“Goklas, apa-apanya ini. Siapa laki-laki ini dan mengapa Mentari bersikap seperti ini?” Lumban berkata dengan nada tinggi. “Maaf Lumban, putriku masih sakit. Lagi pula, kita sedang berada di rumah sakit. Tolong pelankan suaramu.” “Goklas, kaunya yang datang ke rumahku. Memintaku untuk menikahkan Anggiat dengan Mentari. Katamu, Mentari diam-diam menyukai Anggiat. Tapi mengapanya jadi begini?” “Lumban, mohonnya aku sama kau. Kita bersahabat sudah sangat lama. Tolonglah, pelankan sedikit suaramu. Aku akan jelaskan di luar.” Goklas masih berusaha menahan amarahnya. “Tari, tak mau taunya aku. Setelah kau keluar dari rumah sakit, kita harus tetap menjalankan sumpah pernikahan. Atau aku akan panggil pendeta ke sini untuk menikahkan kita.” Anggiat menatap Mentari, tajam. Tidak ada sedikit pun

