7. Gadis kecil kita
Yasmin mengeratkan pelukannya pada guling hangat dan nyaman pagi ini. Dia semakin mengusak-usakan kepalanya mencari kenyamanan itu, hingga sebuah lenguhan pelan membuatnya terperanjat.
Membulatkan matanya, Yasmin teringat kejadian semalam. Sontak dia menutupi mulutnya yang hampir saja mengeluarkan suara. Dan satu hal yang kembali mengejutkannya, dia tengah memeluk tubuh Tian, wajahnya memanas ketika menyadari d**a bidang itu tepat berada di depan wajahnya.
Menelan ludah, Yasmin bergerak perlahan. Menjauhkan wajahnya yang memanas dan mengangkat pelan lengan Tian yang tengah memeluk pinggangnya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat lelaki itu terusik.
Hingga akhirnya dia bisa meloloskan diri tanpa disadari Tian, karena lelaki itu masih mendengkur halus dan terlelap dalam tidurnya. Yasmin mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya, dia beranjak pelan dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Meski hari masih gelap, tapi tubuhnya terasa sangat lengket. Membuat dia risi dan ingin segera membersihkan diri.
Belum selesai keterkejutannya tadi, dia dihadapkan pada kenyataan di tubuhnya. Terdapat begitu banyak bercak merah di sekitaran tulang selangkanya. Kembali matanya membulat lebar, hal semalam yang dialaminya bukanlah mimpi.
Yasmin jatuh terduduk di lantai, dia membekap mulutnya menahan isak. Pikirannya kacau, perasaannya pun tak jauh berbeda. Antara senang dan juga sedih, semuanya berkumpul menjadi satu. Tapi meski begitu dia tak menyesal. Karena itu Tian, suaminya, laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang telah mempersuntingnya. Sah di mata hukum dan agama. Meski Yasmin sadar betul, Tian mungkin tak memiliki secuil perasaan apa pun.
Setidaknya, dia telah berusaha menjadi seorang istri yang baik.
***
Tersenyum samar, Yasmin mendekati ranjang tempat di mana Tian masih tertidur lelap. Sebelah tangannya memeluk selimut baru yang diambilnya di dalam lemari. Dia menyelimuti tubuh Tian yang hanya terbalut celana pendek rumahan. Sekasar apa pun tingkah Tian, laki-laki itu tetaplah suami tercinta Yasmin.
Menundukkan tubuhnya, Yasmin memberi kecupan pagi di sudut bibir Tian. Hanya itu yang bisa dia lakukan, mencuri-curi kecupan ketika sang empunya terlelap. Terlihat pengecut memang tapi tak apalah, seperti itu saja dia sudah cukup bahagia. Itulah salah satu gunanya dia terbangun pagi-pagi sekali. Mencuri kecupan pada sang suami.
Dengan langkah malas, Yasmin keluar kamar, dia masih ingat betul, semalam Tian membuat ruang tamunya berantakan tak jauh beda seperti kapal pecah.
Dan benar saja, setibanya dia di ruang tamu, dia disuguhi pemandangan menjengkelkan. Sampah berserakan, kaleng bekas minum, pecahan botol dan gelas kaca, tumpah menjadi satu ditambah dengan cairan yang menggenang.
Mendengkus jengkel, Yasmin mengusap dadanya pelan. Jika bukan dia yang membersihkan, siapa lagi? Karena dia sendiri yang menolak adanya asisten rumah tangga.
Meski kesal, namun Yasmin tetap berjalan ke dapur, mengambil apron merah muda yang dia simpan di lemari dan memakainya cepat.
Pagi ini, dia akan disibukkan dengan kegiatan beres-beres rumah disusul dengan acara memasak sarapan untuknya dan Tian. Dia yang menghandel semua urusan rumah tangga.
Sembari berdendang pelan, Yasmin menyibak tirai yang menutupi jendela kaca lebar-lebar. Melihat suasana pagi Jakarta yang mulai menggeliat dan siap melakukan rutinitasnya. Lampu-lampu jalan belum padam, langit biru kelabu dengan awan berarak tampak memanjakan mata Yasmin di samping gedung-gedung yang menjulang.
Bulan lalu, dia masih tinggal di rumah minimalis di pinggiran kota bersama sang Ibu dan Riri, pemandangan dari atas gedung seperti ini tidak lah dia dapatkan. Setiap pagi, setelah salat subuh, dia akan menemani ibunya jalan-jalan di sekitaran komplek lalu berhenti di lapangan komplek dan membeli sayuran, karena tukang sayur mangkal di sana. Setelah itu barulah memasak sarapan dan berangkat ke toko dengan metro mini.
Toko kue dari rumahnya tidak cukup jauh, kurang dari setengah jam, jika dia berangkat pagi-pagi sekali dan tidak bertemu macet Jakarta. Meski bisa saja, dia dan Riri menginap di toko, namun tidak dia lakukan. Ibu akan sendirian di rumah. Jadilah, dia membiarkan Widya saja yang menginap di toko, sekalian menghemat biaya bolak-balik naik angkot, karena rumah Widya lebih jauh lagi.
Dan kini, hidup bersama Tian membuat perbandingan besar dengan hidupnya yang dulu. Dia seolah dibawa naik tanpa sempat diberi ancang-ancang. Walau pun memiliki toko kue sudah cukup memberi bukti bahwa dia berkecukupan.
Sedang asik-asiknya memasak, Yasmin dikejutkan oleh suara barithon seseorang yang meminta kopi.
"Kopiku mana?" ujar Tian, dia menempatkan tubuhnya di kursi meja makan. Seperti penampilan setiap paginya, dia hanya memakai bathrobe putih yang panjangnya selutut.
Yasmin menoleh, dia menyungging senyum, sambutan pagi yang tak pernah luput dari bibirnya. Justru pagi ini tampak berkali lipat lebih manis dan hangat. "Sebentar lagi, tunggu ya," sahutnya. Kemudian dia kembali beralih pada aktifitas sebelumnya.
Tian yang malas menanggapi hanya berdehem pelan lalu membuka koran bisnis pagi ini. Lagi-lagi kebiasaannya setiap pagi. Tak lama, Yasmin menyuguhkan secangkir kopi hitam pahit kesukaannya. Entahlah apa enaknya kopi pahit seperti itu.
Yasmin juga menaruh pancake, dan waffle perdana buatannya di atas meja di tambah satu mangkuk salad buah. Baru saja Yasmin menyentuh sendok dan siap makan hingga tiba-tiba bel rumah berbunyi nyaring tanpa henti.
Mendesah dalam hati, Yasmin segera beranjak dari duduknya.
"Siapa orang yang bertamu pagi-pagi sekali," gumamnya di perjalanan ke pintu depan.
Membuka pintunya tak terlalu lebar, Yasmin dikejutkan seorang gadis kecil yang berlari ke arahnya dan segera memeluk kakinya.
"Mama!" teriak gadis kecil itu.
Yasmin tersenyum senang, tak menyangka tamu paginya adalah malaikat kecil kesayangan Tian.
"Maaf ya, Yas, dateng pagi-pagi banget. Clarissa nih ngambek pengin cepet-cepet ketemu kamu." ujar Diana yang menyusul di belakang Clarissa.
Yasmin menggeleng pelan, dia menundukkan tubuhnya dan mengangkat gadis kecil itu dalam dekapannya.
"Nggak apa-apa Ma, Yasmin juga kangen banget sama anak satu ini." gemas Yasmin. Dia mencubit sebelah pipi tembam Clarissa. Membuat gadis manis itu memberengutkan bibirnya.
Tak mampu menahan geregetnya Yasmin menghujami pipi merah bekas cubitannya dengan kecupan-kecupan kecil. Dia juga mengusapkan hidungnya di pipi Clarissa.
"Ah, geli Mama ...." kekeh Clarissa. Gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya menjauhi ciuman Yasmin.
Diana yang melihatnya hanya menggelengkan kepala maklum. Dua ibu anak itu kalau sudah ketemu rasanya dunia hanya ada mereka.
"Berisik banget sih." Tian berseru menginterupsi. Membuat Yasmin menghentikan aksinya seketika.
Tian berdecak pelan, laki-laki itu baru saja menyembulkan dirinya dari tembok pembatas dapur dan ruang tamu. Dan ketika melihat siapa yang membuat paginya berisik, laki-laki itu tersenyum bahagia, putri kecilnya datang berkunjung.
"Cla nggak kangen Papa, ya?" serunya manja. Sikap yang benar-benar hanya akan dia tunjukkan untuk Clarissa seorang.
Yasmin yang mengerti, segera menurunkan Clarissa dari dekapannya. "Peluk Papamu, nanti ngambek." bisiknya di sebelah telinga Clarissa. Hingga gadis itu terkikik pelan. Dan tentu saja hal itu membuat Tian mengernyit curiga.
"Papa ...." teriak Clarissa akhirnya. Dia berlari kecil ke arah Tian yang sudah merentangkan dua tangannya lebar-lebar memyambut pelukan hangat dari gadis kecilnya.
Keduanya berpelukan hangat, seolah berminggu-minggu tak berjumpa. Padahal belum genap sebulan mereka tak bertemu. Terlihat begitu jelas bagaimana kasih dan sayang Tian tercurah untuk Clarissa.
Tanpa sadar, Yasmin mengusap perutnya sendiri. Baru semalam. Tapi harapnya pagi ini tumbuh begitu besar. Membuncah, meluap-luap hingga melampaui keinginannnya. Dia ingin memilikinya. Bisa kah?
Lalu pikiran lain menjawab. Kalau Tian tidak suka bagaimana?
Kalau Tian tidak bisa memberikan kasih sayang sebesar yang lelaki itu curahkan pada Clarissa bagaimana?
Yasmin tersedak isak tangis di tenggorokan, buru-buru dia mengusap wajahnya, dan mengganti wajah sendunya dengan senyuman manis seperti biasa.
"Gadis kecil kita." gumam Diana. Dia berdiri tepat di sebelah Yasmin. Sama-sama menyorot kehangatan yang tercipta ketika Clarissa datang.
Benar, Clarissa menjadi sumber kebahagiaan dan kehangatan seorang Sebastian Megantara. Tidak bisa Yasmin bayangkan jika Tian dijauhkan dari gadis manis itu.
Dan sekali lagi, pikiran buruk itu datang menghampiri.
Tian begitu menyayangi dan mencintai Clarissa. Mungkin disebabkan karena ibu gadis manis itu yang sukses merenggut hati Tian.
***