“Eh, ada abang Azzam rupanya. Sehatnya kau, Bang?” Herty menyapa Azzam tanpa mendekati pria itu. “Alhamdulillah, Sehat. Herty sehat?” “Sehatlah ... tak lihatnya kau, Bang. Habis kena siksa aku selama lima hari. Hah, tak tahulah aku. Kejam kalinya kakak-kakak senior itu. jangan-jangan kau pun seperti itu sama juniormu ya, Bang?” Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Herty malah duduk di salah satu kursi makan. Tepatnya di samping Artha, di depan Azzam. “Abang malahan tidak pernah menjadi panitia untuk pengenalan mahasiswa baru itu.” “Kuper (kurang pergaulan) kau berarti, Bang.” “Hush ... tutup mulut kau itu. Sopan sedikitlah kalau berbicara sama abangmu.” “Bah! Apa pula mamak ini, sopannya aku, Mak. Memang logatkunya seperti ini. Mengapa mamak tidak lahirkan aku di jawa saja, biar kema

