Tiga hari sudah, Mentari dirawat di rumah sakit. Hari ini, gadis dua puluh empat tahun itu sudah diizinkan untuk pulang. “Bang, terima kasih sudah bersedia menemani Mentari selama di sini.” “Sama-sama, abang senang melihat Tari sudah kembali sehat. Kapan Tari mulai masuk kerja?” Mentari menggeleng, “Mentari sudah tidak bekerja. Tari sudah berhenti.” “Berhenti? Mengapa?” “Bapak kau yang memaksa Tari untuk berhenti. Takutnya dia kalau Mentari bukannya pergi bekerja, malah lari bersama kau.” Artha menatap ketus suaminya yang tengah membereskan barang-barang Mentari. “Apanya kau ini, Mak?” Goklas memang selalu tenang menghadapi istrinya. “Iya’kan?” Mentari tersenyum melihat ke dua orang tuanya, “Sudahlah, Mak. Nanti Mentari coba hubungi pak Dion lagi. Mana tahu pak Dion masih mau mener

