28. Menemanimu Tian kembali ke rumah sakit ketika hari sudah gelap, itu pun tak langsung mendatangi ruang perawatan Yasmin. Lebih memilih duduk di tepi taman ditemani secangkir kopi. Lagi-lagi, hanya secangkir kopi. Namun di sampingnya ada sekantong roti dan buah-buahan. Lelaki itu menyandarkan tubuh di sandaran kursi, sedikit menengadah dan memejamkan mata lalu ditariknya napas dalam-dalam sebelum akhirnya diembuskan begitu pelan. Sore tadi, dia baru saja mengakui perasaannya yang sesungguhnya. Yang selama ini tak bosan bertahta meski sudah dia kubur dengan segala benci dan amarah. Tangan kanan Tian terulur untuk menyentuh d**a kirinya, dan di sana memang selalu ia temukan nama Yasmin. Untuk beberapa saat menikmati degup jantungnya dan hela napas pelan, Tian akhirnya membuka mata,

