6. Malam Panjang
Malam sudah cukup larut, tapi Yasmin masih enggan untuk beranjak dari tempat.
Dia masih nyaman duduk di salah satu kafe di kompleks apartemen tempat tinggalnya. Sendiri menyesap cokelat panas yang sudah ditambah tiga kali lebih banyak, sejak lebih dari satu jam ini.
Mengembuskan napas lelah, Yasmin menggenggam cangkir hangat di hadapannya. Menyesap perlahan cairan cokelat kental yang terasa manis di lidahnya.
Pikirannya menerawang jauh. Sampai sekelebat bayangan lelaki lewat dipikirannya. Lelaki itu tengah tersenyum manis, merengkuhnya dan menenggelamkan dirinya di d**a lelaki itu.
"Tian," lirih Yasmin. Entah kenapa dadanya kembali mengingat hal itu. Kebersamaannya dengan Tian tujuh tahun lalu, membuat penyesalan di dadanya semakin menggumpal saat ini.
Andai waktu bisa terulang, Yasmin tidak akan melakukan hal itu pada Tian. Namun, dulu pun dia tak memiliki banyak pilihan. Jika ditolak sudah tentu tahu apa resikonya. Dan menuruti, maka dia kehilangan separuh hati.
Meletakkan cangkir kosong di atas meja, Yasmin beranjak dari tempat duduknya dengan sebelumnya membayar tagihan pada pelayan. Dia berjalan sedikit gontai. Bukan mabuk atau pusing karena lelah pikiran yang menderanya. Hanya memang tubuhnya terasa begitu tak bertenaga. Dan dia harus berjalan sampai ke apartemen Tian. Meski tak cukup jauh memang, tapi suasana yang sedang hujan rintik itu membuat jalanan sepi dan sedikit licin.
"Malam, Bu Sebastian," sapa security yang sedang berkekeliling malam.
Yasmin mengangguk, sedikit terkejut. "Malam," sahutnya disambut senyuman samar dari Bapak security itu. Kemudian dia kembali melanjutkan perjalananya.
"Bu Sebastian," gumam Yasmin lirih. Bibir tipisnya menyungging senyum sinis, tidak merasa begitu bangga, yang bisa membuat dadanya mengembang. Meski banyak wanita bermimpi untuk menjadi seperti Yasmin.
Mendampingi seorang Sebastian Megantara, putra tunggal dari keluarga Megantara yang memiliki saham paling tinggi di Megaraya Group. Perusahaan multinasional yang bergerak dibidang properti. Apartemen, hotel, resort dan banyak lainnya.
Dan gedung apartemen mewah 30 lantai yang ditinggali Yasmin adalah salah satunya. Desain gedung sendiri adalah buatan Tian.
Sebastian Megantara, sang pengusaha muda yang berhasil menjalankan bisnis keluarga dan bisnis rintisannya sendiri. Yasmin merasa lucu saja, beberapa kali pastilah Tian kembali ke Jakarta untuk meninjau perkembangan bisnis. Namun, selama itu pula Yasmin tidak pernah melihat dan bertemu Tian, padahal hubungannya dengan Diana beberapa tahun cukup dekat.
Dekat dalam artian membahas bisnis kue dan wanita, tanpa berbicara tentang keluarga. Diana tipikal Ibu yang tidak pernah menyinggung putranya dan membangga-banggakan. Wanita itu bahkan tidak pernah menceritakan kehidupannya yang merupakan ibu konglomerat. Yang menurut Yasmin, harus bergaul dengan ibu-ibu sederajat, bukan penjual kue seperti dirinya.
Memasuki lift, Yasmin memencet angka 20, lantai tempatnya tinggal. Tak butuh waktu lama untuk sampai di lantai apartemennya, beberapa detik setelah pintu lift terbuka, Yasmin keluar.
Sampai di depan pintu apartemennya, Yasmin segera menguak daun pintunya. Dia melangkah tergesa, masuk ke dalam apartemen, hingga dia tidak menyadari seseorang tengah menatap tajam ke arahnya.
"Dari mana saja!" seru orang itu, suaranya menggelegar membuat langkah Yasmin seketika terhenti.
"Apa seperti ini kelakuanmu, hm, pulang malam tak tahu waktu." tuduh Tian tanpa sungkan. Nada suaranya dingin dan tajam.
"Aku--"
"Kamu pulang dari sore tapi kenapa baru sampai jam segini." potong Tian, tidak memberi kesempatan pada Yasmin untuk membantah. Atau pun sekadar memberi satu kata pembelaan.
Tian mampir ke toko Yasmin selepas dari kantor, berniat sekalian mengajak wanita itu pulang, karena tak sengaja melewati toko kue Yasmin. Namun, yang Tian dapatkan, Yasmin sudah pulang lebih dulu.
Dan ketika Tian tiba di apartemen, dia tidak menemukan sosok Yasmin.
"Aku hanya mampir ke kafe di bawah, sebentar." sahut Yasmin. Matanya tak lepas dari sosok Tian yang melempar tatapan tajam ke arahnya.
Tian menaikkan sebelah alisnya, sebuah senyum sinis dia sunggingkan. Laki-laki itu tetap tak beranjak dari sofa duduk ruang tamu. "Hah? Ke kafe atau janjian bertemu lelaki berengsek itu. Nostalgia kenangan zaman dulu!"
"Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin." sergah Yasmin. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tak menyangka jika kepulangannya malam ini menyulut pertengkaran antara dirinya dan Tian.
Dan lelaki berengsek siapa yang Tian maksud. Kenangan. Kenangan apa? Ucapan Tian benar-benar melantur, atau mungkin laki-laki yang sudah mabuk.
"Kamu nggak perlu pura-pura bodoh dan tidak mengerti."
"Aku tidak !!" jerit Yasmin tertahan.
Dia memejamkan mata, mencoba menarik napas dalam. Berusaha menormalkan degupan jantungnya yang bergemuruh karena emosi. Hingga ...
Prangg !!
Tian melemparkan gelas, botol dan kaleng-kaleng bekas minumnya di atas meja. "Aku paling tidak suka kalau dibantah." tegas laki-laki itu. Matanya semakin tajam melihat Yasmin,
"Aku capek. Maaf," lirih Yasmin akhirnya. Dia segera membalikkan tubuh, berjalan tergesa masuk ke kamar. Tak ingin pertengkaran itu berlanjut semakin jauh. Karena menurutnya, bahasan Tian bukanlah hal penting.
Dan dia sungguh tak ingin melontarkan lebih banyak kalimat kasar. Karena jika itu terjadi, semua itu hanya akan membuat hubungannya dengan Tian lebih buruk. Dan dia akan menyesal nantinya.
Sesaat setelah dia menutup pintu kamar, kembali terdengar benda-benda pecah. Yang Yasmin tahu pasti, Tian sedang membereskan meja dengan melempar semua benda di atasnya.
Termenung beberapa saat, Yasmin menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Terkekeh miris kala menyadari sikap sang suami. Hingga setetes bulir airmata membasahi pipinya.
Andai Tian bukan orang bertempramen tinggi, mungkin dengan mudahnya dia bisa membicarakan baik-baik. Tentang masa depan rumah tangga yang sama sekali belum terlihat kebahagiaan di dalamnya. Membicarakan semua masalah dengan kepala dingin, tanpa harus adu urat.
Tapi Sebastian bukanlah Tian yang ada dipikirannya. Tian yang menjadi suaminya adalah Tian yang tidak Yasmin kenal.
Dan laki-laki yang telah menjerat hatinya terlalu kuat.
***
Yasmin merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar kamarnya. Dia sudah membersihkan diri dan memakai piyama tidur. Kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas perut.
Malam sudah menunjukkan pukul sebelas, tapi dua matanya masih enggan terpejam. Berbagai pose tidur sudah dia coba namun hasilnya tetap sama.
Kali ini, dia memiringkan tubuhnya membelakangi pintu, menghadap jendela yang tertutup tirai tebal. Pusing sedikit melandanya karena efek kehujanan tadi juga pertengkarannya dengan Tian.
Dia masih saja tak mengerti dengan sikap Tian tadi. Meski berjam-jam dia memikirkannya.
Tian yang biasanya tak peduli menjadi begitu peduli, meski dengan sedikit amarah dan ucapan yang ngelantur kemana-mana.
Jujur, hatinya sedikit menghangat ketika Tian menanyakan kepergiannya. Dia merasa bahwa sisi Tian yang menyayanginya masih ada. Meski tertutupi dengan sikap dingin dan arogannya.
Perlahan Yasmin memejamkan mata, dia akan memaksa semampunya agar dua matanya tertutup dan terlelap. Cukup bagi dia, memikirkan banyak hal hari ini. Tubuh dan pikirannya pun harus diistirahatkan.
Namun baru saja dia memejamkan mata, derit pintu terbuka membuatnya kembali terjaga. Langkah kaki terseok membuat dia bertahan dengan mata awas, meski tak sampai membalikkan badan.
"Kamu sudah tidur?" ucap Tian, suaranya serak dan terdengar begitu berat.
Yasmin bergeming. Meski dia tahu laki-laki itu tengah naik ke atas ranjang tepat di sebelahnya.
"Pasti kamu sangat lelah," kembali Tian melirih, laki-laki itu merebahkan tubuhnya tepat di samping Yasmin. Bahkan sebelah tangannya memeluk pinggang Yasmin posesif. Membuat sang empunya terhentak kaget, namun masih mempertahankan keterdiamannya.
"Maaf, membentakmu tadi." lagi Tian berucap lirih, dia semakin mengeratkan pelukannya. Seolah wanita dalam pelukannya akan pergi begitu saja jika tak dia peluk erat-erat. Membuat punggung Yasmin merapat di bidang dadanya.
Yasmin tak mampu berkata-kata. Hatinya membuncah bahagia kala laki-laki yang menjadi suaminya itu memeluk dirinya.
Perlakuan lembut yang pertama kali dia terima dari Tian. Laki-laki itu pun kini menumpukan dagunya di atas bahu Yasmin, terpaan napasnya begitu terasa di sebagian wajah Yasmin.
Bahkan laki-laki itu kini memberi kecupan-kecupan lembut di bahu dan wajahnya. Membuat Yasmin semakin mengeratkan matanya untuk tetap tertutup. Tetap menjaga dirinya dalam posisi pura-pura tidur.
"Aku menginginkanmu," serak Tian. Laki-laki itu membalikkan tubuh Yasmin sehingga menghadapnya.
Yasmin mengerjap, dia tak kuasa lagi untuk menutup mata. Dipandangnya sang suami tak mengerti. Namun di samping itu, dia merasakan firasat tak enak malam ini.
Pikirannya kacau, menerka-nerka akankah malam ini akan menjadi malam panjang bagi dia dan Tian.
Haruskah Yasmin menolak dan melawannya. Atau membiarkan Tian melakukan apapun yang dia mau dalam keadaan setengah sadar.
Tapi belum sempat pikirannya memutuskan, laki-laki itu memberi kecupan lembut di kening Yasmin. Membuat Wanita itu menegang seketika. Namun kemudian dua matanya kembali tertutup merasakan kecupan hangat yang diberikan Tian.
Perlakuan Tian sangat berbeda, kecupan itu terasa sarat kasih dan sayang. Membuat darahnya berdesir, dengan jantung yang berdegup kencang. Dia merasa seolah sedang bermimpi. Mimpi yang indah dan dia tak ingin cepat-cepat terbangun.
"Aku ingin memelukmu, Yas." bisik Tian lagi. Ucapannya serak penuh keinginan. Dia menjauhkan wajahnya sedikit. Menyangga tubuhnya dengan dua tangan bertumpu tepat dimasing-masing sisi tubuh Yasmin.
Dan yang Yasmin bisa lakukan hanya menelan ludah susah payah. Dadanya merasa sesak dan membuat lidahnya kelu. Napas Tian tepat menerpa wajahnya. Dua manik matanya tak lepas menatap mata hitam yang mulai terlihat gelap di hadapannya.
"Tian, heii ... sadarlah." lirih Yasmin. Berusaha mengembalikkan nalar laki-laki itu, karena yakin Tian berada di bawah pengaruh alkohol. Dua tangannya menahan d**a Tian agar tak lebih dekat dengan tubuhnya. Namun Tian tak mendengarnya, laki-laki itu justru meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Yasmin. Membungkam wanita itu agar tak lagi bicara. Dia sendiri yang akan melakukan semuanya, tanpa bantahan.
Tian mendekatkan wajahnya tepat di sebelah telinga Yasmin. Sekali lagi dia berbisik seduktif. "Malam ini, aku ingin memelukmu."
***