10. Kekecewaan

1090 Kata
10. Kekecewaan Bisakah aku menolak, Bisakah aku menjerit dan memakinya, Bisakah aku melakukan apa pun yang kumau dan menjeratnya agar tetap di sisiku. Yasmin menyorot tenang pada sepasang laki-laki dan wanita di hadapannya. Tak ada senyum dan juga kemarahan yang ditunjukkan. Dia terlampau tenang bahkan orang yang memandangnya mungkin akan merunduk takut. "Satu wanita berbeda tiap malam," Yasmin membuka suara. Dia melangkah lebih mendekat pada Tian. "Mabuk-mabukkan, pulang malam, kecupan di pipi dan membodohiku  selama ini." lanjutnya. Terkejut, Tian melebarkan matanya. Meski sesaat, karena setelahnya dia kembali menguasai diri agar keterkejutannya tak begitu terlihat. Pikirannya cukup kacau dan berantakan, tidak menyangka jika Yasmin memergokinya dan membongkar tingkahnya semingguan lalu. Tapi, satu yang membuat pikiran Tian penuh tanda tanya. Wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu sama sekali tak menunjukkan kemarahan apalagi sebuah kecemburuan. Ah, dia lupa. Tak ada cinta untuknya dari Yasmin. Kenapa dia sampai berpikiran picik seperti itu. Yasmin menelan ludah, berhenti tepat dua langkah di depan Tian. Membalas tatapan laki-laki itu ketenangan luar biasa. "Kamu anggap aku ini apa Mas?" tanya Yasmin lirih. Tian hanya menaikkan sebelah alisnya. Menganggap Yasmin sebagai apa? Ah, tentu sebagai istri yang akan terus dia sakiti. Tersenyum manis Yasmin menyahuti ucapannya sendiri. "Oh, aku lupa. Bukankah aku tidak pernah kamu anggap keberadaannya." "Hei ... kamu bodoh ya. Minggir sana ngomong nggak jelas banget." wanita di samping Tian berucap sinis. Dua tangannya semakin erat mendekap lengan lelaki itu. Berbeda dengan wanita di sampingnya, Tian justru menegang di tempatnya. Kata-kata Yasmin, senyuman wanita itu membuat sesuatu di dadanya tiba-tiba nyeri dan sesak. "Kamu sadar diri juga." Bodoh. Tian merutuki kebodohannya karena berucap seperti itu. Itu keterlaluan. Karena dia justru membuat nyala api yang coba Yasmin redam kini berkobar. Tersenyum miris, Yasmin mengepalkan tangannya kuat di dalam saku jaketnya. Darahnya mendidih mengetahui satu fakta lain bahwa dia memang tak pernah dipandang oleh Tian. Ingin rasanya apa yang dia lihat dan dengar sedari tadi hanyalah sebuah mimpi belaka. Sehingga ketika nantinya dia terbangun dia akan dengan mudah melupakan. "Aku kecewa padamu." lirih Yasmin akhirnya, dia menatap Tian sekilas dengan sorot mata yang menyiratkan betapa sakit dan terlukanya dirinya. Kemudian dia beranjak ke mobilnya, masuk dengan cepat tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Mencengkeram kuat kemudi dengan dua tangannya, Yasmin segera melajukan mobilnya meninggalkan Tian yang masih berdiri mematung. Sepeninggal Yasmin, seolah tersadar dengan apa yang baru terjadi. Tian menghentakkan lengannya kasar. Membuat pelukan di lengannya terlepas begitu saja. "Tian, wanita itu siapa?" tanya si wanita yang sejak tadi menempel di lengan Tian. Wanita yang bekerja sebagai model dan cukup dikenal dan pastinya tergila-gila pada Tian. "Pergi!" Wanita itu menggeleng, "Kita janji kalau malam ini--" "Aku bilang pergi !! jangan dekati aku lagi!" kembali Tian berucap keras dan tegas. Membuat wanita yang tak ingin Tian ingat namanya menunduk takut namun perlahan menjauh dan pergi dengan raut wajah kesal. Mengeratkan rahangnya, Tian memandang kepergian Yasmin. Matanya merah menahan amarah dengan d**a yang bergemuruh hebat. Bahkan kedua tangannya terkepal begitu kuat, siap melayangkan pukulan jika saja ada yang mengganggunya. Dan akhirnya dia lampiaskan pada mobil tak bersalah. Kaki kanannya menendang keras ban mobil miliknya. "s**t!!" umpatnya, bukan kesakitan karena habis menendang tapi lebih karena kesadaran yang baru dialaminya. Kesadaran bahwa dia tak pernah memiliki sedikitpun hati Yasmin. Menyesakkan rasanya, dan sangat menyakitkan. Usahanya untuk membuat wanita itu menderita dan tersakiti justru membuat dirinya sendiri tak merasakan kelegaan apa pun, tak ada kebahagiaan. Hatinya semakin terasa terhimpit dan menyesakkan. "Hei, Bro. Are you okay?" tanya seseorang. Menepuk salah satu bahu Tian. Tian yang sedari tadi duduk bersandar di depan mobil, mendongakkan kepala dan siap melayangkan tinjuan pada siapa pun yang telah mengusiknya itu. Namun diurungkannya karena Risyad lah yang mendatanginya. Sahabat sekaligus pemilik bar di belakangnya. "Bagaimana? Sesuai perkiraanmu. Yasmin cemburu, marah, atau menangis tanpa henti." Risyad berucap ringan, dia melangkah dan mendudukkan tubuhnya di samping Tian. Sedari tadi Risyad memang memperhatikan interaksi sepasang suami istri di depannya. Mendengar dengan saksama lontaran kalimat dari keduanya. Tian menggeram. Dua matanya menatap tajam sahabatnya. Sedangkan Risyad tersenyum samar, "Kamu berhasil menyakiti Yasmin, sangat menyakiti wanita itu. Dia memang tak terlihat marah, tak terlihat cemburu apalagi menangis. Tapi hanya orang buta yang tidak bisa melihat sinar kesakitan di matanya." "Jadi aku buta di sini?" Tian menaikkan alisnya. Tersinggung dengan ucapan sang sahabat. Risyad tak menimpali, matanya masih menerawang ke depan. Malam ini dia bertekad akan membuka mata dan pikiran Tian tentang Yasmin. Sejujurnya dia tak pernah suka jika Tian bertingkah seenaknya, bermain perempuan dan berusaha menyakiti Yasmin. "Harusnya kamu tahu, di mata Yasmin hanya ada dirimu. Dia bahkan teramat mencintaimu. Jika ku perhatikan sebentar saja, caranya memandang dan tersenyum padamu itu jelas berbeda, ada kasih dan cinta di dalamnya." Tian terkekeh. Tidak menyangka bahwa Risyad akan berubah menceramahi dirinya. Dan membela habis-habisan Yasmin. Mencintai katanya. Huh. Dia tak yakin Yasmin memiliki perasaan seperti itu. Wanita itu menyetujui menikah dengannya tentu karena tak enak hati yang permintaan Maminya, yang katanya sudah membatu toko kue Yasmin untuk bangkit. Yah, yang Yasmin lakukan hanya ingin membalas budi. "Kamu nggak ngerasain masa laluku. Jadi berhenti mengatakan Yasmin mencintaiku." Risyad mengembuskan napas. "Aku memang nggak tahu, tapi dilihat dari ambisimu. Kamu bahkan masih begitu mencintainya." Tian kembali mengeratkan rahangnya. Dadanya bergejolak. Kata-kata keramat yang begitu lama dijauhinya justru kini terdengar lagi. Begitu mencintai. Itu hanya masa lalu.Masa-masa bodohnya yang terlena akan cinta. Masa-masa di mana dia siap mempertaruhkan hidupnya hanya untuk cinta. Tapi sekarang tidak lagi. Kata itu bahkan tak lagi ada di hatinya. Atau dia memang berpura-pura menghilangkannya. Memang untuk apa lagi sekarang. Ada atau tanpa cinta, dia masih bisa berdiri tegak. Mengembangkan bisnisnya, kaya raya, dikenal di mana-mana dan pastinya apa pun yang dia inginkan mampu dia dapatkan. "Jangan menyesal jika nantinya cintamu akan meninggalkanmu." ucap Risyad. Menepuk sekilas sebelah bahu Tian kemudian segera berlalu dan kembali ke dalam bar. Dia menggeleng pelan, ketika sesaat melihat Tian yang terlihat masih termenung. Risyad sendiri sedari tadi dia ada bersama Tian juga wanita yang memang datang bersama Tian. Hanya saja ada sedikit urusan yang harus diselesaikannya dan mengharuskannya masuk ke kantornya. Lalu ketika dia kembali, dia melihat pertengkaran sahabatnya bersama sang istri. Hal yang tak pernah diduganya jika sikap semena-mena Tian akan terungkap secepat itu. Risyad menjadi seseorang yang mengetahui alasan Tian menikahi Yasmin. Membuat wanita itu menderita dan tersakiti. Cinta memang terkadang buta, Cinta memang beda tipis dengan benci, Sampai sampai tidak bisa lagi membedakan mana cinta dan benci. Dan hal itu terjadi pada Tian, sahabatnya sedari kuliah. Seorang laki-laki yang tersesat dalam keegoisan dan ambisi tentang cinta. Dan laki-laki bodoh yang menganggap cintanya adalah sebuah kebencian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN