13. Cerita Mami

1724 Kata
13. Cerita Mami Tian dan Yasmin bersamaan keluar dari mobil untuk kemudian berjalan masuk ke rumah Diana yang pintu utamanya sudah terbuka lebar. Diana meminta mereka untuk makan siang bersama, Clarissa yang meminta, katanya. Ini satu hari terlewat sejak dia mendatangi kantor Tian, hubungan mereka tetap sama, berada di angka pertengahan. Tidak baik dan baik. Yasmin memilih untuk berjalan beberapa langkah di belakang Tian, membiarkan lelaki itu untuk menjejak teras lebih dulu, ada Nami di depan pintu yang menyambut. Hingga teriakan bocah lima tahun berambut cokelat kehitaman yang di ikat dua kanan kiri, mengudara. Disusul bunyi tapak kaki kecil. "Papa!" Yasmin tersenyum melihat Clarissa yang tampak amat cantik dengan senyuman melebar. Di depannya, Tian merentangkan tangan siap menangkap tubuh mungil Clarissa dan membawanya dalam pelukan. Namun, tidak seperti yang lelaki itu harapkan, Clarissa justru melewati dan menyongsong ke arahnya. "Mama!" Yasmin berkedip, mendapati pelukan pertama dari Clarissa. Dia segera merendahkan tubuh dan memeluk Clarissa. Sembari menciumi puncak kepala Clarissa yang menguarkan wangi stroberi, Yasmin melirik ke arah Tian yang tampak mencebikkan bibir. "Mama lama datangnya, Clarissa laper," dan gadis manis itu segera merajuk. Yang membuat Yasmin sontak melirik lagi ke arah Tian. Gara-gara Tian yang telat menjemputnya, makanya mereka telat. Yasmin sudah bersiap-siap namun, lelaki itu membuat Yasmin menunggu hampir satu jam. "Besok janji, nggak akan terlambat lagi." Yasmin mengangkat tubuh Clarissa berjalan mendekati Tian, dan hendak memberikan tubuh gadis itu untuk Tian gendong, namun Clarissa justru melingkarkan lengan teramat erat di leher Yasmin. "Mau digendong Mama aja." Clarissa menggeleng, merapatkan tubuhnya ke tubuh Yasmin. "Iya, sama Mama kamu aja, sana. Papa nggak dibutuhin lagi," Tian berpura-pura sebal. Melupakan jika sebutan yang Tian lontarkan berhasil membuat wajah Yasmin bersemu merah. "Dikecup aja deh, pipinya. Cla kangen banget sama Mama," Clarissa memberi penawaran yang membuat Tian mengangguk, setengah senang. Lalu Clarissa mendekatkan wajahnya ke arah pipi Tian namun belum juga sampai. Akhirnya, Tian sedikit mencodongkan tubuh, sembari pipinya dikecup oleh Clarissa, manik matanya menatap wajah Yasmin yang tersuguh di depannya. Dia tidak berkedip, justru menikmati wajah memerah wanita itu. Kapan Yasmin bisa berwajah merah begitu. Dan seolah ingin membuat wajah wanita itu semakin memerah, setelah Clarissa selesai mengecup pipinya dia justru memajukan wajah dan menyambar pipi Yasmin. Bergantian dengan pipi Clarissa setelahnya, lalu mengambil alih tubuh gadis itu, ketika Yasmin hanya termenung. "Ihh, Papa, Cla mau digendong Mama, aja." Clarissa memberontak. Namun tidak Tian pedulikan, dia terus saja mengayun langkah masuk ke rumah. Menulikan telinga ketika Clarissa terus saja meronta ingin diturunkan, memanggil-manggil Yasmin dan tangan yang diulurkan ke belakang. Seolah Tian akan membawa Clarissa pergi jauh dan berpisah dari Yasmin. Tian hanya menghela napas pelan, siapa yang mengajari putri manisnya menjadi pintar drama seperti sekarang ini. Dan panggilan Clarissa yang menyerukan nama Yasmin baru berhenti ketika Tian berbisik rendah di sebelah telinga Clarissa. "Mama Yasmin lagi capek, nggak bisa gendong Cla lama-lama," Entah Tian harus senang atau bagaimana karena Clarissa langsung menurut dan melingkarkan lengan di lehernya. Hanya karena mendengar kalau Yasmin lelah menggendong bocah manis itu. "Tapi, kalau Mama udah nggak capek, Cla bisa minta gendong lagi?" Clarissa bertanya, menatapi wajah Tian penuh harap. Dia tidak ingin membuat Yasmin kecapean karena dirinya, tapi, Clarissa juga masih ingin didekap Yasmin. Pelukan Yasmin begitu hangat menurut bocah manis itu, dan begitu lembut. Tian mengangguk. Dia menurunkan Clarissa ketika melihat Diana berdiri di depan pintu dapur. "Boleh dong, sini cium Papa lagi," ungkapnya yang segera dituruti Clarissa dengan menanamkan satu kecupan. Baru setelahnya dia menegakkan tubuh dan menyosongsong ibunya, memeluknya sekilas dan memberi kecupan di pipi wanita yang telah melahirkan dirinya dan begitu sabar merawatnya. Selesai dengan pelukan singkat Tian, Diana beralih pada Yasmin yang sedang menggenggam tangan Clarissa. Bocah manis itu setelah lepas dari gendongan Tian segera berlari ke arah Yasmin dan menggenggam jemari wanita cantik itu. "Halo sayang, apa kabar?" Diana memeluk Yasmin menanamkan kecupan di pipi kanan kiri Yasmin. Menantu kesayangannya semakin hari semakin cantik saja. Yasmin mengangguk. Mengulas senyuman. "Alhamdulillah baik, Ma. Mami gimana kabar?" "Mami baik sekali. Bahagia banget lihat kami datang ke sini," Diana tampak semringah, mengusap-usap bahu Yasmin, setelah melepas pelukan. Tian yang berdiri tidak jauh dari dua wanita itu mencebikkan bibir sebal. "Aku nggak ditanyain kabarnya." decapnya. Diana tertawa, menoleh ke arah putra tampannya yang manjanya ngalahin Clarissa. "Buat apa? Mami yakin kamu baik-baik saja karena Yasmin akan merawatmu lebih dari baik." Tian hanya menggelengkan kepala, dia memanggil Clarissa untuk ikut dengannya ke halaman belakang. Namun ditanggapi gelengan kepala bocah manis kesayangannya itu dan membuat gelak tawa Diana semakin kencang sadar jika Tian sedang dicuekin Clarissa. Oke. Nampaknya dua perempuan terkasihnya lebih memilih Yasmin. Dengan perasaan sebal, Tian memutuskan untuk ke halaman belakang sendiri saja, kemudian duduk di kursi depan kaca yang menghadap ke kolam renang. Dia mengeluarkan ponsel dan kemudian sibuk dengan gawainya sendiri. Mengabaikan obrolan dan gelak tawa dari dalam yang nampaknya begitu menggiurkan untuknya ikut bergabung. Tapi tidak, Tian menggeleng. Menolak pemikirannya untuk bergabung dengan Yasmin dan Diana. Hingga tidak berapa lama, derap langkah kaki terdengar mendekat, disertai celotehan anal kecil yang amat dia sayang. Tian meletakkan ponselnya ke atas meja di samping kirinya, hendak menyambut kedatangan Clarissa. Namun, tidak seperti yang dia harapkan, gadis manisnya berlalu begitu saja melewati dirinya. Dengan menarik tangan Yasmin untuk mengikuti di belakang. Satu kali lagi, dia dicuekin gadis manis terkasihnya. Tian mengembuskan napas. Menatap Clarissa dan Yasmin yang mengarahkan langkah ke taman. Ada karpet yang digelar di taman dengan tumpukan mainan dan cemilan. Nampaknya sebelum kedatangannya, Clarissa sedang mengadakan piknik dadakan di taman belakang. "Nggak perlu setakjub itu," Diana bersuara, melewati Tian dan mengambil duduk di seberang putranya. "Yasmin emang secantik itu kok," imbuhnya sembari meletakkan segelas jus jeruk di atas meja, dekat dengan Tian. "Puji aja terus, sampai bosan." Tian mencebik. Dia mengambil gelas jus dan menyesapnya pelan. Namun tatapannya tak pernah lepas dari Yasmin dan Clarissa yang tampak asyik dengan kegiatan mereka. Seolah ingin menggoda Tian lebih banyak, Diana kembali melontarkan kata. "Mami nggak akan bosan puji Yasmin. Itu kenyataan kok. Hanya lelaki bodoh yang melihat Yasmin tidak cantik." Tian mengerling, menggenggam gelas ditangannya cukup erat. Lalu melirih. "Terus Tian bodoh di sini?" "Emang, kamu lihat Yasmin nggak cantik?" Menggeleng. Tian menjawab lirih. "Nggak. Dia cantik." Diana tersenyum lalu bertepuk tangan senang. "Nah kan." serunya. Membuat Tian sedikit berjengit, juga Yasmin dan Clarissa yang menoleh menatap dia. Ketika Yasmin bertanya ada apa. Diana menggoyang tangannya pelan. "Bukan apa-apa, Sayang, lanjutin main aja. Kita liatin dari sini." Tian memejamkan mata saat sadar akan ucapannya barusan. Pantas ibunya sampai seramai tadi, karena gumamannya terdengar. "Kamu juga mengakui kalau Yasmin cantik kan, Sayang?" Diana menatap Tian penuh goda. Senang saja rasanya menggoda putranya. Tian membantah cepat. "Nggak Ma. Udah deh, jangan pancing-pancing Tian." Tapi bukan Diana namanya jika tidak melanjutkan rencana untuk melambungkan nama Yasmin di depan Tian. Dia sudah sesayang itu pada Yasmin sehingga ingin sekali wanita itu mendapati perhatian dari Tian. Tian sendiri, Diana paham betul tabiatnya. Gengsinya segede gunung. Hanya karena dia yang memilih Yasmin menjadi istri Tian, maka putranya bebas untuk tak memperhatikan Yasmin. Memang Yasmin tidak menceritakan apa pun pada Diana perihal bagaimana kehidupan rumah tangga mereka. Diana sendiri bertanya pada Riri, saudari Yasmin di toko. "Kamu lihat kan Sayang, bagaimana Yasmin bisa begitu menyayangi Clarissa. Cuma dia wanita yang cocok dengan kamu. Yang bisa menerima kamu dan mencintai kamu. Juga menerima Clarissa dan diterima gadis kecil kita." Diana bersuara, dia mengangkat tangannya ketika Tian hendak membatah. "Mami lihat cinta di mata Yasmin buat kamu." Lalu dia menerawang, senyuman terukir di bibirnya ketika menghadap ke arah Clarissa dan gadis manis itu melambaikan tangan ke arahnya. "Dulu pertama kali bertemu Yasmin, ketika Mami beli kue di tokonya. Dia mengejar Mami ketika keluar toko dan mengembalikan dompet Mami yang tertinggal. Belum cukup sampai di situ, Yasmin yang hendak kembali ke toko kue bertemu seorang bocah pemulung dan mengajak bocah itu masuk ke toko, selang beberapa lama, bocah itu keluar dengan kantong plastik penuh berisi. Senyumnya mengembang, senang." Diana mengingat, awal mula dia menaruh kagum pada Yasmin. Yasmin baik hati, begitu lemah lembut namun satu sisi begitu penyabar dan tegar. "Bulan berikutnya Mami datang lagi ke toko itu, namun toko itu disewakan. Toko kue Yasmin tutup." Tian menatap ibunya, mengerjap beberapa kali sebelum mengarahkan tatapan pada Yasmin. Wanita itu sedang menyuapi Clarissa kue. "Ketika Mami bertemu kembali dengan Yasmin. Mami bertemu dia di rumah sakit." Diana menjeda. Menelan ludah susah payah dan membasahi bibir bawahnya. Tidak pernah kuasa untuk menceritakan Yasmin di masa lalu. Tapi, itu harus dia lakukan. Tian harus tahu, bagaimana hidup Yasmin di masa lalu. Agar setidaknya Tian mau meluruhkan sedikit egonya. "Yasmin nangis di depan ruang operasi, sendirian. Tampak begitu kacau. Ibunya sedang operasi usus buntu. Toko kue-nya tutup karena uang sewa ruko dia pakai untuk biaya operasi ibunya." Diana menyeka sudut matanya yang sedikit basah. "Dia tegar sekali Tian. Mami nggak pernah lihat wanita setegar Yasmin. Ketika Mami menawarkan bantuan, Yasmin berulang kali menolak. Dia baru menerima ketika Mami bilang, bantuan dari Mami sebagai bentuk investasi di toko kuenya." Tian merasa dadanya begitu sesak. Bagaimana hidup Yasmin bertahun-tahun ini ketika dia tinggalkan. Kenapa dia begitu buta. Bukankah dulu, saat mereka bersama, Yasmin kerap kali bekerja sampingan karena keuangan keluarga yang memang tidak mencukupi untuk kuliah. Bahkan, Yasmin saat kuliah mengejar beasiswa mati-matian. "Mami dengar dari Riri, kamu dan Yasmin pernah dekat di masa lalu. Mami nggak tahu itu keberuntungan atau bukan, karena setelahnya Mami tahu kalian memiliki masalah. Tapi Tian, percaya sama Mami. Apapun masalah kalian, itu bisa diselesaikan. Kalian bisa membicarakannya baik-baik. Mami ingin kamu bahagia, dan Yasmin juga. Wanita itu sudah Mami anggap putri sendiri bahkan sebelum dia jadi menantu." Tian diam, mencerna baik-baik perkataan ibunya. Tiba-tiba otaknya bekerja begitu lambat. Mungkin karena nyeri merambat perlahan di dadanya. "Mami janji, ini terakhir kali Mami ikut campur kehidupan rumah tangga kalian. Mami harap, kamu bisa membuka hati untuk Yasmin." Diana mengusap bahu Tian, lalu bangkit berdiri dan menghampiri Yasmin. Clarissa sejak tadi terus melambai dengan memanggil dirinya untuk ikut bergabung. Tian di tempatnya duduk hanya mampu termangu. Dia mengusap wajah, menyugar rambutnya. Kenapa menyesakkan mendengar masa lalu Yasmin. Bagaimana wanita itu berusaha berdiri di tengah terpaan badai. Dan kini, dia berusaha membuat badai lain untuk hidup wanita itu. Ketika netranya menemukan Clarissa yang tertawa dan Yasmin yang tidur di karpet sambil dinaiki putri kecilnya. Tian tahu, sejak Diana membuka pembicaraan tentang masa lalu Yasmin dia memandang wanita itu sedikit berbeda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN