Bab 48

2003 Kata
*** "Perasaanku tidak enak," ucap Chelsea yang sedang berkumpul bersama Wulan, Delia, Nanda dan Ocha di halaman villa itu. "Tidak enak gimana?" tanya Nanda. "Entahlah. Seperti ada kejadian buruk yang akan terjadi," jawab Chelsea. "Jangan ngomong gitu lah, Chel. Sekarang Alvaro dan yang lainnya sedang bertaruh nyawa di hutan sana. Aku takut jika terjadi apa-apa sama mereka," ucap Delia. Chelsea diam, tetap dengan perasaan anehnya yang semakin tak karuan. Memang, sedari Alvaro dan yang lainnya berangkat ke hutan tadi, hanya mereka berlima yang masih tetap memilih bertahan untuk berada di tempat itu hanya demi menyambut kepulangan Alvaro dan yang lainnya dengan membawakan kabar yang baik tentang Arga. Namun mereka belum tahu saja kalau kabar baik yang mereka tunggu-tunggu itu, hanyalah sebuah kabar yang mungkin saja akan membuat mereka meneteskan air mata. Ya, itu karena Arga yang diharap-harapkan bisa kembali dalam keadaan bernyawa, faktanya malah kembali dalam keadaan yang tinggal kepala. Sungguh, itu sangat di luar dugaan. "Nda...." Delia memandang Nanda lekat dan penuh arti. "Sudah, Del, jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucap Nanda lemah lembut. Ah, gadis yang satu ini sungguh sudah mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa daripada yang lainnya. Bahkan ketika yang lain sedang saling menunjukkan kecemasannya masing-masing, hanya dia yang berusaha untuk tetap menyembunyikan kecemasannya itu. Bukannya dia tidak peduli dengan nasib para sahabatnya itu, tidak. Walau bagaimanapun juga, Alvaro dan yang lainnya itu adalah sahabat terbaik dia, mustahil jika dirinya tidak peduli dengan nasib mereka. "Tapi, Nda, mereka belum balik juga sampai sekarang. Takutnya mereka-" "Cha, sudah! Kubilang jangan berpikiran yang buruk-buruk lagi," sahut Nanda meminta agar Ocha menghentikan segala pemikiran buruknya itu. "Iya, Nda," kata Ocha memilih untuk menurut. Di dalam penantian yang penuh kecemasan itu, tak lama kemudian Delia melihat sesuatu yang langsung membuat dirinya kehilangan cemasnya. Ya, jauh dari tempatnya berada, ia melihat Alvaro bersama yang lain sedang berjalan ke arahnya. "Itu.... Itu mereka," ucap Delia sambil menunjuk. Wajahnya benar-benar terlihat sangat sumringah. "Ah iya, itu mereka," ucap Ocha. Sedangkan Nanda hanya senyum penuh dengan kepuasan. "Tapi.... Ke mana Arga? Kenapa mereka tidak bersama Arga?" tanya Chelsea yang sepertinya langsung mencari keberadaan Arga. Wulan berusaha untuk menenangkan Chelsea. Ketika rombongan Alvaro tepat sampai di depan mereka, saat itulah mereka merasa ada sesuatu yang janggal. Pertama, tentang raut wajah Alvaro dan yang lain. Raut wajah itu terlihat lesu dan tidak ada semangatnya sama sekali. Dan yang kedua, tentang bungkusan kain yang dibawa oleh pak dosen. Sontak benda itu langsung menjadi bahan pertanyaan di hati mereka masing-masing. Apa isi dari bungkusan itu? "Kalian sudah kembali? Di mana Arga?" tanya Chelsea to the point sambil memaksa kedua sudut bibirnya agar bisa terangkat. Semuanya diam, tak ada yang berani menjawab, bahkan para dosen sekalipun. Para perempuan yang menunggu jawaban pun semakin merasa penasaran. Pertanyaan demi pertanyaan terus menyerang. Sebenarnya apa yang terjadi? "Pak, tolong jawab, Pak! Dan apa isi dari bungkusan kain yang bapak bawa itu?" tanya Chelsea lagi. Dari lima perempuan yang berada di sana, Chelsea lah yang terlihat paling khawatir. "Ini.... Ini...." Si dosen itu juga nampak ragu untuk mengatakan yang sejujurnya. "Apa, Pak?" tanya Chelsea yang sudah mulai kehilangan kesabarannya. "Arga sudah meninggal dunia. Maaf, kami gagal untuk menyelamatkan dia," jawab sang dosen setelah sebelumnya berusaha keras untuk mengumpulkan keberaniannya. Sontak karena pengakuan itu, Chelsea pun langsung menangis. Sementara keempat perempuan lainnya juga nampak bersedih, tapi tak sampai menangis seperti Chelsea. Salah satu dosen kemudian menghampiri Delia dan menyuruhnya untuk memberitahu kepada semuanya bahwa yang mereka tunggu-tunggu itu telah kembali. Delia pun langsung meluncur melaksanakan perintah dengan mengajak Nanda. "Semua ini salah kalian," ucap Chelsea sambil menatap tajam ke arah para dosen. "Harusnya jika kalian tidak mencegah kami kemarin, mungkin saja Arga masih hidup," lanjutnya, kemudian menangis lagi. Wulan berusaha untuk menenangkannya, namun niatnya direspon buruk oleh Chelsea dengan menepis tangan Wulan yang sudah menyentuh bahunya. "Dan kau, gadis murahan! Jika bukan karena kamu yang mengajak Arga masuk ke hutan, dia pasti sekarang masih berada di sini," ucap Chelsea lagi dengan emosi yang berapi-api. Raisya hanya diam, sambil menundukkan kepalanya. Ia disebut Chelsea sebagai gadis murahan, akan tetapi ia tidak melakukan pembelaan diri. Sepertinya ia sangat merasa bersalah atas kejadian meninggalnya Arga. Chelsea berusaha mengusap air matanya untuk mengakhiri tangisannya. Namun sepertinya sangat sulit untuk dia melakukannya. Setetes air mata yang mengalir berhasil ia hapus, muncul lagi tetesan air mata baru yang membasahi wajahnya. "Apa isi bungkusan itu?" tanyanya kemudian, sambil tetap berusaha untuk mengusap air matanya. Sang dosen memandang ke arah rekan-rekan dosennya dan juga kepada Alvaro dan yang lain. Yang dipandang memberi isyarat "iya" lewat anggukan mereka. Akhirnya, dengan tangan yang sangat gemetaran serta perasaan yang tak sanggup untuk melakukannya, ia pun sedikit demi sedikit mulai membuka bungkusan itu. Dan betapa terkejutnya para perempuan itu ketika melihat isi dari bungkusan kain itu. Bahkan karena saking tidak kuatnya menahan rasa sedih, Chelsea harus sampai pingsan. Beruntungnya ada tangan Alvaro yang dengan sigapnya menahan tubuh Chelsea agar tidak terjatuh. "Chelsea!" ucap Wulan yang sudah terlanjur panik. Chelsea sudah sepenuhnya tak sadarkan diri. Sang dosen kemudian menyuruh Alvaro untuk membawa Chelsea ke kamar agar gadis itu bisa beristirahat. Alvaro pun menurut. Dia juga mengajak Wulan agar nantinya tidak timbul kesalahpahaman jika saja ada yang melihat dia dengan Chelsea yang berduaan di dalam kamar. *** Singkat cerita, semuanya sudah berkumpul di halaman, termasuk juga sang pemilik villa tersebut. Diberitakan lah berita kematian Arga kepada mereka. Sontak hal itupun langsung mengundang kesedihan di dalam diri mereka, apalagi di saat melihat kepala Arga yang terbungkus di dalam kain itu. Ketika hal itu terjadi, para dosen dan juga sang pemilik villa langsung mendapatkan kecaman keras dari para mahasiswa. Mereka menyalahkan para dosen dan pemilik villa atas peristiwa itu. Tentu saja, biar bagaimanapun juga, kemarin mereka lah yang membuat larangan untuk agar tetap berada di villa. Tidak boleh sedikitpun menginjakkan kaki di area hutan. "Kalau saja kalian kemarin tidak memberikan larangan agar kami tidak nekat untuk masuk hutan, mungkin Arga masih bisa diselamatkan," ucap salah satu lelaki yang berada di situ. Sepertinya dia adalah teman dekat Arga. "Iya, betul tuh," ucap yang