun ternyata tak ada hal yang ganjil. Di saat dirinya kembali menghadap depan, betapa terkejutnya ia ketika melihat kabut tebal itu mulai datang, dan dalam sekejap langsung menyelimutinya bersama rombongan. Ah, sial sekali. Dirinya lupa bahwa kabut itu dapat membuat siapa saja langsung tak sadarkan diri. Dia bahkan belum sempat mempersiapkan apapun untuk menangkalnya. Tak ada harapan lagi. Semuanya pasti akan pingsan dan mengalami hal menakutkan lagi setelah ini. Akan tetapi, ternyata pemikiran Alvaro salah. Dirinya bersama rombongan akhirnya dapat melewati kabut itu dengan selamat tanpa ada satupun yang pingsan. Ia menghembuskan napas lega karenanya. Sampai pada akhirnya, terjadi hal yang tidak terduga lagi. Di depan sana nampak banyak sekali kumpulan makhluk yang mirip manusia dengan matanya yang merah menyala sedang menghadang rombongannya. "Cih," decaknya. "Pak dosen, apa bapak juga melihat mereka?" tanya Alvaro memastikan apa yang dilihatnya itu juga dilihat oleh yang lain atau tidak. Namun si dosen itu hanya diam saja. "Pak, pak dosen," panggilnya sambil menarik-narik baju sang dosen. Dosen itu kemudian menoleh, dan ternyata, matanya juga tak ada bedanya dengan para rombongan yang ada di depan itu. Alvaro meloncat kaget dan segera berlari sedikit menjauh dari sang dosen. Ia kemudian melihat ke arah yang lain, dan ternyata sama. Mereka semua kini mempunyai mata merah yang menyala. Ada apakah dengan mereka semua? "Kalian, kalian kenapa bisa jadi seperti itu?" tanyanya kepada yang lain. Tapi semuanya hanya diam membisu, tak merespon sedikitpun pertanyaan Alvaro. Alvaro bingung. Pasalnya mereka menatapnya dengan tatapan yang menurutnya sangat menakutkan. Ya, tatapan itu menandakan kebencian yang luar biasa, seolah-olah mereka ingin mencabik-cabik isi perutnya saat ini juga. Dia berpikir keras. Pasti ada yang salah dengan keadaan ini. Setelah melewati kabut itu, teman-temannya jadi seperti itu. Saat Alvaro belum selesai dalam pemikirannya, tiba-tiba makhluk itu secara serentak berlari ke arahnya, seakan-akan ingin menyerang dia secara bersamaan. Alvaro tentu sadar bahwa dirinya sedang dalam keadaan bahaya. Ia segera mengeluarkan kerambitnya, namun ia kemudian mengurungkan niatnya itu. Tidak mungkin jika dia menyakiti teman-temannya. Dia memilih untuk mengambil langkah seribu untuk lolos dari serangan mereka. Sambil berlari, dia memikirkan cara tentang bagaimana bisa membuat teman-temannya itu kembali seperti semula serta tentang apa yang membuatnya jadi seperti itu. "Kabut? Kabut itu. Apakah jiwaku ditarik ke dunia ghaib? Tidak, aku yakin sekali bahwa aku tidak mengalami pingsan. Lalu apa ini?" Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tiba-tiba, tanpa ia sadari ada sosok bermata merah yang menyerangnya dari samping kirinya. Ia tentu kaget ketika mendapatkan serangan dadakan itu. Sialnya, sosok itu membawa sebilah pisau yang kini sudah terayun ke arah Alvaro dengan sangat cepatnya. Brukk!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN