9. Wanita Semalam
Harusnya, Yasmin mengikuti permintaan Diana dan Clarissa tadi sore untuk menginap di tempat Ibu mertuanya hanya untuk semalam. Karena nyatanya, seseorang yang menjadi alasan baginya untuk tetap tinggal di apartemen justru pergi bermain sendiri.
Kenapa Yasmin tahu, tentu saja karena tadi sebelum Tian pergi, dia mendengar pembicaraan laki-laki itu dengan seseorang ditelepon.
Menghela napas, Yasmin membuka pintu kaca kamarnya. Dia berjalan ke arah balkon. Dipandanginya langit malam tanpa bintang. Begitu gelap dan sunyi. Tak ada cahaya bulan yang menyinari atau pun bintang yang menghiasi di atas sana. Rasanya begitu persis dengan suasana hatinya kini, mendung dan begitu suram.
Ah, mungkin berlebihan jika dikatakan begitu tapi memang itulah keadaannya.
Menarik kursi, Yasmin mendudukkan tubuhnya. Tepat berada di depan pagar pembatas. Dia memejamkan matanya, membiarkan angin malam membelai wajahnya.
Tak lama kemudian, dia membuka matanya cepat, teringat akan bahan makanan di kulkasnya yang telah kosong. Segera dia beranjak dari tempatnya, menutup pintu kaca dan menyambar sweter beserta kunci mobil dan dompetnya.
Sekilas dia melirik jam dinding. Pukul 19.00 belum terlalu malam baginya untuk berbelanja di supermarket.
Memakai sweter sedikit tebalnya, Yasmin segera keluar apartemen menutup pintunya dan mengunci secara otomatis. Dia menaiki lift sampai ke basement.
Tatapannya mengedar di seluruh basement, Tian baru saja memberikannya mobil, katanya hadiah pernikahan. Yasmin sendiri sudah menolak, namun seperti yang sudah-sudah, lelaki itu tidak akan mendengar ucapannya. Menganggap angin lalu, seolah pendapat Yasmin tidaklah penting, namun memang tidak penting bukan.
Yasmin memencet alarm mobil yang menggantung di kunci dalam pegangannya. Dan ketika alarm itu berbunyi nyaring, dia mengukir senyuman, menuju mobil yang hanya berjarak beberapa mobil dari tempatnya berdiri.
Sedan putih dengan plat nomor cantik dan jangan ditanya sebagus apa, menyambut matanya. Yasmin memang bisa mengendarai mobil, pernah ikut kursus dulu, pernah punya mobil juga saat tokonya dulu mulai berkembang, sebelum kemudian anjlok dan hampir gulung tikar. Membuat mobil bekas yang Yasmin beli kembali dia jual.
Masuk ke dalam mobil barunya, Yasmin bersyukur dia sempat diajari sopir pribadi Diana, untuk sedikit melemaskan tangan-tangannya. Karena dari pada mobil yang kali ini dia kendarai, mobil bekas dahulu kala kalah jauh. Iyalah, sekali pun dulu dia beli baru juga takkan mampu menyamai mobil pemberian Tian.
Keluar dari kompleks apartemennya, Yasmin menekan pelan horn, menyapa security yang berjaga, sebelum akhirnya fokus mengendarai.
Supermarket yang Yasmin datangi tidak cukup jauh, namun karena ini di pusat kota, dan kebetulan weekend, membuat jalanan padat dan Yasmin mengendarai mobil barunya dengan penuh perasaan. Dia menyalakan tape mobil, mendengarkan radio. Namun sialnya, lagu yang diputar melemparkannya pada nostalgia zaman dulu.
"Aku suka banget lagu ini, Yas. Berasa masuk ke hati ya. Besok aku katamin main gitar deh, biar nyanyiin lagu ini di depan banyak orang."
"Enggak juga nggak apa-apa. Aku tetep sayang."
"Aihh ... gimana aku nggak makin cinta kalau digombalin gini. Belum wisuda udah aku bawa ke penghulu deh, kamu."
Yasmin mengukir senyum getir mengingat itu. Memang hanya masa lalu, yang harusnya sudah terlupakan seiring waktu namun untuknya justru tetap melekat diingatan. Mengiringi setiap detik waktu yang dia lewati.
***
Berkendara pelan, Yasmin sedikit menikmati suasana malam. Selepas dari supermarket dia memutuskan untuk langsung pulang. Tapi tiba-tiba dua manik matanya menangkap sebuah mobil yang begitu ia kenal terparkir di sebuah bar tak jauh dari kompleks apartemennya.
"Mobil Tian,"gumamnya lirih. Ketika dia melirik plat no mobil itu. Tanpa menunggu waktu, Yasmin segera memarkir mobilnya tepat di sebelah mobil Tian. Dia keluar dari mobilnya dan melirik sekitaran. Berusaha mencari pemilik mobil yang tak lain adalah suaminya.
Yasmin begitu penasaran, apa yang sedang dilakukan Tian dan bersama siapa laki-laki itu. Hingga akhirnya sudut matanya menemukan sosok Tian. Laki-laki itu duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut panjang.
Mengernyitkan alisnya, Yasmin semakin penasaran. Dia memutuskan untuk memasuki bar itu, berjalan tenang mencari kursi. Dan menempatkan dirinya tepat di depan meja bar. Tempat strategis baginya untuk mengamati Tian, karena laki-laki itu duduk membelakanginya.
"Pesan apa Nona?" tanya seorang pelayan laki-laki di depannya.
Yasmin menoleh menghadap pelayan tadi, berpikir sesaat sebelum memutuskan untuk memesan sesuatu. "Jus jeruk ada?"
Sang pelayan menyungging senyumnya dan mengangguk mengerti kemudian segera berlalu dari hadapan Yasmin.
Yasmin sendiri, dia kembali pada kegiatannya mengamati Tian, dia tak ingin berprasangka buruk sebelum melihatnya dengan mata sendiri.
"Ah, mungkin rekan kantornya." gumamnya meyakinkan diri sendiri.
"Jus jeruk pesanan Anda, Nona,"
Lagi, suara seorang pelayan menginterupsi kegiatan Yasmin. Membuat wanita itu mengangguk dan mengukir senyum tipis. "Terima kasih," lirihnya.
"Sebastian Megantara, seorang CEO tampan, kaya raya yang digilai banyak wanita,"
Yasmin mendongak, menatap pelayan laki-laki yang baru saja berbicara dengan mengernyitkan dahinya.
Pelayan dengan name tag bertuliskan Zaki itu tersenyum ramah. "Tapi sayangnya, Tuan Sebastian sudah mempunyai pasangan Nona," lanjutnya lagi.
Kali ini Yasmin mengerjap, tadinya dia ingin menginterupsi ucapan pelayan itu dan menyuruhnya pergi namun diurungkan. Mungkin dia bisa mencari tahu tentang Tian dan wanita asing yang kini tampak akrab sekali dengan Tian.
"Benarkah, kenapa kamu bisa tahu? " tanya Yasmin sealami mungkin meski hatinya bergejolak. Dadanya bergemuruh dengan perasaan gelisah dan kecewa yang tiba-tiba merajai.
"Tidak sulit untuk mengetahuinya karena Tuan Sebastian selalu menjadi pusat perhatian. Dan Nona sejak tadi pastilah sedang memperhatikan mereka bukan?" Zaki kembali mengulas senyum, kali ini dia mengangkat sedikit dagunya mengarah pada Tian.
Yasmin mengikuti arah pandang Zaki, kembali dua matanya fokus pada pasangan jauh di depan sana. Ah, pasangan. Rasanya dia ingin sekali mendatangi meja Tian, menggebraknya keras dan melayangkan sebuah tamparan untuk wanita kurang ajar itu.
"Lalu wanita itu siapa? Kekasih Tian?" tanyanya pelan namun sarat akan kejengahan dan emosi yang ia terpendam.
"Bisa jadi kekasih semalamnya, karena setiap malam Tuan Sebastian selalu berganti wanita," Zaki terus saja mengulum senyum, sama seperti sejak dia melihat Yasmin duduk di depan meja bar tadi.
Sejak melihat Yasmin, lelaki itu memang sudah tertarik. Begitu mempesona. Dan dia tertarik juga pada apa yang menjadi arah pandang Yasmin. Sebastian Megantara. Kalau pesaingnya sekelas Sebastian, dia sih harus benar-benar jatuh bangun jika ingin menarik perhatian wanita itu.
Yasmin menggigit bibir bawahnya. Mendengar ucapan Zaki membuat sesuatu dalam dadanya terasa ingin pecah, apalagi saat dia melihat Tian. Laki-laki itu membiarkan begitu saja wanita kurang ajar itu bergelayut dinlengannya.
"Mungkin jika Nona mau, Anda bisa untuk malam besoknya." ucap Zaki asal-asalan tanpa berpikir bahwa wanita di hadapannya akan meledak saat itu juga. "Tapi, sebaiknya jangan mendekati Tuan Sebastian, Nona. Anda bisa mendapatkan lelaki lebih baik lainnya. Dari pada yang hanya hobi gonta-ganti wanita."
Zaki tahu, tidak seharusnya dia mengatakan perihal itu, apalagi tentang Sebastian. Tapi, ayolah, wanita di hadapannya tampak begitu polos. Jika hanya dipermainkan, tidakkah hanya akan mendapatkan luka saja.
Dengan napas memburu, Yasmin menegakkan tubuhnya, membalikkan badan. "Maaf, tapi saya bukan w************n dan tidak berniat menjadi salah satu wanita bergilir Sebastian! Dan terima kasih sudah mengingatkan." ucapnya tegas. Sebelah tangannya meletakkan dua lembar uang seratus ribu di atas meja kemudian dia berlalu dan segera keluar bar.
"Tunggu Nona, maaf jika saya salah bicara." seru Zaki tak begitu keras namun dia yakin akan terdengar.
Baru saja dia akan mengejar Yasmin, dia dipanggil seorang pengunjung. Dan Sebastian lah yang memanggilnya.
Menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali Yasmin berusaha menenangkan dirinya. Tapi begitu sulit. Di dalam dadanya begitu sakit dan sesak. Satu fakta yang didengarnya tadi sukses menikam hatinya tanpa ampun.
Ucapan Zaki terus terngiang dipikirannya. Bukan tentang dirinya yang dinilai ingin menjadi salah satu wanita Tian, tapi lebih kepada Tian yang berganti pasangan tiap malam.
Yasmin terkekeh miris, merasa begitu tidak dianggap oleh suaminya. Apa yang kurang dari Yasmin. Dia sudah menyerahkan segalanya, hidupnya, hatinya. Meski dia tahu, Tian tak sedikitpun membalas perasaannya.
Tapi, semua itu seolah bukan apa-apa, selama Tian disisinya dia sudah cukup bahagia. Dia tak mengharapkan balasan yang berlebihan. Cukup perlakukan dia layaknya seorang istri.
Karena dia sendiri sadar, ada jarak dan masalalu yang menjadi benteng di antara dirinya dan Tian.
Sebuah kesalahpahaman yang tak mampu dia urai dengan mudah.
Menguatkan hatinya, Yasmin memutuskan untuk menunggu Tian. Dia duduk di kap mobil laki-laki itu.
Tak membutuhkan waktu lama, sampai akhirnya sang pemilik mobil keluar bar dengan lengan kanan berada didekapan wanita yang tidak Yasmin ketahui namanya.
Wanita dengan gaun tipis dan potongan d**a rendah ditambah lipstik merah tebal di bibirnya. Persis sekali gaya wanita kehidupan malam.
Menyungging senyum sinis Yasmin menegakkan tubuhnya. Menatap tenang ke arah Tian yang terlihat sekali begitu terkejut.
"Yasmin," dan panggilan itu hanyalah sampai di lidah Tian.
"Halo, Mas. Bagaimana rasanya dipeluk wanita cantik yang bukan istrimu."
***