Bab 83

1312 Kata

Sementara di luar rumah tua, konflik itu masih belum berakhir. Nesya benar-benar telah membenci ibu dan kakaknya. Tangisnya mungkin menandakan kesedihan karena saking tidak percayanya bahwa dua orang yang ia sayangi ternyata terlibat dalam kasus itu. Tapi, aura yang terpancar dari wajahnya serta sikap yang ia tunjukkan jelas menggambarkan orang yang sedang marah besar. Hingga kemudian, satu dari dua perempuan itu tersadar dari pingsannya. Perempuan yang tak lain dan tidak bukan adalah si Raisya alias kakaknya Nesya. "Lihat! Dia sudah sadar." Salah satu mahasiswa memberi informasi kepada semuanya tentang Raisya yang perlahan sudah mulai sadar. Nesya tak berkata apa-apa. Ia memandang sang kakak dengan tatapan aneh. Perasaan senang sedikitpun tak ada atas tersadarnya Raisya dari pingsan. I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN