Tamaki sedang berjalan di larut malam di temani sapuan angin yang cukup kencang, sambil membawa sekotak donat pesanan adik dan ibunya.
Dia bergidik memeluk dirinya kedinginan walau sudah memakai jaket-Begini nasibnya jadi anak pertama, setiap hari harus terpaksa pergi keluar rumah apalagi sedang dingin, hanya untuk membeli sekotak donat yang jaraknya lumayan jauh. s****n, kenapa sepeda tua itu segala rusak? Gerutunya.
Dia mengingat Azuki yang merebut Osaka dari tangannya tadi pagi. “Sebenarnya apa yang dia rencanakan dengan Osaka?” gumamnya jengkel.
Suara gemeresik semak-semak terdengar dari sisi jalan. Tamaki sepintas hanya memberi lirikan singkat pada asal suara. Menduga itu mungkin karena tikus atau binatang lain yang melintas.
Suara semak-semak yang berguncang kembali melintas, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Tamaki spontan menghentikan langkahnya, menatap lurus ke semak-semak di sana.
'Apa, sih?' umpatnya melangkah mendekat.
Langkah pertama, tidak terjadi apa pun. Dua langkah berikutnya terdengar kembali suara gemeresik pelan. Begitu Tamaki sampai di depan semak-semak berisik itu, tiba-tiba ada sesuatu yang melompat ke arahnya.
Siku lengannya yang menjumpai aspal lebih dulu tergores. Tamaki meringis, matanya mencoba menangkap figur wajah si pelaku yang mendorongnya.
Tamaki melihat seorang perempuan kecil dengan rambut kuning emas dengan warna mata yang sama, menatapnya lamat-lamat.
"Omae-sama (tuanku)...," ucapnya pelan. Suara bocah khas terdengar darinya.
"H-heh?"
"Omae-sama."
Tamaki bangun, gadis pirang itu turun dari badannya, duduk di hadapannya. Ia menatapnya dari atas ke bawah, dia hanya menggunakan baju terusan berwarna hitam berlengan tali-A-anak siapa ini?
"Aku bukan tuanmu," ucapku.
"Kamu tuanku mulai sekarang."
Laki-laki itu menghela napas. "Aku tak mau."
"Tuanku, apa yang kau pegang itu?" tanyanya sambil melihat bungkusan yang kubawa.
Baru hendak menjawab, suara lolongan dari perut anak kecil itu menyela. Tamaki melirik kotak donat yang dia pegang, lalu beralih ke air muka kelaparan anak kecil di hadapannya.
Menyerah, dia mengambil satu donat dari kotaknya, "Ini kalau ka-" belum sempat Tamaki menjawab, dia sudah mengambilnya dan memakannya sekali suap.
"Mmm, enak sekali!" ucapnya. Tamaki pun berinisiatif untuk memberinya lagi.
"Aku akan memberimu satu lagi, tapi kau harus menjauh." dia pun menurut lalu berdiri dan menjauh, Tamaki berdiri dan membersihkan bajunya. Dia meringis lagi, membuka jaketnya, melihat sikunya yang berdarah. Dia menyesal memakai jaket berbahan tipis, karena jaket itu tidak melindungi sikunya yang tergores aspal.
"Hah, padahal cuma tergores aspal...," ucapnya. Tiba-tiba gadis kecil itu mendekati dan memegang lengannya, m******t darah yang keluar dari luka di siku Tamaki.
"T-tunggu! apa yang kau lakukan?" dia tidak menjawab pertanyaan, ia berhenti dan mundur satu langkah dariku.
Entah kenapa badannya membesar dan menjadi seukuran remaja. Tamaki yang saat itu terkejut, melangkah mundur.
"Omae-sama." ucapnya lagi dengan senyuman, Tamaki bisa melihat 2 taring yang terpasang, seketika laki-laki itu bergidik. Tanpa aba-aba, dia berlari kembali ke rumahnya.
Osaka Maname menyipitkan matanya tak senang, menatap ke depan. Lebih tepatnya ke deretan orang-orang baru yang sedang dikenalkan oleh guru ke siswa-siswi kelasnya di pagi hari ini.
Selain Riichi, Osaka belum mengenal dua orang lain yang ikut berdiri di sampingnya. Tangan Osaka meremas lembaran halaman dari buku catatannya yang terbuka. Kenapa mereka bisa ada di sini? Geramnya dalam benak.
"Namaku Riichi."
"Namaku Akabayashi, saya akan menjadi guru bahasa Inggris baru di sini, salam kenal,” Ucap laki-laki yang memakai kacamata.
"Aku Daichi. Mulai hari ini akan menjadi guru olahraga kalian."
Sinar matahari yang menyusup dari jendela ventilasi di dinding kiri atas menyinari ketiga Ikemen (Cogan) itu. Membuat pesona mereka semakin menyilaukan pandangan siswi-siswi di kelas Osaka, selain dia.
"Kyaa! Riichi-kun kawai"
"Iya ya, aku ingin sekali mencubitnya!"
"Daichi keren ya, kesannya bad boys gitu."
"Akabayashi-sensei, ketampanannya sangat berbisa!"
Osaka menapakkan sikunya ke atas meja, lalu menopang dagunya sambil menggeleng pelan—Aku sama sekali tak mengerti. Mereka terlihat biasa saja, apalagi Riichi! Kenapa pihak sekolah menerima kurcaci jepang itu?
Selesai perkenalan, guru yang memperkenalkan orang-orang baru itu pergi keluar kelas, diikuti Akabayashi dan Daichi. Riichi menghampiri Osaka, memberikan senyum 3000 watt pada siswi itu.
"Yo! Osaka,” panggil Riichi. Osaka melebarkan matanya mengancam untuk tak mendekatinya. Alhasil Riichi cemberut.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Osaka kesal.
"Kau kan anggota baruku dan kau adalah keturunan Reaper yang belum jelas nenek moyangnya, jadi aku harus menyelidiki semua tentangmu dan keluargamu,” ucap Riichi memutar-mutar jari telunjuknya di depan wajah Osaka. Dengan sebal Osaka menepis jarinya.
Matanya menatap Riichi sinis—pernah aku merasakan ada yang mengintipku saat aku berpakaian di kamar. Apa itu dia?
Jam istirahat dimulai. Dengan kecepatan penuh, Osaka berlari menuju ruang kelas Tamaki karena ingin makan siang bersamanya. Tiba-tiba seseorang meraih kerah belakang Osaka, membuatnya tak secara langsung tercekik.
"Kau mau ke mana?" tanya si pelaku penarikan, Azuki.
"Ugh, lepaskan, aku mau ketemu Tamaki!" ucapnya berusaha melepaskan diri.
"Tamaki? Laki-laki yang kemarin itu?" tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?"
Azuki hening sekejap sambil membuang muka,"Oh, tidak apa-apa."
"Kalau tidak apa-apa, lepaskan aku! Aku ingin bertemu Tamaki." Osaka terus mencoba untuk menggapai tangan Azuki yang masih menarik kerahnya dari belakang, walaupun itu sulit.
"Riichi sama telah menunggu kita di seberang portal. Kita akan latihan menggunakan senjata." Bayangan benda berwarna hitam pekat yang dingin dan mematikan muncul di benaknya. Seketika dia memekik histeris.
"Tidaaak! Aku tak ingin menyentuh benda mengerikan itu lagi!"
"Berisik." Azuki pun menggeret Osaka sambil menutup mulutnya ke lapangan.
Tamaki yang baru saja keluar dari kelas, menatap Osaka dan Azuki yang menghilang pergi ke lantai bawah—Aku akan merebut Osaka kembali. Bagaimanapun caranya.
"Woy, Tamaki!" ujar seseorang yang menepuk pundak Tamaki, membuatnya menoleh.
"Istirahat bareng, yuk!" ucap Oka dan Oga.
Tamaki mengangguk."Yasudah, ayo."
"A-a-aku tidak bisa!”
Osaka merajuk dengan kedua kakinya yang gemetar saat disuruh menembak target oleh Riichi. Di tangannya sudah dia genggam—dengan terpaksa—pistol laras pendek dengan peluru terisi penuh.
"Bodoh, aku hanya menyuruhmu menembak kayu itu, kenapa kau terlihat seperti mau mati?" ucap Riichi sambil mengipaskan dirinya.
"A-aku belum pernah memakai s*****a seperti ini, Aku takut!"
Riichi menghela nafas lalu menghampiri Osaka. Membawa sebuah s*****a api berbeda jenis dari yang Osaka pegang.
"Dengar! Sebenarnya menembak itu sangat mudah. Pertama, kuatkan mentalmu untuk menembak, kedua lihat sasaran dengan jelas, ketiga sesuaikan posisimu untuk menembak agar tidak meleset. Lalu tembak." Riichi menembakkan pelurunya ke salah satu kayu berbentuk manusia tepat pada jantungnya.
"Sekarang giliranmu." Riichi kembali ke tempatnya berdiri tadi.
Baiklah, Osaka. Itu hanya sebuah boneka kayu. Kau hanya tinggal menembaknya, tepat sasaran, batin Osaka. Dia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dengan tenang.
Osaka menggeser kakinya, mengikuti posisi yang di anjurkan Riichi tadi, lalu menarik pelatuk seraya menutup mata.
"Payah." Ucap Riichi dan Azuki berbarengan. Osaka spontan membuka matanya, melihat lubang di bagian leher kayu berbentuk orang itu.
"Kan, aku sudah bilang, aku tidak bisa!" Raungnya. Riichi melirik jam tangannya.
"Wah, sebentar lagi bel akan berbunyi. Ayo masuk kelas," ucap Riichi mengantongi senjatanya lalu berjalan ke portal yang terbuka.