"Tidak apa-apa. Biarkan saja dia istirahat dulu," jawab Delia yang peka. Alvaro manggut-manggut mengerti. "Tidur?" tanya Reyhan. Delia mengangguk. "Lalu, apa para polisi tadi sudah...." "Syuttt!" Alvaro memotong perkataan Nanda dengan sebuah isyarat untuk diam. Bukannya apa-apa. Di dalam kamar itu ada Chelsea yang keadaannya tidak memungkinkan jika harus mendengar lagi tentang Arga yang sudah meninggal. Ya biarpun katanya sudah tidur, tapi belum tentu benar-benar tidur. Bisa saja Chelsea hanya berbaring dan memejamkan matanya saja, tapi masih terjaga kesadarannya. "Ah, iya," kata Nanda. "Ya udah, kami ke kamar dulu. Capek. Kalian jaga Chelsea baik-baik! Jangan sampai meninggalkan dia sendirian!" kata Alvaro. "Iya." Niat Alvaro untuk sedikit menghibur Chelsea pun terpaksa harus diba

