24. Satu Penawaran

1388 Kata
24. Satu Penawaran Yasmin menumpukan sikunya ke atas meja kasir, kemudian memijit pelipisnya pelan. Jengah bukan main melihat setangkai bunga mawar yang tergeletak di atas meja, tepat di sampingnya. Harus sampai kapan, Ronald mengirim bunga-bunga tidak berharga itu padanya. Lelaki itu jelas tidak mempan dengan peringatan darinya. Dan dia belum memiliki cara untuk mendorong seorang Ronald menjauh dari dirinya. "Kamu masih belum bilang sama Tian, Yas?" Riri bertanya ketika beberapa saat dia mengamati Yasmin dan hanya menemukan wanita itu terus saja mendesah berat. Berbicara dengan Tian membahas tentang Ronald pasti merupakan kesulitan tersendiri bagi Yasmin. Dan Riri maklum akan hal itu. Tian bukan sosok yang mudah ditebak. Pada satu waktu moodnya mungkin baik, namun secepat kilat, sebelum semua orang sadar, mood lelaki itu akan berubah drastis. Bisa garang, bisa menyebalkan. Kalau dia jadi Yasmin, Riri lebih memilih mencari suami baru dan move on. Entah, setampan dan sekaya apa pun Tian. Tapi, di satu sisi lain, dia juga sadar betul. Hanya Yasmin yang bisa mengendalikan Tian. Dan yakin, Yasmin bisa mengatasi obrolan penuh duri yang mungkin akan terjadi ketika membahas Ronald. Yah, pada dasarnya, dua orang itu saling melengkapi. Yang satu bucin luar biasa, yang satunya menyebalkan sampai ke tulang. "Semalam dia tidur, aku nggak sempet ngomong. Paginya, dia bangun sedikit siang, sehingga nggak ada waktu sedikit pun buat bahas Ronald dengannya." Yasmin membalas tanya Riri dengan iringan hela napas. Dia sudah mencoba mencari celah untuk membawa tentang Ronald ke topik obrolannya dengan Tian. Tapi, entah karena situasinya yang kurang tepat, dan mungkin pekerjaan Tian sedang padat-padatnya, lelaki itu jadi tidak memberinya waktu. "Di mobil tadi, ada kesempatan. Tapi, kamu tahu sendiri. Kalau Tian marah, nyawa kita yang menjadi taruhannya." Yasmin tersenyum getir diakhir kalimat. Kalau membicarakan tentang Ronald di mobil, yang dia pikirkan hanyalah injakan kaki Tian di pedal gas. Yang sungguh, tak ingin Yasmin bayangkan. Tian bisa melakukan apa pun kalau merasa sebal dan benci dengan apa yang dia bicarakan. Dan Ronald, jelas akan menarik kebencian Tian ke permukaan. Riri mendengkus keras. Melirik Yasmin prihatin. Cinta begitu ya, butuh banyak sekali pengertian. Coba salah satunya saja tidak ingin mengerti, sudah bubar sejak lama pasti. Dari Yasmin, Riri mengetahui satu hal di dunia ini, yang belum juga dia temukan. Sebuah cinta. Cinta teramat besar dan tulus yang Yasmin persembahkan untuk Tian. Kalau lelaki itu mau membuka hati selebar-lebarnya dan mau melihat lebih dalam ke hati Yasmin, Riri pastikan, Tian akan menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Yasmin sempurna menjadi wanita, cantik, cerdas, pengertian dan memiliki hati yang luar biasa pemaaf. "Kenapa nggak coba buat bicara di mobil aja, tadi. Sekalian test drive, Tian bakal banting setir ke pohon atau nabrak kendaraan lain." Riri menanggapi dengan bahu mengedik. Mengerling tanpa rasa bersalah saat Yasmin menegakkan punggung dan melempar tatapan tajam ke arahnya. "Biar jadi Romeo Juliet versi kekiniian." Yasmin mendecap. "Romeo Juliet?" Itu penggambaran terlalu romantis Yasmin rasa. Sampai detik ini, dia bahkan tak yakin, Tian mencintainya atau tidak. Meski lelaki itu tampak menerima dirinya dan berencana memiliki banyak anak, namun tidak pernah ada kalimat cinta yang lolos dari bibir Tian. Mungkin, beberapa orang mengatakan, kata-kata bukanlah hal penting, tapi bagi Yasmin yang pernah kehilangan Tian tanpa kata-kata. Itu menjadi satu momok ketakutan tersendiri baginya. Dia takut melakukan kesalahan dan berakhir Tian yang kembali meninggalkan dirinya. "Nanti malam aku coba bicarakan lagi dengannya." putus Yasmin. "Dan akan memaksa dia untuk tidak tidur lebih dulu. Menurut kamu, aku harus memulai bicara dari mana, Ri. Cerita kebenaran masa lalu atau langsung mengatakan jika Ronald datang lagi menerorku dengan bunga." Yasmin membuang buang di atas meja ke tempat sampah di belakang kursinya. Kalau bunga itu bukan dari Ronald, Yasmin pasti akan lebih ramah memperlakukan bunga tak berdosa itu. Hingga beberapa detik terlewat, tanya yang dia lemparkan pada Riri tak juga mendapat balasan. Yasmin menengadah, melirik Riri yang tampak terkejut. Tubuh wanita itu menegang dengan bola mata membulat terarah ke pintu kaca toko. "Ri," panggilnya lirih, dengan gerak kepala pelan mengikuti arah pandang Riri. Detik ketika dia menemukan apa yang membuat Riri tampak terkejut begitu, napas Yasmin tertahan, dan mendelik mendapati sosok seorang lelaki tampak mengayun langkah penuh keangkuhan menuju ke arahnya. Bunyi lonceng pelan yang terdengar ketika pintu kaca dibuka, tak juga membuat dua wanita di dalam toko mengerjap sadar. Hingga sebuah salam terlampau ceria memecah keterkejutan. "Selamat datang di RotiQita, bisa pesan antar sampai ke alamat tujuan." Widya yang baru saja keluar dari dapur dengan senampan pie buah segera menyambut hangat kedatangan tamu laki-laki yang mengenakan stelan kantor lengkap. "Saya ingin satu nampan roti yang kamu pegang." Ronald menjawab sambil lalu, karena langkahnya terayun ke arah meja kasir di mana wanita cantik yang dia puja-puja selama ini tampak mempertahankan diri di duduknya. Namun, dua langkah sebelum dia sampai tepat di depan Yasmin, seorang wanita lain tampak menghalangi. "Mau apa ke sini?" tanya Riri tanpa basa-basi untuk sedikit saja menunjukkan keramahan seperti yang Widya tunjukkan tadi. Wajar jika Widya menyambut ramah kedatangan Ronald, karena wanita itu tidak mengetahui masa lalu terlampau kelam yang Yasmin alami karena ulah Ronald. Ronald tersenyum miring. "Kamu yakin pasang badan begitu di depanku?" Widya yang berada di belakang display dengan kotak roti yang terbuka siap mengemas roti pesanan pembelinya, menaikkan sebelah alis melihat interaksi antara Riri dan lelaki itu. Dia ingin menginterupsi, sudah membuka mulut, namun ucapan Riri yang mengudara membuatnya bungkam seketika. "Kenapa nggak yakin? Orang seperti kamu nggak bisa didiamin." Riri menaikkan dagu menantang. Meluruhkan segala keterkejutan dan ketakutan yang sempat menderanya ketika melihat Ronald untuk pertama kali. Ronald tertawa hambar. "Kamu berani ya, sekarang. Bukannya dulu, kamu hanya berdiri di belakang Yasmin." Riri yang dulu, ketika Yasmin diterpa badai memanglah hanya mampu berdiri di belakang tubuh Yasmin saja. Yasmin sendiri yang meminta, agar tetap berada di belakang dan menjaga Annisa. Namun, untuk saat ini, Riri tidak bisa tinggal diam. Setidaknya dia ingin ikut melawan. "Minggir deh, aku mau ketemu Yasmin." Ronald mendorong tubuh Riri untuk menyingkir. Membuat wanita itu hampir oleng dan roboh, namun lebih pandai menguasai diri dan mempertahankan pijakannya. "Jangan kasar, Ronald." Yasmin menggeram, bangkit berdiri dan menghujam mata Ronald dengan tatapan penuh kebencian. Ronald mengangkat tangan. "Aku nggak kasar," ucapnya, sembari mendekat dan berhenti tepat di depan meja, berhadapan dengan Yasmin yang tampak begitu berapi-api. Namun di mata Ronald, wajah berapi-api Yasmin justru tampak memukau. "Aku rindu kamu, makanya ke sini." Jika Yasmin dan Riri tampak mendecih pelan, maka Widya yang sedari tadi diam mengamati menahan napas. Suara napasnya yang tertahan terdengar menyapa gendang telinga semua orang di dalam toko. "Kita jalan, yuk Yas. Atau jemput anak kamu, biar ikut sama-sama kita. Aku bakal ajak kalian ke mana pun. Ke semua tempat yang tidak akan kamu kunjungi dengan Tian." Ronald tersenyum miring, mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Yasmin, namun yang dia terima adalah tepisan kasar dari wanita itu. Yasmin melirik Riri yang tampak menggigit bibir bawahnya. Wanita itu pasti sangat terkejut dengan apa yang Ronald bicarakan. Dia pun sama, namun, berhadapan dengan Ronald harus pandai-pandai menguasai diri. "Aku nggak kepikiran sama sekali, kalau kamu justru akan kembali dengan Tian. Kamu tahu, kan. Aku membenci dia, dan kamu pasti tahu, aku bisa lakukan apa pun, untuk membuat kamu lepas dari dia." Lutut Yasmin bergetar. Kepalan tangannya di samping tubuh menguat perlahan. Bola matanya sendiri sudah memerah, antara ingin menangis, dan meluapkan amarah. "Tapi, tentu saja, sama seperti dulu, aku akan memberi penawaran, yang menguntungkan buatmu, tentu saja." "Menguntungkan buatku?" Yasmin mendengkus. Tidak pernah ada yang menguntungkan untuknya jika sudah berhubungan dengan Ronald. "Benar, menguntungkan untukmu. Kamu akan berkali lipat lebih beruntung jika menjadi milikku." "Dalam mimpi pun aku tidak pernah ingin jadi milikmu." tandas Yasmin. Tidak meluruhkan raut wajahnya yang mengeras. "Harus berapa kali lagi aku bilang, tolong jangan-" ucapannya terhenti ketika beberapa pelanggan memasuki toko. Riri menyambut dengan keramahan seperti biasa, mengambil perannya dengan sangat apik. Dan Widya di belakang display tampak melayani dengan ulasan senyum tak lepas dari bibir. "Kita bisa berbicara di tempat lain, tanpa memberi kesan buruk pada tokomu." Ronald mengedikan bahu. Tanpa persetujuan, dia segera melenggang keluar. Yasmin membuka kepalan tangannya, untuk beralih menggenggam tepian meja dan menarik napas pelan-pelan. "Kamu nggak perlu ikutin mau dia, Yas." Riri mendekat, memperingati. "Dia lebih mengerikan dari terakhir kali aku bertemu." Yang Riri katakan memang benar. Namun, Yasmin masih memiliki sedikit harapan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ronald, meminta lelaki itu pergi tanpa melibatkan Tian. Iya, semoga bisa semudah itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN