STEP 3

1514 Kata
Asa terus meraung sambil mengguncangkan badan Osaka, berharap kakaknya segera membuka mata. “Onee-chan, banguuun!” "Hehehe." Entah sedang bermimpi apa, Osaka mengeluarkan tawa kecil bersama senyum tipis. "Kaak! Kau akan terlambat sekolaah!" kata asa yang masih berusaha membangunkan kakaknya. Adiknya mencoba cara lain, dia mencubi hidung kakaknya dengan kuat. Kakaknya langsung membuka mata. "Aaaa!” Osaka bangkit sambil mengusap-usap hidungnya. Kakaknya menatapnya sebal. "Asa, kau mau membunuhku?" “Mau bagaimana lagi, kakak gak mau bangun. Sudah cepat sana mandi!" perintah asa yang langsung keluar kamar kakaknya. Osaka pun beranjak dari tempat tidurnya, mau tidak mau berangkat ke tempat menuntut ilmu yang hanya dia anggap tempat tongkrongan. "Pagi.” Siswi yang baru saja membuka pintu rumahnya itu terkejut. Dia sampai menjatuhkan roti panggang yang dia apit di mulutnya. "Pa-pagi … ah, rotiku.” Mereka berdua melangkah dalam hening. Osaka melirik Tamaki, hmm ... Dia tidak terlihat curiga padaku. Yosh! Semuanya baik-baik saja. Pikirnya. Tamaki berkutat dengan segala intuisinya di balik ekspresi biasanya. Osaka yang tiba-tiba pergi tanpa memberi tau alasan serta tujuan cukup mencurigakan untuk Tamaki. Karena Osaka tidak pernah bermain rahasia rahasia-an dengannya. Sekalinya gadis itu memiliki rahasia, dia malah membagikannya pada Tamaki. Selang beberapa menit, mereka sampai di sekolah. Saat Osaka dan Tamaki sudah berada di depan tangga menuju ruang kelas, gadis itu ditarik oleh Azuki agar tidak menaiki tangga. "Eh?" Osaka berhenti sambil menoleh. "Aku menjemputmu." Azuki menarik tangannya untuk pergi bersamanya. Tapi, Tamaki menghadangnya dengan menarik tangan Osaka yang satunya. "Kau mau bawa dia ke mana?" ucap Tamaki. Azuki menatap siswa itu dingin. "Bukan urusanmu, lepaskan dia," ucapnya tak mau kalah. "Bukan urusanku? Kalau begitu aku tidak akan melepasnya," kata Tamaki.  Jengkel, Azuki mendekatkan tangannya ke Tamaki. Sebuah cekungan biru muncul dan membuat Tamaki terlempar menabrak tembok. "T-Tamaki!" Osaka berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa. Genggaman Azuki terlalu kuat. Azuki pun membawa siswi itu lari menuju depan gudang sekolah dimana portal itu berada. Sampainya di depan gudang, namun anehnya, tidak ada portal itu. "Oi! Kenapa kau—" "Diamlah, nanti kita ketahuan," sela Azuki. Azuki menaruh tangannya di dinding depan gudang, tiba-tiba muncul tulisan Romawi biru lalu melebar hingga tercipta sebuah portal yang serupa seperti kemarin. "Cepat masuk," ucap Azuki yang memasuki portal itu diikuti Osaka. Tak lama setelah portal lenyap, Tamaki sampai di sana. Menatap sekitar dengan terengah-engah, dia menautkan alisnya. "Apa-apaan yang tadi itu?" Tubuh mereka muncul di seberang portal, di depan mereka Riichi sudah menunggu dengan cangkir teh yang masih mengepulkan uap panas. "Yo! Osa-chan." Osaka membuka matanya. "Osa-chan?" ulang Osaka, tak terima di panggil demikian. "Memangnya kenapa? kan lebih mudah begitu, Osa-chan.” Osaka memutar bola matanya, "Jadi, kenapa aku harus ke sini lagi?" "Aku ingin menjalankan sebuah tes padamu. Tes darah." Gadis itu mendelik. "Tes darah, maksudnya?" "Darahmu akan di uji coba olehku. Jika pada dasarnya manusia memiliki trombosit sekitar 0,6 - 1,0% dan sel darah putih 0,2 %. Maka, keturunan reaper memiliki trombosit dan sel darah putih di atas rata-rata tersebut. Jadi, luka mereka cepat sekali sembuh." Riichi memakai sarung tangan putih, serta memegang tabung kaca kecil. "Karena keturunan reaper memiliki 54% sel darah merah, mereka tidak akan terkena penyakit leukimia. Intinya, darah mereka berbeda dari manusia biasa." Ruangan lengang. Siswi itu berkedip bingung. Aku tak mengerti, batinnya. "Baiklah, bisa kita mulai?" tanya Riichi. Osaka mengangguk ragu dan mengikutinya ke luar menuju ruangan laboratorium, sementara Azuki, duduk di sofa ungu menunggu hasil. Tamaki menggerutu sendirian di belakang sekolah, sambil mengisi perutnya. Osaka menghilang lagi. Aku yakin yang kemarin pun karena anak baru itu juga. Setahuku hubungan mereka tidak baik ... Kenapa tiba-tiba mereka jadi berteman? "Positif!" Raung Riichi yang membuat Osaka melonjak kaget dan ikut meninggikan suaranya. "A-APAAA?! POSITIF?" "Ya, Kau positif punya darah Reaper, selamat!" ucapnya tersenyum licik. Osaka mengusap mulutnya setelah menelan biskuit. “Reaper? Malaikat kematian?” gumamnya. Riichi mengangguk girang, laki-laki itu tak hentinya ber-yes dan bergoyang. Osaka menyaksikannya dengan dahi mengerut. Azuki sendiri sudah biasa melihat kelakuan bosnya, jadi dia hanya meminum teh dengan tenang. “Memangnya malaikat kematian itu ada?” Azuki tersedak, Riichi tersandung kaki meja, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Laki-laki pendek itu melongo. “Tentu saja ada, maksudku keturunannya.” “Keturunannya?” Osaka menyalang, menunjuk dirinya sendiri. “Aku keturunan Reaper?” Riichi menepuk pundak Osaka. “Ya, kau. Kau keturunan Reaper.” Osaka mengusap hidungnya, mendekus dan menarik sudut bibirnya lebar. “Aku malaikat kematian! Uwoooh, kereeen!” serunya. “Ya, kan? Kereeen!” lanjut Riichi. Riichi dan Osaka bergoyang-goyang aneh, Azuki mengumpat dalam hati. Osaka seketika terdiam. "T-ta-tapi, bagaimana? ibu dan ayahku tidak menceritakan sesuatu tentang Reaper?" "Kemampuan Reaper hanya akan muncul pada usia 15 tahun dan akan hilang di usia 25 tahun." "B-berarti adikku Asa-chan." "Belum tentu." Osaka diam. "Heh?" "Walaupun jumlah anak pada orang tua keturunan Reaper itu banyak, hanya ada salah satu yang akan mewarisinya." ucap Riichi. Jadi, orang tuaku dulunya malaikat kematian? pikirnya. "Ayo, ikut aku." ucap Riichi, bangkit dari duduknya, berjalan mendekati pintu. "Kemana?" Riichi membuka pintu, kepalanya menoleh pada Osaka. "Aku akan memberimu sesuatu." Mereka keluar dari laboratorium, Osaka mengikuti Riichi yang mengambil jalur sebelah kanan dari ruangan yang baru di tinggalkan. Sampai di pintu ruangan selanjutnya, mereka berdua berhenti di depannya. Riichi menggeser potongan besi pipih yang menutupi sensor sidik jari, serta tombol password. Osaka ber-Wooh, mendengarnya membuat Riichi tertawa kecil. "Sabar, ini adalah awal dari segalanya." Terdengar suara ding, seketika pintu bergeser ke kanan, menampakkan ruangan gelap dan suhu dingin merambat keluar dari sana. Riichi masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu. Sontak Osaka memekik, mulutnya dan matanya terbuka lebar menatap isi ruangan di depannya. Belum masuk pun, ruangan itu terlihat ramai oleh beraneka ragam s*****a. Dari yang berukuran kecil, beracun paling mematikan, sampai yang berukuran besar dan berkamuflase. "Ini gudang s*****a M.K.O.. Ada jenis shotgun, air g*n, Hand g*n, HK, MP, AWM, AK, Sniper, STR, SHR, dan jenis peluru action axpress, magnum, ACP, S5W, Long rifle, British, SAW, pederson, remington. Pedang, belati, dan bom pun tersedia disini." Riichi mengambil hand g*n, memberikannya pada Osaka. Seketika siswi itu membeku, kulitnya bergidik dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. "WG CJ75, Dengan sistem 6mm single shoot membuatnya lebih tepat sasaran. Beratnya 520 g, tidak terlalu berat jadi gampang digunakan dan nyaman dipegang. Lalu pelurunya," ucapnya lagi menaruh kotak besi peluru seperti tempat perhiasan di telapak tangan Osaka yang satunya lagi. "17 hornady mach 2, ujungnya tajam. Lumayan mematikan, terbuat dari perunggu dengan panjang 6,25 cm dan berat 3,24 g." jelasnya lagi. "Ja-JAUHKAN INI DARIKU!" raung Osaka panik. Takut tiba-tiba pistol itu berbunyi sendiri dan menembaknya. Riichi tertawa, "Kau terlihat menyukainya, atau tida-" "Riichi!" "Iya, iya, iya!" Riichi menaruh kembali pistol dan kotak peluru ke asalnya. Setelah bebas dari benda dingin mematikan itu, Osaka mengusap telapak tangannya ke rok. "Apa aku harus menggunakan itu untuk membunuh monster? Aku tidak bisa." "Oh, tenang saja, kau akan dilatih disini, ayo ikut aku ke asrama." Ucapnya mulai melangkah keluar ruangan, Osaka dengan cepat mengekorinya. "Ada asramanya?" "Tentu, anggota kami bukan hanya dari keturunan Reaper, tapi dari orang-orang yang juga memiliki kekuatan dan keahlian." Riichi dan Osaka berjalan melewati lorong putih sampai ke ujungnya, kemudian mereka menyusuri  koridor penghubung yang terlihat seperti jembatan antara bangunan pertama dengan bangunan kedua. Di sisi kanan-kiri koridor penghubung itu terdapat rumput-rumput pendek, tak begitu luas karena langsung terhubung oleh area pepohonan. "Biar kujelaskan sedikit tentang M.K.O.. Monster Killing Organization, organisasi ini hanya ada di jepang anggota kami adalah anggota yang ampuh dalam mengejar target. Walaupun mereka masih dalam masa perkembangan, tapi ku akui, anggota M.K.O bisa dibilang setara dengan kemiliteran jepang. Beberapa dari anggota kami yang terdahulu sudah dikirim ke berbagai negara yang berpotensi sebagai sarang monster untuk mengatasi makhluk jahat di sana." Osaka mendengarkan sambil melihat sekitar. "Di bangunan pertama tadi, ada laboratorium, ruanganku, gudang s*****a, perpustakaan, dan UKS. Sedangkan di bangunan kedua ada asrama, dapur, pemandian air panas, ruang makan, ruang latihan dan ada lapangan luas di area belakang." "Tunggu, apa cuma aku yang masih bersekolah disini?" sela Osaka. Riichi tertawa kecil, "Tenang saja, banyak anggota disini yang masih bersekolah." Riichi dan Osaka tiba di depan pintu kayu berukuran sedang, Riichi masuk diikuti Osaka. Ruangan itu adalah asrama laki-laki. Para anggota M.K.O yang sedang beraktivitas langsung memberi hormat kepada Riichi. "Selamat pagi, Riichi-sama." ucap mereka serentak. Osaka menyipit matanya ke Riichi, Sepertinya anak kecil di depanku ini benar-benar dihormati, batinnya. "Wohoo, siapa gadis imut ini, Riichi sama?" ucap seseorang yang secara spontan merangkul Osaka. Tanpa pikir panjang Osaka langsung membantingnya. "Aww, aku lengah. Gadis ini kuat sekali." ucapnya bangkit berdiri sambil memegangi punggungnya, berjalan menjauhi Osaka. "Jangan sembarangan menyentuhnya, Kou. Perkenalkan, dia Osaka Maname. Mulai hari ini dia menjadi anggota M.K.O. sebagai keturunan Reaper." begitu kalimat itu terucap, semua laki-laki itu mengerjap lalu memandang kaget ke arah Osaka. Melihat banyak mata yang menatapnya, Osaka jengkel. "Apa yang kalian lihat-lihat!" "Perempuan ini? anda yakin Riichi-sama?" tanya seorang laki-laki yang duduk di samping ranjang, Riichi duduk di salah satu kursi meja belajar milik para penghuni asrama. "Dia sudah menjalani hasil tes darah. Dan hasilnya positif. " "Dia, keturunan dari mayat ke berapa Riichi-sama?" "Kalau itu, masih rahasia. Aku harus memeriksa keluarganya lebih dulu.” "GEH?! KELUARGAKU PUN KAU PERIKSA?!" ucap Osaka kaget. "Ow, tenang saja, bukan tes darah. Garis keturunan." Osaka seketika bernafas lega mengusap dadanya. "Jadi, dia akan tinggal disini?" tanya laki-laki yang tadi Osaka banting. Sepertinya dia tidak merasakan sakit sedikit pun. "Di asrama perempuan, lah." "Ohh, sayang sekali." ucap laki-laki itu lalu berbaring ke ranjangnya. Osaka mengerjap, apa maksudnya sayang sekali? Ah! aku tau. "Kalau kau ingin bertengkar denganku, tenang saja, ku ladeni setiap hari," sergah Osaka ke laki-laki itu. "... tidak terima kasih," balas laki-laki itu. "Yang tadi kau banting itu namanya Kou, yang itu Shinji, yang itu Akabayashi, lalu Nao, Daiichi. Beberapa dari mereka ada yang ayahku bawa ke luar negeri untuk mendapatkan pelatihan yang lebih serius. Kuharap kalian berteman baik dengan Osaka."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN