STEP 6

1194 Kata
Kini Osaka, Riichi, dan sang Ratu menuju Asrama khusus perempuan. Sesuai kesepakatan, Osaka akan dilatih di M.K.O.. Untuk seorang Reaper yang diincar oleh banyak monster, setidaknya siswi itu harus tau beberapa hal tentang monster dan kekuatan terpendamnya. Manik hitam Osaka menatap Rambut emas Sora yang berjalan di depannya. Vampire bersosok bocah itu tidak begitu menakutkan menurutnya. Osaka memalingkan wajahnya—Yah, bisa saja bocah ini- "Aku bukan 'Bocah', dan juga aku hidup lebih lama darimu," ucap Sora membantah monolog Osaka. Osaka menganga, seketika mundur menjauh. "Bagaimana kau …," Sora membalik badannya, "Aku vampire, wajar dong kalau aku bisa membaca pikiran orang lain." Spontan Osaka menutupi mulutnya—Aku harus menjauhinya- "Kau tidak akan bisa menjauhiku, kita ini tinggal satu asrama," ucapnya lagi. Dengan rasa takut Osaka menjauhinya dan mendekati Riichi. "Riichi-kun, aku takut!" Sampai di depan pintu kamar Asrama perempuan, Riichi menarik lengan Osaka ke depan pintu. "Silakan masuk, dan beristirahatlah, Osa-chan. Ratu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Riichi. Sora mengangguk, mengekor Riichi. Osaka meraih gagang pintu, perlahan memutarnya dan mendorong pintu. Di dalam Asrama terlihat empat orang perempuan yang perhatiannya teralih ke Osaka "Oh, ada tamu." "E-etto, Watashi no namae wa, Osaka Maname desu. Yoroshiku onegaishimasu (A-anu, a-aku anggota baru, namaku Osaka Maname. Salam kenal) ...," kata Osaka dengan kaku seraya menunduk. Ketiga perempuan itu menghampiri Osaka, salah satu dari mereka memeluk Osaka erat. "Kawai!" ucapnya seraya mengeratkan dekapannya. "Kiriku-chan, dia tidak bisa bernafas tuh!" ucap seseorang. Gadis yang memeluk Osaka langsung melepaskan pelukannya. "Ehehe, maaf, maaf," ucap Kiriku. "Namaku, Miran-san Hanekaawa. Aku sebagai anggota penyembuh di sini" ucapnya menjabat tangan Osaka. "Ini Kiriku-chan, dan yang di sampingnya Yuuki-chan. Anggota Penyerang." "Yoroshiku,” ucap Kiriku dan Yuuki kompak. "Jadi, kau bergabung di sini sebagai anggota apa?" tanya Miran. "Aku ... tidak tau, Miran-neechan," ucapnya. "Ah, panggil saja Mii-chan. Terdengar lebih mudah,” ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. "Kalau kau tidak tau kau anggota apa, kenapa kau bisa diterima di sini?" tanya Kuu-chan (Kiriku). Dahinya mengerut, ragu mengatakan kalau dia adalah monster. "Aku tidak tau ini benar atau tidak, tapi kata Riichi-kun, aku adalah salah satu keturunan Reaper,” gumamnya dengan kepala yang agak menunduk. "Whuah, hebat!" ucap mereka bertiga berbarengan. Osaka membelalak sambil tertawa kecil—Jadi Reaper itu hebat ya? "Sama seperti Azuki-kun ya?" kata Yuu-chan (Yuuki). Gadis yang lebih muda dari mereka mengangguk—Aku tidak mau dibilang sama dengan makhluk berwajah talenan itu. Ah, tidak, satu sekolahan menjulukinya Poker-Face-Prince. Berarti benar dia tampan ya? pangeran kan pasti tampan. Tapi kok menurutku dia biasa saja? Pandangan Osaka menyebar, memperhatikan seisi asrama perempuan. Terdapat sepuluh kasur dengan masing-masing lemari, dan meja belajar. Terdapat juga lima jendela. Di kanan dua, di kiri dua dan di dinding ujung satu. Dia melangkah ke ujung ruang Asrama. Mendekati kasur terakhir, dan duduk di tepi. "Ah, sudah jam segini,” seru Mii-chan (Miran). "Makan malam!" teriak Kuu-chan sambil memakai jaket dan keluar, diikuti Mii-chan dan Yuu-chan. Osaka memutuskan untuk kembali berdiri, ikut menyantap makan malam di tempat yang masih terasa asing ini. Dia kaget melihat Azuki yang entah dari kapan berdiri di balik pintu. "Kenapa kau di sini?" "Aku disuruh memanggilmu untuk perayaan penerimaan anggota baru,” balas Azuki. "Baiklah." Keheningan menemani langkah mereka. Baik Osaka maupun Azuki tak ingin membuka mulut. Osaka membatin—Inilah yang membuatku tak ingin ditinggal berdua dengannya. Selain masalah komunikasi, aku juga ogah akrab dengan orang ini. Mereka sampai di depan pintu ruang makan sekaligus dapur, Azuki membukanya dan masuk, diikuti Osaka. Terlihat jelas bahwa anggota laki-laki ternyata lebih banyak dari perempuannya di saat mereka berkumpul begini. "Ah, Osaka! kochi, kochi (sini, sini)!" panggil Kuu-chan sambil menepuk-nepuk bangku di sampingnya menyuruh Osaka untuk menempatinya. Sementara para Anggota M.K.O. sedang menyantap makanan megah di meja mereka, Riichi dan Sora berbincang ria di ruangan Kantor pemilik markas itu. Ditemani sebotol wine. "Bersulang!" seru Riichi dan Ratu bersamaan sambil bersulang. Riichi meminumnya sekali teguk, begitu pun sang Ratu. "Jadi," Riichi mengambil jeda untuk menuangkan isi botol Wine ke gelas Sora. "Ada perihal apa? sampai anda melarikan diri kemari." Sora menarik senyum simpul, lalu meneguk wine sampai habis. "Jangan bilang padaku kalau anda menghindari acara perjodohan lagi." Riichi bergurau seraya menyipitkan matanya. "Yap. Kau benar,” balas Sora menjentikkan jari. "Memangnya pilihan yang mulia tidak sesuai dengan selera anda?" Helaan nafas berat dihempas Sora, "Jauh dari kata sesuai. Bukan hanya tidak mencintaiku dengan tulus, mata mereka terus mengincar kekuasaan ayahku. Dan ayahku tidak mengetahui hal itu, " dia terlihat jengkel," aku ingin yang asli. Mereka semua 'Palsu',” ucapannya yang terakhir membuat Riichi tertegun. “Anda tidak berniat untuk terus melarikan diri begini kan?” Sora mendekus. “Tenang saja, aku sudah menemukan calon suamiku sendiri.” Riichi menaruh gelasnya. “Siapa?” “Itu tidak penting.” Sora menuang wine ke gelasnnya sampai hampir penuh. “Kenapa kau mengajak reaper itu ke sini? Bukankah dia akan membahayakan anggotamu yang lain?” Sang Ratu menampar meja, air mukanya berubah serius. "Apa kau hendak menggunakannya sebagai s*****a? King The Reaper itu? Kau gila?" Riichi mengusap wajahnya karena kaget. Tawa yang dia keluarkan terdengar canggung, "Tidak.  Aku dan ayahku ingin dia lebih terkendali di sini." Sora mendengus, "Terkendali?" ulangnya, seolah balasan Riichi adalah guyonan paling lucu. "Hei, yang saat ini kau ajak ke markasmu adalah bibit dari kiamat masa depan. Lebih baik kau berpikir ulang tentang itu." Riichi sendiri sadar akan hal itu. Berdasarkan riset yang ayahnya lakukan, setiap keturunan reaper bernama Red selalu membuat masalah di dunia monster. Dia senang selalu jadi bahan pembicaraan para monster. “Tapia pa salahnya mencoba. Kita bisa tanya apa yang sebenarnya dia inginkan, siapa tau dia tidak akan mencari masalah lagi.” Sora mengepalkan tangannya. “Dia hanya ingin bersenang-senang dengan daging- darah dan tulang para monster. King the reaper yang s***s itu membunuh demi hiburan. Kau tak bisa menganggapnya remeh.” Vampire itu tiba-tiba terdiam, senyumnya mengembang seraya dia bangkit dari bangku. “Aku ada urusan sebentar,”   Tamaki disuruh untuk membeli donat lagi, dia melewati jalan yang sama seperti kemarin.  Dia mempertaruhkan diri untuk berani melalui jalan yang sama. Selain karena jalan yang lain terlalu jauh, udara malam yang terasa dingin membuatnya ogah terlalu lama di luar. Dia mengingat kejadian kemarin—Manusia biasa tapi punya taring. Manusia serigala tapi tidak berbulu. Vampire? Tamaki menggeleng cepat, menganggap monolognya konyol—tidak mungkin! tidak mungkin! tidak mungkin! tidak mungkin! Mereka hanya ada di film, di komik, di novel! Vampire makhluk fiksi, tidak asli! Mengangguk mantap, dia mempercepat langkahnya. Tanpa aba-aba, makhluk yang ditakutinya muncul dari atas bangunan di sisi kanan Tamaki, menapak di depannya. Terkejut, dia melangkah mundur perlahan-lahan. Gadis kecil pirang di depannya sadar dia membuat orang di depannya takut. "Tuanku, kenapa kau menjauhiku?" Tamaki iba melihat wajah sedih darinya. " Aku, bukannya menjauhimu, tapi, hanya...." "Takut?" katanya. "B-begitulah," ucapnya. Mereka berdua diam, tak lama terdengar isak tangis dari gadis pirang yang menundukkan kepalanya itu. "K-kenapa kamu menangis?" lontar Tamaki yang sangat kaget. "Aku sendirian, aku kesepian. Aku tidak punya siapa pun kecuali engkau, tuanku. Tapi, kau malah menjauhiku ...." Tamaki merasa bersalah mendengarnya. "Baiklah, aku tidak akan menjauhimu." "Benarkah tuanku?" Tamaki mengangguk pelan. Gadis pirang itu mengusap matanya, lalu tersenyum. "Tapi, satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu." "Apa itu, tuanku?" "Kau ini sebenarnya makhluk apa?" "Aku adalah vampire," ucapnya. "Vampire?" Mata laki-laki itu melebar. "Aku berasal dari dunia monster, dan saat aku tidak sengaja melewati portal pembatas dunia monster dan manusia, aku ada disini. " Tamaki mengernyit. "Portal pembatas dunia monster dan manusia? " "Iya, aku adalah seorang ratu di dunia monster, karena aku dikejar oleh xytex, aku jadi tidak sengaja membuka portal pembatas dan memasukinya." Jelas si Vampire kecil. "Ra-ratu?" Dahinya mengerut—omong kosong apa ini? "Tuanku tidak percaya? " gadis itu menutup matanya seraya menghembuskan nafas.  Badannya membesar. Rambutnya panjangnya yang semula hampir menyapu jalan jadi sebatas lutut. "Nah, seperti ini lah, wujudku sebenarnya, tuanku. Aku mengecil agar kaum manusia tidak terlalu curiga melihatku. " Suaranya melembut, layaknya wanita dewasa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN