15. Tidur Bersama
Yasmin sedang mengusap puncak kepala Clarissa sembari berdendang pelan mengiringi mata tertutup gadis manis itu. Clarissa teramat senang ketika tahu Yasmin dan Tian menginap, lalu merajuk ingin tidur bersama dengan Papa dan Mamanya.
Dan ya, di jam delapan malam, bocah manis itu sudah memintanya untuk naik ke ranjang, membacakan buku cerita dan menemani tidur.
Merendahkan tubuhnya, Yasmin menanamkan satu kecupan di kening Clarissa. Cukup lama. Mencurahkan seberapa banyak kasih sayang yang dia miliki untuk bocah manis itu.
Dia sudah akan merebahkan tubuh di samping Clarissa ketika pintu kamar berderit pelan, disusul tubuh Diana yang menyembul dengan senyuman lebar. Wanita paruh baya itu berjalan mendatangi ranjang dengan gerakan pelan, membuat Yasmin kembali menegakkan tubuh.
"Cla sudah tidur?" Diana mengambil duduk di sisi ranjang, seberang Yasmin. Dia melihat cucunya tampak terlelap dengan menghadap ke arah Yasmin dan memeluk pinggang wanita itu.
Yasmin melirik Clarissa, masih dengan gerakan tangannya mengusap puncak kepala bocah manis itu. "Baru aja. Mami belum mau tidur?" tanyanya. Kali ini menengadah, menatap Diana yang mengulurkan tangan mengusap poni Clarissa.
"Belum. Sebentar lagi. Mau nemenin kamu dulu," Diana menyahut, menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan melihat lurus ke depan. Dia memang sudah lengkap dengan piama lengan panjang dan bahkan sempat membersihkan wajah, bersiap tidur. Namun, teringat Yasmin dan Clarissa. Berharap Yasmin belum tidur dan bisa menemaninya mengobrol sampai kantuk menyambangi.
Yasmin mengangguk. Membetulkan letak tidur Clarissa agar terlentang dan tak perlu memeluk perutnya. Namun, seolah bocah manis itu tahu dengan niatan Yasmin yang ingin menjauhkan. Clarissa justru berganti memeluk lengannya. Membuat dia hanya menghela napas dan menggeleng pelan.
Diana terkekeh pelan. "Cla nggak pengen jauh dari kamu, Yas." ungkapnya. Rasa bahagia membuncah dadanya mendapati Clarissa begitu lengket dengan Yasmin.
Selama ini, selain pada dia dan Nami, Clarissa tidak pernah betah lama-lama dengan wanita mana pun. Meski itu dari keluarga intinya. Entah pada saudara kandung atau saudara ipar Diana.
Clarissa pasti akan selalu menolak. Dan berlari pada Tian. Jika sudah dengan Tian, maka bocah manis itu tak akan berpindah pada siapa pun lagi. Termasuk padanya.
"Clarissa emang manja banget, mintanya tidur sama kamu," Diana mengingat celotehan Clarissa tadi, selepas makan malam. Gadis kecil itu bersikeras ingin tidur dengan Yasmin di kamar Tian. Entah siapa yang mengajari, katanya kalau tidur di kamar Clarissa sendiri, tengah malam ketika bocah manis itu sudah terlelap, Yasmin akan pindah untuk tidur dengan Tian.
"Nggak apa-apa, Mam. Yasmin seneng kok. Clarissa juga nggak manja," disela ucapannya, Yasmin mengukir senyuman, mengusap poni Clarissa yang turun menutupi dahi untuk tersibak ke belakang.
"Kalau bukan kamu, Mami nggak yakin ada wanita lain yang bisa menyayangi Clarissa seperti rasa sayangmu sama dia. Seolah Clarissa adalah anak kandungmu sendiri."
Diana tak pernah salah memilih Yasmin menjadi pendamping hidup Tian, karena wanita itu memang pilihan terbaik yang bisa Diana miliki. Seperti yang dia katakan, menemukan wanita yang bisa mencintai anak bawaan dari seorang laki-laki yang bahkan belum pernah menikah pasti lah amat sulit. Anak hasil pernikahan resmi saja belum tentu bisa diterima dengan baik. Dan ini, Yasmin yang begitu rendah hati dan membuka tangan selebar-lebarnya untuk menerima dan menyambut pelukan Clarissa.
"Cla memang sudah Yasmin anggap seperti anak sendiri, Ma. Anak Mas Tian, anak Yasmin juga." Yasmin melihat Diana yang bola matanya tampak berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Yasmin yang sedari tadi mengusap puncak kepala Clarissa.
"Terima kasih Yas, sudah menerima Clarissa lebih dari yang Mami pikirin." Diana sekali lagi mengulas senyuman, menggenggam jemari Yasmin dan membiarkan sudut matanya sedikit mengembun karena haru. "Clarissa sejak bayi hanya mendapat kasih sayang dari Tian, jadi dia begitu senang dan ingin nempel terus sama kamu. Mama kesukaan dia. Dia setiap hari selalu merajuk. Bertanya-tanya, kapan sih Mama Yas bisa tinggal bareng Cla. Cla juga ingin diantar jemput sekolah sama Mama Yas."
Yasmin kehilangan kata-kata, dadanya membuncah senang, melirik Clarissa yang tampak damai dalam lelapnya. Sebesar itu kah gadis manis itu menyayangi dirinya. Orang baru yang baru beberapa bulan Clarissa kenal.
"Tian selalu menolak saat Mami meminta untuk mengurus Cla dan dibawa ke Indonesia. Suami kamu itu bersikeras tinggal di luar negeri, dan mengurus Cla sendiri. Hanya bersama Rinjani, kamu ingat, sepupu Tian."
Yasmin mengangguk, mengingat nama wanita itu. Sepupu cantik Tian yang memilih menetap di Amerika. Barangkali sebab itu lah Tian pun lebih memilih menetap di sana karena ada sanak saudara. Dari pada kembali ke Indonesia dan bertemu dia yang amat dibenci.
Namun semesta begitu tak terbaca. Ketika kebencian itu mungkin mendarah daging, mereka justru dipersatukan.
"Susah payah, Mami membujuk Tian untuk kembali. Sekalinya mau kembali ke Indonesia, dia memilih Bali sebagai tempat tinggal, bukan Jakarta."
Dan sekeras itu, Tian berusaha untuk tak bertemu dengannya. Yasmin sadar betul, setiap cerita yang Diana utarakan tentang bagaimana hidup Tian, bagaimana lelaki itu membangun hidup dengan putri kecilnya. Dia tak pernah lupa menyelipkan jika setiap yang Tian lakukan adalah upaya untuk menjauh darinya. Untuk semakin mempertipis pertemuan antara mereka.
Pertemuan yang begitu Yasmin harapkan namun begitu tidak disenangi Tian.
Tapi itu sudah terkikis perlahan, bukankah Tian sore tadi baru saja mengatakan tentang niatannya berbaikan. Membuat hubungan yang lebih manusiawi.
"Bersyukurnya, sekarang Tian mau tinggal di sini, dan menikah sama kamu, menantu idamanan Mami." Diana mengukir senyuman. Terlalu senang bercerita hingga tidak begitu memperhatikan jika menantu kesayangannya hanya tersenyum dan mengangguk. "Mami udah bilang ke tukang renov rumah Tian untuk dipercepat. Biar kamu sama Tian bisa tinggal bareng di rumah itu. Sama Clarissa juga."
Kali ini, Yasmin menyela. "Mam, nggak buru-buru juga nggak pa-pa. Yasmin bisa tinggal di sini dulu."
Diana mendecap sebal. "Maunya Mami gitu. Tapi Tian yang menolak. Dari pada tinggal di rumah Mami, dia memilih di apartemen."
