16. Tentang sebuah kiriman
Pagi ini, cuaca kota Jakarta tampak sedikit mendung. Matahari yang biasanya bersinar tanpa malu kini terhalang awan kelabu yang menggelanyut. Namun, belum juga membiarkan tetesan air membasahi bumi. Mungkin menunggu Yasmin sampai di toko, memberi kesempatan pada semua orang yang berkatifitas pagi dan berangkat bekerja seperti dia untuk bergegas masuk kantor.
Perjalanan dari rumah Diana sampai ke toko kue Yasmin cukup memakan waktu. Di pagi senin bersamaan dengan semua orang yang berduyun-duyun, macet menjadi pemandangan wajar ketika Yasmin melihat jalanan sekitarnya.
"Harusnya, Mas nggak perlu ngantar aku, jadi nggak akan kena macet begini." Yasmin bersuara ketika melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul setengah delapan lewat lima belas menit.
"Nggak masalah," Tian mengedikkan bahu, melirik Yasmin sesaat sebelum kembali melihat jalanan. Dia sedang berhenti di lampu merah. Bersamaan dengan pengendara lain yang menunggu lampu perempatan berubah hijau.
Tidak seperti hari-hari lalu, pagi ini dia mengantar Yasmin ke toko. Bukan karena memang ingin mencari muka di depan Diana, tapi memang karena Tian ingin melakukannya.
Kalau tidak atas kemauan sendiri, sudah tentu Tian menuruti ucapan Yasmin yang meminta diturunkan di pertigaan belakang tadi. Karena arah kantor Tian dan toko Yasmin yang berbeda.
Melirik ke atas tiang lampu yang masih merah dengan hitungan mundur, Tian menghela napas, merasa suasana di dalam mobilnya masih terasa canggung saja. Dia menolehkan kepala dan menatap Yasmin yang tampak tidak terusik sedikit pun akan apa yang dia lakukan. "Kamu pulang jam berapa nanti?" tanyanya berusaha mencairkan suasana. Berharap Yasmin akan menyambut usahanya dengan begitu semringah.
Dan tepat seperti yang Tian harapkan, wanita itu menoleh dengan binar mata cerah dan senyuman membingkai wajahnya. Membuat satu sentakan terasa di dadanya sebelah kiri.
"Pulang sore, seperti biasa."ungkap Yasmin jujur. Tidak sedikit pun menyembunyikan bahagia, sekadar ditanyai seperti itu.
Tian mengangguk, menjalankan mobilnya ketika lampu berubah hijau. "Kalau gitu, aku jemput nanti."
Bohong kalau Yasmin tidak merasa ingin berteriak senang karena kalimat yang Tian suarakan. Dia harus menggigit bibir bawahnya agar senyuman teramat lebar dan luapan rasa senang yang siap keluar dari bibirnya tertahan, tidak ingin terlihat norak di depan Tian. Dia menganggukan kepala. Menyetujui. "Kalau Mas nggak sibuk, boleh."
Yasmin juga harus menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan menyambar jemari kiri Tian yang sibuk menggenggam setir hanya untuk berpindah ke genggamannya. Dia teramat ingin menggenggam jemari itu, mmenyalurkan hangat dan menciuminya sekadar meluapkan rasa senang dan bersyukurnya.
Tian tidak mmain-main dengan ucapannya kemarin tentang ingin memperbaiki hubungan.
"Aku bakal jemput, sorean. Jadi tunggu aja. Kalau tiba-tiba ada rapat, nanti aku beritahu biar nggak kelamaan nunggu." Tian bersuara. Berusaha bersikap biasa. Karena tiba-tiba dia merasa seperti remaja yang hendak menjemput pacar. Padahal dia sudah punya satu anak.
Tian membelokkan mobil ke arah deretan ruko toko Yasmin berada. Dari deretan di sana, hanya toko kue Yasmin yang tampak menghijau karena di bagian teras ada beberapa pot dengan tanaman yang tampak subur. Tepat di depan pintu kaca toko kue Yasmin, Tian menghentikan mobilnya.
"Makasih Mas, hati-hati di jalan ya," Yasmin bersuara sembari melepas seatbelt-nya. Dia sudah akan membuka pintu dan turun dari mobil ketika Tian mengulurkan tangan dan meloloskan satu ucapan.
"Kamu melupakan sesuatu. Cium dulu."
Dengan senyuman merekah dan bola mata yang merebak tiba-tiba karena haru, Yasmin menyambut uluran tangannya dan ditempelkannya ke bibir. Inginnya dia berlama-lama mencium tangan Tian, namun, tidak jadi, nanti kalau Tian tiba-tiba berpikiran aneh dan akhirnya tidak memperbolehkannya mencium tangan, Yasmin sendiri yang rugi.
"Jangan lupa makan siang ya, Mas. Walaupun sibuk di kantor." ucap Yasmin, kali ini dia sudah turun dari mobil. Setelah mendapat anggukan dan satu kalimat pendek selamat tinggal, Yasmin menatapi mobil suaminya yang bergerak menjauh hingga keluar dari area ruko tokonya.
Dia mencubit lengannya dan menjerit tertahan, karena yang dia alami pagi ini adalah nyata. Bukan mimpi seperti yang dia pikirkan.
Setelah menarik napas dan mengembuskannya pelan, Yasmin berbalik dan melangkah masuk ke tokonya. Baru juga selangkah dia melewati kaca tokonya, dia sudah disambut dengan deheman menggoda dari Riri.
Yah, wanita itu pasti melihat apa yang terjadi padanya di luar toko tadi.
"Ehem, silau ya Wid." Riri bersuara. Wanita itu sedang mengelap kaca display dengan sesekali melirik Yasmin.
"Silau gimana sih, Ri. Diluar mendung loh." Widya yang sedang mengepel menyahut jujur. Dia melihat keluar kaca toko dan menemukan jika langit Jakarta pagi ini masih mendung.
Riri berdecak, menggeleng-gelengkan kepala. Susah bicara sama Widya yang nggak ngerti dengan kodean darinya. Padahal jelas-jelas wanita itu pun melihat apa yang terjadi dengan Yasmin dan Tian. Widya sendiri yang memberi tahu padanya ketika mobil Tian berhenti di depan toko.
"Serah kamu deh Wid," akhrinya Riri menyerah. Membuat Yasmin yang masih berdiri di antara mereka hanya mengulum senyuman melihat tingkah Riri dan Widya. Coba saja Widya membalas godaan Riri yang ditujukan padanya pasti pagi ini toko akan ramai dengan saling sahut antara mereka bertiga.
"Kalian udah sarapan belum nih?" tanya Yasmin, dia berjalan ke arah display toko dan mengambil pancake berlelehan madu. Biasanya saat pagi, tokonya memang menyediakan pancake, tidak banyak memang, hanya untuk memenuhi beberapa pelanggan yang memang senang sarapan pancake di tokonya.
"Udah, sama bubur ayam." Riri menyahut, sedangkan Widya tampak tidak peduli, kemungkinan wanita itu tidak mendengar tanya Yasmin karena ketika dilihat lagi bibirnya tampak menggumam dan dendang lirih terdengar samar.
"Ibu sarapan apa?" tanya Yasmin, dia mengambil duduk di belakang meja kasir sembari menyuap pancakenya. Sudah sarapan memang, namun karena perlakuan manis Tian tadi, dia merasa lapar tiba-tiba. Dan ingin makan yang manis-manis. Biar manis yang Tian berikan tetap tertinggal di lidahnya.
Ya ampun, apa ini. Abaikan. Kalau lagi bucin memang banyak kata yang keluar tanpa arah hanya untuk menjelaskan sedikit saja perasaannya.
"Sarapan bubur juga, bangun kesiangan tadi. Jadi aku minta nggak perlu masak, biar nyari bubur di depan." Riri merampungkan acaranya mengelap display. Dia berjalan ke arah Yasmin dan melihat tampilan wanita itu.
Saat awal masuk toko tadi, dia tidak begitu memperhatikan penampilan Yasmin. Namun sekarang ketika dia lihat dengan saksama. Yasmin berpenampilan lebih manis. Flare skirt hijau lumutnya dipadukan dengan blouse putih gading berpita dibagian leher.
Sejak menikah dengan Tian, Yasmin yang biasanya lebih suka mengenakan celana jeans, kini beralih pada gaun atau rok. Mungkin untuk terlihat lebih feminin.
"Nanti siang aku ke rumah. Baru balik ke sini rada sorean." ucap Yasmin. Dia sudah beberapa hari tidak mengunjungi sang Ibu. Biasanya di jam makan siang, Yasmin akan menyempatkan pulang, sekadar menemani ibunya makan siang.
Tinggal bersama Tian membuat Yasmin harus berjauhan dengan sang Ibu. Bersyukur Riri mau tetap tinggal dan menemani.
"Ibu baik kok, Yas. Kamu fokus sama suami kamu aja dulu," Riri mengerling di akhir kalimat. "Perkembangan yang bagus aku lihat. Apalagi Tian sempat senyum tadi. Kamu apain dia sampai bisa lunak gitu."
"Dipresto kali Ri, biar lunak." Widya menyerobot asal membuat Riri dan dirinya sendiri tergelak. Seperti yang Riri lakukan, Widya berjalan mendekat. Tiba di depan Riri, dia mengendus membuat Riri risih dan mendorong bahunya pelan, lalu dia mengendus Yasmin. Dan senyumnya terukir. "Beda ya, wangi wanita jomlo sama yang udah bersuami. Udah punya suami wangi kembang-kembang."
Riri mencebikkan bibir. Tidak terima dengan tuduhan Widya. Justru yang jomlo yang wanginya luar biasa menurut dia.
"Oh iya, Yas. Ada kiriman bunga lagi noh buat kamu. Dua." Widya menunjuk dua buket bunga yang tergeletak di atas meja kasir, tidak terlalu besar namun wangi bunga mawar asli menguar menusuk indera penciumnya.
"Dari siapa?" Yasmin bertanya meletakkan piring kecil bekas pancakenya ke atas meja dan menggenggam dua buket bunga itu. Bukannya mencium seperti yang banyak wanita lakukan ketika mendapat kiriman bunga, Yasmin justru menilik mencari secarik pesan yang biasanya terselip diantara kelopak bunga.
"Nggak ada nama pengirimnya. Sama seperti yang kemarin." Riri yang menjawab kali ini. Dia juga tidak tahu siapa pengirimnya, karena lewat kurir. Hanya mengatakan paket bunga untuk Yasmin.
Yasmin mengernyit, mengambil secarik kertas berwarna biru dari bunga mawar berwarna putih gading seperti bajunya.
"Kamu selalu cantik pakai warna putih begitu, dan warna lainnya juga."
Setelah sederet kalimat itu dia baca di dalam hati, Yasmin tak kuasa untuk tak mengernyit penuh tanda tanya. Namun kemudian dia mengambil secarik kertas lain di bunga mawar warna merah. Dan sekali lagi membaca tulisannya di dalam hati.
"Aku sudah tak sabar untuk menemuimu, Yas."
"Dari Tian bukan menurut kamu?" Riri menyuarakan tanya ketika melihat raut muka Yasmin sedikit berubah. Sudah tidak secerah seperti diawal kedatangan tadi.
Yasmin menggelengkan kepala. "Nggak tahu," ungkapnya jujur, sembari meremas dua carik kertas itu. Tiba-tiba kecemasan menyambangi dadanya. Dia tak ingin menduga-duga, namun rasa takut itu datang menghampiri tanpa permisi.
"Kalau bukan dari Tian, kamu punya penggemar rahasia begitu. Aku kok curiga ya," Riri bersuara lagi. Keningnya mengernyit tampak mengingat. Sebelum ini belum pernah ada yang mengirimi bunga untuk Yasmin.
Mengirim uang via transfer, baru sering. Dari pelanggan yang memesan kue di tokonya.
"Pasti dari Tian lah, cuma pengen kasih surprise aja. Mana ada laki-laki lain yang kirim bunga sama wanita yang udah jelas bersuami." Widya yang baru kembali dari dapur setelah mengembalikan alat pel yang dia pakai menyuarakan pendapat. "Nggak perlu mikir macem-macem deh, Ri. Bikin Yasmin kepikiran nantinya."
Riri menyangkal. Keningnya mengernyit berusaha membaca raut muka Yasmin. "Aku nggak ngasih pendapat aneh-aneh Wid. Cuma ya, bunga loh, terlalu sering ini. Seminggu bisa tiga kali."
Yasmin mengembuskan napas. Dia meletakkan dua buket bunga itu ke atas meja. "Kasih pelanggan aja nanti, bunganya. Sayang kalau didiamin di meja aja." putus Yasmin. Tidak ingin meladeni kecurigaan Riri. Biar dia saja yang memikirkan, Riri jangan. Lalu dia kembali bersuara, berusaha membuat dua sahabatnya tenang. "Mungkin dari Tian, pengin bikin surprise kecil-kecilan buat istri tercintah."
Dan Yasmin tergelak pelan ketika selesai mengucapkan itu, apalagi melihat dua sahabatnya tampak menaikkan sebelah alis.
"Bucin. Oke. Siap." Riri mengangguk-anggukan kepala. Lalu berlalu pergi. Tak ingin memperpanjang perihal bunga itu.
Berbeda dengan Riri yang masuk ke dapur dan tampak cuek, Widya justru tergelak pelan, sembari berseru. "Besok kalau aku nikah, aku juga pengin dikirim bunga sama suami. Nggak sebuket nggak pa-pa. Satu tangkai aja. Biar nggak kebobolan dompetnya."
Yasmin menggeleng pelan. Menanggapi ucapan Widya dengan tawa pelan juga. Mengiringi langkah Widya yang menghilang ke dapur.
Setelah sendiri, Yasmin memejamkan mata. Dia tahu dengan pasti kiriman bunga itu bukan dari Tian.
Tian bukan tipikal laki-laki romantis yang mau repot-repot mengiriminya bunga.
Sejak dahulu kala ketika mereka bersama, Tian hanya pernah satu kali memberinya bunga di hari jadian mereka yang entah ke berapa, Yasmin lupa. Dan Yasmin mengatakan dengan pasti bahwa dia tidak begitu suka bunga mawar.
Dan setelahnya, Tian tidak pernah lagi memberinya bunga.
Lalu sekarang. Yang jadi pertanyaan dan berputar-putar dibenak Yasmin.
Siapa orang yang mengiriminya bunga?