lain secara serentak. "Sekarang Arga sudah meninggal. Ini semua salah kalian. Apa kalian bisa bertanggungjawab atas semua ini?" tanya salah satu dari mereka juga. Di dalam suasana yang sangat riuh itu membuat para dosen dan pemilik villa itu kebingungan. Ini tidak seperti apa yang para dosen duga. Bisa dibilang ini malah jadi kebalikannya. "Semuanya, tolong diam!" bentak salah satu dosen yang tak lain adalah Pak Wahyu. "Cobalah untuk berpikir lebih jauh. Kami melakukan itu semua demi keselamatan kalian. Jika saja kalian semua pergi ke hutan itu hanya demi untuk menyelamatkan satu nyawa, mungkin saja puluhan nyawa kalian itu malah akan ikut menjadi korban. Kalian tahu apa yang terjadi pada kami tadi? Kami semua hampir mati akibat ulah mereka. Beruntungnya kami bisa lolos. Kalau kalian tidak percaya, cobalah tanyakan pada mereka. Mereka ada di sini sekarang, dan tidak mungkin jika mereka bohong. Kalian yang tidak tahu apa-apa, tidak usah banyak bicara! Jika kalian memang berniat mau pergi ke hutan walau harus bertaruh nyawa, kenapa kalian tidak ada yang bersikeras untuk ikut, tadi? Kenapa?" ucap Pak Wahyu panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan. Semuanya diam membisu, tak ada yang berani menjawab. Para dosen memang bersalah karena telah melarang semuanya untuk pergi ke hutan, kemarin. Akan tetapi itu juga demi keselamatan mereka semua. Para mahasiswa juga bersalah, karena tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka dengan seenaknya menyalahkan satu pihak. Masih diam, hening tanpa suara. Mereka tak ada yang berani menyuarakan pendapat mereka masing-masing. Entah karena merasa bersalah atau karena ada hal lain yang membuat mereka tak berani. Sementara di sisi lain, Alvaro masih menjaga Chelsea yang masih berada dalam kondisi pingsannya. Bersama dengan Wulan yang tak henti-hentinya meneteskan air matanya karena sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Jujur Alvaro memang tidak dekat dengan Wulan. Maksudnya hubungan pertemanan mereka tidak cukup dekat. Namun Alvaro ingin mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Wulan. "Wulan, sudah, ya, jangan nangis lagi!" ucapnya lembut. Wulan langsung menoleh ke arah Alvaro dengan pandangan matanya yang sayu. Dirinya kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah Chelsea yang masih terbaring lemas, seakan tidak memperdulikan kata-kata Alvaro, tadi. "Aku takut pikiran Chelsea akan terganggu karena peristiwa ini, Al," ucap Wulan kemudian. Terganggu? Ah, Alvaro langsung bisa menangkap tentang apa yang dikatakan oleh Wulan barusan. Maksud dari terganggu adalah bisa saja Chelsea menjadi gila karena terus memikirkan orang yang dicintainya meninggal dengan cara yang sangat tragis. Akan tetapi, itu barulah ketakutan Wulan belaka. "Aku tahu betul tentang bagaimana Chelsea mencintai Arga. Dia memendam perasaannya dari dulu, tapi tak berani mengungkapkannya. Katanya, dia itu perempuan. Tidak pantas rasanya jika dia yang mengungkapkan cinta duluan. Sekarang, sebelum perasaannya ia ungkapkan, orang itu sudah tidak ada untuk selamanya. Bagaimana jika nantinya Chelsea tak bisa menerima itu, Al?" tanya Wulan. Alvaro yang sedari tadi berdiri agak jauh dari tempat Wulan dan Chelsea berada, kini selangkah demi selangkah mulai mendekati mereka. "Wulan. Jangan berprasangka buruk. Berdoa aja semoga Chelsea bisa tabah menerima kenyataan ini," ucap Alvaro masih dengan nada yang lemah lembut. "Tapi Al...." "Sudah! Ingatlah! Jangan berprasangka buruk. Terkadang prasangka itu bisa saja jadi kenyataan. Makanya, berprasangka lah yang baik-baik," ucap Alvaro panjang lebar. Wulan masih sedikit terisak. "Bisa meninggalkan aku dan Chelsea berdua saja di sini?" tanya Wulan halus. "Tentu saja. Aku akan menunggu di luar," ucap Alvaro yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Wulan. Alvaro kemudian mulai melangkah keluar kamar. Tak lupa pintu kamar itupun ia tutup, dan ia langsung berdiri bersandar di tembok kamar itu. Ia menghadap langit-langit villa, seakan sedang memikirkan sebuah hal yang sangat membuat hatinya merasa kalut. Dia kemudian terduduk, masih dengan posisi bersandar di tembok. Otaknya sungguh lelah memikirkan itu semua. Orang-orang berjubah itu, sebenarnya siapa mereka? Kabut tebal itu, sebegitu bahayanya, kah? Alvaro sangat ingin memikirkan tentang bagaimana cara untuk lolos dari dampak kabut menyebalkan itu. Akan tetapi pikirannya sepertinya tak mampu untuk mengetahui jawabannya. Jika ingin meloloskan diri dengan cara berlari, itu sangat tidak mungkin. Karena apa? Karena sekali kabut itu muncul, ia akan seperti mengepung sang korban dari segala sisi. Demikianlah. Akan sangat sulit untuk lolos dari bahaya itu. Lelaki tampan itu benar-benar lelah, baik fisik maupun pikiran. Dirinya tak mampu mendapatkan jalan keluar tentang masalah itu. Matanya mulai terpejam, dan tak butuh waktu lama, ia sudah terjun ke alam mimpi. *** Alvaro tiba-tiba berada di sebuah ruangan yang serba putih. Entah ruangan apa itu, ia tidak tahu. Dia kebingungan, tak tahu harus berbuat apa selain hanya terus berjalan dan memandang sekitar. Akan tetapi, sejauh apapun dirinya memandang ataupun berjalan, ruangan itu seperti ruangan yang tak berujung. "Ah, apa lagi ini?" tanyanya agak kesal. Hanya putih yang dia lihat, tak ada warna lain lagi selain warna pakaian yang ia kenakan dan juga kulitnya. Dia terus berjalan tak tentu arah, hingga kemudian dia tersadar bahwa itu semua hanyalah sebuah mimpi. "Oh, iya. Aku mungkin sedang ketiduran, tadi," ucapnya. Ia kemudian menenangkan dirinya. Ia yakin pasti ada sesuatu yang akan ia lihat di dalam mimpi itu. Setelah sekian lama menunggu sambil memutuskan untuk terus berjalan, tiba-tiba dirinya mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. "Alvaro," ucap suara itu. Dari nada suaranya, itu adalah suara perempuan. "Siapa?" tanya Alvaro karena tak bisa melihat wujud suara itu. "Berhati-hatilah! Jaga teman-teman kamu! Setelah ini akan ada orang terdekatmu yang mau dijadikan korban," ucapnya, masih tak mau menunjukkan wujudnya. "Siapa kamu? Apa maksudmu?" tanya Alvaro sambil mengarahkan pandangannya ke segala arah. Tak lama kemudian, beberapa meter jauhnya dari tempat dia berada, dia melihat sesosok wanita cantik yang sedang memandang ke arahnya. Pandangannya datar tanpa ada ekspresi apapun. Dia melihatnya dengan seksama. Seperti pernah lihat, tapi di mana? Hingga tiba-tiba, wanita cantik itu berubah menjadi sosok hantu menyeramkan yang beberapa kali ia lihat kala itu, dan kemudian ia menghilang dengan meninggalkan pesan terakhir. "Akan ada bahaya yang lebih besar. Jaga teman-temanmu, dan juga balasan dendamku," ucapnya kemudian. "Hei, jelaskan, apa maksudmu?" tanya Alvaro. Tidak ada jawaban. Alvaro kembali merasakan keheningan. Tak ada suara lagi selain suara deru napasnya yang tak beraturan. Ia juga mendecak, merasa tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh si hantu wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN