Tiga orang melawan satu orang. Oh, tidak. Lebih tepatnya dua orang melawan satu orang. Raisya masih terdiam dan tak ada sedikitpun niat untuk ikut melawan Alvaro. Ia pasti punya alasan tersendiri sehingga dirinya tak mau melakukan hal itu. Meski hanya melawan dua orang, tapi rasanya seperti melawan ratusan orang. Alvaro benar-benar kewalahan hingga sebuah tendangan keras yang dilakukan oleh si lelaki berjubah berhasil membuatnya terdorong ke belakang dan kemudian terjatuh. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. "Akhh!" erangnya. Ini sudah ke sekian kalinya area perut yang menjadi korban dari keganasan para musuh yang ia lawan. Rasanya ia ingin memuntahkan seisi perutnya. Memang, sakit sekali rasanya. Di saat ia masih dalam kondisi yang demikian, si lelaki berjubah berlari ke