Dan Yasmin sudah mengetahui tentang itu. Karena tahu dengan pasti alasan Tian mengambil keputusan itu dulu.
Yasmin merasa ucapan Riri tempo lalu tentang Diana yang sengaja melambatkan renovasi rumah ada benarnya. Tujuannya tentu untuk membuat hubungannya dengan Tian lebih baik. Layaknya pasangan suami istri lainnya. Namun nampaknya, Diana berubah pikiran mengingat Clarissa yang ribut ingin tinggal bersama dengannya dan Tian.
Apartemen Tian sendiri lebih jauh dari sekolah Clarissa namun lebih dekat dengan kantor lelaki itu. Itu sebabnya juga Clarissa tidak diperkenankan untuk tinggal di apartemen.
Yah, pada dasarnya semua memang diatur oleh Diana. Dan Tian yang tampak mendukung. Sedangkan Yasmin hanya berperan sebagai pihak yang sedikit sekali memberi suara. Kalau pun bersuara, memang Tian akan peduli. Tidak bukan?
Alhasil, Yasmin hanya bisa menurut.
Diana menguap beberapa kali. "Mami ngantuk, Yas." gumamnya sekali lagi menutupi mulut dengan punggung tangan kiri.
"Tidur sini saja Mam, sama Cla." Yasmin mengusulkan. Tidak masalah jika Diana mau tidur bersamanya. Ranjang Tian besar, muat untuk dirinya, Clarissa dan Diana. Namun, itu juga kalau Diana mau.
"Maunya Mami sih, tidur bareng. Tapi pas bilang sama Tian. Dia justru membalas ketus." Diana berdehem, bersiap-siap untuk melanjutkan bicara. "Kalau Mami tidur di kamar Tian, Tian tidur di mana? Lantai." imbuh Diana dengan suara yang dia buat sedikit berat. Lalu tergelak dengan tingkahnya sendiri. Di sisinya, beberapa saat Yasmin tampak termangu. Namun kemudian ikutan mengulum senyuman. Lucu saja, Diana bersuara menyerupai Tian, namun gagal.
"Dia posesif sekali kalau berhubungan sama kamu." Diana menatap menantu kesayangannya yang tampak salah tingkah. "Jadi, Mami ngalah lah. Nggak mau rebutan sama Tian. Toh, tetep dia yang akan menang."
Meski masih tidak percaya dengan yang Diana katakan tentang Tian yang menolak permintaan Maminya. Yasmin menghela napas. Lalu bersuara. "Mungkin, Mas Tian juga pengen tidur sama Clarissa. Kan sudah lama nggak tidur bareng."
Diana mengibaskan tangan. Bersiap turun dari ranjang setelah mengusap lembut puncak kepala Yasmin. "Dia tuh pengen sama kamu. Jadi Mami harap, kamua cepet hamil." diakhir kalimat, Diana mengerling dan beranjak dari duduknya. "Mami keluar dulu, kamu cepet-cepet tidur."
Yasmin memberi ucapan selamat malam pada Diana, mengiringi langkah wanita itu hingga keluar kamar, dan menutup pintu. Baru setelahnya, Yasmin menyentuh perutnya. Ucapan Diana tadi memang begitu dia harapkan terjadi.
Kalau dia hamil, mungkin saja dia dan Tian bisa berhubungan lebih baik lagi. Namun, kalau pun belum diberi. Yasmin tetap akan bersyukur, karena dia pun tetap memiliki putri. Clarissa.
Gadis manis itu tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sedari kecil. Salah kan Tian yang keras kepala ingin mengurus sendiri tidak memperbolehkan Diana yang mengambil alih.
Dan tiba-tiba sekelebat kagum mampir di hati Yasmin. Tian sesempurna itu membesarkan anak. Menjadi Clarissa yang cantik dan pintar.
***
Pukul sebelas malam, Tian membuka handel pintu kamarnya dengan gerakan pelan. Dia melangkah masuk dengan langkah-langkah seperti seorang pencuri. Nyaris tak bersuara. Sadar benar jika dua perempuan penghuni kamarnya dan sedang menguasai ranjangnya tengah terlelap dengan saling memeluk.
Melihat pemandangan di atas ranjangnya, Tian tak kuasa untuk tak mengulum senyuman manis. Dia naik ke ranjang seberang Yasmin, tidak langsung merebahkan tubuh namun lebih dulu mendekatkan wajah dan memberi satu cium pada puncak kepala Clarissa, lalu mengusapnya pelan.
Clarissa. Putri terkasihnya tidur memunggungi dirinya, bergelung nyaman di pelukan Yasmin.
Ada berapa puluh kali, dia mengharap pemandangan itu. Tak terhitung.
Menumpukan sebelah tangan di atas bantal, Tian mempertahankan posisinya untuk tetap memandangi Clarissa dan Yasmin.
Seperti kata Diana, Yasmin memang sesempurna itu menjadi seorang ibu bagi Clarissa. Gadis kecil yang sejak usia beberapa bulan tak pernah lagi mendapatkan kehangatan pelukan seorang ibu.
Hanya ada dia saat itu yang memeluk selama tidur, menenangkan ketika gadis kecilnya menangis meminta s**u.
Dan Clarissa sudah tumbuh sebesar ini. Penyemangat hidupnya.
Disela kuluman senyumnya, Tian kembali merendahkan tubuh dan memberi satu cium lagi, kali ini di kening Yasmin. "Selamat tidur," bisiknya lirih.
Karena entah kenapa sejak dia mengikrarkan diri untuk memperbaiki hubungannya dengan Yasmin. Dia berusaha menjadi selayaknya suami dalam sebuah rumah tangga bahagia seperti keluarga lain.
Tidak berniat menganggu, namun yang Tian temukan detik berikutnya, ketika dia melepas kecupannya adalah kelopak mata Yasmin yang membuka perlahan.
Yasmin berdehem pelan, setelah mengerjap beberapa kali agar penglihatannya jelas. "Mas, belum tidur?" tanyanya.
Tian menggeleng, "Baru selesai ngecek laporan bulanan." ungkapnya jujur. Dia sedikit menegakkan tubuh menjaga jarak wajahnya agar tidak sedekat di awal tadi.
Melirik ke arah Clarissa, Yasmin tiba-tiba teringat dengan posisinya tidur. "Kamu nggak kebagian tempat ya." dia meringis. Karena Clarissa yang menariknya mendekat, jadi dia menjadi lebih ke tengah.
"Nggak. Muat kok." Tian segera bersuara ketika Yasmin membuat gerakan untuk mundur. "Nanti Clarissa bangun kalau digeser."
Tidak menghiraukan ucapan Tian, Yasmin tetap menggeser tubuhnya. "Nanti Mas malah nggak nyaman tidurnya kalau sempit gitu," ungkapnya disela gerakannya mundur dengan menarik Clarissa. Dan seperti yang Tian peringatkan tadi, Clarissa terganggu, bocah manis itu merengek.
"Bebal sih, kalau dibilangin." Tian mendecap ketika Clarissa tampak mengerang jengkel.
Yasmin meringis, mengusap-usap punggung Clarissa. Berusaha menenangkan, namun bocah manis itu justru bersuara. "Mama jangan pergi." dan yang dilakukan Clarissa kembali memeluk erat Yasmin.
Tian yang melihat interaksi anak-ibu tidak sedarah itu hanya mampu meringis pelan.
Putri kecilnya memang sudah sesayang itu pada Yasmin.
Lalu, kapan dirinya bisa terbuka dan sesayang itu pada Yasmin.
Nanti. Perlahan.
Semoga.
***