"Berbicaralah sesukamu. Tapi aku yakin mereka pasti akan datang, dan saat mereka datang, kaulah yang akan mati," ucap Delia ngegas. Plakkk! Tanpa ampun, si wanita berjubah itu menampar pipi Delia dengan sangat kerasnya. Tentu hal itu membuat Delia kesakitan, namun ia coba untuk tidak menampakkannya. "Heh, kenapa? Apa kau takut?" tanya Delia. "Cih. Kau masih beruntung ritualnya tidak bisa dijalankan sekarang. Tapi setelah nanti waktunya tiba, aku akan menjadi orang pertama yang menertawai kematianmu," ucap perempuan berjubah itu. "Atau sebaliknya. Aku yang akan menertawai kematianmu," balas Delia. "Cih." Wanita berjubah itu mendecak. "Seyakin itu ya, kau, berharap bahwa mereka akan datang menyelamatkan kamu?" tanya wanita berjubah itu. "Tapi tak apa, malah bagus. Dengan begitu kau a

