14. Melawan arah
Yasmin keluar dari kamar mandi hanya berbalut bathrobe warna putih dan handuk yang juga berwarna putih melilit kepalanya yang basah. Dia baru saja menyelesaikan acara mandi sorenya. Setelah tadi lebih dulu memandikan Clarissa dan mendandani gadis kecil itu.
Tadinya Clarissa ingin menempel padanya terus, beruntung Diana memberi penawaran lain agar Clarissa mau ikut dengan neneknya. Jalan-jalan sore muter-muter komplek, sekalian beli jajan.
Dia lupa tidak membawa serta baju gantinya ke dalam kamar mandi, dan sekarang dia harus keluar lebih dulu untuk mengambil bajunya di ransel yang dia simpan di atas ranjang.
Sudah bersiap-siap membawa baju ganti memang, karena Tian mengatakan akan menginap di rumah Diana.
"Mas Tian," lirih Yasmin ketika dia menyadari suaminya tengah duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mata tertutup. Mengernyit, Yasmin menutup pelan pintu kamar mandi, berusaha agar tidak mengusik Tian yang nampaknya sudah terlelap.
Padahal, sebelum Yasmin masuk kamar mandi, lelaki itu tidak berada di kamar. Seharian ini, bukannya menemani Clarissa bermain, Tian justru lebih suka menyendiri. Katanya ingin menyelesaikan pekerjaan saja.
Yasmin berjalan mendekat ke arah ranjang dengan langkah-langkah yang dia buat super pelan. Inginnya sih mengambang di atas lantai biar tidak terdengar bunyi langkahnya sedikit pun. Tapi, dia hanya manusia biasa yang tidak bisa terbang atau punya kekuatan magic apa pun.
Lupakan tentang itu, dia hanya harus fokus pada langkah-langkahnya dan sedikit mengaduh ketika ranselnya berada di seberang tiang. Artinya dia harus mengitari ranjang untuk sampai ke tempat ranselnya.
Tapi, kenapa matanya nakal sekali, mencuri-curi pandang pada Tian yang tampak damai. Yasmin berpikir, mungkin pekerjaan lelaki itu sedang padat-padatnya, hingga sore hari begini pun bisa tidur saking lelahnya.
"Kamu sudah selesai?" tanya Tian, laki-laki itu membuka matanya dan mendongak menatap Yasmin yang berada tak jauh di depannya.
Yasmin menghentikkan langkahnya sembari mengukir senyuman. "Ah, iya. Kukira kamu sedang tidur tadi."
Tian mengembuskan napasnya berat. Dia lelah sekali dan ketika dia baru saja memejamkan mata, dia mendengar langkah kaki mendekatinya. "Hanya lelah." gumamnya lirih. Penat karena pekerjaan dan lelah pikiran karena obrolannya dengan ibunya siang tadi. Yang lebih didominasi dengan cerita-cerita Diana tentang Yasmin.
Tian tidak bisa untuk tidak memikirkan ucapan ibunya. Mungkin benar, sudah seharusnya dia meruntuhkan ego. Lagi pula selama ini, secara sadar dia sudah menyakiti Yasmin lebih dari apa pun. Dasarnya wanita itu saja yang begitu tegar hingga Tian jarang sekali mendapatinya menangis.
Yasmin mengerjap kemudian menggigit bibir bawahnya sebelum berucap, "Kamu mau mandi?"
"Nanti saja," sahut Tian singkat. Dia menatap Yasmin lebih intens dan menyadari jika wanita itu belum berpakaian. Kalau dia meneguk ludah, akankah jakunnya yang naik turun begitu jelas terlihat.
Yasmin menganggukan kepala. Menghela napas lega karena dia pikir Tian akan ngambek jika tidurnya terganggu karena dia tadi. "Aku mau ambil baju di ransel." ucapnya, kembali melanjutkan langkah demi mengambil ranselnya.
Yasmin berpikir, dia akan segera berlari ke kamar mandi dan berpakaian. "Aku akan berpakaian dulu, baru setelah itu, Mas mandi ya." ucap Yasmin. Dia mengulurkan tangan menggenggam ranselnya. Seperti niatannya tadi, dia akan segera melesat masuk ke kamar mandi. Namun, sayang, sebuah genggaman di pergelangan tangannya menahan pergerakannya.
"Kamu duduklah," pinta Tian, yang membuat Yasmin kembali mengernyitkan dahinya. Gagal paham.
Tapi kemudian Yasmin menuruti ucapan suaminya ketika Tian menggeser duduknya kemudian menarik tubuhnya untuk ikut duduk di atas ranjang. Bahkan lelaki itu sedikit menarik tubuhnya agar lebih mendekat lagi.
Yasmin berusaha menyamankan duduknya. Dia sudah beberapa kali masuk ke kamar Tian, namun kenapa saat ini atmosfer kamarnya berbeda. Jadi sedikit panas. Padahal dia baru selesai mandi, bahkan belum berpakaian.
Dan Yasmin yakin, AC kamar diatur di suhu dingin. Dia kok yang mengaturnya tadi saat masuk kamar pertama kali.
Yasmin merasa ingin menggenggam remote AC dan kembali mengecilkan suhu, agar tubuhnya tidak kegerahan.
"Ada hal yang ingin kubicarakan," ucap Tian setelah membiarkan beberapa saat hening. Dia menikmati tatapan Yasmin memandangnya penuh tanda tanya dan tampak menanti. "Tentang kita," lanjutnya lirih.
Yasmin membelalakan mata, dia menyorot berbinar pada Tian yang kini membalas tatapannya. Hatinya membuncah bahagia, selama ini Tian sama sekali tak pernah menyebut 'kita' ketika bersama.
Sekali lagi, dia berharap Tian membuka sedikit hatinya untuk dirinya. Memberi maaf pada dia atas semua yang pernah terjadi di masa lalu. Yasmin pun berharap tak ada lagi kebencian dalam sorot mata hitam kesayangannya. Dia tidaklah buta untuk sekadar memahami pancaran mata Tian yang menyiratkan begitu banyak kebencian di awal pernikahan mereka.
Dan dia tahu, penyebab segala kebencian itu berasal dari dirinya. Tapi lidahnya selalu kelu ketika ingin membahas masa lalu dan mengungkapkan permintaan maafnya. Karena Tian bukanlah sosok laki-laki yang akan mudah mendengarkan begitu saja.
Tapi, sore ini ketika satu kata itu keluar dari bibir Tian, rasanya dia tak lagi bisa menahan senyum dan tangis bahagianya. Dia ingin mengungkap semua rasa yang menderanya selama ini.
Lama Tian menimbang kata-kata yang ingin dia ucapkan. Seharian ini pikirannya hanya diliputi sosok Yasmin seorang. Selalu ada yang salah dengan hatinya ketika mengingat semua hal yang sudah diusahakan Yasmin untuk dirinya. Dia sadar sikap Yasmin dan semua perhatian wanita itu tak pernah berkurang sedikit pun meski dia selalu menyakiti dan membuat kesepakatan yang dia yakini membuat wanita itu lebih terluka lagi.
"Maaf," lirih Tian akhirnya, dia menyentuh dua bahu Yasmin dan membuat wanita itu menghadap padanya. "Maaf, untuk semua yang sudah aku lakukan padamu selama ini, aku tahu itu tidaklah benar karena telah menyakitimu sebegitu banyaknya." imbuh Tian. Dia menatap sendu pada dua mata berkaca-kaca di depannya.
Hanya sekadar maaf darinya saja, mampu membuat mata Yasmin yang selama ini berpendar penuh ketegaran berubah sendu dan rapuh. Dan dia menemukannya di sana. Di antara kesenduan itu, memang ada dirinya. Bayang-bayang dirinya di netra Yasmin.
Jadi, yang Risyad dan Diana katakan tidaklah salah. Perasaan Yasmin, mungkin sejak dulu tak pernah bergeser. Selalu ada dirinya. Di sana.
Yasmin menggeleng cepat, dia masih berusaha mencerna tiap kata yang diucapkan Tian. "Mas nggak salah," cicitnya.
"Aku ingin kita memperbaiki hubungan ini, memulainya dari awal lagi. Kamu mau?" kali ini Tian menggenggam jemari Yasmin, merematnya pelan.
Dia sudah memutuskan bahwa tidak seharusnya dia terhanyut pada masalah masa lalu. Semua itu sudah begitu jauh tertinggal di belakang. Yang seharusnya dia lakukan saat ini adalah memberikan yang sebaik-baiknya.
Setiap manusia tak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Dia pun sama, tidak pernah menjadi sempurna. Selalu bisa melakukan kesalahan besar atau kecil. Kenapa selama ini dia begitu bodoh. Berpegang pada ego yang jelas menyakiti dirinya dan wanita di hadapannya ini.
Menggigit bibirnya kuat, Yasmin berusaha menahan isakkannya yang siap keluar, dia hanya menganggukan kepalanya dan membiarkan Tian melanjutkan ucapannya.
"Jadi maukah kamu lebih bersabar lagi mengahadapi sikapku yang terkadang uring-uringan."
Sekali lagi, Yasmin menganggukkan kepalanya. Semua yang diucapkan Tian membuat begitu banyak harapan menggantung di kepalanya. Dia merasa sangat bahagia karena pada akhirnya, Tian mau membuka sedikit hatinya. Memberi dia kesempatan untuk membuktikan bahwa dia begitu mencintai Tian.
"Tapi, kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Yasmin lirih. Dia memandang Tian penuh penasaran. Pasalnya dia masih belum mempercayai jika sikap Tian berubah begitu cepat. Ada angin apa hingga Tian tiba-tiba mengatakan perihal itu.
"Huh?" Tian mengerjap, sesaat dia memikirkan ucapan Yasmin. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Dia tidak yakin kebenciannya pada Yasmin telah menghilang, tapi dia juga tidak mampu melihat mata Yasmin yang penuh luka karena dirinya.
"Mami yang meminta. " ucap Tian berdusta, meski tak sepenuhnya kebohongan. Karena sebelumnya pun ibunya selalu meminta dia untuk memperbaiki hubungannya dengan Yasmin.
Yasmin mendesah sedikit kecewa, padahal dia berharap Tian sendiri yang berpikiran seperti itu.
Dia berharap ada sedikit cahaya yang menerangi hati gelap suaminya, tapi tak apa.
Dia merasa cukup, setidaknya Tian mengatakan ingin memperbaiki dan memulai dari awal.
Bukankah kalimat itu yang selama ini begitu Yasmin dambakan keluar dari bibir Tian. Suaminya?
Tidak masalah jika kali ini, Tian mengatakan itu karena pemintaan Diana. Yasmin akan memanfaatkan sebisanya. Agar Tian mau memperhatikan dirinya, bukan lagi karena Diana.
Andai aku mampu,
Mungkin aku sudah meneriakkan ribuan kalimat cinta untukmu
Menghambur dalam pelukan hangatmu.
Membawamu dalam rengkuhan penuh sayang dan cinta
***