8. Keinginan Clarissa
Yasmin tak henti-hentinya menyungging senyuman. Beberapa kali dia bahkan terkekeh pelan.
Kehangatan yang tak pernah dirasakannya belakangan ini akhirnya pagi ini menemui titik terang. Clarissa datang meramaikan suasana, gadis kecil itu mampu mencairkan suasana yang tadinya dingin dan canggung antara Yasmin dan Tian. Merubahnya menjadi kehangatan yang begitu menyenangkan.
"Cla mau makan apa lagi?" tawar Yasmin lembut. Dia menengadah menatap gadis kecil yang duduk berhadapan dengannya.
Yasmin bersebelahan dengan Diana sedangkan Clarissa bersebelahan dengan Tian. Tentu saja Tian yang meminta, bahkan laki-laki itu yang menyuapi Clarissa untuk sarapan.
"Tidak Mama, Cla sudah kenyang sekali." ujarnya. Gadis kecil itu menunjukkan perutnya yang penuh makanan.
Yasmin menaikkan alisnya, menatap penuh binar gadis kecil itu dan menganggukkan kepala. Tak lupa dia pun menyungging senyum manisnya.
"ini enak sekali Yas. Sampai perut Mami juga kenyang banget nih." jelas Diana. Senyumnya mengembang sempurna, wajar saja karena Diana beberapa kali menambah pancake dan waffle buatannya. Dan kali ini wanita setengah baya itu sedang meminum segelas besar orange jus.
Tian yang mendengarnya mendengkus pelan. "Mami kenyang, aku sampai gak kebagian." gerutunya sebal. Laki-laki itu hanya memakan satu buah pancake ukuran kecil dan kopi pahitnya. Lebihnya dia menyuapi Clarissa.
Yasmin dan Diana menggelengkan kepala dan terkikik geli. Namun tawa Yasmin tak sekeras Diana, mana berani dia menertawakan Tian keras-keras.
"Ya sudah, aku bikinin lagi." seru Yasmin kemudian beranjak dari duduknya. Namun belum sempat dia melangkahkan kaki, suara Clarissa menginterupsi.
"Jangan bikinin buat Papa. Papa kan belum pakai baju." seru Clarissa. Suaranya yang cempreng itu membuat semua orang menoleh menatapnya.
Yasmin tersenyum kecil mendengar penuturan Clarissa. Memang benar sih, sedari tadi Tian belum memakai baju yang pantas. Dia masih mengenakkan bathrobe putih untuk membalut tubuhnya.
"Nah dengar sendiri kan, sana pakai baju, nggak ada yang bisa kamu banggain di depan kami bertiga. Badan kerempeng gitu juga." gurau Diana.
Tian melotot kesal. Dia mengatupkan rahangnya, tidak cukup kuat namun terlihat jelas sekali bahwa laki-laki itu sedang dilanda kekesalan. Merasa terhina karena dipandang seperti itu oleh Ibunya. Dia sendiri yakin jika otot-otot tubuhnya terbentuk sempurna.
Dan dia pun sangat percaya diri kalau tak ada satu wanita pun yang akan menolak pesonanya.
Yasmin sebagai pengecualian. Wanita itu sampai detik ini, bahkan dengan statusnya istri sah Tian tak pernah menunjukkan keinginan untuk menyentuh.
Dan sayangnya, pagi ini dia baru menyadarinya. Meski ada kebencian di hati Tian tapi jujur, dia tak menolak pesona Yasmin. Hingga ingatannya tentang semalam bergulir di kepalanya. Dia memejamkan mata. Pengaruh alkohol dan amarah membuat dia hilang kendali. Untung sama istri sendiri, Eh ....
Tian mengerjap, menatap Yasmin lekat. Hingga tiba-tiba derit kursi di sampingnya mengejutkan. Clarissa berdiri di atas kursi, tangan mungilnya terulur dan menyentuh dagu Tian yang mengeras.
"Kalau Papa nggak bisa pakai baju sendiri, biar Mama aja yang pakaikan baju." lagi, gadis kecil itu membuat semua orang menoleh dan kali ini terperanjat kaget dengan ekspresi berbeda.
Diana menatap putranya dengan senyum genitnya, Tian dengan kerjapan mata tak mengerti dan Yasmin yang tersedak ludah sendiri.
Namun kemudian merasa dirinya menjadi pusat tatapan tiga orang, Yasmin segera mengukir senyum gugup dan menggelengkan kepalanya. Bukti penolakan.
"Mama, ayolah. Mama kan juga pernah pakaikan baju Cla, pas Cla mandi di toko karena bajunya ke siram saus coklat itu loh, Ma." ujar Clarissa polos. Sungguh, gadis itu membuat Yasmin mati gaya.
"Ini beda sayang, lagi pula Papa kan sudah besar bisa pakai baju sendiri." jelas Yasmin. Masih berusaha mengemukakan penolakannya.Mencoba menjelaskan dengan pengertian paling mudah yang bisa Clarissa pahami. "Mengertilah sayang, Mama belum siap." rintih Yasmin dalam hati.
"Ma. Buruan, kasian Papa nanti kedinginan." lagi, Clarissa mendesak. Gadis itu sama sekali tak mendengar apa yang baru diucapkan Yasmin. Membuat Yasmin curiga, sebenarnya siapa yang mengajari.
"Sudah lah, Yas. Buruan. Nanti Cla ngambek." kali ini Diana yang angkat bicara. Wanita itu berdiri dari duduknya dan mendorong tubuh Yasmin lembut.
Mengembuskan napasnya, akhirnya Tian menuruti permintaan gadis kecilnya. "Okee, ayo ..." ujarnya, dia mengangkat tubuh kecil Clarissa dari atas kursi dan menurunkannya agar berdiri di lantai. Setelahnya dia meraih tangan Yasmin dan menarik wanita itu agar mengikutinya masuk ke dalam kamar mereka.
Setelah sampai di dalam kamar, Tian segera mengunci pintu dan melemparkan kunci itu ke atas ranjang. Dia membawa Yasmin menjauh dari ranjang dan masih mencengkeram erat pergelangan tangan wanita itu.
"Bukankah aku sudah menyiapkan baju untukmu." ujar Yasmin, ketika Tian melepaskan cengkeramannya.
Tian membalikkan tubuhnya, ditatapnya dalam-dalam mata hitam Yasmin. Mengabaikan apa pun perkataan wanita itu. Saat ini, sebagian dirinya merasa terhina. Apa sebegitu tak menarik tubuhnya untuk dilihat sampai sejak awal Yasmin menolak mentah-mentah permintaan Clarissa. Dan lagipula Clarissa hanya meminta Yasmin memakaikannya baju bukan meminta Yasmin membuat anak.
Dan seketika itu juga Tian merutuki pikirannya yang terlalu jauh. Masih ada Diana dan Clarissa di luar. Jangan macam-macam.
Tak ingin membuang waktu, Tian segera membuka tali bathrobe di pinggangnya dan melepaskannya. Membuat Yasmin melotot ganas. Namun tak lama kedua matanya segera tertutup rapat ketika dia tersadar.
"Cepat pakai bajumu ...." gerutu Yasmin masih dengan mata terpejam. Dia ingin melihat namun juga tak ingin. Tapi satu yang pasti dia ingin segera keluar kamar.
Tian menggeram. Ego dalam dirinya merasa begitu direndahkan dengan sikap Yasmin yang menutup matanya rapat. Bukankah tujuan awal dia membawa Yasmin berdua ke dalam kamar untuk menunjukkan pada wanita itu bahwa tubuhnya itu bisa dibanggakan.
Tian yang geram mencekal dua tangan Yasmin erat. Satu tangan wanita itu dia arahkan ke tubuh polos bagian atasnya. Membawa telapak tangan lembut itu untuk memyentuh d**a dan perut berototnya.
"Kamu ingin merasakannya." bisik Tian lirih di sebelah telinga Yasmin. Bisa dia lihat jika tubuh wanita itu meremang seketika. Getaran aneh dan jantung yang berdegup kencang tak luput melanda keduanya.
Jika mungkin tak ada sekat tipis penuh kebencian itu, kehidupan keduanya pastilah lebih indah. Lebih berwarna. Lebih bahagia.
Hingga selang beberapa detik dan Yasmin masih menegang di tempatnya tanpa membuka mata. Tian mengusap wajah.
"Apa lelaki itu lebih baik dariku?" tanya Tian akhirnya. Dan cukup mampu membuat kelopak mata Yasmin membuka dan berganti dengan bola mata terbelalak. Belum sempat Yasmin bersuara. Tian sudah lebih dulu tertawa, seolah ada yang lucu dengan yang dia katakan. Kemudian dia kembali berkata, "Ah, tentu saja dia lebih baik dariku, sebab kamu lebih senang bersamanya."
Sembari mengatakan itu, Tian melepas cekalan tangannya, berjalan menjauh, mengambil pakaian yang Yasmin siapkan. Dia mengenakan pakaian dengan gerakan cepat dan bola mata menghujam manik mata Yasmin yang tampak berselaput kaca.
"Kenapa diam, aku benar bukan?" Tian menaikkan sebelah alisnya. Berdecih pelan. Tiba-tiba kekesalan naik perlahan di ubun-ubun kepalanya. Apalagi ketika melihat Yasmin yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.
Rasanya, dulu hingga sekarang kekesalannya tetaplah berada di titik yang sama.
Entah sudah sejauh apa dia menghilang.
Entah sudah sesering apa dia menghindar. Atau berusaha membuat galian dan mengubur dalam-dalam.
"Kamu boleh keluar," desah Tian akhirnya. Kali ini dia melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Tian. Aku bisa jelasin. Aku tahu, aku salah. Tapi --"
Ucapan Yasmin terpenggal begitu saja ketika tubuh Tian menghilang dibalik pintu kamar mandi. Selalu begitu. Tian dengan segala pembenarannya. Tanpa ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Lelaki itu hanya terus menerus mencari dan membuat berbagai alasan agar pembenarannya menjadi sebuah kebenaran.
Dan obrolan mereka selalu berakhir sepihak, tanpa penyelesaian.
Padahal, apa susahnya untuk saling mendengarkan. Bicarakan baik-baik, temukan titik terang dan simpul kesalah pahaman dalam benang merah kesalahan itu.
"Dia bukan siapa-siapa. Kamu yang menjadi segalanya buatku." lirih Yasmin. Memejamkan mata.
Dia tidak pandai mengungkap seberapa cinta dia pada Tian. Tapi harusnya dengan semua yang telah dia lakukan, Tian bisa menemukan secuil saja perasaan cintanya, andai lelaki itu melihatnya dengan hati. Bukan dengan amarah yang setiap kali datang melingkupi.
Harusnya, cinta tak perlu serumit ini, jika salah satunya berani mengambil langkah untuk memulai membuka diri.
Tak apa terlihat kalah, kalau hanya dengan itu bisa menjadikan sebuah cinta untuk menyambung tali yang sempat putus.
Dan harusnya, salah satu mau sedikit merendahkan harga diri untuk mendengarkan. Cinta tidak akan datang jika hanya sepihak, setidaknya, pihak lain membiarkan hatinya untuk menerima.
***