Bab 51

1351 Kata
Inilah pertama kalinya seorang Dea Nanda Pramugita merasakan sensasi luar biasa dari sesuatu yang dinamakan ketakutan. Tiada lagi wajah tenang yang ia bangga-banggakan dulu. Semuanya berubah semenjak kabut tebal itu mengantarkannya sampai tempat seperti ini. Rasa takut dan kesunyian benar-benar menyelimutinya. Ia tak punya pilihan lain selain hanya terus melangkah mencari petunjuk untuk bisa keluar dari tempat yang ia tak tahu di mana itu. Ya, mungkin itu lebih baik daripada hanya diam meringkuk di bawah pohon sembari menunggu kematian datang. Sejauh ia berjalan, hanya pepohonan dan semak belukar yang ia temui. Ia tak menemukan satu manusia pun dalam perjalanannya. Air mata itu mulai keluar. Seorang Nanda menangis? Ya, dia sedang menangis, walau cuma menangis kecil. Biar bagaimanapun juga, jiwanya tetaplah jiwa seorang perempuan. Wajar jika ia menangis. "Ocha!" teriaknya lagi. Dihapusnya air matanya yang sudah terlanjur menetes itu. Dia mungkin juga tidak sadar kalau air matanya akan keluar dengan sendirinya. Keadaan lah yang membuat dia jadi seperti itu. Sebuah langkah kaki yang tak berujung. Itulah satu hal yang dilakukan oleh Nanda saat ini. Hutan itu begitu luas. Terbersit dalam pikirannya tentang kemungkinan hal-hal buruk yang akan terjadi. Bagaimana jadinya jika nanti dia bertemu dengan singa, harimau atau hewan-hewan buas lainnya? Bagaimana juga jika nantinya ia malah bertemu dengan si manusia berjubah yang sudah banyak dibicarakan oleh orang-orang? Manusia yang katanya kejam dan tega membunuh siapa saja. Dan bagaimana juga jika nantinya dia ketemu hantu? Banyak sekali yang Nanda pikirkan. Sayangnya, semua yang ia pikirkan adalah tentang kemungkinan yang buruk, bukan kemungkinan yang baik. Ia memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya di bawah sebuah pohon. Lelah sekali rasanya, melangkah tanpa adanya hasil yang didapat. Diletakkannya tas yang sedari tadi ia cangklong di punggungnya ke tanah. Ia kemudian mengambil sebotol air mineral dari dalam tasnya dan langsung meminumnya. "Teman-teman, kalian di mana?" tanyanya lirih. Tubuhnya sudah terasa sangat berat. Rasanya tak mampu lagi ia buat berdiri. Bukan karena ia yang sudah berjalan terlalu jauh, bukan karena itu, akan tetapi karena dia yang tak tahu lagi bagaimana mengatasi rasa ketakutan dan kekhawatirannya ini. Pikirnya, beristirahat sejenak mungkin tak akan membuat masalah. Dan malahan di waktu itu ia bisa memanfaatkannya untuk memikirkan tentang apa langkah selanjutnya yang harus ia lakukan. Ia pun mulai memejamkan mata, berharap bisa mendapatkan inspirasi entah dari manapun itu. "Aaaa!" Suara teriakan yang sangat kencang membuat Nanda membuka matanya dengan cepat. Jantungnya bahkan berdetak tak beraturan, diakibatkan oleh saking kagetnya ia ketika mendengar suara teriakan itu. "Ocha," ucapnya kemudian. Satu hal yang terbersit di dalam pikirannya, bahwa si peneriak itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ocha. Ia sesegera mungkin berdiri dan mencangklong tasnya kembali. Rasa khawatir pada sahabatnya itu mengalahkan penat ataupun lelahnya. Ia dengan segera berlari ke arah sumber teriakan itu. Kembali ia bertanya kepada dirinya sendiri tentang kenapa dengan Ocha, apa yang terjadi padanya, ataupun apa benar itu suara teriakan Ocha. Namun apapun hasilnya nanti, dia memutuskan untuk tetap memastikannya terlebih dahulu. Berlarilah dia dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dengan hanya mengandalkan insting, ia terus berlari ke arah sumber suara itu. "Cha, apa yang terjadi?" tanyanya lagi pada diri sendiri di dalam larinya. Matanya sesekali menutup karena saking khawatirnya dengan keadaan Ocha. Jauh ia berlari, akhirnya dirinya sampai di tempat tujuan. Dan saat itulah ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. Air mata yang ia jaga agar tidak pernah menetes, kini menetes dengan derasnya. Ia duduk berlutut, seolah kakinya tak mampu lagi menahan berat badannya. "Ocha!" teriaknya sambil menangis. Di depan sana, ia nampak dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana tubuh sahabatnya itu menggantung di sebuah pohon yang besar. Ocha gantung diri. Tidak, mungkin lebih tepatnya digantung oleh seseorang, ataupun makhluk tak kasat mata. Sontak hal itu membuat Nanda merasakan apa yang dinamakan dengan kehilangan seorang sahabat. Ya, tentu, setelah gantung diri, Ocha pasti sudah tidak bernyawa lagi. *** Ihsan nampak sedang berjalan sendirian menyusuri tempat yang juga tidak ia ketahui. Memang masih di dalam hutan, tapi rasanya di dalam hutan yang berbeda. Sama seperti yang lain, ia hanya berjalan tak tentu arah menyusuri setiap area hutan tersebut. Perlu diingat, bahwa Ihsan meskipun seorang lelaki, tapi dia adalah seorang yang penakut. Penakut dalam arti takut kepada makhluk tak kasat mata. Kalau tentang berkelahi, dia tak pantas jika harus disebut penakut. "Ini di mana, sih? Serem amat," ucapnya. Jika dibandingkan dengan Alvaro, Nanda maupun Ocha, tempat yang kini dipijak oleh Ihsan jauh lebih seram dari tempat-tempat yang lain. Bahkan cahaya matahari pun seakan tak mampu menembus lebatnya hutan. Ya, meskipun siang hari, tapi rasanya seperti berada di malam hari. Ihsan terus berjalan tak tentu arah. Tak ada satupun petunjuk yang ia dapat. Semua pohon yang berada di sekitarnya itu terlihat sama. Bola matanya bergerak liar ke sana ke mari untuk memantau keadaan sekitar. Walau bagaimanapun juga, Ihsan bukanlah tipe orang yang suka sendirian. "Hufff.... Apa sih, San, yang kamu takutin? Kau ini pemberani. Masa cuma gini aja takut?" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu dia berjalan dengan percaya dirinya seolah tak ada sedikitpun ketakutan di dalam hatinya. Hingga tiba-tiba, ada dahan pohon yang terjatuh sehingga menciptakan bunyi karena benturannya dengan tanah yang sampai membuat Ihsan terkejut. "Ampun! Ampun!" ucap Ihsan sambil berlari kencang. Itulah Ihsan. Di dalam dirinya yang benar-benar ketakutan, kalau dari pandangan mata orang lain juga ada sebuah kelucuannya. Dia berlari, mengikuti ke mana pun kakinya pergi. Aneh memang, bukannya memastikan dulu apa yang sebenarnya terjadi, malah memilih untuk melarikan diri. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti. "Hufff, syukurlah gak ada yang mengejar," ucapnya sambil menghadap ke belakang. Kini dia sudah merasa aman. Hanya saja napasnya tak mau diajak kompromi. Dia membutuhkan istirahat, walau hanya sejenak. Kebetulannya, beberapa meter jauhnya dari tempat ia berada, ia melihat sebuah pohon besar yang nampak begitu nyaman jika dibuat untuk tempat istirahat. Tak mau berpikir panjang lagi, ia segera menuju pohon besar itu untuk mengistirahatkan dirinya yang sudah terlanjur capek karena melarikan diri dari sesuatu yang sepele. "Hufff.... Kalau di sini pasti aman," ucapnya setelah ia duduk di bawah pohon itu. "Iya. Aman." Terdengar suara berat dari sisi lain. *** Di sisi yang satunya lagi, Reyhan sedang berdiri sambil memandang ke segala arah. Detik berikutnya, ia langsung menghembuskan napasnya pelan. "Lagi-lagi, kabut sialan itu bikin ulah," kata Reyhan. Dia berpikir bahwa apa yang dialaminya kali ini sama seperti apa yang dialaminya sebelumnya. Dengan santainya ia malah duduk di tempat yang sama seperti yang ia gunakan untuk berdiri tadi. Ia berkonsentrasi, dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi padanya saat ini bukanlah sebuah kenyataan. Dengan begitu ia bisa kembali ke dunia yang semestinya. Akan tetapi, ternyata apa yang ia pikirkan salah. Dia masih berada di tempat itu, dan tak sedikitpun berpindah tempat. Padahal ia sudah sangat konsentrasi dan yakin bahwa tempat yang kini dia pijak bukanlah tempat yang nyata. "Apa ini artinya tempat ini nyata?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Cih." Ia langsung mendecak. Dia kemudian berdiri. Perasaan dan suasana hatinya mulai berbeda dari sebelumnya. Dia yang awalnya tenang, kini mulai merasa sedikit gelisah. Wajar saja, kenyataan itu lebih menakutkan daripada ilusi. Seperti yang lain, Reyhan pun mulai berjalan tak tentu arah. Entah ke mana ia akan pergi, mungkin dia pun tak tahu. Dia hanya mengikuti apa kata hati dan ke mana langkah kakinya melangkah. Itu saja. "Jebakan apa lagi ini?" tanyanya kepada diri sendiri. Suasana hutan yang mencekam membuat dirinya agak merasa ketakutan. Dia sendirian, dan bisa saja nantinya ada banyak musuh yang menyerangnya. Jika itu terjadi, ia tidak tahu tentang bagaimana nasibnya. Langkah kakinya membuatnya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bola matanya terus-terusan melihat sekitar. Masih seperti yang tadi. Tak ada apa-apa di sekitarnya, selain hanya pepohonan dan semak belukar. Meski begitu, Reyhan tetaplah seorang lelaki yang pintar dan pemikir. Di setiap langkah kakinya, ia juga sedang memikirkan tentang bagaimana cara untuk berkumpul bersama teman-temannya kembali. "Kalau aku naik ke pohon, mungkin aku bisa melihat dengan jarak pandang yang semakin luas," pikirnya. Tepat saat itu, ia melihat pohon yang menurutnya adalah yang tertinggi dibandingkan pohon-pohon lainnya. Ia tentu mempunyai pemikiran untuk memanjat pohon tersebut tanpa peduli dengan risiko yang akan didapatnya nanti. "Hufff." Dia menghembuskan napasnya pelan, seakan tadinya ragu untuk menjalankan aksinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN