STEP 2

1001 Kata
Osaka membuka mataku yang terasa berat. Penglihatannya yang semula buram, menjadi jelas. Dia meringis sambil memegang belakang kepalanya yang terasa nyeri. Rasanya seperti ada yang memukulku. Apa si Oga dan Oka? Pikirnya. "Ah, bagus. Kau sudah bangun." Gadis itu menatap ke ambang pintu yang terbuka. Masuklah seorang bocah dengan jas berwarna hitam dengan bordiran perak bertuliskan M.K.O. di bagian d**a kirinya. Rambutnya pirang alami, dengan mata coklat terang. Osaka langsung tau dia bukanlah orang jepang asli. "Siapa?" Bocah itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Alexander Riichi." "O-Osaka Maname." Osaka menerima jabatan tangannya dengan bingung. "Lama sekali kau pingsan. Aku sempat bingung bagaimana nanti kalau kau tidak bangun-bangun." Osaka mendelik, "Lama? memangnya sekarang jam berapa?" tanyanya. Riichi menunjukkan jam tangan yang menempel di lengan kirinya, menunjukkan waktu 15:35. Matanya menyalang. "S—sungguh? Selama itu?" Riichi mengangguk. Osaka menyebarkan pandangan ke setiap sisi ruangan. Layar monitor cukup besar tertanam di sisi kiri jika dilihat dari arah masuk. Meja-meja besi disusun menjadi meja panjang tak jauh dari layar monitor. Sofa berwarna ungu dengan panjang kurang lebih 2 meter terdapat di sisi depan yang saat ini Osaka jadikan tempatnya duduk. "Ini ... dimana?" "Ini ruang kerjaku,” jawab Riichi santai, duduk di sofa kecil, menghadap siswi yang semakin bingung itu. "Ruang kerja? Siapa?” Osaka menunjuk Riichi, “Kau?" Riichi menaruh telapak tangannya di dadanya. "Aku,” responsnya sambil menarik sudut bibir. Gadis itu mendekus. “Tidak mungkin. Apa kau semuda itu untuk bekerja?” tudingnya disusul tawa. “Aku rasa kita seumuran.” Osaka terdiam, dia menaruh telapak tangan di puncak kepalanya. “Tapi tinggimu—“ Riichi menutup mulut Osaka, menatapnya sinis. “Sekali lagi kau bicara soal tinggiku, kau tidak akan keluar dari tempat ini dalam keadaan utuh.” Gadis itu agak ngeri, dia mengangguk asal. “Bagus. Lagipula, yang harusnya diwawancarai saat ini bukanlah aku. Tapi kau, Osaka Maname,” tuturnya. Alis Osaka bertautan. Riichi melepas tangannya dari mulut Osaka, lalu dia bersedekap. “Siapa kau?” “Siapa kau harus tau siapa aku?” kata Osaka emosi. Dia tak mau membuang-buang waktu pada orang asing tak jelas seperti Riichi. Dia berdiri dan berjalan mendekati pintu. Namun, pintunya terkunci. Riichi berbalik. “Pintu itu hanya bisa dibuka oleh sidik jari atau suaraku. Kalau kau ingin keluar, jawab pertanyaanku sekarang, Osaka. Makhluk sepertimu tidak boleh berkeliaran seenaknya.” Osaka meradang. Dia mengepalkan tangannya. “Makhluk sepertiku? Apa yang kau bicarakan?” dia melangkah mendekati Riichi, menatapnya sinis. “Apa kau ingin mengejekku monster juga? Kau ingin berkata kalau aku tak pantas hidup?” Suaranya mulai meninggi. “Aku hanya ingin tau, kenapa kau memiliki aura yang aneh. Bukan aura manusia.” “s****n!” Osaka melayangkan tinjunya. Riichi menahannya dengan mudah. Osaka yakin kalau laki-laki pendek itu tidak akan berani padanya, tapi dia ditampar oleh kenyataan. Riichi bahkan tidak gemetaran, dia tak berkutik atau takut pada Osaka. “Kau pasti meremehkanku tadi, ya?” Riichi mendekus, menepis kepalan tangan Osaka. “Aku tidak mengejekmu monster, aneh atau apa pun itu.” Osaka masing meradang. “Lalu?” “Azuki mendapati kau sedang menguntitnya bertugas. Apa kau paham apa yang dia lakukan saat itu?” “Bertugas? Azuki? apa kalian semacam perkumpulan berandal rahasia?” Riichi merapatkan bibirnya. Enak saja markas besarku dibilang perkumpulan berandal! Batinnya. “Bukan. Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa kau benar-benar melihat dia bertugas?” “Aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan bertugas, tapi orang itu membunuh makhluk menggelikan yang tak pernah kulihat sebelumnya,” jelas Osaka. Riichi bungkam. Dia menatap langsung ke mata Osaka. Gadis ini bicara jujur, pikirnya. “Kau bisa melihat makhluk itu? Bagaimana ciri-cirinya?” “Aku hanya melihatnya dari kejauhan! Dia bermata kuning kalau tidak salah, bertubuh besar dan—“ “Ya ampun!” sela Riichi. Osaka mengumpat, mengelus dadanya. Dia juga ikut terkejut. “Apa?” “Aku rasa kau orang yang ku cari,” ucap Riichi sambil tersenyum girang. Osaka mengernyit, kenapa sifat orang ini berantakan sekali? “Kau mencariku?” ulang Osaka. Riichi mengangguk. “Sebelumnya maaf membuatmu emosian, kau boleh pulang sekarang. Azuki akan mengantarmu. Tapi aku ingin kau kembali lagi ke sini  esok hari. Oh iya, jangan beberkan pertemuan ini pada siapa pun.” “Apa sih maksudmu? Aku tidak mengerti!” “Azuki!” seru Riichi. Tak lama, Azuki masuk. “Iya, Riichi-sama?” “Riichi-sama?” ulang Osaka dengan tak percaya. Riichi mendorong Osaka untuk keluar dari ruangannya. “Antar gadis ini pulang. Besok, jemput dia lagi. Oke? Bye! Sampai jumpa lagi.” Brak! Pintu pun tertutup. *** "Portal? yakin aman?" tanya Osaka ke Azuki dengan sebuah portal lingkaran besar berwarna kilat biru di depan mereka. Melihat kilatnya saja sudah membuat perasaan buruk menyelimuti benak. "Ujung portal ini, ada di depan gudang sekolah.” "Gudang sekolah? siapa yang memasangnya?" "Aku," ucap Azuki. Osaka ber-oh ria. Pertama Azuki yang masuk dalam portal itu, lalu Osaka pun menyusul. Setelah masuk, tiba-tiba badan mereka menghilang secara perlahan dari bawah ke atas. Osaka kaget, seketika dia memejamkan mata. Berharap dia sampai secepatnya. Sekilas dia mendengar dengungan halus yang kemudian lenyap. "Baiklah kita sudah sampai." Osaka membuka mata, dan melihat sekitar. Lokasi yang sangat dia kenal. "Gudang sekolah …." "Dah," ucap Azuki. "T-tunggu!" Sela Osaka, Namun Azuki sudah tak terlihat lagi. "Sudah pergi? Secepat itu?" Osaka berjalan pulang, masih memikirkan hal-hal yang baru dia dengar beberapa saat yang lalu.Aura? aura apa sih yang dia bicarakan? apa dia cenayang? "Tadaima (aku pulang)!" ucap Osaka saat dia sampai di rumah, membuka pintu, melepas sepatunya lalu menaruhnya di rak. "Okaerii (selamat)...," balas Tamaki seperti suara mengeram dari belakang Osaka. Seketika Osaka merinding. Dengan perlahan dia lihat siapakah yang berada di belakangnya ini. Mendapati Tamaki dengan wajah super kesalnya, Osaka berkeringat dingin sambil meneguk ludah. "T-ta-tamaki?" ucapnya sambil bersender di pintu sementara Tamaki mendekat lalu meraih belakang kerah Osaka dan menariknya. "Ayo bicara." Osaka hanya bisa mengangguk, membiarkan dirinya diseret ke kamar Osaka yang berada di atas. Setelah sampai di kamar Osaka, Tamaki duduk di bangku sementara Osaka duduk di lantai dengan kaki yang terlipat rapi seperti babu yang berhadapan dengan majikan. "Jadi, dari tadi kau ada di mana?" tanya Tamaki, urat di pelipis dan di lengannya terlihat tegang. Osaka sangat mengenal Tamaki, laki-laki itu menguasai taktik bertarung yang lebih beragam dari Osaka. Jadi, ada kemungkinan Osaka langsung kalah kalau melawan Tamaki. Lagipula, dia tidak mau melawan sahabat kecilnya itu. "Eungg …," Osaka berpikir mencari alasan yang tepat. “Itu, aku sakit perut jadi aku ke uks." Kata Osaka dengan asal. Tamaki terdiam, lalu ekspresinya menenang. “Oh, kau harusnya bilang.” Osaka menghela napas lega begitu Tamaki berjalan menuju pintu. "Tapi—" Osaka kembali menegakkan kepalanya saat mendengar Tamaki lagi. "Lain kali kau harus mencari alasan yang tepat," ucapnya yang keluar dari kamar Osaka. Osaka memegang kepalanya—Bagaimana ini? Tamaki memang tau betul tentang diriku. Berbohong saja ketahuan. Jangan-jangan nanti dia akan mencari tau sendiri? Batinnya panik. "Mati aku."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN