Bab 49

1282 Kata
Perlahan demi perlahan, matanya terasa berkedut. Ah, mungkin mimpinya akan berakhir sampai sini, pikirnya. Ternyata apa yang ia pikirkan itu benar. Ia terbangun dari tidur super singkatnya itu. Napasnya kembali ngos-ngosan dengan keadaan jantung yang berdebar kencang. Dirinya terdiam sejenak, mengingat mimpinya yang tadi. "Hantu itu? Bahaya apa yang dia maksud?" tanyanya pada diri sendiri. Dia kemudian berdiri, dan dengan buru-buru langsung masuk ke dalam kamar tempat di mana Wulan dan Chelsea berada. Ya, ia sangat khawatir jika bahaya yang dimaksud si hantu itu menimpa mereka berdua. Akan tetapi ternyata dugaannya salah. Mereka masih baik-baik saja meski Chelsea masih tetap dalam keadaan pingsan. "Kenapa, Al?" tanya Wulan. "Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Alvaro. "Wulan, kamu bisa jaga Chelsea sendirian? Aku ada urusan sebentar," ucap Alvaro kemudian. "Bisa. Ini masalah mudah," jawab Wulan. "Okelah. Aku pergi dulu," pamit Alvaro. Tanpa menunggu lama-lama, ia segera menutup pintu dan berlari kecil menuju halaman villa. Pikirannya sangat kalut memikirkan mimpinya barusan. Ia yakin hantu itu tidak mungkin menipunya. Di halaman sana masih nampak banyak orang yang berkumpul, tentu saja masih dengan satu permasalahan, yaitu kejadian meninggalnya Arga. Alvaro langsung melirik ke arah sahabat-sahabat terdekatnya berada, karena ia ingat hantu itu mengucapkan bahwa orang terdekatnya dia lah yang akan menjadi korban. Ada Reyhan, Ihsan, Imam, Nanda dan Ocha yang tertangkap oleh indra pengelihatannya, namun dirinya tak melihat kehadiran sosok gadis cantik bernama Delia Aprilia. Alvaro segera menuju ke arah sana, melewati kerumunan mahasiswa yang sedang sibuk dengan masalah meninggalnya Arga. Setelah berhasil sampai ke tempat di mana Reyhan dan yang lain berada, ia bertanya kepada mereka dengan nada agak pelan. "Delia mana?" tanyanya to the point. "Tadi setelah dia memanggil teman-teman supaya datang ke sini, dia izin mau ke toilet, katanya," jawab Nanda. "Kenapa gak ada yang nganterin dia?" tanya Alvaro kesal. "Dia gak mau. Emang ada apa sih, Al?" jawab sekaligus tanya Nanda. Alvaro menggertakkan gigi atas dan bawahnya. Ia tak menjawab pertanyaan dari Nanda. Dengan segera ia menerobos kerumunan untuk segera mencari Delia. Sungguh saat ini dia sangat khawatir dengan gadis cantik itu. Berlari lah ia sampai ke toilet yang sering terjadi penampakan pocong itu, namun ternyata toilet itu terbuka, dan setelah ia cek, tidak ada orang. Ia benar-benar sangat khawatir. Segera ia menuju toilet yang lain, namun di manapun tak ditemukannya sosok Delia. Pikiran Alvaro mulai kacau. Dirinya takut jika maksud orang terdekat yang dimaksud oleh hantu itu adalah Delia. Tak lama kemudian, kelima sahabatnya itu datang. "Al, ada apa sebenarnya?" tanya Reyhan bingung. Alvaro masih belum mau menjawab. Indra pengelihatannya yang tiba-tiba menangkap sesuatu di lantai itu membuat dia tak fokus dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Reyhan. Ia mengambil sesuatu itu, dan ternyata itu adalah gelang. Tidak salah lagi, itu gelang milik Delia. Ya, dia sangat mengenalnya. Ketika ia memegangnya, ia seperti mendapat pengelihatan masa lalu. Di dalam pengelihatan itu, ia melihat Delia yang baru saja keluar dari toilet langsung dibius oleh seseorang yang sialnya tak bisa ia lihat dengan sempurna. Sebelum Delia tak sadarkan diri, beruntungnya dia sempat melepaskan gelangnya itu dan menjatuhkannya ke lantai. Setelah itu pengelihatannya berakhir. "Sialan! Delia sedang dalam bahaya. Dia dibius entah oleh siapa. Aku yakin itu adalah komplotan manusia berjubah itu," ucap Alvaro. Dia langsung menuju ke kamarnya. Sebelum sampai ke kamarnya, ia mengambil kapak yang ada di laci meja dapur dan membawanya untuk dijadikan senjata nantinya. Saat sampai di kamarnya, dengan segera ia mengambil tas dan mengisi beberapa benda penting yang ia pikir nantinya bisa sangat berguna. Tak lupa ia juga memasukkan kapak itu. Alvaro dengan segera berlari, ingin keluar dari villa itu. Ia bahkan melupakan tentang bagaimana cara si pembius itu masuk ke villa dan membawa Delia. Di dalam hati dan pikirannya hanya ada satu, yaitu ingin sesegera mungkin menyelamatkan Delia. Ia tidak mau gadis yang sangat dekat dengan dia itu harus mengalami hal yang sama seperti apa yang Arga alami. Reyhan dan yang lain juga mengikuti pergerakan Alvaro. Walau masih belum begitu paham tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka tahu bahwa ada kejadian buruk yang menimpa Delia. Alvaro berjalan cepat menembus kerumunan untuk yang kedua kalinya. Dalam kekhawatirannya, langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh salah satu dari dosen. "Alvaro, mau ke mana kamu?" tanyanya. "Ke hutan. Delia diculik oleh si bajin*an itu," jawab Alvaro dengan nada kesal. "Apa?" Sontak mereka langsung berekspresi kaget, tak percaya jika Delia diculik. Alvaro tak memperdulikan keterkejutan mereka. Ia segera meneruskan langkah kakinya, namun sang dosen tiba-tiba menghalanginya. "Jangan! Bukankah hutan itu terlalu berbahaya? Kita hampir mati tadi, di sana," ucap sang dosen. Alvaro hanya memandangnya dengan tatapan datarnya. "Lalu?" tanya Alvaro. "Lebih baik kita atur rencana dulu, daripada kita nantinya yang malah akan jadi korbannya," jawab sang dosen. "Rencana? Okelah, kita akan membentuk rencana yang sangat bagus," ucap Alvaro. "Tapi setelah rencana itu tersusun dengan sempurna, Delia akan kembali dengan kondisi tinggal kepala," lanjutnya mulai emosi. "Jangan menghalangiku!" bentaknya. Tak peduli jika yang dihadapinya itu adalah dosennya sendiri. "Tidak. Kamu tidak akan selamat jika ke sana tanpa rencana yang matang," cegah sang dosen lagi. "Soal selamat atau tidaknya aku, itu urusan sang penciptaku. Kau hanya dosen. Tahu apa kau soal umur?" tanya Alvaro yang sudah mulai berapi-api. Dirinya kemudian langsung menerobos hadangan sang dosen hingga dosen itu tak dapat menahannya lagi. Alvaro berlari kecil keluar dari area villa. Dosen itu ingin mengejarnya, namun segera dicegah oleh dosen yang lain. "Jangan! Biarkan saja! Itu pilihannya sendiri," kata dosen itu. Reyhan yang melihat hal itu merasa geram. Emosinya pada para dosen kembali muncul. Tidak bisakah dosen-dosen itu mau memberikan bantuan kepada Alvaro? Malahan dengan sangat teganya mereka membiarkan Alvaro sendirian masuk ke hutan berbahaya seperti itu. Sungguh dosen yang tak ada tanggung jawabnya sama sekali. Tanpa pikir panjang, Reyhan juga berlari kecil menembus kerumunan, dengan diikuti oleh empat sahabatnya yang lain. Ia berencana ingin mengejar Alvaro yang ia tahu bahwa tujuan Alvaro adalah ke arah rumah tua itu. Ya, ia yakin sekali. Karena cuma itu satu-satunya tempat yang paling mungkin dipakai oleh si manusia berjubah itu untuk menyekap Delia. "Berhenti!" Seseorang menghentikan langkah kaki Reyhan beserta teman-temannya melalui suara, dan itu tak lain dan tak bukan adalah si dosen yang tadi juga sempat menghentikan Alvaro. Melihat hal itu Reyhan langsung memberikan tatapan tajam penuh dengan ketidaksukaan. "Ada apa, Pak?" tanya Reyhan. Si dosen itu menghembuskan napasnya, kemudian ia menjawab pertanyaan Reyhan. "Tolong jaga Alvaro, dan bawa kembali Delia dengan selamat. Maaf, keberanian kami tidak sebesar kalian," jawab sang dosen. Ternyata, apa yang dipikirkan Reyhan salah. Dia kira dosen itu akan melarang dia dan yang lain untuk pergi, tapi nyatanya hanya mengucapkan maaf tentang dirinya yang tak mampu ikut menyelamatkan Delia. "Pasti, Pak," jawab Reyhan sambil tersenyum. Setelah itu ia melanjutkan langkah kakinya lagi yang sempat terhenti. *** Seorang manusia tampan yang tak lain adalah Alvaro berjalan sendirian menyusuri hutan. Tak ada sedikitpun rasa takut di hatinya. Hanya ada aura kemarahan yang teramat sangat karena mereka sudah dengan beraninya menculik Delia. Dalam keadaan dirinya yang sedang marah, ia juga tak gegabah. Dia tidak berlari supaya cepat sampai ke tempat tujuan. Pikirnya, pasti ada jeda waktu sebelum ritual itu terlaksana. Alvaro berpikir bahwa jika ia lari, maka itu akan menguras banyak tenaganya, dan jika itu terjadi, bisa-bisa dirinya tewas dalam pertarungan yang akan terjadi nantinya. Ia tahu seberapa besar bahaya yang ada di hutan itu. Ia juga tahu seberapa kuat musuh yang akan ia hadapi nantinya. "Hantu wanita itu. Ke mana dia sekarang?" batin Alvaro. Ada satu hal yang dulunya sangat ia benci hadirnya namun kini terlintas di benaknya sebuah keinginan untuk bertemu. Itu adalah si hantu wanita yang menghantuinya hari itu. Alvaro sudah tak pernah melihat maupun merasakan kehadirannya lagi. "Aku janji akan membalaskan dendam kamu dengan kapak yang dulu tak bisa kau gunakan untuk melukai b******n itu," batin Alvaro lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN