Osaka menuangkan teh hangat ke yunomi (cangkir berbentuk tabung silinder yang biasanya terbuat dari keramik) yang sudah berada di atas nampan, beserta dua piring kecil berisi Dango (Camilan khas berbentuk bulat kecil berwarna putih, hijau muda, dan pink cerah yang ditusuk).
Raut wajahnya yang jengkel membawa nampan itu ke tamu yang sangat tidak dia inginkan. Dengan sengaja dia membanting nampan itu begitu hendak menaruhnya di atas meja. Membuat Riichi sontak kaget.
Setelah jam sekolah berakhir, Riichi menguntit Osaka yang berjalan kaki menuju rumahnya, bersama Azuki. Makanya, mereka tau di mana Rumah Osaka berada.
"Oh, kalian berdua teman sekelasnya, apakah putriku suka berbuat onar di sana?" tanya Ibunya Osaka dengan ramah. Osaka memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan Riichi dan Azuki.
"Tidak kok, putri anda anak yang baik, nyonya. Saya senang berteman dengannya,” jawab Azuki yang juga terlihat ramah. Melihat penampakan itu semakin membuat Osaka memicingkan matanya ke arah Azuki dan Riichi bergantian.
"Eeh, tak usah memanggilku nyonya, panggil saja Okaa-san," ucap sang Ibu sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.
"Baiklah, Okaa-san,” ucap Azuki.
"Saya dengar kalau Osa-chan punya adik, apakah saya boleh mengobrol dengannya?" tanya Riichi.
"Oh, maksudmu Asa? dia sedang sekolah,” jawab Ibu sambil tersenyum.
Osaka mendelik—untuk apa Riichi mencari adikku? Bukannya dia sudah bilang kalau hanya aku yang memiliki kekuatan Reaper di keluargaku?
"Baiklah, saya ingin menanyakan sesuatu dan saya mohon anda mau menjawabnya dengan jujur,” ucap Riichi dengan suara yang terdengar serius sambil mengaitkan jari tangan kanannya ke jari tangan kirinya. Matanya yang menyipit ramah hilang, menjadi tatapan fokus.
"Shinigami, shiteimasu kah? (malaikat kematian, apakah anda mengetahuinya?)" tanya Riichi, Ibu diam sejenak.
Matanya mengarah cemas ke Osaka yang sedang mengunyah Dango. Riichi sudah tau kalau Ibu Osaka mengetahui maksudnya. Tapi yang dia inginkan adalah kejujuran.
Atmosfer yang mulai terasa berat itu terhempas saat pintu rumah Osaka terbuka.
"Tadaima (aku pulang)," ucap Asa yang tiab-tiba membuka pintu lalu masuk dan terkejut melihat kami.
"Okaeri, Asa-chan," seru Riichi dengan raut wajah yang berubah drastis dari serius ke wajah bersinar-sinar ceria. Membuat Osaka tersedak karena Dango bulat yang hendak meluncur ke bawah tenggorokan.
"Onii-chan dare (kakak siapa)?" tanya Asa menatap Riichi dan Azuki bergantian dengan wajah manisnya.
"Orang yang kebetulan sekelas. Ini Riichi yang itu Azuki,” tukas Osaka setelah meminum teh, sambil menunjuk teman barunya itu bergantian.
Riichi mengerucutkan bibirnya tak terima. "Osa-chan, kita kan teman dekat."
Asa ber-Oh ria, lalu membungkukkan badannya. "Hajimemashite, aku Osaka Asa. Salam kenal~"
Riichi memegang sisi wajahnya, menatap Asa gemas. "Kawai-"
"Jangan mangsa adikku!" sergah Osaka tegas.
"Aku permisi dulu,” ucap Asa melangkah ke kamarnya.
Riichi menarik wajah cerianya dan kembali memasang wajah serius seketika.
Osaka menatap Riichi malas—Aku yakin, Azuki tidak memiliki ekspresi gembira pasti karena sudah di curi Riichi.
"Jadi, Bagaimana? Apa anda tau soal Malaikat kematian?" tanya Riichi.
"Sebenarnya, saya mengetahui sedikit tentang shinigami...,” Ucap Ibu.
"Lalu, apakah keluarga anda termasuk ke dalam keturunan mayat tersebut?" tanya Riichi.
Ibu terdiam, lalu mengangguk pelan.
"I-iya" ucapnya pasrah. Alis Osaka bertautan, menatap Ibunya kaget.
"Apakah anda ingat nama Reaper itu? " tanya Riichi lagi.
"Red. Tidak mungkin saya lupa namanya."
Mereka bertiga terdiam mendengar pernyataan itu.
"Kalau begitu..,” ucap Riichi, "Saya, akan membawa putri anda ke organisasi saya,” Ibu terlihat kaget.
"Tidak! Aku tidak mau jauh dari ibu-"
"Baiklah," sela sang Ibu sambil menunduk dalam. Putri pertamanya bergerak mendekati lalu memeluk sang Ibu.
"Aku enggak mau pisah dari Ibu,” kata gadis itu, mereka berdua saling memeluk. "Ibu juga, tapi ini kebaikanmu."
"Tenang saja, di M.K.O. dia akan terlindungi,” Kata Riichi meyakini.
Osaka melepaskan pelukannya, memandang Riichi.
"Anda juga pernah mengalaminya kan? terus menerus diincar oleh berbagai jenis monster."
"Tapi, mereka sudah terkunci di dunia yang berbeda kan?" tanya Ibu khawatir.
"Itu dulu. Sekarang, portal pembatas terbuka."
Ibu menutup mulutnya terkejut. "Ya ampun, apakah salah satu anggota dari keluarga kerajaan monster telah mengingkari janji keabadian itu?" Osaka mengernyit bingung, tak tau apa yang Ibunya dan Riichi bahas.
"Sepertinya tidak. karena kalau dilihat dari keadaannya, pasti hanya sebuah ketidaksengajaan dari pihak kerajaan monster,” kata Riichi.
Mereka semua terdiam, sampai tiba-tiba dering HP Azuki memecah keheningan.
"Maaf, saya permisi sebentar." ucap Azuki sambil pergi keluar.
"Jadi, bagaimana? Apa anda benar-benar rela jauh dari putri anda?" sambung Riichi. Ibu terlihat cemas, tapi ekspresi itu ia tepis.
"Baiklah, demi keselamatan putriku. Tolong jaga dia."
“Kami sudah menemukan keturunan lain, jadi Osaka tidak akan kesepian.”
Sang Ibu tersenyum lebar, “Siapa dia?”
“Azuki, keturunan dari Reaper bernama Blue.”
Osaka menyalang, “Dia juga Reaper?”
Azuki kembali masuk, terlihat jelas kalau dia menerima kabar buruk dari panggilan tadi. "Riichi sama. Aku mendapat laporan dari Kou, dia menemukan monster tak jauh dari wilayah sekolah."
Osaka yang mendengarnya langsung terkaget kaget. Seraya helaan nafasnya, Riichi tersenyum licik ke arah Osaka.
"Tugas pertamamu,” ucapnya.
Osaka menggeleng cepat, "Jangan katakan itu."
"Ayolah, masa kau jago bertengkar di PS doang, buktikan kalau kau jago bertengkar di dunia nyata juga,” kata Riichi.
"Ya, kalau lawannya manusia, tanpa disuruh pun aku akan langsung melakukannya!"
"Tapi, di hari pertama Azuki masuk sekolah kau bertengkar dengannya kan? dia bukan manusia loh."
"Bukan manusia apanya, lihatlah poker face-nya itu cuma dimiliki manusia!" sergah Osaka mengarahkan telunjuknya ke Azuki.
"Terima kasih,” balas Azuki.
"Sama-sama!"
Seorang vampire bertubuh kecil dengan rambut pirang berlari secepat yang dia bisa. Nafasnya tersengal disertai bulir-bulir keringat membasahi dahi. Tenaganya terkuras karena serangan kejutan sebelumnya. Padahal, jika bisa, dia akan meladeni Kitsune yang menyerangnya itu.
Tak lama, seekor rubah putih dengan sembilan ekornya berlari secepat cheetah memburunya. Jarak mereka semakin dekat, mendesak vampire untuk mengeluarkan sayapnya.
Dia berhasil terbang, setidaknya dia sudah bisa untuk melancarkan serangan dalam jarak sejauh ini.
Telapak tangannya dia lebarkan ke arah kitsune putih itu, mengarahkan pecahan kaca besar berwarna hitam g**g muncul di sekelilingnya untuk menyerbu lawan di hadapan.
Sayang sekali, kitsune menembakkan kekuatannya dalam bentuk bola padat dari mulutnya yang terbuka. Membasmi serangan sekaligus melukai sayap kirinya.
Vampire itu meringis, dia turun menapak tanah seraya sayapnya hilang. Kitsune menghampirinya dengan cepat, membuka mulutnya bermaksud menerkam. Tapi gadis vampire berhasil menendang rubah itu jauh-jauh darinya, sampai lawan menabrak tembok sebuah bangunan.
Kitsune tersungkur lemas di dekat tembok retak itu. Vampire berjalan mendekatinya. Dari balik dadanya, muncul pegangan pedang. Dia menarik pedang itu perlahan, tanpa rasa sakit sedikit pun.
Setelah ujung pedang itu terlihat, Vampire itu melemparnya lurus ke arah kitsune.
Trang! Pedang yang melaju lurus itu di tebas oleh pedang lain yang di lempar tepat mengenainya. Dia melihat arah datangnya pedang tanpa pemilik itu.
Vampire itu terkekeh licik, "Hah, tertangkap juga aku ...,” gumamnya.
"Kehormatan bagiku bertemu denganmu, Ratu,” salam Riichi, dia membuka gulungan kertas lapuk yang dia genggam di lengan kirinya.
Vampire itu membelalak—Itu lembar perjanjian abadi! Kenapa dia memilikinya?
"Aku adalah putra pertama dari organisasi M.K.O. kakek buyutku, harris de fhou lah yang menandatangani kontrak perjanjian keabadian ini,” Jelas Riichi seraya menggulung kembali kertas tua itu dan memasukkannya ke saku.
Kitsune itu merubah wujudnya, kembali menjadi sosok Akabayashi.
"Se-sensei?" seru Osaka sambil menganga maksimal.
"Maaf, saya telah lancang melukai anda,” ucap Akabayashi sambil menunduk menyesal. Gadis itu menghela nafas. "Salahku melawan pengawal utusan ayahanda."
"Maukah anda datang ke tempatku? Di sana ada anggota penyembuh yang siap mengobati. Oh, iya ...,” Riichi menaruh telapak tangan kanannya ke d**a kirinya, badannya ia tundukkan sedikit.
"Nama saya Alexander Riichi, ini asistenku Yoshida Azuki dan anggota baru Osaka Maname,” ucapnya lagi memperkenalkan dua orang di belakangnya.
"Aku Sora, Ratu Vampire dari dunia monster."
Osaka kembali syok, "Dunia monster? Ratu Vampire?!"
Sora melangkah melewati Riichi, langsung berhadapan dengan Osaka."K-kenapa?" tanyanya gugup.
"Kau keturunan Reaper kan? Si king the reaper."
"I-iya, mungkin" balas Osaka seraya selangkah mundur. Aku tak mengerti apa maksudnya, batin siswi itu.