Bab 47

2001 Kata
Beruntungnya refleks Alvaro jauh lebih cepat dari ayunan pisau itu hingga membuat makhluk bermata merah yang menyerangnya langsung jatuh tersungkur ke tanah. Dia tidak langsung berlari, tapi melihat makhluk yang terjatuh itu terlebih dahulu untuk beberapa saat. "Apa ini? Dia lemah sekali," batinnya. Makhluk itu kemudian berdiri lagi, dan berniat untuk menyerang Alvaro. Namun hanya dengan satu tendangan menggunakan telapak kaki, Alvaro dapat membuat makhluk itu terpental hingga beberapa meter jauhnya. Di saat dirinya melihat kedatangan teman-temannya yang kini sudah menjadi makhluk bermata merah beserta makhluk-makhluk lain, di situlah dirinya memutuskan untuk kembali berlari. Jujur saja, ia bukannya takut untuk melakukan perlawanan. Masalahnya, mereka adalah teman-temannya. Tak mungkin jika ia menyakiti mereka. Satu hal lagi, jika dia melawan, bisa saja itu akan membuatnya celaka, mengingat jumlah musuh yang tidak sedikit, sedangkan dirinya hanya sendirian. Ia juga memanfaatkan larinya itu untuk memikirkan sesuatu tentang bagaimana caranya lolos. "Ayolah Alvaro, berpikir!" Alvaro masih dalam situasi yang kebingungan. "Suasana ini? Ah, iya. Ini sangat berbeda dari sebelumnya," batinnya lagi. Entah kenapa ia merasakan suasana sekitar yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah karena adanya makhluk bermata merah itu atau apa. "Sial! Kenapa otakku tidak bisa berpikir jernih di kondisi darurat seperti ini?" tanyanya lagi dalam hati. Ia berhenti berlari. Tangan kanannya menyentuh pohon besar yang ada di depannya dengan kondisi napas yang sudah cukup memprihatinkan. Ya, Alvaro benar-benar sangat kelelahan. "Tenang. Jika ini cuma ilusi maupun semacamnya, harusnya aku cuma butuh ketenangan dan juga do'a supaya bisa lolos dari tempat ini," ucapnya. Ia kemudian mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Selagi para makhluk bermata merah yang lambat itu belum sampai, ia mempergunakan kesempatan itu untuk mencoba mencari cara supaya bisa lolos. Namun.... "Sial! Bagaimana bisa tenang kalau kayak gini," ucapnya. Ya, di depan sana, nampak beberapa makhluk bermata merah yang mulai berjalan mendekatinya. Ia berniat untuk berbalik, tapi dari belakang, juga nampak kawanan teman-temannya yang juga sudah menjadi makhluk bermata merah. Pilihan selanjutnya adalah ke arah kanan, namun tetap sama saja. Di sisi itu juga sudah diisi oleh mereka. Satu pilihan lagi ke arah kiri yang nampaknya sedang kosong. Akan tetapi, baru juga selangkah dirinya ingin berlari ke arah sana, harapannya langsung musnah ketika dirinya melihat makhluk itu tiba-tiba datang dari arah sana. Kini ia sudah terkepung. Hanya ada pilihan ke atas dan ke bawah yang mustahil untuk ia lakukan. Andai bisa terbang ataupun menembus masuk ke dalam tanah, mungkin ia akan dengan mudah bisa lolos dari kepungan tak terduga itu. "Kalau sudah begini...." Ia menggantung ucapannya. Tangannya kemudian mengambil sepasang kerambit untuk dibuat senjata menyerang mereka nantinya. "Ini bukan kenyataan. Aku tidak boleh ragu dalam menyerang mereka," batinnya. Yang dimaksud "mereka" adalah teman-temannya itu. Tak lama berselang, makhluk-makhluk itu mulai berlari dari segala arah untuk menyerang dia. Ada yang membawa senjata, dan ada juga yang hanya tangan kosong. Alvaro sebenarnya ragu apakah bisa mengalahkan mereka semua atau tidak, tapi ia tahu, bahwa bertarung adalah satu-satunya jalan untuk bisa selamat. Makhluk-makhluk itu langsung menyerang Alvaro dengan begitu cepatnya. Namun dengan mudah Alvaro dapat menangkis ataupun menghindarinya. Ia kemudian melancarkan tendangannya beberapa kali ke arah mereka, dan anehnya, hanya dengan satu pukulan yang sebenarnya belum full power, satu persatu dari mereka terpental beberapa meter jauhnya seakan mereka itu tak mempunyai berat. Sungguh mereka sangat lemah dari pandangan seorang Alvaro Aditama. Mungkin mereka lemah dalam kualitas, tapi mereka jauh lebih kuat dalam kuantitas. Ya, masalahnya bukan seberapa kuatnya mereka, tapi tentang seberapa banyaknya jumlah mereka. Satu tumbang, muncul makhluk lain yang menyerang Alvaro. Alvaro menggunakan kerambitnya dengan sangat lihai. Ia menusuk satu persatu dari mereka hingga tumbang. Namun tak kunjung habis juga. Dia yang hanya manusia biasa tentu merasa kelelahan akibat tenaganya yang memang terbatas. Namun ia tak ingin menyerah, apalagi mati di tempat menjijikkan seperti itu. Ia terus menyerang dengan cara membabi buta ke mereka. Hingga pada akhirnya, ia diharuskan untuk berhadapan dengan Reyhan dan yang lain yang kini sudah berubah menjadi makhluk bermata merah. "Ayo, Al. Ini tidak nyata. Kau tidak boleh ragu," batinnya memberi semangat pada diri sendiri untuk berani melakukan serangan. Tangan Alvaro terlihat gemetar hebat. Ia benar-benar tak sanggup untuk menyerang teman-temannya itu walau dia yakin bahwa itu bukanlah sebuah kenyataan. "Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melakukannya? Sial! Padahal aku yakin sekali bahwa ini tidak nyata," batinnya lagi. Srett! Sebilah pisau yang diayunkan oleh salah satu dari makhluk itu hampir saja menusuk tubuhnya. Beruntungnya ia masih bisa menghindar, walau pada akhirnya lengannya agak sedikit tergores pisau itu hingga mengeluarkan darah. Emosinya langsung memuncak di kala dia melihat darah itu mengalir keluar dari tubuhnya. Ditendangnya makhluk itu sampai terpental jauh. Kemudian ia menghabisi yang lainnya dengan kerambitnya itu sampai hanya menyisakan Reyhan dan yang lainnya serta beberapa makhluk lain. Meski dalam keadaan emosi, tetap saja ia masih belum bisa menyakiti teman-temannya itu. Ia melihat ke satu sisi. Di sana sudah kosong, tak ada penjagaan. Tak ada pilihan lain lagi selain kabur. Ya, dirinya akhirnya memilih untuk kabur demi menghindari pertarungan yang lebih serius lagi. "Awas saja nanti. Berani-beraninya mengeluarkan darah dari dalam tubuhku," oceh Alvaro seraya terus berlari. Namun ia segera tersadar akan sesuatu. Ya, tentang sebuah rasa sakit. Ia jelas sekali menyaksikan seberapa banyak darahnya keluar akibat goresan pisau itu, namun anehnya ia tak merasakan sakit maupun perih sedikitpun. "Loh, tidak sakit? Jadi benar, ya, ini cuma ilusi?" tanyanya, kemudian menghentikan langkah kakinya. Ia kembali mencoba berkonsentrasi. Ketenangan adalah kuncinya, dan do'a juga tentunya. Dirinya bersandar dibalik pohon yang besar. Dengan begitu ia bisa sekaligus bersembunyi dari pandangan para makhluk itu. Alvaro memejamkan kedua matanya, berharap saat dia membukanya nanti, dia sudah berada di dunia aslinya. Tak lama setelah itu, samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Semakin lama, suara itu semakin terdengar jelas dan akhirnya menjadi sangat jelas. "Al, sadarlah! Sadarlah!" Itu suara Reyhan. Ia yakin sekali. Segera ia membuka matanya yang sudah cukup lama ia pejamkan hingga pada akhirnya bisa terbuka dengan sempurna. Ia langsung mendapati ada Reyhan di depannya yang sedang memasang wajah penuh kekhawatiran. "Alvaro. Akhirnya kau sadar," ucap Reyhan kegirangan. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alvaro sembari langsung bangun. "Saat kabut itu datang, aku dibuat pingsan dan dibawa lagi ke tempat yang kemarin. Aku langsung sadar bahwa itu bukan kenyataan. Segera kulakukan apa yang kemarin aku lakukan hingga bisa lolos dengan mudah. Namun setelah aku tersadar, aku melihat yang lain juga pingsan, tapi kau malah berjalan sendirian tak tentu arah. Saat aku mengikuti kamu dan mencoba untuk menyadarkan kamu, tiba-tiba kamu melakukan serangan ke sisi kosong, seolah-olah kamu sedang bertarung dengan seseorang. Bahkan hampir saja kerambitku itu mengenai aku. Hufff.... Untungnya gak jadi," ucap Reyhan panjang lebar. Alvaro manggut-manggut mengerti dan segera minta maaf kepada Reyhan tentang kerambit yang hampir mengenainya itu. Reyhan pun tak mempersalahkan hal itu. "Sekarang di mana yang lainnya?" tanya Alvaro setelah ia melihat sekeliling dan tak mendapati seorang pun yang berada di sana kecuali Reyhan. "Ada, tak jauh dari sini," jawab Reyhan. "Ayo!" ajak Reyhan sambil membantu Alvaro untuk berdiri. Mereka berdua kemudian berlari kecil untuk segera sampai di tempat teman-teman mereka berada. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Reyhan bahwa tempatnya tak jauh dari sana. Mungkin hanya berjarak 20-an. Nampak ada 5 lelaki dan seorang perempuan yang sedang terbujur lemas tak berdaya di tanah. Selain itu ada bungkusan kain yang tentu berisi kepala milik Arga yang letaknya berada tak jauh dari pak dosen. Alvaro dan Reyhan segera menghampiri mereka. "Cih, sejak kapan kabut itu membuat mereka semua pingsan?" tanya Alvaro. "Seingatku, Ihsan tetap memegang erat tanganku tadi, dan baju pak dosen juga terus kupegangi tanpa sedetikpun terlepas. Lalu kenapa bisa mereka pingsan?" lanjut Alvaro. "Entahlah, Al. Kalau kau tanyakan itu padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?" balas Reyhan. Ya, seharusnya yang lebih paham akan hal mistis semacam itu adalah Alvaro. Reyhan tentu tak begitu paham. Namun Alvaro malah menanyakan hal itu pada Reyhan. "Sungguh ini jebakan yang sangat menakutkan. Kalau kayak gini, bagaimana cara kita mengalahkan mereka?" tanya Alvaro lagi. "Sudah kubilang, jangan menanyakan itu padaku! Aku mana paham," sahut Reyhan dengan kesal. "Aku tidak nanya ke kamu. Aku nanya ke diriku sendiri," kata Alvaro. "Oh, ya maaf," ucap Reyhan. Alvaro dan Reyhan memutuskan untuk menunggu sampai semuanya tersadar terlebih dahulu. Tentu mereka tak bisa memberikan bantuan apa-apa selain hanya berharap mereka dapat menemukan jalan keluarnya sendiri. Mulai muncul rasa menyesal sekaligus rasa bersalah di dalam hati seorang Alvaro. Ia berpikir, harusnya ia memberitahukan tentang bahaya ini kepada yang lain tadi. Mungkin dengan begitu, sekalipun mereka tetap terjebak, harusnya mereka bisa lolos dengan mudah seperti apa yang terjadi pada Reyhan. Namun kini semuanya sudah terlanjur terjadi. Memang, penyesalan itu selalu datang belakangan. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Dia hanya bisa percaya pada sesuatu yang disebut dengan bunga harapan. Ia berharap bunga itu tidak akan layu meskipun jika seandainya kemungkinannya hanya satu persen. Lama mereka berdua menunggu, dengan terus mengecek satu persatu keadaan mereka, namun tak ada tanda-tanda bahwa mereka akan tersadar. Alvaro dan Reyhan sudah semakin cemas. Pikiran buruk selalu menghantuinya, yang mengatakan bahwa jika mereka tidak mengetahui cara untuk meloloskan diri, maka mereka akan terjebak di dunia itu selamanya. Andai hal itu sampai sungguh terjadi, mungkin seorang Alvaro Aditama tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun juga. "Al, Imam sudah sadar, Al," ucap Reyhan yang membuat Alvaro terkejut, dan sontak langsung mendekati Reyhan. Dari pandangan matanya, ia melihat si besar Imam yang perlahan namun pasti mulai membuka matanya. Tak lama kemudian, mata itupun terbuka dengan sempurna diiringi dengan refleks bangun Imam yang seperti orang terkejut. Ya, ia langsung duduk sesaat setelah dia membuka mata. "Alvaro, Reyhan. Kalian masih hidup, kan?" tanyanya. "Iya lah, Mam. Kami masih hidup," jawab Alvaro. "Hufff.... Syukurlah, ternyata benar itu hanya mimpi," ucap Imam sambil mengelus d**a. Alvaro dan Reyhan diam. Mereka mengerti apa yang terjadi pada Imam, namun mereka lebih memilih untuk diam. Kalau mau, Alvaro bisa saja menyangkal bahwa apa yang Imam pikir itu adalah mimpi adalah suatu kesalahan, karena menurutnya, pada dasarnya itu bukanlah mimpi. "Tapi kenapa aku bisa tiba-tiba tertidur?" tanya Imam entah ke siapa. "Mungkin kamu ngantuk," jawab Alvaro asal. "Mana mungkin. Jangan-jangan, ini sama dengan apa yang terjadi pada kalian waktu itu?" tanya Imam. Reyhan memang sempat menceritakan kejadian dia yang melihat Alvaro dibunuh sebanyak empat kali itu kepadanya, meski tidak secara detail. "Sudahlah, gak usah dipikirin dulu," ucap Alvaro mencoba membuat Imam tenang. Namun Imam sudah terlanjur panik. Dirinya memasang wajah yang tak biasa ia tampilkan. Bola matanya bergerak liar melihat sekeliling, dan mendapati teman-teman sekaligus dosen-dosennya yang masih terbujur lemas tak berdaya di tanah. "Mereka.... Mereka kenapa?" tanya Imam panik. "Sama seperti apa yang kamu alami. Berdoalah, semoga sebentar lagi mereka bisa sadar," ucap Alvaro. "Sebenarnya, yang tadi itu apa? Aku melihat kalian semua dibunuh oleh si manusia berjubah itu. Aku bahkan tak sanggup untuk menolong kalian," ucap Imam. "Seperti apa yang kamu bilang tadi, bahwa itu hanyalah sebuah mimpi. Jika seandainya kamu mengalaminya lagi, cepat-cepatlah untuk menyadari bahwa itu bukan kenyataan. Dan yang paling penting juga adalah berdoa," ucap Reyhan yang akhirnya ikut berbicara. "Tapi aku takut mimpi itu jadi kenyataan. Sekarang mereka terbaring kayak gitu. Bagaimana jika...." Imam menggantung ucapannya. "Sudah! Jangan berpikiran buruk lagi! Tidak akan terjadi apa-apa sama mereka, percayalah!" ucap Alvaro. Tepat ketika Alvaro selesai mengucapkan kata-katanya itu, terdengar suara batuk yang ia yakini adalah suara dari pak dosen. Benar saja, dosen itu terbangun dengan keadaan linglung dengan napas yang ngos-ngosan. Alvaro dapat menebak bahwa apa yang dialami oleh salah satu dosennya itu sama seperti apa yang dialaminya kemarin. Alvaro, Imam dan Reyhan pun langsung bertindak untuk menenangkan sang dosen yang nampak sangat ketakutan. Tak lama setelah itu, mereka satu persatu terbangun dari mimpi buruk itu. Sama seperti yang lainnya, mereka juga terbangun dalam keadaan yang syok berat. "Tidak apa-apa. Itu cuma mimpi, bukan kenyataan. Tidak usah terlalu dipikirkan. Lebih baik kita segera kembali ke villa," ucap Alvaro. Semuanya hanya bisa mengangguk. Bungkusan kain yang berisi kepala si Arga itu dibawa lagi oleh sang dosen. Lalu semuanya pun mulai melangkah untuk kembali ke villa dengan membawa kabar duka tentang meninggalnya salah satu teman dan anak didik mereka yang sangat mengenaskan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN