BEGIN

1250 Kata
Bunyi bel menggema ke seluruh ruangan sekolah, tanda bahwa seluruh siswa harus masuk ke kelasnya masing-masing. Tapi siswi yang satu ini, masa bodoh dengan itu. "s****n! aku ingin sekali membeli roti Yakisoba!" umpat seorang siswi sambil masih berlari. Tak lama, ada lima orang siswa yang menyusulnya. Cih, mereka belum kapok juga? Batinnya. Dia berhenti berlari saat ada dua orang laki-laki yang menghadang sambil memegang tongkat besi dan balok kayu. Ketiga siswa lainnya berdiri di belakang siswi tersebut, mengepungnya agar meladeni kemauan mereka. Siswi itu menautkan alis, kemudian memasukkan jari tengah tangan kirinya ke salah satu lubang hidungnya, kemudian mengoreknya. "Lima lawan satu bukannya tidak adil?" tanyanya. "Tidak adil? Seharusnya kami yang merasa tidak adil! Kau menghabisi satu per satu kawan kami sampai hanya tersisa segini!" sergah salah satu dari mereka. "Enak saja! Salah mereka yang mendobrak pintu saat aku sedang buang air kecil. Aku ini perempuan tau, aku juga butuh privasi!" Murka siswi itu sambil menempelkan kotoran hidungnya ke dinding yang berada tak jauh darinya. "Masa bodoh dengan privasimu!" "Apa kau bilang?" raung siswi tomboy itu. Osaka Maname, nama siswi yang terkenal brutal itu. Melihatnya sekilas, tidak ada yang membuat kesan berandal terlintas pada pikiran. Tapi begitu ada yang mengusik, dia tak kenal ampun. Contohnya seperti sekarang. Mematahkan lengan dan kaki siswa lain bukan hal yang besar. Sekolah ini bernama Shousei Gakuen, sekolah yang berisi anak anak kasus, brutal, nakal, dan sejenisnya. Sekolah ini dijuluki sekolah para penjahat. Setiap hari, pasti ada masalah yang muncul, padahal penyebabnya hanya hal kecil. Tiada hari tanpa masalah, itulah logo sekolah tersebut. Memalukan. Di sekolah itu, hanya 10% siswa yang memiliki kepribadian baik, sopan pintar, dan taat. Sisanya adalah siswa dengan perilaku buruk, bodoh, dan berandal. "Haah, sudah puas?" tanya Osaka sambil meludah karena samping bibirnya mengeluarkan darah. Karena tak ada respons apa pun, Osaka berjalan kembali ke kelas. Sampai di depan pintu kelasnya, siswi itu terheran dengan pintu kelasnya yang tidak bisa digeser.  Wah, pasti dikunci sama si kembar bodoh itu, batinnya. "Hahaha, sepertinya ada yang tertinggal ya?" Oga, salah satu siswa yang sekelas dengan Osaka mengejeknya dari balik pintu. "Kasihan sekali ya!" Oka pun ikut ikutan. Siswi itu mengumpat.   Dia mundur beberapa langkah, mempersiapkan kuda-kuda, lalu dengan cepat mendobrak pintu kelas hingga pintu itu lepas. Osaka menginjak Oka dan Oga yang tertimpa pintu, lalu tertawa jahat. "Hahaha, lihat siapa yang kasihan sekarang?" bentaknya. Beberapa menit kemudian, guru yang bergiliran mengajar akhirnya datang. Namun sepertinya dia tidak sendirian. seorang murid dengan rambut biru gelap mengekorinya. Pak guru menepuk tangannya, meminta siswa-siswi di kelas tersebut untuk diam dan mendengarnya. Walaupun murid Shousei Gakuen nakal, tapi banyak dari mereka yang memang berniat untuk belajar. Sikap boleh brutal, tapi otak tak boleh kopong. Osaka yang tertawa karena melihat kelakuan siswa disampingnya yang ketakutan, melayangkan pandangannya kedepan. "Perkenalkan dirimu," perintah Sang guru. "Namaku Yoshida Azuki," laki-laki bermata biru kehitaman itu menunduk, lalu matanya melirik Osaka. "Salam kenal," lanjutnya. Osaka mengerutkan mukanya, membuang muka ke arah lain. Apa-apaan dia? Mau ribut denganku? sungutnya dalam diam "Kau duduk di belakang ya," seru pak guru. "Ya." Dia duduk di bangku paling belakang di barisan ke tiga. Osaka meliriknya sebentar lalu menyenderkan kepalanya ke meja. Huh, aneh. Pikirnya.   Saat Pelajaran ke-empat, Osaka, Oga dan Oka sedang mengobrol. Karena tak ada guru, Kelas ini jadi kehilangan kendali. "Bagaimana pendapatmu tentang si murid baru?" Tanya Oka. "Entahlah, menurutmu?" jawab Oga dengan bingung. "Menurutku dia bodoh." Jawab Oka yang membuat mereka berdua tertawa. "Menurutmu?" Oga melempar pertanyaan itu pada Osaka yang tidak peduli dengan anak baru. "Ng? Gimana ya?" Sekilas Osaka melihat ke arah Azuki. Entahlah, dia terlihat lunglai kalau diajak bertengkar, pikirnya. Tanpa sadar Osaka memperhatikannya lebih dari kata sebentar. Osaka tersadar saat Azuki menoleh ke arahnya dengan tatapan datar. Osaka mengerjap kemudian membuang muka. Kenapa dia dari tadi hanya menatapku tapi tidak bicara apa-apa? Membuat orang jengkel saja! umpat Osaka. "Kau terlalu lama melihatnya!" Ejek Oka. "Kau menyukainya?" tanya Oga yang langsung di balas dengan pukulan. "Kau kira aku apa?" raung Osaka. "Jangan bercanda. Aku tak suka orang seperti dia."   Oka dan Oga hanya menatap Osaka heran. Tanpa di sangka-sangka, guru masuk dan membuat para siswa berlalu lalang mencari tempat duduknya semula. Pelajaran dimulai dan kali ini pelajaran bahasa inggris. Sang guru meminta salah satu dari mereka untuk membaca sebuah biografi dengan pengucapan yang benar. Osaka menutupi dirinya dengan buku tulis, jangan pilih aku, jangan aku, jangan aku! "Oh, Azuki?" Osaka refleks melayangkan pandangannya pada si anak baru yang mengangkat tangan kanannya. "Maju ke depan. Bapak akan memperhatikan pengucapanmu agar kau tau yang mana yang harus di perbaiki." Azuki dengan Poker-face andalannya berjalan ke depan kelas, membuka halaman yang dimaksud dan mulai membacakannya. "Yasujirō Ozu was a Japanese film director and screenwriter. He began his career during the era of silent films. Ozu made fifty-three films: twenty-six in his first five years as a director, and all but three for the Shochiku studio. Ozu first made a number of short comedies, before turning to more serious themes in the 1930s." Seluruh penghuni kelas Terkagum kagum akan Kepandaian Azuki.  Sang guru menepuk tangan puas, "Perfect, Mr. Azuki!! Your pronounciation is all correct!! Kalau dia sepintar itu, kenapa juga dia harus bersekolah disini? Batin Osaka yang menganga.   Jam istirahat dimulai. Siswa berbondong-bondong menuju tempat jajan seolah-olah seluruh isi dari tempat jajan itu akan habis. Keramaian mencadi ricuh ketika mereka saling mendorong. Dan di sinilah Osaka, di tengah kerumunan singa lapar yang sedang mengantre.Setelah selesai membeli makanan, Osaka dan Tamaki menuju tempat biasa mereka menongkrong, yaitu belakang sekolah. Belum sampai di sana, Osaka mendengar suara baku hantam dari arah sana. "Kayaknya ada yang lagi berantem, nih,” gumam Osaka. "Iya, kita intip, yuk!" sambung Tamaki, Osaka mengangguk setuju. Perlahan lahan Osaka melangkahkan kakinya ke arah suara itu berasal. Terlihat tiga orang siswa senior yang sedang menindas seorang siswa, Azuki.  Osaka melebarkan matanya, "Loh, itu—" telunjuknya mengarah ke Azuki. "Kau kenal?" bisik Tamaki. "Ya, begitulah. Dia siswa baru di kelasku."  "Oww, Shin yu sei, kah (Murid baru ya)?" mereka pun kembali fokus menyaksikan. "Anak baru harus menuruti apa kata seniornya. inilah akibatnya jika kau membangkang,” kata salah seorang dari siswa senior dengan angkuh. Ah, aku juga pernah menindas orang, tapi kakak kelas. Aku ingat uang mereka banyak sekali, aku lega aku menjarah mereka sebelum pergi, batin Osaka. Begitu dia ingin mendekati mereka, Tamaki menarik tangan Osaka, menahannya pergi. "Kau mau ngapain?" Bisik Tamaki. "Aku ingin bergabung dengan mereka. Aku juga ada masalah sama si anak baru." Osaka berusaha melepaskan tangannya, tapi malangnya Osaka, cengkeraman Tamaki cukup kuat.  "Jangan. nanti kau—" Belum sempat Tamaki melanjutkan kata katanya, Terdengar suara pukulan. Namun, kali ini bukan Azuki yang dipukul, melainkan orang yang menindasnya lah yang dipukul. "Sudah cukup." Azuki berdiri mengusap samping bibirnya yang berdarah.  "Kalian memuakkan,” dia mengucapkannya dengan ekspresi datar, tapi membuat bulu kuduk para senior belagu di depannya serta Osaka dan Tamaki bergidik. "Pertunjukan baru saja dimulai,” gumam Tamaki sambil tersenyum antusias. Osaka hanya bisa melongo saat Azuki memulai aksinya. Dia dengan lincahnya berjalan di dinding lalu melompat menindih dua orang laki-laki secara bersamaan. Saat seorang laki-laki ingin menyerangnya, Azuki menunduk lalu menyundulkan kepalanya tepat di d**a lelaki itu, sementara tangannya menyerang bagian perut. Atraksi singkat yang di pimpin oleh Azuki telah selesai. Azuki menghela nafas. "Pertunjukkan telah selesai. ayo pergi!" Ucap Tamaki sambil melangkah pergi, namun Osaka yang terdiam di tempat merasakan ada yang aneh. "Tunggu dulu." Osaka menatap serius udara di sekitar Azuki yang terlihat agak berwarna di mata Osaka. "Apa?" sahut pelan Tamaki. Tiba tiba ada suara benda terjatuh. Tanpa disangka, Azuki telah jatuh tak sadarkan diri. "Yoshida!" Osaka dan Tamaki menghampirinya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN