STEP 7

1302 Kata
“Akhirnya aku bisa bicara denganmu.” Setelah belajar dari kejadian sebelumnya, Tamaki mencegat Osaka ketika bel istirahat selesai berbunyi di kelasnya, lalu menarik gadis itu ke kelasnya. Osaka duduk di depan Tamaki, kelas itu hanya berisi beberapa siswa. Osaka menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Dia sendiri sudah memikirkan apa yang harus dia jelaskan pada Tamaki, tapi sulit untuk tak bilang kehidupannya berubah identitas barunya sebagai Reaper. “Sekarang jelaskan padaku, kenapa siswa baru itu terus-terusan membawamu pergi? Kenapa kau sering menghilang? Ibumu bahkan bilang kalau kau sudah tinggal sendiri. Semua ini tidak masuk akal, apa yang terjadi?” tanya laki-laki itu. “Tamaki,erm, maaf. Aku mengerti kau kesal, aku sendiri ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu seperti biasanya. Tapi mulai sekarang ….” Osaka tidak sanggup mengatakan kalau dirinya monster pada Tamaki. Dia tak ingin sahabatnya itu menjauh dan tak ingin dirinya menyakiti laki-laki itu. “Intinya, aku menyesal belakangan ini kita menjadi jauh dan aku minta maaf. Mulai sekarang, aku ingin kita seperti ini saja, Tamaki.” Tamaki menyalang, dia meraih tangan Osaka. “Ada apa sebenarnya?” “Aku tak bisa mengatakannya. Maaf.” Osaka berdiri dan dengan cepat kabur dari Tamaki. Laki-laki itu muram, mulai saat ini dia tidak bisa sering melihat orang yang dia sukai itu. Dengan hampa dia pergi ke kantin, bertemu dengan Oka dan Oga dan istirahat bersama mereka. Mereka bertiga cukup beruntung mendapati meja bersih yang kosong, begitu mereka selesai membeli makanan. "Tamaki, akhir-akhir ini kau terlihat murung, ada apa?" tanya Oga memakan Okonomiyaki-nya. "Nande mo nai (tidak ada apa-apa)...,” ucapnya malas. "Kalau tidak apa-apa, kenapa kau tidak makan?" Tamaki diam, dan kemudian tersentak begitu suara Sora melintasi benaknya. Oka dan Oga sontak mengalihkan perhatian mereka dari makanan. 'Omae-sama ....' Dia menyebar pandangan ke sekitar, "Sora?" gumamnya. " ... err, kau sungguh baik-baik saja, kan?" tanya Oka bingung. Tamaki berdiri sambil masih menatap sana-sini, "Ah, ti-tidak. Aku pergi dulu sebentar." 'Omae-sama, pejamkan matamu,' ucap Sora. Tamaki menutup matanya. Sekilas terlihat bayangan sora yang berada di dekat pohon Sakura belakang sekolah. Tanpa pikir panjang Tamaki berlari menuju belakang sekolah, perasaannya tidak begitu enak sejak ilusi itu hinggap. "Sora!" panggilnya ketika sampai di belakang sekolah. Angin pun tertiup, menggugurkan bunga Sakura yang membuat sekitarnya tampak indah. Sora di sana, duduk di bawah pohon Sakura, bersandar pada batang pohon yang sudah tua itu. "Akhirnya kau menemukanku,” ucapnya tersenyum. Tamaki membelalak, memandang manik keemasan milik Sora yang semakin indah saat terkena kilauan sinar matahari. "Kenapa kau ada di sini?" “Aku merindukanmu.” Tamaki tertawa kecil. “Kita baru bertemu malam kemarin.” Dia mendekat, duduk di samping Sora. "Oh, iya. Sora, tadi aku mendengar suaramu di dalam pikiranku, kok bisa begitu?" "Itu telepati." "Telepati?" "Yap! Omae-sama, apa kau ingat saat pertama kali aku bertemu denganmu? Aku m******t darahmu kan?" ucapnya. Tamaki mengangguk, agak bergidik ngeri saat mengingatnya. "Dan, mulai saat itulah, kau menjadi milikku, tuanku. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, bisa mendengar apa yang kau dengar, dan juga bisa melihat apa yang kau lihat. Karena kita sudah bersatu." Sora memiringkan badannya menghadap Tamaki. Wajahnya mendongak sambil menarik senyum. "Separuh dirimu adalah diriku, begitu pun juga dengan aku. Kau tidak akan pernah terluka jika ada diriku di dalam dirimu, omae-sama." Tangan Sora menggapai leher Tamaki untuk memeluknya. Tamaki sontak membelalak kaget, tangannya meremas lengan atas Sora begitu dia merasakan benda tajam yang menusuk lehernya. "Apa—" Rasa panas dan nyeri yang hebat mengitari lubang dimana taring Sora masih menancap di sana.     Osaka bangun dengan senyum lebar merekah. Dia meregangkan badannya, menarik nafas dalam-dalam. Hari ini hari sabtu, sekolah libur dan hari ini dia ada jadwal latihan di lapangan organisasi pemburu monster milik Riichi. "Perut yang kenyang memang membantuku untuk tidur lebih nyenyak." "Bangun, bodoh,” Ucap Azuki yang sejak dua puluh menit sebelumnya sudah duduk di tepi ranjang sebelah Osaka. Asrama perempuan lengang sejenak. Seketika Osaka menatapnya garang,  b******n ini! mau mengajakku bertengkar hah?" Bentaknya. "Cepatlah bersiap." "Dasar tripleks!" Setelah berdebat sebentar, beranjak membersihkan dirinya di kamar mandi, berendam di kolam air panas yang lumayan luas. Teringat sesuatu, Osaka bangkit, seketika menutup bagian atasnya dengan kedua tangan—Mereka tidak memasang CCTV di sini kan? Awas saja kalau Riichi memang merekamku! Osaka kembali menenangkan dirinya. "Haaa, enak sekali. Asa-chan, kau harus kemari sekali-kali,” gumamnya. Suara gelembung dari depan tempat Osaka duduk terdengar samar. Dia tak menyadarinya. Tiba-tiba air menyembur ke langit-langit, seperti tembakan dari dalam. Percikannya jatuh ke arah Osaka, untungnya gadis itu berhasil menutupi matanya agar tidak terkena percikan air panas. Osaka membuka matanya perlahan, menatap mata hijau kebiruan milik gadis kecil yang entah dari mana muncul dan duduk di atasnya itu. "GYAAAAAAAAA!" Osaka langsung berdiri dan keluar dari tempat berendam, menutupi badannya dengan lengan. "M-monster?" Pintu kamar mandi perempuan di dobrak oleh Kou. "Ada apa?" "GYAAAAAAA! m***m!" "Jadi kenapa ini bisa terjadi?" tanya Riichi. Azuki duduk di sampingnya. Sementara Osaka, Kou, dan perempuan yang tadi muncul duduk di depannya. "Aku sedang berendam, dan tiba-tiba dia muncul." Osaka menunjuk si gadis kecil. "Lalu aku teriak dan dia masuk," lalu menunjuk si Kou yang pipinya membengkak-karena setelah menendangnya dia masih bangun dan Osaka langsung menginjak kepalanya ke lantai." Tanpa pikir panjang, aku menendangnya." Riichi dan Azuki terlihat menatap serius Kou, "Tidak perlu sok heroik, Kou. Osaka tau kau yang paling m***m di sini,” Ucap Riichi. "Aku tidak m***m!" "Kalau tidak m***m, kenapa kau mengintip?" tanya Azuki. "Aku tidak mengintip! tadi aku mendengar suara teriakan, dan tanpa melihat itu di mana, aku langsung mendobrak pintu." "Seharusnya, kau lihat dulu keadaan dan tempatnya." "Hei, kau juga laki laki kan? kalau mendengar teriakan apalagi dari perempuan apa kau tidak ingin menolongnya?" kata Kou. "Aku akan menolong siapa pun kecuali si bebal itu,” balas Azuki sambil melirik Osaka. "HAH?" Sahut Osaka ketus. "Ternyata kau datang juga ya?" kata Riichi yang berbicara pada perempuan di samping Kou. "Ya, kau yang menyuruhku kan,” katanya. Suaranya terdengar dingin dan agak berat. "Riichi, kau kenal?" tanya Osaka. "Yap. Dia pernah menolongku dulu. Perkenalkan, dia Shizuku. Seorang Seiryu" "Oh," Osaka mengangguk pelan, kemudian mencerna kata terakhir. "EKHH? Seiryuu?" "Iya, Naga air legenda itu. Bukan hanya dia, masih banyak lagi di dunia monster. " Osaka menganga menatapnya—Kalau dilihat lihat, dia juga agak mirip dengan Seiryu. Warna rambutnya itu loh, yang berwarna hijau kebiruan, seperti warna badan Naga air. "Jadi, Osa-chan, kau percaya?" tanya Riichi. "Ya, setelah apa yang terjadi padaku, aku sih percaya saja." Osaka sudah mulai menerima fakta kalau dia adalah monster, walau berat. "Oh iya, dia keturunan Reaper kelima,” kata Riichi. Shizuku terlihat heran, dan tidak percaya. Osaka dengan perlahan menjauh saat jelmaan Naga air itu menatapnya lekat. Lensa matanya yang bulat penuh berubah seperti mata Reptil. "Hm, belum bangkit ya?" Osaka mendelik, "Eh?" "Aku memintanya kesini untuk mengajarimu, Osa-chan," kata Riichi. "Gheehh? dia? jadi guruku?" "Yap. Kalau begitu aku tinggal kalian dulu ya. Mii-chan dan aku akan belanja bahan makanan hari ini." Osaka melirik Azuki, "Kau kenal dengannya, Azuki?" Azuki mengangguk, "Dia pernah singgah di sini beberapa hari. Jadi aku mengenalnya." Tak lama, Sora masuk dan kaget dengan kehadiran Seiryu. "Kyuketsuki (vampire)..." gumam Shizuku. "Seiryu." Gumam Sora. Mereka adu pandang dengan sengit lalu mulai bertarung. "Bahaya!" kata Azuki langsung menghilang entah ke mana. Osaka batuk karena debu dan pasir yang mengelilingi, dia telah di tarik keluar lewat portal bersama Azuki sebelum terkena ledakan—loh, bukannya Azuki sudah pergi lebih dulu tadi? Azuki langsung menghempaskan tangan Osaka begitu perempuan itu menyadarinya. Sora muncul tak jauh dari mereka, dan Shizuku juga muncul 15 meter dari Sora, mereka saling menatap sinis. "Azuki, apa sesuatu pernah terjadi di antara mereka berdua?" bisik Osaka. "Vampire dan Seiryu sama sekali tak memiliki sejarah perang ataupun pertemanan, tapi untuk mereka berdua kasusnya mungkin berbeda." "Berbeda?" "Dendam pribadi." "Nande omae wa kokoni iru (kenapa kau ada di sini)?" tanya Sora sambil melipat tangan. "Aku datang karena undangan dari Riichi, kau sendiri, sedang apa di sini?" tanya Shizuku yang juga melipat tangan. "Bukan urusanmu,” jawab Sora dengan tibanya pecahan kaca besar berwarna hitam dan langsung menuju Shizuku. Dan dengan cepat juga, Shizuku memunculkan pecahan es besar yang tajam. Keduanya saling menyerang dan terjadi ledakan lagi. Azuki merentangkan tangannya ke depan, lalu dari tangannya keluar semacam perisai berwarna biru gelap yang menutupi mereka berdua. "Ini apa?" tanya Osaka. "Pelindung, kekuatan mereka cukup merepotkan kalau di gunakan di sini,” balasnya. Di balik punggung besar Azuki, Osaka melihat mereka yang semakin serius—Riichi belum pulang juga? Apa dia rela kalau organisasinya jadi tinggal kenangan gara-gara mereka berdua? "Osaka, dia itu temanmu, kan?" Osaka melihat siapa yang di maksud Azuki. Matanya membulat. 'Kenapa Tamaki ada di sini?'  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN