12. Sekali lagi, Maaf

2063 Kata
12. Sekali lagi, Maaf Hari-hari cepat berlalu, Namun hubungan Yasmin dan Tian masih bertahan dalam tingkat- Hidupmu hidupmu hidupku hidupku. Jika mengingat perkataan itu. Ingin rasanya Yasmin memaki Tian sepuasnya. Dia dan Tian terikat hubungan, bukan sepele. Mereka sudah menikah. Tapi tidak seperti yang dia harapkan untuk masuk perlahan di hidup Tian, membuat kesempatan. Tian justru bersikap menjadi aktor paling handal yang memainkan perannya. Memang, Tian tidak lagi pulang dalam keadaan mabuk dan bau parfum wanita, tapi, lelaki itu tetap saja bersikap datar. Dingin. Seolah Yasmin memang orang asing. Atau benaran asing. Tian begitu menghayati perannya dalam kesepakatan yang mereka buat untuk tak saling ikut campur. Kesal karena teringat ucapan Tian, Yasmin menutup beberapa laporan penjualan toko yang sedang diperiksanya, kemudian melemparkannya di atas meja. Dia sedang berada di kantor, lantai dua toko kue miliknya. Sesaat Yasmin meregangkan tubuhnya, sebelum akhirnya beranjak dari duduk dan keluar ruangan. Pekerjaannya bisa dia selesaikan nanti saja, di rumah juga bisa. Toh, Tian tidak akan peduli dengan semua yang dia lakukan. "Mukanya biasa aja, Neng. Keliatan banget nggak dipuasin suami." Riri menyambut kehadiran Yasmin. Wanita itu sedang berdiri di belakang meja kasir setelah melayani satu pembeli yang baru saja keluar. Bukannya tertawa, Yasmin semakin memajukan bibirnya sebal. Yang justru membuat Riri menyeringai dan semakin bersemangat untuk menggoda saudarinya itu. Yasmin mengambil permen lolipop di atas meja kasir, membukanya lalu duduk di kursi panjang belakang meja. Kursi kayu yang jadi tempat paling digemari dia dan Riri juga Widya untuk berkumpul dan bergosip ria. Atau yang lebih sedikit berkelas membahas pengembangan toko dan pesaing toko kue-nya. "Aku nginep sini aja lah, malam ini." desah Yasmin sembari mengemut lolipopnya membuat pipinya menggembung. Kalau Clarissa tahu dia makan lolipop gadis manis itu pasti akan merengek dan meminta. "Kenapa rumah, berantem sama Tian? Bukannya biasa ya," Riri duduk di kursi bulat tanpa sandaran, dia memutar-mutar kursi sembari menunggu balasan dari Yasmin. "Nggak perlu diingetin kali Ri," Yasmin mendecak. Riri memundurkan kursinya sampai punggungnya menyentuh meja kasir, kemudian salah satu lengannya bertumpu di atas meja. "Memangnya Cla masih belum tinggal sama kamu?" tanyanya. Karena setahunya, selama Yasmin tinggal di apartemen bersama Tian, gadis manis yang mampu menghidupkan suasana itu bertahan tinggal dengan Diana. "Belum. Kata Mami, sebelum rumah Tian selesai renovasi, biar Cla tinggal sementara bersama Mami." Riri mengernyit, "Dan kamu nggak ikut tinggal bareng Bu Diana?" "Tian nggak mau. Katanya kalau serumah sama Mami, dia tidak bisa bebas pulang malam." Yasmin menjawab jujur, mengingat obrolannya dengan Tian, saat dia menyinggung perihal tinggal dengan Diana untuk sementara waktu. Berdecak. Riri menggeleng pelan sembari menatap Yasmin penuh kagum karena nurut-nurut saja dengan keinginan Tian, hingga satu pemikiran melintas. "Kamu nggak curiga kalau Bu Diana sengaja membuat kamu dan Tian jauh dari Cla biar kalian bisa punya waktu berdua. Dan memanfaatkan momen renovasi rumah Tian," Yasmin diam, hanya membalas dengan kedipan pelan. Benar juga apa yang Riri katakan, Diana mungkin sengaja membuat renovasi rumah Tian semakin lama selesai agar Tian dan dia tidak memiliki pilihan kecuali tinggal di apartemen. "Mungkin, aku harus bicara lagi dengan Tian, untuk tinggal sementara waktu bersama Mami," desah Yasmin. Kalau ada Clarissa hari-harinya tidak akan semencekam ketika di apartemen. "Tapi, bagus juga menurutku. Semenyebalkan apa pun sikap Tian, pasti akan ada obrolan di antara kalian, meski kadarnya hanya berapa persen saja. Karena dia nggak punya pilihan, hanya ada kamu yang tinggal satu atap dengannya." "Satu atap? Ada banyak kali Ri, penghuni gedung apartemen itu, bukan aku sama Tian aja." Riri mendelik. "Terserah deh." putusnya sebal. Itu hanya perumpaan kenapa juga Yasmin menganggap serius. "Tapi, aku penasaran, hampir sebulan tinggal bareng, Tian nggak sentuh kamu sama sekal--" "Yas, ada kiriman buat kamu," Widya datang memotong ucapan Riri, menyerahkan sebuket bunga yang indah kepada Yasmin. Yasmin yang wajahnya hampir memerah karena tahu arah pembahasan Riri tadi, tak ayal menghela napas pelan. Dia belum bercerita apa pun tentang apa yang Tian lakukan padanya. "Dari siapa?" tanyanya sembari menerima buket itu dan membaca secarik pesan yang tertempel. "Dear Yasmin. Berharap harimu indah." Riri yang penasaran,  tanpa izin menjulurkan kepala dan membaca tulisan yang tertera di pesan itu. "Nggak ada nama?" Yasmin menggelengkan kepala, ketika membolak-balik pesan itu dan tidak menemukan sederet nama pengirim. "Kamu punya penggemar rahasia?" tanya Riri lagi. "Masa sih, palingan itu dari Tian. Ingin bikin surprise kecil-kecilan." Widya mengungkap pendapatnya. Yang serta merta dipatahkan oleh Yasmin, karena hal tidak mungkin bagi Tian mengirim bunga seperti itu. "Tapi, bisa juga sih, upaya Tian untuk berbaikan. Mungkin lelaki itu mulai bosan dengan pertengkaran kalian." "Eh, Yasmin sama Tian bertengkar. Pengantin baru loh, pamali ah, udah bertengkar aja." Yasmin sendiri, dia hanya mengernyit, berpikir, siapa kah gerangan si pengirim bunga, kenapa juga terasa begitu mencurigakan baginya. "Kalau marahan jangan lama-lama Yas, salah satu harus mengalah. Nggak pa-pa terlihat kalah, dari pada sama-sama mempertahankan ego, nanti kalau berlarut-larut, untuk kembali akrab akan terasa canggung. Itu pengalamanku sih, sama temen kos-ku, dulu banget." Widya kembali bersuara, menasihati. Dia mengambil duduk di samping Yasmin. "Yee ... itu mah kamu, Yasmin kan beda lagi." Riri menimpali. Widya mengangkat telunjuknya. "Justru itu, sudah jadi suami istri nggak boleh marahan lama-lama. Sehari harusnya sudah selesai. Pagi marah, sore atau malamnya udah baikan." Untuk ucapan Widya kali ini, Yasmin tanpa sadar memejamkan mata. Dia dan Tian memang bertegur sapa di rumah, tapi aura pertengkaran itu jelas terasa. "Lebih baik kamu deh Yas, yang mengalah. Coba datangi Tian, ajak makan deh siang ini. Pantas aja dari kemarinan aku liat kamu banyak pikiran gitu." Widya yang memang sejak awal lebih berpikir dewasa, tak lelah mengungkap nasehat-nasehatnya. Yasmin menatap Widya yang tersenyum ke arahnya, lalu menatap Riri dan menemukan anggukan kepala dari wanita itu. "Kali ini aku setuju sama Widya. Pertengkaran kalian jangan dianggap sepele. Selesaiin gih, pergi ke kantor Tian dan ajak dia makan." ucap Riri menyemangati. Yang tentu saja, membuat Yasmin akhirnya mengukir senyuman senang. Dia memang bersikap acuh-tak acuh akan permasalahannya dengan Tian, tapi sejujurnya dia berpikir keras, bagaimana membuat hubungan mereka sedikit lebih baik. Maka yang Yasmin lakukan kemudian adalah bergegas keluar toko, pamit pada dua sahabatnya dan mengucapkan terima kasih akan dukungan itu. Dia berniat mendatangi Tian di kantornya, seperti yang Widya dan Riri bicarakan. *** Butuh hampir satu jam bagi Yasmin untuk sampai di gedung kantor Tian. Bukan karena jaraknya yang jauh tapi karena tadi dia mampir terlebih dahulu di sebuah restoran langganannya. Membeli seafood kesukaan Tian. Memasuki gedung kantor 20 lantai itu, Yasmin segera mengarahkan langkahnya ke dalam lift, kemudian menekan angka 19 tempat di mana ruangan Tian berada. Dengan dua bungkusan makanan di masing-masing tangannya, Yasmin berjalan ringan dan langsung membuka pintu kantor Tian tanpa mengetuknya terlebih dahulu. "Mas Tian, aku--" Tercekat, ucapan Yasmin terhenti di tenggorokan. Tiba-tiba lidahnya kelu ketika mendapati Tian tertidur di sofa panjang dengan menjadikan paha seorang wanita sebagai bantalan kepalanya. Dadanya bergerak cepat naik turun. Darahnya naik ke atas kepala dan siap meluapkan emosi. Namun ditahannya. Yasmin justru melangkah santai memasuki ruangan dan meletakkan bungkusan makanan yang dia bawa ke atas meja dengan cukup keras. Membuat wanita yang sudah lancang mendekati Tian itu terlonjak. Namun tak lama kemudian wanit itu menyungging senyum sinis dan angkuhnya. "Biar aku saja, kamu kembali bekerja!" tegas Yasmin. Matanya menyorot tajam ke arah Ramita. Sekretaris Tian. "Tapi, Pak Tian baru saja tertidur," ucap Ramita, sunggingan sinis masih saja melekat di bibirnya yang dihiasi lipstik merah tebal. "lagipula Pak Tian pasti akan senang jika saya yang menemaninya dari pada ditemani istri yang hanya kamuflase baginya." Yasmin menatap tajam ke arah Ramita dengan mengatupkan rahangnya kuat. Dia merasa kacau hanya karena ucapan wanita dihadapannya itu. Istri kamuflase, dia bilang. "Beraninya kamu berucap lancang. Pergi sekarang atau kamu akan menyesal." tegas Yasmin penuh penekanan ditiap katanya. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi siap memberi tamparan pada wanita kurang ajar di depannya andai saja wanita itu tak segera beranjak. Ramita membelalakan matanya kemudian dengan perlahan dia beranjak meletakkan kepala Tian begitu saja di atas sofa. Dia paham sekali bahwa Yasmin tidak akan main-main dengan ucapannya. Dia juga tahu jika Yasmin pandai berkelahi. Menghajar seseorang bagi Yasmin adalah hal yang mudah. Ramita keluar ruangan Tian dengan hati dongkol. Baru saja lima menit dia memangku Tian tapi sudah diambil alih oleh istrinya. Sementara itu, Yasmin segera mengunci pintu kemudian duduk diam memperhatikan Tian yang sedang terlelap di hadapannya. Hatinya selalu saja tersakiti dengan semua tingkah Tian. Entah disengaja atau pun, tidak yang jelas, bicara tentang Tian tak ada habisnya dengan wanita disekitarnya. Menggigit bibir bawahnya, Yasmin menahan tangisan yang siap keluar. Jika harus dihadapkan dengan hal seperti itu tiap saat. Dia yakin jiwanya takkan mampu bertahan. Hatinya tiap hari selalu retak di sana-sini. "Haruskah aku menyerah saja Mas," lirih Yasmin. Setetes bulir airmata membasahi pipinya. Luruh sudah gegap gempita kebahagiaan yang tadi dia bawa dari toko. Dia menangkup wajahnya dengan dua tangan. Menangis sendu di dalamnya. Dia lelah. Hatinya sakit. Perih. Dan nyeri di sana-sini. Selama perjalanan pernikahannya. Dia selalu menjadi korban. Dirinya tersakiti, hatinya dilukai sampai sedalam ini oleh Tian. Yasmin tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia butuh sandaran untuk melepas semua kesakitan yang menderanya. "Ini sakit, Tian. Belum cukup kah kamu menyiksaku." sendu Yasmin. Sebelah tangannya menekan dadanya yang terasa sakit dan sesak. Ketika setiap napasnya dia curahkan untuk mencintai seorang Tian. Laki-laki itu justru berbuat sebaliknya. "Istri kamuflase." Yasmin menggumam sinis kemudian mendengkus. Mengingat ucapan Ramita tadi, dia merasa terhina dan direndahkan. Dia sendiri tahu posisinya, tapi tak pernah sedikit pun menyangka bahwa orang lain akan melihat hal itu. Istri yang tak dianggap. Istri yang tak mendapatkan hati dan cinta suaminya. Bahkan dia melihat selalu ada kebencian di mata Tian untuknya. Cukup lama Yasmin menangis, membuat matanya merah dan sembab. Dan selama itu pula Tian tak terusik sedikitpun. Meski sesekali melenguh dan berganti posisi, tetapi lelaki itu tetap terlelap dalam tidurnya. Namun kali ini sepertinya tidak, laki-laki itu sudah mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan kini tengah menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya. "Kenapa kamu di sini?" satu pertanyaan keluar dari bibir Tian ketika lelaki itu mendapati Yasmin duduk di hadapannya. "Kamu belum makan siang." Yasmin menyahut datar. Tak ada senyum sedikit pun yang dia sunggingkan di bibirnya. "Hm, jam berapa?" Yasmin mendesah. Dia melirik sebentar jam di tangannya. "Jam dua lewat sepuluh," sahutnya. Tian mengernyit. Menyadari ucapan Yasmin yang tak seperti biasanya. "Ah, dari pagi sampai jam dua belas ada meeting jadi aku lelah sekali." jelasnya. Lalu dia bangkit, menegakkan tubuh. "Kenapa tidak tidur di private room saja." seru Yasmin kesal. Karena di ruangan Tian ada kamar pribadi dan laki-laki itu tidak menggunakannya. Tian menoleh menatap Yasmin yang sedang menata makanan di atas meja. "Memang kenapa? Terserah aku mau tidur di mana," Menghela napas, Yasmin mendongakkan wajahnya. Menatap sesaat laki-laki di hadapannya kemudian kembali menunduk. "Tidak apa, hanya saja banyak w************n yang dengan senang hati mendekatimu," lirihnya Lagi, Tian mengernyit. Sikap Yasmin dan perkataan wanita itu hari ini di luar ekspektasinya. Yasmin yang ramah dan murah senyum itu tak lagi ditunjukkan hari ini. Padahal dulu saja, ketika Tian membentak dan memarahinya, Yasmin akan tetap tersenyum dan baik padanya. "Makanlah, aku harus kembali." ucap Yasmin segera beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. "Kamu marah?" Itu pertanyaan bodoh. Sudah sewajarnya kalau Yasmin marah padanya atas semua hal bodoh yang dia dan Yasmin lakukan. Atau lebih tepatnya hanya dia yang melakukan. Tian mencekal lengan Yasmin. Menahan kepergian wanita itu. Ada sedikit sudut hatinya yang merasa senang ketika wanita itu menyambangi kantornya dan membawakannya makan siang. Yasmin mengetatkan bibirnya membentuk garis lurus, sebelah tangannya berusaha melepaskan cekalan Tian di lengannya. Tapi laki-laki itu justru semakin mengeratkan cekalannya dan menarik tubuh Yasmin ke dekatnya. Niatan Yasmin memang ingin berbaikan yang benar-benar baik dengan Tian, namun dia kesal karena sekretaris lelaki itu yang kurang ajar. "Kamu kenapa? Matamu merah. Kamu marah padaku."  Tadinya Tian tidak ingin menghiraukan mata merah dan sembab Yasmin yang menyambutnya. Tapi tidak ketika wanita itu justru pergi. Meninggalkan begitu banyak pertanyaan dibenaknya. "Maaf," bisik Tian lirih. Yang tak mampu didengar orang lain selain dirinya sendiri. Bisikan lirih yang segera menghilang terbawa angin. Dia sendiri tak tahu apa yang terjadi hingga menyebabkan Yasmin menangis dan marah seperti itu. Dia tahu, kesalahannya memang sudah sebesar yang tidak bisa dia bayangkan. Sekadar maaf, tentu tidak sebanding. Apalagi, perlakuan Yasmin terlalu sempurna menghadapi dirinya. Wanita itu tak sekali pun meloloskan amarah yang berarti padanya. Yasmin teramat baik, terlalu perhatian padanya. Melihat dua matamu yang memerah dan membengkak Membuat sesuatu dalam dadaku terasa sesak dan nyeri. Aku tak tahu apa, tapi itu sama sekali tak menyenangkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN