STEP 1

1151 Kata
"Tenang saja, pendarahannya tidak terlalu parah. Sebentar lagi dia siuman," ucap seorang perawat di UKS. Mendengarnya, Osaka sedikit lega.  "Aah, Syukurlah," kata Tamaki sambil mengusap usap d**a. "Untung saja kalian cepat-cepat . Kalau tidak, darah di kepalanya akan terus mengalir. Aku akan mengambil perban baru sebentar, jadi tolong jaga disini sampai aku kembali." Perawat itu pergi meninggalkan mereka bertiga. "Oh, iya. Makanannya aku tinggalkan di belakang sekolah." Kata Tamaki. Osaka melipat tangannya. “Seharusnya kita tinggalkan saja dia di sana.” Tamaki menepuk bahu gadis itu dengan kencang. “Aw!” seru Osaka. "Kau tidak boleh begitu. Dia bisa saja mati,” tegur laki-laki berambut coklat itu. Dia mulai berjalan ke luar UKS, “Aku ambil makanan kita dulu.” "Umm, Arigatou nee (terima kasih, ya),” kata Osaka. Gadis itu kembali menatap Azuki, dia mendekus. "Dasar, kau harusnya tidak sok-sokan melawan,” gumamnya. "Mereka yang memulai, jadi aku hanya sekedar meladeninya." Osaka hampir terkena serangan jantung ketika mengetahui Yoshida telah bangun. Dia bangkit dan duduk, memegang kepalanya yang terbalut perban. Osaka mengulurkan tangannya, bermaksud untuk memperbaiki kain perban Azuki yang hendak lepas "Jangan memaksakan diri. Kau butuh—“tapi Azuki menepis tangan Osaka dengan kasar. "Aku tak butuh bantuanmu." dia berdiri lalu berjalan keluar. Sebelum dia menutup pintu, Azuki berkata dengan nada dingin. "Aku tidak tau kau apa, tapi keberadaanmu sangat ganjil. Lebih baik kau pergi dari sini."  Osaka membelalak mendengar perkataan Azuki. Dia mendengar ucapan menyakitkan itu lagi. Sejak dia kecil, banyak orang bilang dia aneh, terlalu brutal untuk seorang perempuan, bahkan banyak yang menyamai dia dengan hewan buas. Padahal, mereka yang membuat gadis itu naik darah sehingga Osaka melawan. "Osaka!" Siswi itu menyalang saat mendengar suara Tamaki. Dia mengangkat kepalanya, menghadap Tamaki yang menatapnya panik. "Osaka! kau kenapa?" Osaka bingung menatap sekitar, dengan alis yang menaut, dia kembali melihat Tamaki. "Ti-tidak apa apa," Lirihnya. "Ini makananmu,” kata Tamaki seraya memberikan makanan Osaka. "Yoshida ke mana?" tanya Tamaki mendapati semua kasur di UKS kosong. "Dia pergi." "Doko (kemana)?" "Entahlah,” Osaka kembali ke kelasnya dengan kepala yang masih terhuyung huyung. Lalu dia melihat Oka dan Oga yang saling berdiri berhadapan menghalangi jalan. "Oh, Osaka. Kau—" Belum sempat mereka melanjutkan perkataannya, Osaka langsung menutup mulut mereka. "Diam! aku sedang pusing." Mereka saling menatap heran. Ketika Osaka melihat sekitar, Osaka mendapati Yoshida yang menyandarkan kepalanya ke meja di bangkunya. Osaka kembali ingat saat dia menolak bantuannya dan mengatakannya berbeda. Osaka mendecih-Aku tau kita sama sekali belum tau masing-masing. Tapi ya, niatku itu baik! Dan dia malah bicara begitu? Hah! Yang benar saja!! Saatnya.. Untuk.. BALAS DENDAM ! Dengan perlahan lahan, Osaka mendekatinya, lalu— Buk! Osaka memukul belakang kepala Azuki dengan sikunya lumayan keras. Azuki membelalak, mengangkat kepalanya, menatap Osaka sinis. "Kita impas." Osaka berjalan pergi. Tak terima, Azuki bangun, menonjok belakang kepala Osaka hingga Osaka terpental ke depan. Osaka bangkit sambil mengerang, lalu menatapnya dengki, "Kau mau bermain denganku? oke!" raung Osaka. Siswa-siswi yang melihat mereka terpaku tak bisa bergerak atau tak menyangka kalau Yoshida akan membalasnya. Oka dan Oga datang menahan Osaka dan Azuki sebelum mereka membuat kekacauan yang serius. "Sudahlah, Osaka! Dia tak pantas menjadi lawanmu," ucap Oka. "Iya, lebih baik kau mencari lawan yang lebih tangguh," sambung Oga. Osaka pun menurut dan menjauh. Osaka duduk di bangkunya Sementara Oka dan Oga berada di depan Osaka. "Kenapa kau memukulnya?" tanya Oga. "Karena aku ingin!" jawab Osaka dengan singkat tepat dan jelas. "Setiap hari kau memang melakukannya." Pagi berikutnya Osaka sambut dengan geram. Semalam, dia bermimpi dikalahkan oleh Azuki di ring tinju. Itu cuma mimpi. Tapi itu membuat Osaka naik darah di pagi hari ini. Dia melampiaskannya dengan meninju bantal dan kasurnya. Pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. “Onee-chan, pagi!” seru Asa, adik perempuannya. Dia menghampiri kakaknya, memeluk punggungnya dari belakang. “Sarapan sudah siap, Kak! Aku loh yang membuatnya.” Keimutan adikknya sekejap membuat Osaka lupa dengan kemarahannya. “Eh, sungguh? Kalau begitu, aku akan menghabiskan semuanya.” Mereka berdua turun dari lantai dua. Ibunya memekik kaget melihat rambut putri pertamanya yang berbelok ke segala arah bagai jalan raya di kota padat penduduk. “Tidak, kau tidak boleh makan dengan penampilan begitu!” “Tapi aku ingin sarapan—“ Ibunya membungkam mulut gadis itu dengan jari telunjuknya. “Cepat mandi, pakai seragammu. Setelah itu kau boleh sarapan.” Osaka tak bisa melawan. Dia pernah melawan, ternyata ibunya sangat seram ketika marah. Lebih seram dari dirinya. Jadi lebih baik dia menurut sebelum setengah rumah hancur karena perdebatan kecil ini. Usai bersiap, Osaka berangkat. "Ohayoo (Pagi)!" Tegur Tamaki yang menepuk pundak Osaka. Dia melihat Osaka yang baru keluar dari rumahnya dan langsung mendekati gadis itu. "Pagi." Osaka baru menyadari kalau Tamaki memegang buku yang berjudul 'Rumus Matematika Lengkap'. Osaka mengerutkan dahi, sebentar lagi ada tes ya? "Kenapa kau membaca buku yang menyeramkan itu di pagi hari?" ujar Osaka. "Aku tidak ingin mendapat nilai rendah," ucapan bijak dari Tamaki malah membuat Osaka merasa aneh. Sejak kapan dia jadi serajin ini? pikirnya sambil menaikkan sebelah alis. Mereka berpisah begitu hendak menaiki tangga ke gedung dua. “Kau mau ke mana?” tanya TamakI menyadari Osaka tak ikut ke atas. “Belakang sekolah, aku ingin tidur. Dah!” tuturnya seraya melambai. Bagian belakang sekolah cukup luas dan rindang. Rumputnya subur dan rajin di pangkas oleh pihak kebersihan, ditambah ada pohon sakura besar yang tumbuh disana. Pohon sakura itu sudah ada sebelum sekolah ini dibangun, kepala sekolah tidak ingin menebangnya karena pohon ini istimewa menurutnya. Osaka duduk bersandar pada batang pohon yang bunganya masih kuncup itu. Semilir angina menerima kedatangannya, membelai helaian rambut sepundak Osaka, memberikan kesejukan di sekitarnya. Matanya yang mulai mengantuk perlahan mengatup. Rooaarrr! Osaka kaget, langsung mengambil gerakan cepat untuk melihat sekitar. Dia mendapati makhluk yang sangat buruk rupa dan mengerikan sedang berlari. Matanya yang bukan berwarna hitam-putih melainkan berwarna kuning keemasan dan hitam. Osaka mengerjap begitu dia melihat Yoshida yang berlari dan berhenti di hadapan monster itu. “Eh?” gumamnya bingung. Siswa berambut biru gelap itu memegang s*****a tajam dengan pegangannya yang panjang (Sabit). Osaka mempertanyakan untuk apa Azuki memegang itu. "Jangan coba-coba untuk melarikan diri, kau sudah tertangkap,” ucap Yoshida, Osaka seketika menutup mulutnya yang menganga-dia mau membunuh monster itu?? Monster itu berlari menuju Azuki dan berusaha menerkamnya dengan cakar yang lumayan besar dan tajam. Namun, siswa itu menginjakkan kaki ke cakarnya, melompat ke belakang monster itu kemudian menebasnya dengan s*****a yang dia pegang sepanjang punggung monster itu. Osaka mengepalkan tangannya, terbawa suasana. “Ayo. Bunuh, bunuh, bunuh!” gumamnya semangat. Azuki mengakhiri duelnya dengan menebas leher monster itu, membuat lehernya terputus. Monster itu lenyap dan berubah menjadi butiran pasir hitam. Saat Osaka ingin pergi, ia tak sengaja menginjak ranting dan membuat Azuki melihat ke arahnya, lalu menghilang dengan cepat. "Kemana dia?" gumamnya pelan. Azuki muncul di belakangnya, langsung memukul tengkuk Osaka. Membuat Osaka jatuh pingsan. Tak ku sangka dia menguntitku saat Azuki bertugas membunuh xytax (dibaca saitext)itu, pikirnya. Monster yang menjadi hama kedamaian dunia itu menghipnotis manusia untuk dijadikan pengikutnya. Alasan mereka belum jelas. Yang pasti, itu membuat kecemasan timbul di masyarakat, terutama di Tokyo ini. "Haruskah aku membunuh dia?" gumam Azuki yang kembali mengeluarkan sabitnya dan mengarahkannya ke Osaka. 'Azuki, apa kau sudah selesai?' Suara seorang laki-laki keluar dari Wireless earphone di telinga kiri Azuki. Berhubung warnanya sama dengan warna kulit Azuki, jadi benda itu tidak terlalu terlihat. Dia menekan tombol yang berada di tengah Earphone-nya, merespons pertanyaan dari seberang. "Sudah, Riichi-sama. Tapi, ada kendala saat ini." “Hmm?” "Ada yang melihatku saat memburu Xytext. Bagaimana menurut Anda?"tanya Azuki. Komandannya menjeda pembicaraan. “Bawa kesini, aku yang akan mengurusnya.” "Siap!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN