11. Kesepakatan

1084 Kata
11. Kesepakatan "Hidupmu hidupmu, hidupku hidupku. Jadi tidak ada hak untuk mencampuri urusan satu sama lain!" Mengerjap kaget, Tian membelalakkan matanya lebar. Dadanya bergemuruh mengingat sekelebat amarahnya semalam. Kata-kata sekejam itu pada akhirnya keluar dari bibirnya juga. Benar, baru saja semalam dia dan Yasmin kembali bertengkar. Sekembalinya Yasmin ke apartemen, Tian menyusulnya di belakang. Dan pertengkaran kali ini lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Tian dan Yasmin saling melempar kata-k********r yang pastinya menyakiti satu sama lain. Hingga akhirnya sebuah kesepakatan dan satu permintaan Yasmin menutup pertengkaran itu. Masih teringat jelas di benaknya setiap kata yang terucap dari bibir Yasmin. "Kamu, boleh tidak mengacuhkanku. Kamu boleh tak memperlakukanku dengan baik. Tapi bisakah jangan lagi bermain wanita. Aku hanya tidak ingin orang-orang yang begitu bahagia dengan pernikahan ini akan tersakiti dan terluka. Terutama keluargamu dan keluargaku." Mengusap wajahnya kasar, Tian sedikit menggeliat di atas ranjang. Pikirannya masih sekacau semalam. Dan kini ditambah dengan sedikit pusing yang melanda. Mengedipkan matanya beberapa kali, Tian memandang sendu langit-langit kamarnya. Dia masih belum mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Harusnya dia bahagia, karena pada akhirnya Yasmin menyerah dan menuruti semua keinginannya. Dia bahkan melihat dengan jelas wajah kekecewaan dan tersakiti Yasmin semalam. Matanya yang merah dan terlihat sembab. Ditambah air mata yang tanpa henti mengalir di pipi wanita itu. Dia berhasil menjerat Yasmin, mengikat wanita itu dalam lingkaran kehidupan penuh luka yang siap dia balaskan. Tapi ... Tian menyentuh sebelah dadanya, tepat di mana jantungnya berada. Dadanya terasa sesak dan begitu nyeri. Wajah Yasmin yang berlelehan air mata kembali berkelebat. Hingga akhirnya Tian tersadar, laki-laki itu menolehkan wajah. Menatap sisi lain ranjangnya. Di sana. Tepat di sisi kanannya, seorang wanita tengah meringkuk menghadap ke arahnya dengan selimut yang membalut tubuhnya. Dua matanya tertutup rapat, tak terusik meski ada pergerakan di sebelahnya. Tian tersenyum miris, setelah bermalam-malam dia lalui dengan Yasmin tidur di sebelahnya. Tapi  tidak sekali pun dia pernah memperhatikan wanita itu tertidur. Karena Tian lebih suka tidak mempedulikan Yasmin, meski wanita itu menjadi kawan tidurnya. Dan pagi ini, Tian mendapati seorang wanita yang masih terlelap dengan wajah polos seolah tidak pernah ada masalah di hidupnya. Seolah mimpinya begitu indah sampai dia enggan untuk membuka mata. Memberanikan diri, Tian mengangkat sebelah tangannya, terulur menyentuh belah pipi Yasmin yang dipenuhi jejak air mata, dan mengusapnya pelan. Mata Yasmin jelas sekali terlihat sembab meski masih tertutup. Namun dengan mata sembab begitu, kenapa wajah Yasmin tetap terlihat damai. Pertama kali bagi Tian menyentuh Yasmin. Menatap wanita itu dengan jarak sangat dekat. Wanita itu tak sedikit pun terusik dengan sentuhannya. Masih saja nyaman dalam posisinya dan terlelap damai. Ah, Tian melupakan satu hal. Pantas saja sudah sepagi ini Yasmin masih terlelap. Karena semalaman wanita itu pastilah terjaga dan menangis sendirian. Kembali sesak dan nyeri itu menyerang dadanya. Menyadari bahwa dirinyalah yang telah menyakiti Yasmin sampai sedalam ini. Tak sampai disitu Tian juga membuat kesepakatan yang jika siapa pun mendengarnya tak akan segan untuk melayangkan pukulan ke arahnya. Bahkan mungkin membuatnya babak belur dan mengumpatinya dengan puluhan kalimat kasar. Tapi tidak dengan Yasmin, wanita itu hanya mengangguk mengiakan. Tak sekali pun mengangkat tangan meski sikap Tian keterlaluan. Merasa cukup dengan apa yang dilakukannya dan dilihatnya pagi ini. Tian segera bangkit dari tidurnya secara perlahan, tak ingin mengusik tidur Yasmin. Sebagian dirinya mengutuk perbuatannya namun sebagian lagi masih bertahan dengan egonya. Keegoisannya. Kebencian dan amarahnya. *** Pukul sepuluh pagi, Yasmin terbangun. Matanya begitu berat untuk terbuka. Dan ketika dia melihat jam di ponselnya, seketika dua mata yang tadinya begitu berat kini terbuka lebar. Dia mengerjap dan langsung terduduk bersandar di kepala ranjang. Seolah sudah tersetting otomatis, Yasmin menggerakkan tubuhnya untuk membersihkan diri, setelahnya dia membereskan kamarnya dan tak lupa membuka tirai kamarnya agar sinar matahari menyapa. Sedikit menguap, Yasmin membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar. Baru saja dia akan melangkah ke dapur, suara televisi menghentikan langkahnya. Segera dia membalikkan tubuh melihat siapa yang sedang menonton. Detik berikutnya matanya terbelalak. Sosok Tian yang sedang memunggungi dirinya membuat dia tertarik untuk mendekat. "Pagi, kamu sudah bangun?" sapa Yasmin ketika dia sudah berdiri tepat di sebelah Tian. Tian menolehkan wajah, laki-laki itu tengah sibuk dengan laptop di pangkuannya. "Hmm ... " sahutnya singkat. "Maaf, aku kesiangan. Kamu sudah sarapan?" tanya Yasmin ringan. Seolah pertengkarannya dengan Tian semalam bukanlah apa-apa. Seolah tangisannya di pojok kamar yang membuat matanya sembab dan memerah adalah hal yang wajar. Tian menaikkan sebelah alisnya. Menatap Yasmin penuh rasa penasaran. Tadi dia sempat mengira bahwa Yasmin takkan lagi peduli padanya. Namun nyatanya salah. "Kamu--" menggantung, Tian tak mampu bertanya tentang sikap Yasmin. Kata-kata yang sudah akan dikeluarkannya terhenti di tenggorokan. Yasmin tersenyum samar, dia tahu apa yang akan diucapkan Tian. Dia ingat, detail apapun yang terjadi semalam. Tapi, rasa cintanya mengalahkan segalanya. Dia sudah mendapatkan janji dari Tian, jika lelaki itu tidak akan jalan dengan wanita-wanita mana pun. Dan itu cukup untuk saat ini. Bagi Yasmin, selama Tian tidak berdekatan dengan banyak wanita, maka itu menjadi satu kesempatan baginya untuk masuk. Meski dia pun harus menepati janjinya untuk tidak mengurusi kehidupan Tian. Tapi, ini hanya sarapan. Bukan hal besar. Yasmin istri Tian, dan sudah seharusnya memperlakukan suaminya dengan baik. Di luar segala tingkah menyebalkan dan kesepakatan penuh emosi dari lelaki itu. "Aku ingat, tapi biarkan aku bersikap layaknya istri yang melayani suaminya. Bolehkah?" Mengerjap, Tian lagi-lagi dibuat bungkam dengan tingkah Yasmin yang begitu mulia. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan amarahnya atau pun kebencian karena semua yang telah Tian lakukan. "Oh, aku baru minum kopi." ujarnya pelan memberitahu. Teringat pertanyaan pertama Yasmin. Yasmin melirik cangkir kosong di atas meja dan meraihnya. "Mau kubuatkan lagi?" "Hm," "Baiklah. Kamu tidak ingin request menu sarapan pagi ini." lagi, Yasmin tak hentinya melontarkan pertanyaan agar dia bisa sedikit lebih lama berbincang dengan Tian. "Omelet, kalau tak keberatan." sahut Tian melirik Yasmin sesaat sebelum kembali pada layar laptop yang sudah dia letakkan diatas meja. "Tunggu sebentar, ya." Yasmin berseru, kemudian berlalu ke dapur. Siap memasak menu spesial permintaan sang suami. Ah, kenapa rasanya begitu bahagia ketika seseorang yang disayang meminta dimasakkan sesuatu. Yasmin tak lepas menyungging senyum, bahkan sesekali dia berdendang lirih. Masalahnya dengan Tian terselesaikan semalam. Meski, masih ada jarak dan benteng yang menghalangi hubungannya. Namun Yasmin yakin suatu saat Tian akan berubah. Menjadi Tian-nya yang dulu. Tian yang menjaganya, Tian yang menyayangi dan mencintainya. Bukankah sekeras apa pun sebuah batu, seiring berjalan waktu akan terkikis perlahan ketika selalu ditempa air. Cintanya tak terbatas, begitulah katanya. Seperti buih pantai dan pasir membentang. Seperti ombak yang tak pernah lupa untuk kembali ke pantai, Mungkin cintanya bisa diibaratkan seperti itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN