Banyak hal yang ia pikirkan, akan tetapi yang paling ia pikirkan adalah tentang keselamatan Delia. Mana bisa ia tenang, sementara orang yang sangat ia sayangi itu kini sedang dalam bahaya? Tentu ia merasakan apa itu kekhawatiran. Bahkan bisa dibilang kekhawatirannya jauh melebihi siapapun. Delia adalah sosok yang sangat penting bagi kehidupannya. Jika Delia kenapa-napa, maka entah bagaimana jadinya dia.
Alvaro masih hafal betul jalan menuju ke rumah tua itu. Ia tak perlu lagi bantuan dari seorang penunjuk arah, karena dia sendiri saja sudah bisa melakukannya. Masalahnya hanyalah satu, yaitu dia yang sendirian. Tentu terasa sangat mustahil jika dirinya yang hanya seorang diri mampu mengalahkan pasukan musuh. Ditambah lagi dengan kekuatan para musuhnya, yang konon katanya kebal dengan senjata apapun.
Tak ada sedikitpun keraguan bagi Alvaro untuk tetap melangkah. Ia seperti sudah siap mati demi menyelamatkan nyawa Delia. Bahkan kalaupun pihak musuh mempersiapkan jebakan pun, ia tak peduli.
"Itu Alvaro." Seseorang menyebut nama Alvaro.
Alvaro yang mendengarkannya pun langsung menoleh dan mendapati para sahabatnya itu sedang berlari kecil ke arahnya. Awalnya dia tak yakin bahwa itu benar-benar mereka, akan tetapi setelah melihatnya beberapa lama, ia jadi yakin.
"Kalian ngapain?" tanya Alvaro.
"Kau masih nanya kita mau ngapain? Tentu mau menyelamatkan Delia, lah. Lagian mana mungkin kami tega membiarkan kamu pergi sendirian," jawab Reyhan. Alvaro tersenyum.
"Kalian...." Alvaro menggantung ucapannya.
"Sudah! Dramanya nanti saja. Sekarang yang terpenting kita harus cepat-cepat sampai ke tempat terkutuk itu," ucap Ihsan.
"Ya. Kau benar. Ayolah!" ajak Alvaro.
Kini Alvaro tidak sendirian lagi. Ada sahabat-sahabatnya yang menemani dia dalam perjalanan menuju ke tempat Delia berada. Kalau begini, rasanya masih mungkin untuk bisa mengalahkan musuh.
Alvaro mempercepat langkahnya. Keinginannya untuk segera sampai di sana semakin menggebu-gebu. Amarah, perasaan ingin menghabisi dan juga kekhawatiran bergabung menjadi satu di dalam dirinya. Sungguh ia tak bisa menahan perasaan-perasaan itu.
"Berhenti!" ucap Alvaro yang membuat semuanya langsung menghentikan langkah kakinya.
Dia memandang daerah sekitaran. Ingatannya masih terlalu tajam. Ya, dia tahu tempat di depannya itu tempat apa. Di tempat itu, sudah dua kali terjadi sesuatu yang tak pernah ia inginkan. Kabut tebal itu adalah kunci dari permasalahannya. Ia bingung harus berbuat apa.
"Aku mengerti, Al," kata Reyhan yang berada di belakang Alvaro.
"Jika nanti mimpi atau apapun itu terjadi pada kita lagi, kita cukup untuk harus sadar dan yakin bahwa itu bukanlah kenyataan," ucap Reyhan kemudian.
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya, kita nggak tahu trik apa lagi yang akan mereka pergunakan. Kurasa trik yang saat itu tidak akan dipakai lagi," ucap Alvaro. Reyhan pun jadi bingung.
"Teman-teman." Imam tiba-tiba bersuara. Alvaro dan yang lainnya pun langsung menjadikan dia sebagai pusat perhatian.
"Iya, Mam," ucap Reyhan.
"Mereka mungkin punya banyak cara untuk mengelabuhi kita, akan tetapi kalian harus ingat bahwa kita juga punya penolong yang jauh lebih hebat dari makhluk tak kasat mata itu. Dia adalah sang pencipta kita. Daripada sibuk mencari cara tentang bagaimana lolos dari efek kabut menyebalkan itu, lebih baik kita berdoa menurut keyakinannya masing-masing," usul Imam.
Mereka semua manggut-manggut mengerti. Memang benar apa yang Imam katakan. Doa adalah kuncinya.
Keenam manusia itupun langsung memulai doa mereka masing-masing. Mereka berharap semoga dengan doa itu, mereka bisa menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh para makhluk tak kasat mata itu.
"Oke, kalau begitu, ayo berangkat! Jangan lupa untuk saling berpegangan, agar tidak ada yang terpisahkan," ucap Alvaro. Mereka semua mengangguk. Ocha dan Nanda terlihat sedikit ketakutan.
Tanpa menunda-nunda waktu lagi, mereka pun segera melangkahkan kaki untuk menyusuri bagian paling berbahaya dari hutan itu. Bagian hutan yang sudah dua kali membuat mental mereka hampir hancur. Tidak, bukan hanya mental, melainkan juga hampir menghilangkan nyawa mereka.
Tapi perlu diingat bahwa biasanya, dalam perjalanan berangkat, tak pernah ada bahaya di bagian itu. Akan tetapi yang berbahaya adalah ketika dalam perjalanan pulang.
"Delia, semoga kau baik-baik saja. Aku mohon bertahanlah! Aku berjanji akan menyelamatkan kamu. Tidak peduli jikalaupun itu harus ditukar dengan nyawaku sendiri. Aku janji, Del. Karena itu aku mohon agar kamu bisa bertahan," ucap Alvaro dalam hati. Ia terlihat sangat menghayati.
Kawasan hutan yang menjadi titik di mana bahaya itu sering terjadi kini telah mereka pijaki. Ada rasa sedikit aneh ketika menginjak tanahnya. Memang, bagi Alvaro, di titik ini dirinya sudah tidak bisa melihat kehadiran makhluk-makhluk tak kasat mata itu, tapi ia tetap bisa merasakannya.
Wussss!
Angin tiba-tiba bertiup, membuat tengkuk mereka merasakan tidak enak. Alvaro yakin, sebentar lagi sesuatu akan terjadi, tapi ia tak tahu sesuatu apa itu. Ia hanya percaya bahwa itu sangat buruk.
Tak butuh waktu lama untuk membuktikan kekhawatirannya itu, datanglah sesuatu yang akan menjadi mimpi buruk bagi mereka semua.
"Sial! Kabut itu lagi," gumam Alvaro.
Ia komat-kamit membaca doa, demikian pula dengan yang lain. Walau bagaimanapun juga, dia dan yang lainnya tak akan pernah bisa lolos dari kepungan kabut itu. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan hanyalah dengan terus berjalan melaluinya.
"Perasaan apa ini? Kenapa aneh sekali?" tanya Alvaro dalam hati. Ia dan yang lainnya masih tetap berusaha untuk melewati kabut itu.
Di dalam usahanya untuk segera melewati kabut tebal itu, di tengah perjalanan tiba-tiba genggaman tangannya ke lengan Reyhan terlepas. Itu membuat dia sangat cemas dan langsung berteriak memanggil nama Reyhan.
"Rey, kau di mana?" tanyanya. Namun tak ada sedikitpun jawaban yang ia dengar.
Setajam apapun pengelihatan seseorang, tak kan bisa mereka gunakan untuk melihat ketika berada di dalam kabut tebal itu walau cuma 1 meter jauhnya. Demikian pula yang dirasakan Alvaro saat ini. Sekiranya ada musuh yang tiba-tiba menyerang, sudah dipastikan ia akan terkena serangan itu.
Namun Alvaro tetaplah Alvaro. Dia yang tadi bahkan sudah memutuskan untuk pergi sendirian, tak mungkin melangkah mundur walau cuma selangkah. Rasa takut di dalam dirinya sudah hampir sepenuhnya ia hilangkan. Tinggal kekhawatirannya yang teramat sangat pada teman-temannya, khususnya Delia.
"Jangan sampai kalah, teman-teman," batin Alvaro lagi. Ia memejamkan matanya sejenak, seolah-olah sedang meratapi sesuatu yang hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.
Ia sudah sangat yakin bahwa sebentar lagi akan ada sesuatu yang sangat berbahaya. Ia mau tidak mau harus menghadapinya sendirian. Entah itu dalam bentuk mimpi, ilusi, ataupun kenyataan. Dari awal dia bahkan sudah siap untuk mati, dengan syarat ia bisa menyelamatkan nyawa Delia.
Perlahan namun pasti, langkah kakinya pun mulai menembus kabut tebal itu dan akhirnya bisa keluar. Keanehan kembali ia rasakan, ketika dirinya melihat ke area sekitar dan mendapati bahwa ia seperti sedang berada di hutan yang berbeda.
"Ini di mana lagi, ini? Apa mimpi? Apa ilusi?" batinnya.
Ia kemudian melihat ke arah belakang, namun tak ada satupun dari sahabatnya yang terlihat dari indra pengelihatannya. Ia pun berjalan ke arah belakangnya, barangkali ia bisa menemukan salah satu dari sahabatnya.
"Reyhan, Ihsan, Imam, Ocha, Nanda, kalian di mana?" teriaknya. Berharap salah satu atau kalau bisa semua dari mereka menjawab ucapannya itu.
Namun ternyata gagal. Tak ada sedikitpun jawaban yang ia dapatkan. Ditambah lagi dengan dirinya yang yakin bahwa tempat yang ia pijak itu ternyata bukan tempat yang tadi. Maksudnya, bukan tempat di mana kabut tebal itu muncul.
"Delia, maaf, sepertinya aku akan sedikit lama untuk bisa menyelamatkan kamu. Kuharap bertahanlah, sampai aku dan yang lainnya datang untuk menolongmu," ucap Alvaro.
Ia kembali berjalan. Langkahnya bukanlah langkah untuk melanjutkan perjalanan setelah ia lolos dari kabut menyebalkan itu, melainkan melangkah ke arah sebaliknya, atau bisa dibilang putar balik.
Ia berharap bahwa ia bisa menemukan tempat yang tadi itu. Meski kecil kemungkinannya, tapi ia sangat berharap itu akan terjadi.
Setibanya ia di suatu tempat, terpaksa ia harus menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang sedang berdiri bersandar di sebuah pohon besar.
"Oi Reyhan," panggilnya. Ternyata seseorang yang ia lihat itu adalah sahabatnya sendiri, yaitu Reyhan.
***
Di lain sisi, nampak dua gadis cantik yang bergandengan tangan. Ya, mereka adalah Ocha dan Nanda. Setelah lolos dari kabut menyebalkan itu, mereka bingung dengan tempat yang mereka pijak sekarang.
Ocha nampak sangat ketakutan. Bahkan seorang Nanda yang biasanya super tenang, kini pun wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang ketakutan.
"Nda, kita di mana, Nda?" tanya Ocha pada Nanda.
"Nggak tahu, Cha. Yang lain juga ke mana?" jawab sekaligus tanya Nanda balik.
Ocha alias Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali tanda bahwa dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang apa yang ditanyakan oleh Nanda.
Kemudian, mereka berdua dengan kondisi wajahnya yang pucat mulai berjalan kembali menyusuri hutan aneh itu. Ocha bahkan hampir meneteskan air matanya. Jelas sekali dari raut wajahnya itu bahwa ia sedang sangat ketakutan.
Lama kelamaan, suasana yang ia rasakan mendadak menjadi aneh. Ia juga tak tahu kenapa. Pandangannya selalu melihat ke arah sekeliling kanannya, karena ia memang yang berada di sebelah kanan, sedangkan Nanda ada di sebelah kiri. Ia tak mau jika ada sesuatu yang mendadak muncul dari sisi itu. Pikirnya di sisi yang lainnya sudah ada Nanda yang menjaganya.
"Nda, sebenarnya kita di mana, sih?" tanya Ocha.
Namun Ocha tak mendapatkan balasan dari Nanda. Entahlah, mungkin Nanda juga tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang Ocha lontarkan.
"Nda, jangan diam aja, dong!" pinta Ocha sambil menoleh ke arah Nanda.
Dan betapa terkejutnya dirinya ketika ia melihat apa yang digandengnya itu ternyata bukanlah Nanda, melainkan sosok wanita menyeramkan dengan bola matanya yang hampir keluar serta mulutnya yang hampir sobek. Wajahnya juga penuh dengan darah. Ditambah lagi dengan pakaian kusut berwarna putih kecoklat-coklatan itu.
"Ha-ha-hantu," ucapnya sambil gemetaran.
Ia ingin segera berlari, akan tetapi tangannya masih berpegangan dengan tangan si hantu tersebut. Sialnya, sosok menyeramkan itu seakan-akan tak mau melepaskan tangan Ocha.
Tubuh Ocha menggigil ketakutan. Ia masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman si hantu menyeramkan itu. Air matanya itu akhirnya tak mampu ia bendung lagi. Ya, dia menangis. Menangis karena ketakutan.
Sementara di sisi lain, Nanda sedang berjalan sendirian. Dia nampak clingak-clinguk mencari sesuatu, atau mungkin juga seseorang.
"Cih, ke mana Ocha? Kenapa tiba-tiba dia hilang?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Memang, tadi Nanda sempat melepaskan genggaman tangannya ke Ocha, tapi cuma sesaat. Setelah itu, ketika dirinya menoleh ke arah di mana Ocha berada, Ocha tiba-tiba menghilang, bagai lenyap ditelan bumi.
Kini ia sendirian, menyesal karena telah melepaskan genggaman itu. Dia terus berusaha untuk mencari ke mana si Ocha pergi, namun ia tak kunjung menemukan keberadaan sahabatnya itu. Ia benar-benar terpisah sekarang. Bahkan hanya dalam kurun waktu beberapa detik saja, itu sudah sukses untuk membuat dia terpisah dari sang sahabat.
"Cha, di mana sih, kamu?" tanya Nanda lagi pada dirinya sendiri. Ia nampak semakin takut dengan suasana yang ia hadapi saat ini.
"Ocha!" teriaknya. Namun ia tak mendapatkan jawaban.
"Ocha, jika kau mendengar suaraku, jawablah!" teriaknya lagi. Namun lagi dan lagi, ia tak mendapatkan jawaban apapun.